Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 68 : Menghajar Boby.


__ADS_3

Krakk!


"Ackkk!" Pekik Boby berteriak kesakitan.


Kedua jarinya langsung dipatahkan oleh Tristan. Sambil tersenyum sinis, Tristan berkata, "Apa yang ingin kamu lakukan berengsek."


Semua orang yang berada di tempat itu sontak terkejut mendengar teriakan Boby.


"Apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian diam saja! Acckk!" teriak Boby kesakitan memanggil anak buahnya yang masih diam tak bergerak.


"Jika kalian berani melangkah, akan kuledakkan kepala kalian," kata seorang pria sambil menodongkan pistol di punggung anak buah Boby.


Ternyata dua mobil yang terakhir tiba adalah bawahan Haris, mereka berpura-pura menjadi teman anak buah Boby karena tidak ingin membuat identitas Tristan ketahuan. Saat menyapa anak buah Boby, bawahan Haris sudah menodongkan pistol ke arah anak buah Boby, hal itu yang membuat anak buah Boby terpaksa ikut bersandiwara jika mereka mengenal bawahan Haris yang baru saja tiba.


Karena Boby berada cukup jauh dari tempat anak buahnya menunggu, dia tidak dapat melihat jika anak buahnya ternyata sedang diancam menggunakan pistol oleh bawahan Haris.


Tidak hanya Boby yang terkecoh, Suryo, Bisma, Damar dan kedua orang tua Tiysa juga tidak menyadari jika beberapa pria yang datang terakhir ternyata bukan anak buah Boby.


"Lepaskan jariku, apa kamu tidak tahu siapa aku?" kata Boby dengan nada mengancam.


"Maaf aku tidak mengenal ikan teri sepertimu," balas Tristan sambil terus meremas kedua jari Boby yang sudah patah.


Tristan melepaskan tangannya yang sedang memegang tangan Tiysa lalu dengan cepat menghantam wajah Boby dengan tinjunya.


Bukk!


"Ackk!" Pekik Boby meringis kesakitan.


"Itu karena kamu telah membuat calon istriku bersedih."


Bukk!


"Itu karena kamu telah berkata kasar kepada paman Suryo."


Bukk!


Itu karena kamu tidak menghormati paman Bisma."


Bukk!


"Itu karena kamu tidak sopan kepada calon ayah mertuaku."


Bukk!


"Itu karena kamu melecehkan Nindya dengan mulut kotormu."

__ADS_1


Bukk!


"Itu karena kamu membuat calon ibu mertuaku cemas."


Bukk! Bukk! Bukk!


Dengan tatapan yang menyeramkan, Tristan terus melayangkan tinjunya ke wajah Boby, darah segar mengalir dari wajah Boby yang terlihat sobek di beberapa bagian wajahnya.



Tak ada yang menghentikan Tristan memukuli wajah Boby, mereka semua terperengah melihat Tristan melakukan aksinya.


"Tristan...," kata Tiysa sambil memegang tangan Tristan yang sudah berlumuran darah.


Tristan menoleh ke Tiysa, "Ada apa sayang?" kata Tristan yang terlihat bingung karena Tiysa menghentikannya menghajar Boby.


"Dia akan mati jika kamu terus-menerus memukulinya," kata Tiysa dengan mata berkaca-kaca, dia tahu jika Tristan menjadi lepas kontrol seperti ini karena masalahnya dengan Boby.


Tristan menoleh ke Boby, dia baru menyadari jika Boby ternyata sudah kehilangan kesadarannya.


"Hah..., mungkin sebaiknya kita pulang saja, aku merasa tidak enak kepada semuanya," kata Tristan sambil menghela nafasnya.


Tiysa mengangguk setuju, mereka berdua lalu meninggalkan Boby yang terkapar di halaman rumah Bisma.


Ditemani Tiysa, Tristan izin pamit kepada Suryo, Bisma, Damar, dan juga kedua orang tua Tiysa, dia juga meminta maaf kepada mereka karena tindakannya yang sudah berlebihan.


"Ayah, ibu, sepertinya aku akan langsung pergi ke Jakarta, aku takut Boby akan mencari Tristan dan membalas dendam karena kejadian hari ini," kata Tiysa yang terlihat sangat cemas.


"Tiysa, kamu tidak perlu melakukan itu," balas Tristan mencoba menghentikan Tiysa.


Ibu Tiysa maju menghampiri Tristan, dia mengambil Tisu dari dalam tasnya dan langsung membersihkan tangan Tristan yang masih berlumuran darah.


"Nak Tristan, ibu tahu jika kamu tidak takut walau Boby datang kembali untuk membuat perhitungan denganmu, tapi akan lebih baik jika kamu mengikuti apa yang Tiysa katakan, jika kamu berada di Jakarta itu juga bisa membuat ayah dan ibu disini menjadi tenang," kata ibu Tiysa sambil membersihkan Tangan Tristan.


Suryo, Bisma dan Damar juga setuju dengan perkataan Ibu Tiysa.


"Baik Bu," sahut Tristan sembari mengangguk pelan.


Tak berselang lama, Tiysa dan Tristan meninggalkan kediaman Bisma.


Beberapa saat kemudian, Tristan dan Tiysa sudah tiba di depan rumah orang tua Tiysa.


"Sayang, kamu tunggu saja di mobil, biar aku yang mengambil barang-barangmu," kata Tiysa.


Sambil tersenyum, Tristan mengangguk pelan menyetujui ucapan Tiysa.

__ADS_1


Setelah Tiysa masuk ke dalam rumah, Tristan kembali menghubungi Haris.


Tut...


"Iya Tuan Muda," jawab Haris.


"Bagaimana dengan Boby?" tanya Tristan.


"Setelah Tuan Muda pergi, orang-orangku langsung membawa Boby dan anak buahnya, beberapa bawahanku juga mendatangi perusahaan Boby dan menangkap semua anak buah Boby yang berada di tempat itu, jadi apa perintah Tuan Muda?" jawab Haris menunggu instruksi selanjutnya dari Tristan.


"Bawa mereka semua ke Jakarta," tegas Tristan.


"Siap Tuan Muda," jawab Haris singkat.


"Maaf Tuan Muda, ada satu hal penting lainnya yang harus aku sampaikan," kata Haris.


Dari nada bicara Haris yang terdengar serius, Tristan bisa menebak jika Haris akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting.


"Katakan saja," balas Tristan.


"Selain menahan bawahan Boby, bawahanku juga menemukan 21 wanita muda yang dikurung di ruang bawah tanah perusahaan Boby, sepertinya Boby menahan wanita-wanita itu untuk membungkam dan memeras saingan bisnisnya," kata Haris dengan suara bergetar.


"Biadab!" teriak Tristan yang langsung emosi begitu mendengar ucapan Haris.


Tristan sangat marah, di pikirannya Tiysa juga bisa bernasib sama jika saja Damar tidak bersama Tiysa ketika menemui Boby.


"Pak Haris, bawa semua wanita itu ke Jakarta, hubungi salah satu hotel milik keluargaku untuk menampung mereka sementara waktu, minta mereka untuk menjamu wanita-wanita itu dengan pelayanan terbaik, sampaikan juga kepada bawahanmu untuk memperlakukan wanita-wanita itu dengan sopan, aku tidak tahu kejadian buruk seperti apa yang telah mereka alami di tempat Boby."


Tristan terlihat menghela nafas panjang beberapa kali saat menyampaikan itu kepada Haris.


"Siapkan juga beberapa ahli psikolog untuk mendampingi wanita-wanita itu, hindari sorotan publik, aku tidak mau media mengendus masalah ini," kata Tristan menambahkan.


"Siap Tuan Muda," jawab Haris mengakhiri panggilan mereka.


Beberapa saat kemudian Tiysa sudah selesai mengemasi barang-barang milik Tristan, begitu dia masuk ke dalam mobil, Tristan langsung memeluknya dengan manja, hal itu membuat Tiysa sedikit terkejut.


Setelah memeluk Tiysa, Tristan mengecup kening Tiysa beberapa kali, sambil tersenyum dia berkata, "Terima kasih karena sudah menjaga dirimu dengan baik."


Tiysa mengangkat kedua alisnya, dia terlihat bingung dengan ucapan Tristan, "Sayangku, ada apa?" tanya Tiysa penasaran.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memeluk dan mengecup keningmu," jawab Tristan sambil tersenyum.


Tiysa mengernyitkan alisnya, dia terlihat masih penasaran dengan sikap Tristan yang tiba-tiba menjadi manja kepadanya.


"Tidak usah terlalu di pikirkan, ayo kita berangkat ke Jakarta," sambung Tristan.

__ADS_1


Setelah mengucapkan hal itu, Tristan dan Tiysa berangkat menuju ke Jakarta.



__ADS_2