
Tristan dan Tiysa sudah kembali ke Jakarta, sudah seminggu berlalu sejak Bisma dan Subroto kembali bertemu. Setelah kejadian itu, hubungan Damar dan Tristan menjadi sangat dekat layaknya saudara, Damar selalu memberikan update kepada Tristan terkait dengan kondisi Subroto.
Dari informasi yang diberikan oleh Damar, kondisi Subroto sudah sedikit membaik, Damar dan ayahnya setiap hari selalu mengunjungi dan merawat Subroto.
Cekrek!
“Wow, bukankah kita berdua terlihat seperti pasangan sungguhan!” Tiysa berseru sembari menunjukkan foto yang baru diambil di photo both.
Tristan tertawa mendengar ucapan Tiysa, “Bukankah kita memang adalah pasangan,” goda Tristan sembari mencubit mesra pipi Tiysa.
Hari ini mereka berdua terlihat sangat serasi, mereka berdua kompak menggunakan Jaket denim di padukan dengan celana jins berwarna biru gelap. Setelah mereka berdua resmi berpacaran, Tiysa tidak lagi terlihat menahan diri dalam mengekspresikan rasa sayangnya kepada Tristan.
Dia tidak lagi terlihat malu merangkul mesra tangan Tristan di tempat umum.
“Tristan ayo kita makan di sana. ”Tiysa menunjuk salah satu cafe yang berada di mall itu.
“Oke,” jawab Tristan singkat.
Pada saat yang bersamaan, di cafe yang juga berada di mall itu, Gea sedang mencurahkan isi hatinya kepada Devan, sejak Gea diabaikan oleh Tristan, Devan yang memang ingin kembali menikmati tubuh Gea terus mendekati Gea.
Gea tahu ketiga sahabatnya tidak menyukai Tristan, ketiga sahabatnya bukan orang yang tepat untuk diajak bicara mengenai Tristan, karena itulah Gea yang sedang butuh teman bicara akhirnya menerima tawaran Devan untuk jalan bersama.
Saat Gea terus berbicara tentang hubungannya dengan Tristan, Devan secara tak sengaja melihat Tristan jalan bersama seorang wanita menuju salah satu cafe di tempat itu, yang lebih mengejutkan karena Devan sangat mengenal wanita yang sedang merangkul mesra lengan Tristan.
Itu adalah wanita yang membuat dirinya dan Cakra mengalami penyiksaan yang sangat mengerikan, wanita yang kecantikan dan keindahan tubuhnya sedikit di atas Gea.
“Jangan-jangan Tristan adalah bos dari orang itu,” batin Devan, dia kembali mengingat peristiwa mencekam di malam itu. Rasa takut langsung menyerang pikiran Devan.
“Hei, apakah kamu tidak mendengar perkataanku,” protes Gea sembari mendengus kecil. Dia merasa Devan tidak mendengar ceritanya dan fokus ke hal lain.
“Te... tentu saja,” balas Devan terbata-bata.
__ADS_1
“Aku akan ke toilet dulu,” sambung Devan yang langsung pergi meninggalkan Gea yang terlihat kebingungan.
Jika Tristan benar adalah tuan dari orang yang telah menyiksanya, sudah wajar jika Tristan memiliki banyak wanita. Kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki oleh Tristan dapat membuat wanita di mana pun bertekuk lutut di hadapannya pikir Devan.
Devan semakin ketakutan, dengan meniduri Gea yang merupakan salah satu wanita milik Tristan sama artinya dengan menggali kuburannya sendiri. Devan tidak mau lagi berlama-lama di tempat itu.
Devan mengambil ponselnya, dia ingin protes kepada Purwadi yang telah memberikan informasi salah kepadanya.
“Ada apa Devan?” tanya Purwadi begitu menjawab panggilan telepon dari Devan.
“Halo Paman Purwadi, ini tentang Tristan, apakah Paman Purwadi sudah mengecek latar belakang orang itu dengan benar?” tanya Devan sambil berjalan menuju ke parkiran mobil. Devan sudah berniat meninggalkan Gea di cafe itu, saat ini keselamatannya adalah yang utama.
“Iya, dia hanya anak tidak jelas dengan latar belakang biasa saja,” jawab Purwadi.
“Apakah Paman yakin?” Devan kembali bertanya, dia merasa jika Purwadi telah melewatkan sesuatu, tidak mungkin Tristan dengan latar belakang biasa saja bisa dengan mudah mendapatkan wanita yang hampir membuatnya kehilangan nyawa.
“Aku tidak tahu apa yang membuatmu penasaran, tapi aku sendiri yang sudah mengecek identitas Tristan secara pribadi, menurutku tidak ada yang spesial dari latar belakang Tristan.”
Devan langsung berhenti berjalan ketika mendengar jawaban Purwadi yang terdengar sangat meyakinkan, Devan merasa Purwadi tidak berbohong tentang status Tristan, apa lagi Purwadi berkata jika dia sendiri yang mengecek latar belakang Tristan.
Satu-satunya alasan yang masuk akal tentang mengapa Tristan bisa bersama wanita cantik itu hanya satu, Tristan adalah pria yang dipelihara oleh wanita itu pikir Devan.
Dia langsung berbalik dan kembali menuju tempat Gea berada.
“Mengapa kamu lama sekali?” protes Gea yang terlihat cemberut menunggu Devan.
“Maafkan aku, tadi aku menerima telepon dari seseorang,” jawab Devan sembari duduk kembali di kursinya.
Sambil berpura-pura mendengar cerita Gea, Devan sesekali melirik ke arah cafe tempat Tristan dan Tiysa berada saat ini. Dari tempatnya duduk sekarang, dia bisa memantau pergerakan Tristan dan Tiysa.
Beberapa saat berlalu, Tristan dan Tiysa terlihat sudah selesai dan bersiap untuk pulang, setelah membayar makanan mereka, Tiysa kembali merangkul mesra lengan Tristan dan meninggalkan tempat itu.
Devan yang melihat itu langsung menghentikan Gea yang sedang berbicara, dengan wajah yang dibuat terlihat kaget, dia menunjuk ke arah Tristan dan Tiysa.
__ADS_1
Gea langsung menoleh ke tempat yang di tunjuk oleh Devan, matanya langsung melotot tak percaya dengan apa yang dia lihat, seorang wanita cantik dengan mesra merangkul tangan tunangannya. Hal yang paling membuatnya sakit hati karena dia melihat ekspresi bahagia di wajah Tristan, ekspresi yang sama ketika Tristan belum berubah kepadanya.
Gea menjadi benar-benar marah, dia tidak menyangka jika Tristan berselingkuh, Gea langsung mengemas barangnya dan ingin melabrak wanita itu, namun tepat sebelum Gea melangkah, Devan dengan cepat langsung menghentikannya.
“Jangan Gea, itu percuma,” kata Devan sambil memegang tangan Gea.
“Jangan hentikan aku!” teriak Gea sambil menitikkan air mata.
“Jika kamu melakukan itu, Tristan pasti akan semakin marah kepadamu,” balas Devan berusaha menenangkan Gea.
Gea terdiam, apa yang dikatakan Devan ada benarnya, jika sekarang dia langsung mendatangi Tristan dan melabrak wanita itu, Tristan pasti akan semakin membencinya. Apalagi saat ini hubungannya dengan Tristan sedang kurang baik.
“Untuk saat ini lebih baik kita mengikuti mereka berdua terlebih dahulu,” kata Devan memberikan ide.
Sambil mengusap air matanya Gea mengangguk pelan, dia setuju dengan rencana Devan.
Dengan jarak yang cukup aman, Devan dan Gea mengikuti mobil Audi Coupe putih milik Tiysa, Devan juga menceritakan tentang latar belakang Tiysa kepada Gea, dia mengatakan jika Tiysa adalah wanita simpanan pengusaha kaya raya yang memiliki kekuasaan besar.
Dia meminta Gea untuk tidak gegabah apalagi sampai menyinggung Tiysa, kekayaan yang dimiliki oleh pria yang melindungi Tiysa jauh lebih besar dari pada keluarga Kuncoro.
Gea tidak membantah perkataan dari Devan, dia juga melihat kendaraan yang dimiliki oleh Tiysa memang hanya bisa di beli oleh orang kaya, dia setuju untuk tidak menyinggung Tiysa dan mencari cara lain agar Tiysa bisa meninggalkan Tristan.
Mobil Tiysa berhenti tepat di depan kediaman Tristan, tak lama kemudian mereka berdua turun dari mobil, Tristan yang berada di bagian pengemudi berjalan menghampiri Tiysa.
Mereka lalu terlihat berciuman dengan mesra sebelum akhirnya Tiysa pergi meninggalkan kediaman Tristan.
Air mata Gea mengalir dengan deras ketika melihat adegan itu dari mobil Devan. Dia tidak menyangka jika Tristan bisa mesra seperti itu dengan Tiysa, sejak mereka bertunangan Tristan bahkan tidak pernah mencium bibirnya, itu membuat hati Gea serasa hancur berkeping-keping.
Ingin rasanya dia turun dan langsung bertanya kepada Tristan, tapi karena teringat perkataan Devan, dia mengurungkan niatnya.
Devan mengambil kesempatan, dia mengecup kening Gea dan menunggu reaksi dari Gea, ketika mendapati tidak ada penolakan dari Gea, Devan langsung berkata.
“Bagaimana jika kita ke Hotel temanku, mungkin di sana kamu bisa menenangkan dirimu terlebih dahulu,” kata Tristan sambil membelai rambut Gea.
__ADS_1
Gea mengangguk pelan, air matanya terus keluar, tanpa sadar dia baru saja menerima ajakan Devan yang lagi-lagi berniat buruk kepadanya.