
"Ivan lepaskan tanganku." Nindya tampak menarik-narik tangannya, dia berusaha melepaskan tangannya yang sedang di genggam erat oleh pria bernama Ivan.
Teman wanita Nindya yang juga mengenal Ivan terlihat berusaha mendorong tubuh Ivan, namun usahanya sia-sia Ivan tetap tidak bergeming dan terus memegang tangan Nindya.
"Nindya sudah kukatakan jika aku menyukaimu, aku bahkan rela menyewa jet pribadi hanya untuk mengejarmu kesini." kata Ivan.
"Sudah aku katakan, aku tidak menyukaimu, mengapa kamu terus memaksa," protes Nindya.
"Ivan lepaskan tangan Nindya, jika kamu tidak melepasnya, aku akan memanggil petugas keamanan di tempat ini," kata teman wanita Nindya mengancam Ivan.
"Hahaha, silahkan panggil petugas keamanan di tempat ini, aku tidak takut, dengan uang yang dimiliki keluargaku, aku paling hanya akan menginap sehari, setelah aku bebas, aku akan kembali mencari Nindya." Dengan sikap yang sombong, Ivan tidak gentar mendengar ancaman dari teman Nindya.
"Hei, lepaskan tangan adikku." Tristan yang baru tiba langsung mencengkram erat tangan Ivan yang sedang memegang tangan Nindya.
"Kak Tristan," kata Nindya sambil menatap wajah Tristan dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak? kamu pikir kamu bisa menipuku semudah itu, aku sudah mengetahui jika Nindya adalah anak tunggal, jadi percuma jika kamu mencoba membodohiku," kata Ivan yang tidak percaya jika Tristan adalah Kakak Nindya.
"Perhatikan cara bicaramu." Gino yang juga baru tiba langsung merangkul Ivan sambil menekan bagian leher Ivan dengan ibu jarinya.
Ackk! Pekik Ivan, dia refleks melepas tangan Nindya yang sedang dia pegang.
Teman-teman wanita Nindya sangat terkejut dengan keadaan itu, dua pria tampan bermata biru datang dan melindungi Nindya dari Ivan.
"Сволочь!" (bajingan) seru Ivan mengumpat dalam bahasa Rusia.
Bukk!
Tristan yang mendengar itu langsung melayangkan tinjunya ke wajah Ivan. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ivan dan berkata, "Следите за своим ртом," (Jaga mulutmu)
Ivan terperangah mendengar Tristan yang berbicara menggunakan bahasa Rusia dengan fasih.
Nindya dan teman-teman wanitanya juga sama terkejutnya, dia tidak menyangka jika Tristan dengan santainya melayangkan tinjunya ke wajah Ivan.
"Kak Tristan serahkan masalah yang ada disini kepadaku," kata Gino sambil menepuk-nepuk pundak Ivan.
"Kak?" Nindya yang merasa sedikit aneh dengan cara Gino memanggil Tristan langsung menatap Tristan dengan penuh tanda tanya.
Tristan menggaruk kepalanya, "Ah, Gino seumuran denganmu, karena itu dia memanggilku kakak," kata Tristan menjelaskan.
"Sudahlah, mari kita serahkan masalah disini kepada Gino, ayo kita pergi menemui Tiysa, dia pasti sangat rindu ingin bertemu dirimu," sambung Tristan.
" Baiklah Kak," jawab Nindya singkat.
__ADS_1
Nindya lalu menoleh ke Gino, sambil tersenyum dia berkata, "Gino, terima kasih."
"Apapun untukmu sayang," jawab Gino sambil tersenyum kepada Nindya.
Teman Nindya yang menyaksikan itu dibuat terheran-heran, bukan hanya karena Gino yang dengan santainya mengucapkan kata sayang kepada Nindya.
Nindya juga terlihat tidak mempermasalahkan Gino yang memanggilnya dengan sebutan sayang, hal itu yang membuat teman-teman Nindya semakin merasa kebingungan.
Ivan ingin kembali mengejar Nindya yang sudah pergi meninggalkan tempat itu, namun belum sempat dia melangkah Gino langsung menariknya sambil berkata, "остановись или я убью тебя," (Berhenti atau aku akan membunuhmu)
Ivan sangat terkejut, bukan hanya pria yang mengaku sebagai kakak Nindya yang fasih berbahasa Rusia, pria yang sedang merangkulnya juga sangat fasih berbahasa Rusia.
Ivan menoleh ke Gino, dia bisa melihat Gino yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin tidak bersahabat.
Tak lama setelah itu Haris dan Faiz yang sejak tadi mengamati, datang menghampiri Gino, Ivan yang melihat sosok Haris dan Faiz mulai ketakutan, itu karena aura yang dikeluarkan Haris dan Faiz seperti bos-bos mafia yang berada di negaranya.
"Pak Haris, apakah kamu sudah mengetahui latar belakang pria ini?" tanya Gino.
"Sudah Tuan Muda, orang-orangku sudah memberikan informasi terkait pria ini," jawab Haris, beberapa saat yang lalu dia dan Faiz langsung segera mencari informasi tentang Ivan begitu kedua Tuan Muda mereka berinteraksi dengan Ivan.
"Bagus, saat aku tiba di Rusia, suruh keluarganya datang menghadap kepadaku," balas Gino.
Keadaan semakin buruk bagi Ivan ketika melihat tulisan Yaroslav di pesawat pribadi berwarna hitam yang terparkir. Dia yang juga berasal dari Rusia tentu saja mengenal keluarga Yaroslav, keberaniannya menghilang, dia menunduk lemas, dia sudah pasrah akan seperti apa nasibnya di tangan Gino.
_
“Siapa pria tadi?” tanya Tristan, dia sedang dalam perjalanan menuju showroom mobil bekas milik Yono tempat Tiysa bekerja.
“Pria itu bernama Ivan, dia pria berkebangsaan Rusia yang memiliki perusahaan di Amerika.”
Setelah mengatakan itu, Nindya mulai bercerita tentang pengalaman kurang menyenangkan yang harus dia lalui karena kelakuan Ivan.
Perusahaan yang dimiliki Ivan sempat memiliki proyek kerja sama dengan perusahaan tempat Nindya bekerja, karena proyek itulah Nindya akhirnya bisa mengenal Ivan.
Namun pada saat Ivan mengajaknya makan malam berdua, Nindya akhirnya mengetahui jika Ivan memiliki niat yang buruk kepadanya.
Hal itu terjadi ketika Nindya sedang berada di toilet restoran itu, seorang pelayan wanita memberitahu kepadanya jika minuman yang Nindya pesan ternyata sudah di campur dengan obat afrodisiak yang memiliki efek meningkatkan gairah atau libido seseorang.
Dan orang yang memerintahkan pelayan untuk mencampur minuman Nindya dengan obat adalah Ivan. Sejak mengetahui hal itu, Nindya berusaha menjauh dari Ivan, namun sayangnya karena Ivan adalah anak dari keluarga yang kaya, dia dengan mudah selalu dapat mengetahui keberadaan Nindya.
__ADS_1
Nindya tampak menghela nafasnya berulang kali ketika menceritakan hal itu kepada Tristan.
“Sebaiknya kamu tidak usah menceritakan hal ini kepada Tiysa ataupun pak Suryo, aku yakin mereka akan sangat khawatir dan melarangmu kembali ke Amerika,” kata Tristan sambil mengemudikan mobil.
Nindya mengangguk setuju dengan perkataan Tristan, dia tidak ingin membuat ayahnya menjadi khawatir.
Beberapa saat kemudian, Tristan dan Nindya telah sampai di shoroom mobil bekas milik Yono.
Tiysa yang sudah menunggu kedatangan mereka langsung berlari menghampiri Nindya yang sedang berdiri di dekat pintu mobil.
Tiysa memeluk tubuh mungil Nindya, setelah kepergian Tristan 5 tahun yang lalu hubungan Tiysa dan Nindya sudah sangat dekat.
Tristan sendiri tidak turun dari mobil, dia menunggu di kursi pengemudi karena takut jika Yono akan melihatnya.
Tristan sudah memiliki rencana untuk Yono, jadi belum saatnya bagi Tristan bertemu dengan Yono.
“Malam ini kamu sebaiknya menginap di apartemen kami, kata Tiysa sambil menoleh ke kursi belakang.”
“Apartemen kami? jangan bilang Kak Tiysa dan Kak Tristan tinggal bersama di apartemen?” Nindya yang duduk di bagian kursi belakang tampak terkejut mendengar perkataan Tiysa.
“Iya kami tinggal bersama,” jawab Tiysa sambil tersenyum genit kepada Nindya.
“Tidak... Tidak, aku tidak mau gara-gara aku menginap di tempat Kak Tiysa, Kak Tristan harus tidur di Sofa malam ini.” Nindya yang sesekali melakukan panggilan video dengan Tiysa sudah mengetahui kondisi apartemen Tiysa.
“Mengapa aku harus tidur di sofa?” tanya Tristan sambil tertawa.
“Itu karena apartemen Kak Tiysa hanya memiliki satu tempat tidur,” jawab Nindya.
“Hahaha, Nindya, aku lupa memberitahu jika aku sudah tidak tinggal di apartemenku, saat ini aku tinggal di apartemen milik Tristan."
“Sebaiknya kamu melihat sendiri kondisi apartemen kami sekarang, aku yakin kamu akan menyukainya," sambung Tiysa.
__
Visual Faiz 🤔🤔
Visual om Haris lagi 🤭🤭
__ADS_1