
Malam itu, Tristan benar-benar dibuat kewalahan dengan sikap Tiysa, dia takut jika dia tidak bisa mengontrol dirinya. Tiysa yang tiba-tiba menjadi agresif terus berusaha ******* bibirnya.
Jika ini di rumahnya entah apa yang akan terjadi pikir Tristan, namun karena sedang berada di rumah orang tua Tiysa dia berusaha menjaga pikirannya agar tetap waras. Dia tidak ingin mengecewakan kepercayaan yang diberikan oleh orang tua Tiysa. Akan sangat bodoh jadinya jika kedua orang tua Tiysa tiba-tiba melihat mereka beradegan seperti itu.
Berkali-kali dia berusaha menghentikan Tiysa, namun begitu dia berhasil menjauhkan Tiysa darinya, beberapa saat kemudian, Tiysa kembali memeluknya dan mencium bibirnya, Tristan berpikir sejenak, tiba-tiba sebuah ide muncul dikepalanya.
Sambil tetap berada di pelukan Tiysa, Tristan balik memeluk dan mengangkat Tiysa ke tempat tidur, dia lalu merebahkan tubuh Tiysa yang masih terlihat terlalu bersemangat, dia mulai melepas kancing baju kemejanya satu persatu, setelah itu dia membuka kemejanya dan melemparnya ke lantai.
Setelah melepas bajunya Tristan membuka celana panjang yang dia kenakan hingga hanya menggunakan boxer berwarna hitam.
Tiysa yang sedang lepas kontrol tiba-tiba tersadar melihat Tristan yang hanya menggunakan boxer, wajahnya semakin merah.
Tristan mendekatkan wajahnya di telinga Tiysa yang sudah menutup matanya rapat-rapat.
“Aku... mau... mandi...,” bisik Tristan di telinga Tiysa dan langsung menyambar handuk yang berada di samping Tiysa.
Dia melilitkan handuk itu di pinggangnya, sambil tertawa dia pergi menuju kamar mandi yang berada di lantai 2 rumah Tiysa.
Tiysa sendiri langsung tersadar mendengar bisikan Tristan di telinganya, dengan perasaan malu dia memandangi punggung Tristan yang berjalan pergi menjauh darinya.
Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia tidak menyangka jika dirinya tadi berbuat seperti itu.
Beberapa saat kemudian Tristan kembali ke kamar, karena sudah hampir jam 12 malam, dia hanya membasuh muka dan membersihkan badannya yang berkeringat karena membantu ibu Tiysa tadi memasak di dapur.
Dia memandangi wajah Tiysa yang kini sedang tersipu malu, ternyata tebakannya benar, Tiysa akan kembali sadar jika dia melakukan hal tadi di depan Tiysa.
__ADS_1
Setelah berganti pakaian, Tristan duduk di tempat tidur bersama Tiysa, beberapa kali dia terlihat menggoda Tiysa dengan berkata “Aku sudah siap, apa lagi yang kamu tungu.”
Mendengar itu Tiysa hanya bisa kembali menutup wajahnya. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa tadi dia bisa senekat itu kepada Tristan.
Sepanjang malam mereka berdua bercerita banyak hal, mereka bercanda dan tertawa bersama, sampai akhirnya di jam 3 subuh Tiysa kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
__
Tiysa membuka matanya, cahaya matahari menembus tirai jendela Tiysa, dia tersenyum mengingat banyak hal yang terjadi semalam dengan Tristan.
Dia bangun dari tempat tidurnya, dengan bersemangat dia hendak menuju kamar Tristan untuk membangunkan kekasihnya, namun ketika membuka pintu, dia langsung tersenyum bahagia, sambil bersandar di pintu kamarnya, dia memandangi Tristan yang sedang bercengkerama dengan kedua orang tuanya.
Setelah membersihkan diri, Tiysa ikut bergabung bersama Tristan.
“Tiysa, mengapa kamu membeli mobil mewah seperti itu?” tanya ayah Tiysa. Dia kemarin diberitahu oleh salah satu tetangganya harga dari mobil yang di kendarai putrinya.
Tiysa yang melihat kedipan mata Tristan langsung tertawa. “Akan kubalas perbuatanmu kemarin,” gumamnya dalam hati.
“Itu Tristan ayah, dia yang membeli itu, aku sudah menolak tapi dia terus memaksa untuk memberikan mobil itu kepadaku,” jawab Tiysa dengan manja kepada Ayahnya.
“Bukan cuma satu, dia membeli tiga pu-.”
Dengan cepat Tristan menutup mulut Tiysa dengan telapak tangannya.
“Ha... ha... bagaimana tehnya paman, apakah enak?” tanya Tristan dengan canggung berusaha mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Ayah Tiysa langsung terkejut melihat reaksi Tristan. Dia merasa jika putrinya dan Tristan sedang menyembunyikan sesuatu.
“Nona Tiysa, aku mohon berhentilah...,” bisik Tristan dengan nada memelas.
Tiysa menggangguk pelan, Tristan melepaskan tangannya dari mulut Tiysa.
Tiysa lalu bagun dari duduknya dan pergi menuju ibunya di dapur.
Sebelum tiba di dapur Tiysa berkata. “Tiga puluh ayah..., dia membeli tiga puluh mobil seperti itu,” seru Tiysa sambil menjulurkan lidahnya mengejek Tristan.
Tristan langsung menepuk jidatnya sendiri, dia telah dijual oleh wanita yang dicintainya.
“Tiga puluh!” Ayah Tiysa sangat terkejut mendengar ucapan Tiysa.
“Tristan kita harus bicara,” tegas ayah Tiysa.
Ayah Tiysa lalu mulai menasehati Tristan untuk tidak boros dan terlalu menghambur-hamburkan uangnya. Tiysa dan ibunya tertawa melihat Tristan yang menunduk karena di marahi oleh Ayah Tiysa. Pemandangan itu terlihat seperti seorang ayah yang sedang memarahi anak nakalnya.
Bukannya sedih atau kecewa, Tristan malah terlihat sangat senang di marahi oleh ayah Tiysa, setelah dua tahun kepergian ayah dan ibunya, momen seperti ini selalu di rindukan olehnya. Momen ketika dia dimarahi oleh orang tuanya karena sudah melakukan kesalahan.
Beberapa saat kemudian.
Ting !!
Pesan notifikasi berbunyi, Tristan segera mengecek ponselnya
__ADS_1
[Haris] Tuan Muda, kami sudah mengetahui keberadaan Bisma dan anaknya.