Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 56 : Pria bernama Gino


__ADS_3

"Sepertinya Tiysa sudah bertemu dengan pria yang cocok dengannya," jawab Tristan dengan suara lemah.


"Mengapa Tuan Muda berkata seperti itu," tanya Haris.


"Yang menjawab panggilan teleponku adalah seorang pria, dia berkata jika Tiysa sedang berada di rumah pria itu, ponsel Tiysa juga ketinggalan di mobil pria itu, hah... bukankah itu sudah menandakan jika mereka mempunyai hubungan spesial?" kata Tristan.


"Apakah ponsel milik Tuan Muda di nonaktifkan?" tanya Haris.


"Iya, aku tidak ingin mengganggu hubungan mereka," jawab Tristan, dia menatap kosong ponsel yang berada di tangannya.



"Hahaha...." Haris tertawa mendengar jawaban Tristan.


"Maafkan aku Tuan Muda, biar aku jelaskan apa yang membuatku tertawa, 5 tahun yang lalu aku mengenal seorang gadis cantik, dia sangat mencintai pasangannya, namun suatu saat dia mengetahui jika pasangannya sudah memiliki tunangan, karena tidak ingin menjadi pengganggu, wanita itu menonaktifkan ponsel miliknya dan membuat pasangannya kebingungan karena tidak bisa menghubungi nomor wanita itu untuk menjelaskan permasalahannya," kata Haris sambil melirik Tristan.


"Pffft! Hahaha! Pak Haris, kamu benar-benar sudah berubah selama 5 tahun ini, kamu sekarang bahkan berani menyindirku langsung," kata Tristan sembari tertawa lepas.


Tristan menyadari jika wanita yang dimaksud Haris adalah Tiysa, dan sekarang karena cemburu, Tristan juga melakukan hal serupa yang telah Tiysa lakukan 5 tahun yang lalu.


"Tuan Muda dan Nona Tiysa benar-benar pasangan serasi, bahkan kalian berdua melakukan hal serupa," balas Haris.


Tristan terus tertawa, dia akhirnya menyadari kelakuan konyolnya yang langsung ingin melepas Tiysa tanpa mencari tahu kebenaran yang terjadi, dia yakin saat ini Tiysa sedang mencoba menghubunginya berkali-kali, seperti yang dirinya lakukan 5 tahun lalu.


"Tuan Muda bisa bersabar selama 5 tahun, menunggu selama satu hari lagi tentunya bukan masalah besar," kata Haris.


"Kamu benar Haris, sepertinya aku tidak akan mengaktifkan ponselku sampai aku mengetahui kebenarannya."


"Jadi Tuan Muda akan pergi kemana terlebih dahulu, Rusia atau Indonesia," tanya Haris.


"Indonesia," jawab Tristan tegas.


___


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...."


Entah sudah berapa kali Tiysa mencoba menghubungi nomor Tristan, namun hanya jawaban tidak aktif yang Tiysa dapatkan.


Semangat yang tadi terpancar dari wajahnya kini mulai menghilang, dia terdengar beberapa kali menghela nafasnya.


"Aku benar-benar ceroboh," keluh Tiysa dengan mata berkaca-kaca.


Dian kembali mengelus rambut adik cantiknya yang lagi-lagi bersedih.


"Kamu jangan bersedih lagi, dengan dia menghubungi ponselmu, itu sudah menjadi pertanda yang bagus," kata Dian.


Tiysa mengangguk pelan.


Bzzt... bzzt...

__ADS_1


Ponsel Tiysa tiba-tiba bergetar, dengan cepat dia langsung menjawab panggilan telepon yang masuk.


"Tris-"


"Halo Tiysa, apakah kamu ada waktu hari ini?"


Lagi-lagi Tiysa harus kembali kecewa karena pria yang menghubunginya bukan Tristan.


"Gino, maafkan aku, sepertinya aku-"


"Tiysa, aku hanya meminta waktumu untuk hari ini, besok aku akan pergi keluar kota, jadi aku tidak akan berada di Jakarta selama beberapa waktu ke depan," kata Gino memotong ucapan Tiysa.


Tiysa menoleh ke Dian, dia meminta pendapat Dian tentang Gino yang memintanya untuk bertemu.


Dian yang juga bisa mendengar percakapan Tiysa langsung tersenyum dan mengangguk, dia merasa jika Tiysa sebaiknya pergi bertemu Gino untuk menenangkan dirinya, lagi pula setelah melihat foto dan mendengar cerita Tiysa tentang Gino, Dian juga merasa jika Gino bukanlah pria berengsek.


Tiysa tersenyum dan kembali berbicara dengan Gino.


"Baiklah, dimana kamu ingin bertemu?" tanya Tiysa.


"Sejujurnya saat ini aku berada di samping mobilmu, karena tidak menemukanmu makanya aku menghubungi kamu," jawab Gino.


"Oh, di tempat itu..., ada cafe di dekat situ, bagaimana jika kita bertemu di cafe itu saja?"


"Baiklah," kata Gino yang sepertinya sudah melihat cafe yang dimaksud Tiysa.


Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, Tiysa mohon pamit kepada Dian.


"Istriku..., putri tercintaku... ayah pulang...," seru Yuda bersemangat.


Buk!


"Aduh!" Pekik Yuda yang tiba-tiba dilempar bantal kursi oleh Dian.


"Sayang, apa yang sudah kamu lakukan?"


kata Dian sambil mendengus kesal.


Yuda yang tidak mengerti terlihat menggaruk kepalanya sendiri, "Apa yang aku lakukan?" tanya Yuda yang merasa tidak melakukan kesalahan.


"Bukankah kamu tadi menjawab panggilan telepon yang masuk di ponsel Tiysa?" tanya Dian.


"Iya...," jawab Yuda.


"Apa yang kamu katakan kepada pria itu?"


"Aku berkata jika Tiysa sedang berada di rumahku dan ponselnya ketinggalan di mobilku," jawabnya yang masih tidak mengerti.


"Sayangku, itu dari Tristan," kata Dian.

__ADS_1


"Oh, pria yang sudah ditunggu Tiysa selama 5 tahun ini, baguslah akhirnya dia menghubungi Tiysa lagi," kata Yuda sambil tersenyum bahagia.


Buk!


"Aduh! Apa lagi sayang?" protes Yuda yang lagi-lagi mendapat serangan bantal dari istri tercintanya.


"Sayang, mengapa kamu tidak peka, jika kamu menghubungi ponselku, lalu yang menjawab panggilanmu adalah seorang pria, lalu pria itu berkata jika aku sedang berada di rumahnya dan ponselku ketinggalan di mobilnya, bagaimana perasaanmu?" keluh Dian, sambil mendengus kecil.


"Hei, tentu saja aku akan mara..., astaga sayang! Apa yang telah aku lakukan?" seru Yuda yang sudah menyadari kesalahannya.


Yuda langsung panik, dia terlihat mengambil ponselnya dan ingin menghubungi seseorang.


"Siapa yang akan kamu hubungi?" tanya Dian sambil menaikkan kedua alisnya.


"Tristan, aku akan menjelaskan semuanya kepada Tristan," kata Yuda yang terlihat sangat panik.


"Hah... Apakah kamu memiliki nomor Tristan?" tanya Dian sambil menepuk jidatnya sendiri.


Yuda menoleh ke Dian dengan senyuman yang dipaksakan, dia lalu berkata, "Aku lupa jika aku tidak memiliki nomor Tristan." kata Yuda dengan polosnya.


Dian kembali menepuk jidatnya sendiri melihat kelakuan suaminya.


"Sudahlah, semoga semuanya akan baik-baik saja," kata Dian sambil tertunduk lesu.


___


Beberapa saat kemudian Tiysa sudah tiba di cafe tempat dia dan Gino janji untuk bertemu. Setelah saling menyapa, mereka mengambil tempat di bagian sudut cafe itu, meja dengan dua kursi yang saling berhadapan, sangat cocok untuk pengunjung yang datang bersama pasangannya.


Gino terus memandangi wajah Tiysa, hari ini Tiysa tetap cantik seperti biasanya, namun Gino menyadari jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran Tiysa, raut wajah Tiysa seolah mengatakan itu kepadanya.



"Tiysa, ada apa?" tanya Gino.


Tiysa tersenyum mendengar pertanyaan Gino, "Tidak apa-apa," jawabnya singkat.


"Apakah ini ada hubungannya dengan pria bernama Tristan itu?"


Tiysa diam dan tak menjawab pertanyaan Gino.


"Tiysa, ini sudah lima tahun, kamu juga tidak tahu jika dia akan kembali atau tidak, mengapa kamu begitu setia menunggu pria itu," keluh Gino sambil mendengus kecil.


"Hah... jika kamu menerimaku menjadi pacarmu, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu seperti Tristan, aku juga berjanji akan selalu berada di sampingmu, dan aku bahkan akan langsung memintamu menjadi istriku," sambung Gino dengan tegas.


Tiysa tersenyum, dia lalu berkata, "Gino, mari kita ganti topik pembicaraan, ... jadi berapa lama kamu akan berada di luar kota?" tanya Tiysa yang berusaha mengganti topik pembicaraan.


Gino menghela nafasnya, "Mungkin-"


"Dasar wanita sialan! Itu karena kamu terus menggoda tunanganku! Sehingga dia pergi meninggalkanku!" Teriak Gea yang yang tiba-tiba muncul di tempat itu.

__ADS_1


__



__ADS_2