
Di kediaman Prabaswara, Hartono menjelaskan status dari Tristan, yang merupakan tunangan dari anak Purwadi kepada Bimo Ayah Tiysa dan Kirana Ibu Tiysa, mereka berdua tercengang dan sedikit kecewa ketika mengetahui jika Tristan adalah tunangan dari anak Purwadi, namun setelah Hartono mengatakan jika pertunangan Tristan sudah dibatalkan, Bimo dan Kirana langsung bernafas lega.
Mereka berdua tahu jika anak mereka sangat mencintai Tristan, mereka tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Tiysa jika Tristan masih berstatus calon menantu keluarga Kuncoro.
Di rumah itu mereka saling bercerita, ketiga paman dan bibi Tristan juga ikut bergabung bersama mereka, dari cerita yang mereka sampaikan Tristan akhirnya bisa mengerti mengapa mereka semua terlihat saling mengenal satu sama lain.
Hartono Prabaswara Kakek Tristan, Subroto Kuncoro Ayah Bisma dan Hendro Harsa Ayah Bimo yang juga adalah Kakek Tiysa, merupakan tiga sahabat dekat, mereka bertiga jugalah yang menjadi cikal bakal berdirinya Tirta Baskara Group.
Karena sering bekerja sama akhirnya ketiga anak mereka, Bisma, Bimo dan ibu Tristan menjadi seperti saudara.
Bisma, Bimo, Kirana dan Ibu Tristan ternyata juga berkuliah di kampus yang sama di Amerika. Di kampus itu juga kedua orang tuanya bertemu dan saling jatuh cinta.
Ketika Kakek Tiysa meninggal dan Ayah Tiysa tiba-tiba jatuh sakit, momen itu yang digunakan Purwadi untuk menyerang keluarga Harsa.
Hal itu yang menyebabkan keluarga Tiysa, memilih menyembunyikan keberadaannya dari Tirta Baskara Group dan keluarga Prabaswara, Ayah dan ibu Tiysa tidak ingin merepotkan Hartono yang sudah mereka anggap seperti orang tua sendiri.
Alasan yang sama juga diucapkan oleh Bisma, setelah dia dan anaknya dicoret dari keluarga Kuncoro, mereka berdua memilih menyembunyikan diri karena tidak mau merepotkan Kakek Tristan.
Karena permintaan dari keluarga ayah Tristan di Rusia, Hartono masih tetap menyembunyikan identitas asli Tristan dari Bisma dan keluarga Tiysa. Terlihat ketiga Bibi Tristan sesekali ingin memeluk Tristan, namun di tahan oleh suami mereka karena takut identitas Tristan terbongkar.
Beberapa jam berlalu, saatnya mereka berpisah, Bisma tak henti-hentinya terus mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Tristan, berkat Tristan Bisma bisa menemani Subroto menghabiskan waktu bersama di hari-hari terakhirnya.
Damar sendiri tidak berkata apa-apa, dia memeluk Tristan dan menepuk-nepuk halus pundak Tristan sebagai ungkapan terima kasihnya.
Setelah berpamitan, Tristan meninggalkan kediaman Kakeknya di Bogor.
__ADS_1
“Pak Tristan, terima kasih” ucap Suryo dengan mata berkaca-kaca kepada Tristan. Dia benar-benar bersyukur karena berbagai hal yang terjadi hari ini.
Tristan tersenyum dan mengangguk pelan, “Ayo kita kembali ke Jakarta.” ucap Tristan.
__
“Kak Tiysa, bagaimana jika Kak Tiysa bertanya kepada Tristan terlebih dahulu,” kata Gina sembari mengelus rambut Tiysa.
Tiysa menggelengkan kepalanya, matanya terlihat sembab, sudah beberapa jam Tiysa terus menangis.
Setelah berbicara dengan Gea, Tiysa langsung meminta cuti kepada Yono selama beberapa hari, dia tidak bisa beraktivitas dengan kondisinya seperti ini.
Gina yang khawatir dengan kondisi Tiysa juga ikut meminta izin, dia memutuskan menemani Tiysa dalam menghadapi masalahnya.
Bzzt...Bzzzt....
“Kak Tiysa ini dari Tristan,” kata Gina sambil menunjukkan nama pemanggil di layar ponsel Tiysa.
“Tidak Gina, aku tidak bisa... aku takut jika aku mendengar suara Tristan, aku semakin tidak bisa melupakan dirinya....” Tiysa kembali menangis, dia terus membenamkan wajahnya di bantal.
Gina meletakkan ponsel Tiysa di meja, dia lalu kembali mengelus rambut Tiysa, Gina betul-betul tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Tiysa.
Ponsel Tiysa terus bergetar, berkali-kali Tristan mencoba menghubungi Tiysa, namun Tiysa sama sekali tetap pada pendiriannya untuk tidak lagi berhubungan dengan Tristan.
_
__ADS_1
Di kamarnya Tristan terus memandangi layar ponselnya, sudah lebih 30 kali panggilan yang dia lakukan, namun Tiysa tetap tidak menjawab panggilan teleponnya.
Tentu saja Tristan merasa aneh, ini pertama kalinya Tiysa tidak langsung menjawab panggilan teleponnya. Bahkan ketika Tristan mengirim pesan kepada Tiysa, tidak ada balasan yang dia dapatkan dari Tiysa.
Tristan menjadi khawatir, dia takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Tiysa.
Dia kembali mengambil ponselnya dan segera menghubungi Haris.
“Pak Haris,”
“Siap Tuan Muda,” jawab haris singkat.
“Di mana posisi Tiysa sekarang?” tanya Tristan dengan perasaan cemas.
Haris diam sejenak menunggu jawaban dari anak buahnya yang disuruh untuk mengawasi Tiysa.
“Dia ada di indekosnya bersama temannya yang bernama Gina,” jawab Haris.
“Selain Gina, apakah ada orang lain di tempat Tiysa?” Tristan kembali bertanya kepada Haris. Dia masih merasa cemas.
“Tidak Tuan, Tiysa hanya bersama Gina saat ini,” jawab Haris.
“Baiklah Pak Haris, terima kasih atas laporanmu.” Kata Tristan mengakhiri panggilannya.
Tristan merebahkan tubuhnya di tempat tidur, “Mungkin dia sudah tidur,” gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Dia akan kembali mencoba menghubungi Tiysa besok pagi.