Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 37 : Makan Bersama Orang Tua Tiysa


__ADS_3

Tristan tersenyum memandangi ponselnya karena Tiysa baru saja mengakhiri panggilannya secara tiba-tiba. Dia menebak-nebak apa yang akan Tiysa rencanakan.


Mobil yang dikemudikan Haris menepi di depan sebuah restoran, sebelum kembali ke Jakarta, Tristan memutuskan untuk singgah makan malam terlebih dahulu.


Tristan membuka pintu lalu turun dari mobil. Tepat setelah menutup pintu, tiba-tiba seseorang memegang tangannya dan berkata.


“Maaf pemuda ini harus kami tahan,” ucap pria itu sambil menatap Haris yang berdiri di dekat Tristan.


Biasanya, Haris akan langsung menghajar atau menyiksa sampai mati orang yang berani mengatakan kalimat seperti itu kepadanya, namun saat ini berbeda, ketika mendengar ucapan pria itu, Haris langsung tersenyum dan sedikit menunduk dengan sopan.


Pria yang berani berbuat seperti itu adalah ayah Tiysa, setelah mendengar penjelasan anaknya dan mengetahui lokasi Tristan, Ayah Tiysa langsung memutar balik mobilnya dan menuju ke tempat Tristan.


Tristan sendiri juga terkejut begitu melihat Ayah Tiysa yang sudah memegang tangannya. “Paman, ada apa?”


“Nak, kamu sudah membantuku, izinkan aku menjamu kamu di rumahku,” balas ayah Tiysa dengan lembut kepada Tristan.


Ibu Tiysa yang baru turun dari mobil juga langsung menghampiri Tristan. “Mungkin makanan yang dimasak oleh Bibi tidak akan seenak makanan di restoran ini, namun-”


Belum sempat ibu Tiysa menyelesaikan kalimatnya, dengan lembut Tristan langsung memegang tangan ibu Tiysa dengan kedua tangannya. “Bibi jangan berkata seperti itu, baiklah aku akan ikut bersama kalian.”


Kedua orang tua Tiysa langsung tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Tristan.


Tristan sebenarnya ingin menolak permintaan ayah Tiysa, namun ketika dia mendengar perkataan ibu Tiysa, dia akhirnya menyetujui, dia takut akan terjadi kesalahpahaman jika dia menolak permintaan kedua orang tua Tiysa.


Kedua orang tua Tiysa juga mengajak Haris untuk ikut makan bersama, namun Haris menolak dengan sopan dan mengatakan jika dia masih ada urusan di tempat lain.


Awalnya Tristan mengira jika kedua orang tua Tiysa, mengajak dia makan bersama karena insiden mobil rusak tadi. Namun ketika dalam perjalanan menuju rumah Tiysa, ayah Tiysa mengatakan jika Tiysa sendiri yang menghubungi mereka dan memberitahukan identitas Tristan. Tristan tersenyum, dia sudah menebak jika Tiysa akan berbuat sesuatu, dia tidak menyangka jika Tiysa akan melibatkan kedua orang tuanya.


Tristan sudah tiba di kediaman orang tua Tiysa, rumah tingkat berukuran 8x12 dengan 2 kamar tidur di lantai bawah dan satu kamar tidur lagi di lantai atas. Sangat kecil jika di banding dengan rumah pemberian Kakek Subroto kepadanya, namun entah mengapa ada perasaan nyaman ketika pertama kali Tristan tiba di rumah itu.


Ruang tamu dan ruang keluarga bagaikan museum galery Tiysa, semua foto yang menempel di tembok kedua ruangan itu adalah foto Tiysa. Tristan tidak berhenti tersenyum ketika melihat foto-foto yang ada disitu, foto dari Tiysa masih TK sampai dia wisuda semua ada di tembok itu.


Melihat foto Tiysa dari masa ke masa membuat Tristan kembali mengagumi kecantikan dari wanita pilihannya itu. Ayah Tiysa juga terlihat ikut bergabung dengan Tristan, dia juga membawa beberapa album foto milik Tiysa. Dari foto-foto itu Tristan bisa melihat jika Tiysa mendapatkan begitu banyak kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Setelah puas melihat foto gadis pujaannya Tristan menghampiri Ibu Tiysa yang terlihat sibuk memasak di dapur, bunyi peralatan masak dari dapur itu membuat suasana rumah semakin menyenangkan.


“Bibi, biar aku bantu memasak,” ucap Tristan menawarkan diri.


“Tidak usah, Nak, kamu itu tamu di rumah ini,” jawab ibu Tiysa.


“Tidak apa-apa, lagian dulu aku sering membantu ibuku ketika memasak makanan untuk ayahku,” balas Tristan.


“Baiklah, tapi sebaiknya kamu melepas jas itu dulu,” kata ibu Tiysa sambil menunjuk Jas yang di kenakan Tristan.


“Iya Bibi,” jawab Tristan. Tristan lalu melepas Jas dan dasi yang dia kenakan, setelah itu dia melipat lengan kemeja panjangnya dan menggunakan celemek masak berwarna putih dengan motif bunga di tengahnya.


Ibu Tiysa meminta Tristan untuk memotong wortel dan kentang yang berada di sampingnya. Tristan mengangguk, dan mulai bekerja.

__ADS_1


Ibu Tiysa terus memperhatikan Tristan ketika mengupas dan memotong wortel, dia merasa jika Tristan tidak membual tentang dia yang sering membantu ibunya memasak, menurut ibu Tiysa, untuk ukuran pria Tristan memang termasuk lihai.


Beberapa saat berlalu, Ayah Tiysa terlihat sedang berbicara dengan tetangganya di luar rumah, masakan ibu Tiysa sendiri belum selesai, dia sedang memasak beberapa menu makanan hari ini, dia ingin menjamu Tristan dengan baik, orang yang sudah menyelamatkan suaminya.


Tiysa sudah masuk ke dalam Komplek rumahnya, di depan rumahnya dia melihat ayahnya yang sedang berbicara dengan 3 orang tetangganya yang memang cukup dekat dengan ayah Tiysa.


Tiysa berhenti tepat di depan rumahnya, ayah Tiysa sendiri terlihat mengernyitkan dahinya tatkala terkena sorotan lampu mobil Tiysa.


Ayah Tiysa dan tetangganya terlihat terkejut sewaktu melihat Tiysa turun dari mobil mewah itu, ayahnya memang belum mengetahui jika Tiysa memiliki mobil pemberian Tristan.


“Ayah...,” sapa Tiysa yang langsung memeluk ayahnya begitu turun dari mobil.


Setelah menyapa ayah dan tetangganya, Tiysa langsung berlari seperti anak kecil masuk ke dalam rumahnya. Raut wajahnya langsung berseri-seri bahagia tatkala dia melihat ke dapur, dia melihat pujaan hatinya sedang membantu ibunya, celemek berwarna putih dengan motif bunga yang dikenakan Tristan terlihat semakin menggemaskan di mata Tiysa.


Tristan menoleh dan langsung tersenyum ketika melihat Tiysa sudah berdiri di belakangnya. Tristan mengedipkan satu matanya dengan genit ke arah Tiysa untuk menggoda Tiysa, itu membuat Tiysa semakin salah tingkah.


“Tiysa, jangan berdiri saja, ayo sini bantu,” ucap ibu Tiysa memanggil anaknya yang sedang mematung melihat Tristan.


“Oke Ibu sayang,” jawab Tiysa manja.


Tiysa lalu melepas blazer berwarna merah yang dia kenakan kemudian menguncir rambutnya yang terurai, hal itu membuat bagian lehernya yang putih bersih terlihat.


Tristan kembali dibuat takjub dengan pemandangan itu, dia terus memperhatikan Tiysa.


“Hei...,” sahut ibu Tiysa sambil menyiku pelan pinggang Tristan yang terus-terusan memandangi Tiysa. Dia lalu tertawa melihat Tristan yang seakan terhipnotis memandangi anak gadisnya.


Tristan yang aksinya ketahuan oleh ibu Tiysa langsung tersenyum dan tertunduk malu, dia kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai asisten masak ibu Tiysa.


Namun ibu Tiysa tidak menjawab pertanyaan putrinya, dia membiarkan putrinya menebak sendiri hal apa yang membuat dia tertawa.


Beberapa saat kemudian, makanan telah selesai, ayah Tiysa ikut bergabung bersama mereka untuk makan malam, suasana nyaman dan hangat terasa dari rumah sederhana itu, mereka menyantap makanan sambil bercerita berbagai hal.


Beberapa jam berlalu dengan cepat, saat ini mereka berempat sedang menonton TV bersama di ruang keluarga. Tristan melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 23:15, sudah cukup lama Tristan berada di rumah Tiysa.


“Paman, Bibi, sepertinya aku harus pulang?” kata Tristan.


“Pulang!” seru Tiysa.


“Iya,” balas Tristan sambil mengangguk pelan.


Tiysa menoleh ke arah ayah dan ibunya, dia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan memelas tanpa satu kata pun terlontar dari mulutnya.


Ayah dan ibu Tiysa ingin tertawa melihat sikap anak gadisnya, mereka seakan langsung mengetahui arti tatapan memelas dari putri tunggalnya itu.


“Tristan... lebih baik kamu menginap saja malam ini, di lantai dua juga ada kamar kosong,” ucap ayah Tiysa.


“Apakah tidak apa-apa paman?” tanya Tristan, sewaktu masih tinggal di Rusia, dia sebelumnya sudah diberitahu oleh mendiang ibunya, jika pria tidak boleh menginap di rumah wanita, jika belum menikah.

__ADS_1


“Tentu saja,” jawab ayah Tiysa sambil tersenyum yang diikuti Ibu Tiysa yang juga ikut tersenyum kepada Tristan.


“Terima kasih atas kebaikan paman dan bibi,” balas Tristan.


Tak ada kata-kata yang terucap dari mulut Tiysa, dia menatap wajah ayah dan ibunya dengan mata berbinar-binar karena bahagia.


Tristan lalu mengabari Haris jika dia akan menginap di tempat Tiysa, dia juga meminta Haris untuk membawa baju ganti miliknya.


Beberapa saat kemudian, Haris tiba di depan rumah Tiysa, Tristan dan Tiysa terlihat sudah menunggu kedatangan Haris di depan rumah, setelah menyerahkan baju ganti, Haris mohon pamit kepada Tristan dan Tiysa.


“Tiysa... bagaimana dengan pertanyaanku tadi,” tanya Tristan penasaran.


Tiysa tidak berbicara, dia langsung menarik tangan Tristan ke dalam rumah.


“Ayah... ibu..., aku akan mengantar Tristan ke kamarnya,” sahut Tiysa sambil terus memegang tangan Tristan.


Ayah dan ibu Tiysa mengangguk memberi izin.


Tiysa menarik tangan Tristan menuju kamar kosong yang berada di lantai 2 rumahnya.


Begitu masuk ke dalam kamar, Tiysa langsung menutup pintu.


Tristan sendiri merasa aneh dengan tingkah Tiysa.


Cup !


Tiysa mencium bibir Tristan sambil melingkarkan tangannya di leher Tristan.


Tristan terkejut, dia tidak pernah melihat Tiysa bertingkah seperti ini.


Bibir Tiysa terus menyerang bibir Tristan tanpa ampun.


Selama semenit, bibir mereka terus beradu seolah mencari siapa yang terbaik.


“Tiysa kamu kenapa?” tanya Tristan keheranan.


“Aku tidak mengerti Tristan, entah mengapa... aku sangat ingin mencium bibirmu, hari ini kamu terlihat... sangat berbeda,” jawab Tiysa.


Ketika Tiysa ingin kembali mencium bibir Tristan, Tristan menahannya.


“Kamu bahkan belum menjawab pertanyaan ku, jadi... apakah kamu ingin menjadi pacarku,” tanya Tristan sambil menatap mesra mata indah milik Tiysa.


Tiysa mengangguk beberapa kali.


“Apa itu?” goda Tristan seolah tidak mengerti.


“Tristaannn...,” ucap Tiysa manja.

__ADS_1


Dia lalu kembali melingkarkan tangannya di leher Tristan, sedangkan Tristan melingkarkan tangannya di pinggang Tiysa.


Cup !


__ADS_2