
Tristan lagi-lagi kembali dibuat pusing, jika kemarin Tiysa tidak menjawab panggilan teleponnya, pagi ini ponsel milik Tiysa malah tidak bisa dihubungi, atau sedang tidak aktif.
Dia kembali mengkonfirmasi lokasi Tiysa kepada Haris, jawaban Haris masih sama, dia mengatakan jika Tiysa dan Gina masih berada di tempat indekos Tiysa.
“Apakah dia marah karena kemarin tidak makan siang bersama?” batin Tristan. Dia mulai menerka-nerka apa yang membuat Tiysa tidak menjawab panggilan teleponnya.
“Pak Tristan, waktunya meeting.” Suara lembut Dian menyadarkan Tristan dari lamunannya.
Dia mengangguk pelan, lalu bangkit dari duduknya, ditemani Dian, Tristan pergi menuju ruang meeting untuk memberikan arahan kepada bawahannya.
5 menit berlalu sejak Tristan memulai meeting, semua karyawan yang berada di tempat itu di buat bingung oleh Tristan. Sejak meeting dimulai, Tristan menulis kalimat ‘Aku Salah Apa?’ di whiteboard dan terus memandangi tulisan itu dengan serius.
“Pak Tristan tidak salah,” kata Dian yang langsung disambut tawa oleh karyawan lain.
Tristan yang masih mematung sontak tersadar ketika mendengar semua bawahannya tertawa.
Dia lalu berbalik ke karyawannya dan ikut tertawa menyadari tingkah konyolnya sendiri.
“Maafkan aku sepertinya kita lewatkan saja meeting hari ini,” kata Tristan sembari tertawa kecil. Dia betul-betul merasa malu kepada bawahannya.
“Baik Pak.” Karyawan kompak bersamaan menjawab Tristan.
Satu persatu karyawan meninggalkan ruangan meeting, Tristan juga hendak kembali ke ruangannya.
“Pak Tristan, ada apa?” Dian yang sudah sangat mengenal Tristan menyadari jika ada sesuatu yang membebani pikiran Tristan.
“Ah, tidak apa-apa,” jawab Tristan singkat.
“Tristan,” kata Dian tegas sambil menarik lengan Tristan.
Tristan tersenyum, ketika Dian langsung menyebut namanya itu hanya berarti satu, Dian merasa khawatir kepadanya. “
Ini karena Tiysa,” balas Tristan lesu.
“Tiysa?”
Tristan meminta Dian untuk kembali duduk, di ruang meeting, Tristan menceritakan kepada Dian tentang Tiysa, gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Wajah Tristan tampak berseri-seri ketika menceritakan kisahnya bersama Tiysa, Dian tidak menyangka jika Tristan bisa menunjukkan raut wajah pemuda yang sedang kasmaran.
Raut wajah itu terlihat cocok dengan usianya saat ini, berbeda ketika di hari-hari biasanya, aura Tristan terasa sangat dewasa dan mendominasi.
Dian menjadi sedikit cemburu dengan wanita bernama Tiysa, dia yang juga mengidolakan Tristan ingin mengetahui kelebihan yang dimiliki oleh Tiysa, sampai membuat Tristan bersikap seperti itu.
Dian tersenyum dan memegang tangan Tristan. “Sebaiknya Pak Tristan beristirahat di rumah.”
__ADS_1
“Apakah separah itu?” tanya Tristan sambil mengangkat kedua alisnya.
Dian tertawa dan mengangguk. “Iya Pak, kamu tidak bisa berkonsentrasi hari ini, sebaiknya kamu menunggu kabar Tiysa sambil beristirahat di rumah,” balas dian.
“Baiklah....” Tristan setuju dengan usulan Dian, dia tidak mungkin fokus bekerja jika dia terus mengingat Tiysa.
Dian mengantar Tristan menuju parkiran mobil, tepat setelah mereka berdua keluar melewati pintu masuk, Gea tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Tristan.” Gea berseru gembira ketika melihat Tristan. Dia sudah menyingkirkan Tiysa, sudah pasti Tristan akan kembali ke pelukannya pikir Gea.
Sayangnya apa yang di pikirkan Gea tidak terjadi, Tristan tidak menggubris Gea, dia terus berjalan ke mobilnya.
Dian yang berjalan di samping Tristan terlihat menyapa Gea lalu kembali mengantar Tristan.
“Tristan! Mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini!” teriak Gea yang masih tidak digubris oleh Tristan.
“Keluargaku yang memberimu jabatan itu! Mengapa kamu sangat sombong kepadaku! Aku bisa meminta ayahku untuk memecatmu!” teriak Gea, namun Tristan tidak bergeming, dia terus jalan menuju mobilnya.
“Oh, aku tahu ini pasti karena wanita yang bernama Tiysa, kamu merasa dia lebih kaya dari pada keluargaku, karena itu kamu berani bersikap seperti ini kepadaku,” sindir Gea.
Mendengar nama Tiysa, Tristan sontak berhenti, dia langsung menoleh ke Gea.
Dian yang berada di dekat Tristan juga ikut terkejut, dia tidak menyangka jika Gea ternyata sudah tahu tentang Tiysa.
“Aku sudah menemui Tiysa dan aku juga sudah memberitahu dia jika kamu adalah tunanganku.”
Tristan tercengang, dia akhirnya mengerti mengapa Tiysa tidak mau menjawab panggilannya. Dia membuka pintu mobilnya, dia ingin ke tempat Tiysa untuk menjelaskan semuanya.
“Apa?” Tristan menoleh ke arah Gea dengan ekspresi wajah menakutkan, dia menutup pintu mobilnya lalu melangkah menghampiri Gea.
Dian yang melihat raut wajah Tristan langsung histeris dan memeluk Tristan, dia berusaha menahan Tristan. Raut wajah Tristan saat ini persis seperti saat dia menghajar Cakra dengan gelap mata.
“Tristan! Berhenti!” teriak Dian, dia berusaha menahan Tristan yang terus melangkah ke tempat Gea. Usahanya terlihat sia-sia, tubuh kecilnya tidak mampu menahan Tristan.
Gea yang sejak tadi berteriak langsung membatu ketakutan, dia tidak pernah melihat Tristan dengan raut wajah seperti itu. Bukan raut wajah marah yang Gea lihat dari wajah Tristan, melainkan raut wajah yang menyimpan kebencian yang sangat besar kepadanya. Air mata Gea mulai mengalir deras, namun tak ada suara isak tangis yang terdengar dari mulutnya.
“Tristan!” teriak Dian berkali-kali memanggil Tristan yang sedang ditelan kebencian.
Mendengar suara teriakan Dian, semua karyawan Tristan langsung berlari menuju parkiran. Mereka semua terkejut melihat Dian yang sedang kewalahan menahan tubuh Tristan.
5 orang karyawan pria langsung berlari menuju Dian, mereka semua menggantikan Dian menahan tubuh Tristan.
“Pak Tristan sadarlah!” ucap salah satu karyawan pria yang memeluk tubuh Tristan. Walaupun mereka berlima sudah berusaha menahan Tristan, mereka tetap saja terdorong.
“Ibu Dian, mengapa Pak Tristan seperti itu?” tanya Suryo yang baru selesai membersihkan taman di kantor Tristan.
Dian tidak menjawab dan hanya melirik Gea yang terlihat mematung di depan pintu masuk kantor.
__ADS_1
“Hah... keluarga Purwadi lagi,” ucap Suryo mendengus kecil.
Suryo menghampiri Tristan, dia lalu menepuk lembut pipi Tristan dan berkata. “Nak Tristan, sadarlah.”
Seakan memiliki kekuatan magis, tepukan lembut Suryo langsung menyadarkan Tristan. 5 bawahan Tristan ikut terkejut menyaksikan hal itu.
Tristan yang tadi gelap mata, langsung melihat di sekitarnya, dia menghela nafasnya dalam-dalam.
“Maafkan aku,” ucap Tristan sambil tersenyum pada kelima pria yang masih memeluknya.
Mendengar Tristan sudah kembali sadar, mereka berlima tersenyum lega, setelah melepas Tristan, mereka kembali masuk ke dalam kantor, karyawan yang lain terlihat mengikuti ke 5 karyawan itu. Mereka semua tahu jika ini adalah masalah pribadi atasannya.
“Apakah kamu sudah sadar?” tanya Suryo.
Tristan mengangguk lalu berkata, “Terima kasih Pak Suryo.”
“Selesaikan masalahmu dengan kepala dingin,” kata Suryo sambil menepuk lengan Tristan dan meninggalkan tempat itu.
Tristan langsung masuk ke dalam mobil, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Dian yang berdiri di dekat Gea.
“Dian.”
“Iya Pak,” jawab Dian.
“Sebentar malam di kantor ini, kumpulkan semua karyawan, malam ini akan menjadi malam perpisahanku dengan kalian.”
Dian terdiam sejenak, lalu menjawab, “Baik Pak Tristan.”
Setelah menyampaikan pesannya Tristan pergi meninggalkan tempat itu.
Ting!
Tak berselang lama setelah Tristan pergi, Tristan mengirim rekaman audio bukti perselingkuhan Gea ke ponselnya.
[Tristan] rekaman audio di terima BUKTI.wav
Dian merasa kebingungan ketika menerima rekaman audio perselingkuhan Gea, tetapi beberapa saat kemudian, dia menyadari alasan Tristan mengirim file rekaman itu kepadanya.
“Kak Dian, mengapa Tristan sangat marah kepadaku? Aku dan Devan di Villa itu tidak melakukan apa-apa, sedangkan Tristan benar-benar berselingkuh di depan mataku Aku-”
“Dengarkan dulu rekaman ini baru kamu melanjutkan ceritamu.” Dian memberikan ponselnya kepada Gea.
“Ah, saranku lebih baik jika kamu mendengar rekaman itu menggunakan earphone, di bagian akhir rekaman itu terdengar suara yang begitu menjijikkan.” Kata Dian, dia menambahkan, “Jika kamu sudah mendengar rekaman itu, tolong hapus segera filenya, dan kamu bisa menitip ponselku di satpam kantor ini.”
Setelah menyampaikan hal itu, Dian berlalu pergi meninggalkan Gea.
Gea mengeluarkan earphone miliknya dan langsung memasangnya ke ponsel milik Dian, dia lalu memutar rekaman suara yang di tunjukkan Dian.
__ADS_1
Gea terdiam... rekaman itu berisi percakapan Gea ketika berada di Villa, dia teringat dengan ‘bagian akhir’ yang tadi disebut oleh Dian, Gea mempercepat waktu rekaman itu ke bagian akhir.
Kini dia terperangah, bagian akhir rekaman ternyata berisi suaranya dan Devan ketika mereka berdua berhubungan badan.