Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 55 : Riwayat panggilan masuk dari Tristan


__ADS_3

"Halo...."


Tristan sontak kaget ketika mendengar suara seorang pria yang menjawab panggilan teleponnya.


Dia kembali menatap layar ponselnya untuk memastikan jika nomor yang dia hubungi adalah benar nomor ponsel Tiysa.


"Maaf, apakah ini benar nomor Tiysa?" tanya Tristan.


"Benar ini nomor Tiysa," jawab pria itu.


"Oh, bisakah aku berbicara dengan Tiysa?" Tristan mulai merasa cemas.


"Dia sedang berada di rumahku, mungkin karena terburu-buru dia sampai lupa mengambil ponselnya di mobil," jawab pria itu.


Deg.


Tristan terdiam, dia tidak bisa lagi berkata-kata, dia tertunduk lesu, berbagai kemungkinan muncul di kepalanya.


Tut..


Tristan mengakhiri panggilannya, sambil memejamkan mata dia bersandar di kursi mobil yang sedang membawanya ke bandara.


"Pak Haris, sebaiknya kita kembali ke Rusia," kata Tristan dengan suara lirih. Kesedihan tergambar jelas dari raut wajahnya.


"Mungkin dia sudah bertemu dengan pria yang cocok dengannya," batin Tristan.


Tristan dengan cepat menarik kesimpulan sendiri, perasaan cemburu dengan cepat membakar hatinya, dia kehilangan ketenangannya, dan itu membuatnya tidak bisa berpikir jernih, Tiysa berada di rumah pria itu, bahkan ponselnya ketinggalan di mobil pria itu, sudah bisa dipastikan jika pria itu memiliki hubungan yang spesial dengan Tiysa.


Tristan mematikan ponselnya, dia yakin jika Tiysa pasti akan menghubungi nomornya kembali, dia tidak ingin kehadirannya malah mengganggu hubungan Tiysa dengan pria itu.


"Tuan Muda, ada apa?" tanya Haris, dia dapat melihat kesedihan dari wajah Tristan setelah menghubungi nomor ponsel Tiysa.


"Sepertinya Tiysa sudah bertemu dengan pria yang cocok dengannya," jawab Tristan dengan suara lemah.


__


Tiysa saat ini berada di kediaman Dian, setelah bertemu dan berbicara dengan Dian, perasaannya semakin membaik, rasa khawatir berlebihan yang datang tiba-tiba, kini perlahan memudar.


Suara bayi mungil Dian juga membantu menenangkan Tiysa.


"Nah, begini jauh lebih baik," kata Dian sembari mencubit pelan pipi Tiysa.


Tiysa tersenyum, dia benar-benar tidak mengerti apa yang tadi membuatnya khawatir.

__ADS_1


"Mungkinkah itu karena kamu sangat merindukan Tristan?" tanya Dian sambil mengelus rambut Tiysa yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.


"Entahlah, perasaan khawatir itu datang tiba-tiba dan menghilang dengan cepat, aku benar-benar tidak mengerti," jawab Tiysa sambil memainkan jari telunjuknya yang sedang di genggam oleh Bayi Dian.


"Hei ataukah jangan-jangan itu adalah tanda jika Tristan akan kembali?" tanya Dian sambil bercanda.


"Wau... wau...." suara tawa bayi Dian terdengar seolah mengiyakan pertanyaan ibunya.


Tiysa dan Dian langsung saling menatap mendengar tawa malaikat kecil itu, mereka berdua lalu tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha...."


"Tiysa, kamu dengar sendiri 'kan? Fika bahkan mengiyakan apa yang tadi aku katakan," kata Dian sambil terus tertawa.


Tiysa yang juga ikut tertawa langsung mencium pipi tembam bayi Dian, dia lalu berkata, "Terima kasih sayangku, bahkan kamu juga mencoba menyemangati bibi Tiysa...."


Pintu kamar Dian tiba-tiba terbuka, Yuda tampak berdiri di depan pintu.


"Sayang, bukankah kamu kembali ke kantor?" tanya Dian yang heran melihat suaminya berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Ponsel Tiysa ketinggalan di mobil," jawab Yuda sembari menunjukkan ponsel milik Tiysa yang sedang dia pegang.


"Tiysa, ponselmu aku letakkan disini," kata Yudha sembari meletakkan ponsel Tiysa di meja kecil yang terletak di dekat pintu kamar Dian.


"Oh iya, tadi ada pria yang menghubungi ponselmu, entah kenapa panggilannya tiba-tiba putus," kata Yuda, setelah mengatakan itu dia pamit untuk kembali ke kantornya.


"Pria?" tanya Dian penasaran.


"Oh, itu mungkin Gino," jawab Tiysa.


“Gino?“ Dian mengernyitkan dahinya, nama itu juga terdengar asing di telinga Dian.


Tiysa mengangguk, dia berkata, "Itu adalah pria yang aku kenal 3 bulan yang lalu, sejak saat itu kami menjadi teman," jawab Tiysa. Dia terlihat masih asyik bermain dengan bayi kecil Dian.


"Tiysa apakah kamu...,"


"Tidak, aku dan Gino hanya berteman, dia anak yang baik," jawab Tiysa yang langsung mengerti apa yang Dian khawatirkan.


"Iya, itu menurutmu, bagaimana jika dia menyukaimu?" tanya Dian.


"Dia sudah menyatakan cinta kepadaku sebanyak 3 kali dan semuanya aku tolak, aku benar-benar tidak memiliki perasaan seperti itu kepada Gino," kata Tiysa sembari memandangi langit-langit kamar Dian.


Dian terkejut mendengar perkataan Tiysa.

__ADS_1


"Apakah Gino sudah berhenti mengejar kamu?"


"Entahlah, aku dan Gino masih tetap berteman seperti biasanya," jawab Tiysa.


Dian semakin cemas, pria bernama Gino mulai membuatnya khawatir, dia merasa jika Gino memiliki niat tertentu kepada Tiysa.


"Tiysa kamu harus berhati-hati, aku takut jika Gino memiliki niat buruk kepadamu?"


Tiysa tersenyum, "Dia anak yang baik, selama aku mengenalnya tidak sekalipun aku merasakan niat buruk darinya," jawab Tiysa.


"Tiysa...." Dian benar-benar merasa khawatir, dia takut jika Tiysa diperdaya oleh pria berengsek seperti Cakra atau Hendra.


"Hmm... aku akan memperlihatkan foto Gino kepada kamu?"


"Kamu bahkan punya fotonya?" tanya Dian keheranan.


"Iya, dia memohon agar aku menyimpan fotonya di ponselku, dia benar-benar anak yang aneh," jawab Tiysa. Dia lalu mengambil ponselnya di meja.


"Hmm... ini dia!" seru Tiysa ketika menemukan foto Gino.


Dian menghampiri Tiysa, dia lalu melihat foto Gino di ponsel Tiysa.



"Waw Tiysa, bukankah dia pria yang sangat tampan," kata Dian, dia terpesona dengan ketampanan Gino yang dia lihat dari ponsel Tiysa.


"Iya, dia pria yang sangat tampan, tapi jujur aku tidak memiliki rasa apapun kepada Gino." jawab Tiysa.


"Dia juga memiliki pupil mata berwarna biru, sepertinya pria-pria bermata biru akan selalu bertekuk lutut dihadapanmu," kata Dian sembari mencubit kecil hidung Tiysa.


Tiysa tertawa mendengar ucapan Dian, dia lalu mengecek ponselnya untuk melihat riwayat panggilan dari Gino.


Matanya membelalak tak percaya ketika dia melihat riwayat panggilan masuk, bukan Gino yang ada disitu, tapi panggilan masuk dari kontak yang dia beri nama Tuan Misteriusku, itu adalah nama kontak Tristan di ponsel Tiysa.


"Dian, ini...." kata Tiysa terperangah. Dia menunjukkan riwayat panggilan masuknya kepada Dian.


Dian melihat layar ponsel Tiysa, dia lalu berkata, "Tiysa, bukankah ini Tristan," seru Dian yang sudah mengetahui jika Tiysa menyimpan nomor ponsel Tristan dengan kontak yang diberi nama Tuan Misteriusku.


Tiysa mengangguk cepat, dia masih tidak percaya jika Tristan akhirnya menghubungi nomornya.


"Apa yang kamu lakukan? cepat hubungi nomor Tristan sekarang!" teriak Dian bersemangat.


Tiysa mengangguk beberapa kali, dia lalu menatap layar ponselnya dan langsung menghubungi nomor Tristan.

__ADS_1


__ADS_2