Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 42 : Mempermalukan Purwadi dan Istrinya


__ADS_3

Tristan tampak kaget ketika bertemu dengan anak Suryo yang ternyata adalah Nindya, pegawai kasir di Cafezoid. Selama beberapa bulan ini hubungan Tristan dan Nindya sudah sangat dekat, Tristan sudah menganggap Nindya seperti adiknya sendiri, begitu pun sebaliknya, Nindya juga sudah menganggap Tristan seperti Kakaknya sendiri.


Beberapa bulan ini Nindya sering bercerita kepada ayahnya jika dia memiliki teman pria yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri.


Suryo selalu merasa waswas ketika mendengar itu, dia takut jika putrinya diperdaya oleh pria berengsek. Namun, hari ini akhirnya dia mengetahui jika pria yang dimaksud anaknya adalah Tristan.


Keceriaan Nindya ketika bertemu Tristan langsung sirna dan berubah menjadi tangisan, ketika diberitahu oleh ayahnya jika Subroto, orang yang dulu sering dia panggil kakek ternyata baru saja meninggal.


Dalam perjalanan menuju kediaman Subroto, Nindya terus menangis ketika mengingat kebaikan dan keramahan Kakek Subroto kepadanya.


Mobil mereka memasuki kompleks kediaman Subroto, tampak mobil-mobil mewah terjajar rapi di dekat kediaman Subroto, beberapa nama besar juga terlihat hadir di kediaman Subroto untuk memberikan penghormatan terakhir. Tak terhitung jumlahnya karangan bunga ucapan bela sungkawa yang terus berdatangan memenuhi tempat itu.


Mata Tristan langsung melotot saat melihat Bisma sedang menahan Damar, dari gestur tubuhnya bisa dipastikan jika terjadi masalah antara Damar dengan Cakra dan Devan yang berdiri di depan mereka.


“Pak Suryo, tolong berhenti tepat di dekat Paman Bisma berdiri,” kata Tristan sambil menunjuk Bisma dari kejauhan.


“Iya Pak Tristan,” jawab Subroto, Suryo juga merasa jika Bisma sedang dalam masalah.


“Kalian tidak di undang pergilah dari sini,” ledek Cakra merendahkan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


“Kurang ajar!” teriak Damar yang sudah terbakar emosi dengan kelakuan Cakra.


“Kalian berdua sudah di coret dari keluarga Kuncoro, untuk apa kalian datang kesini,” cibir Devan sambil tertawa mengejek.


“Sudah, Nak, mungkin sebaiknya kita pulang saja.” Bisma sudah pasrah jika dia tidak dapat bertemu ayahnya untuk terakhir kali, dia juga tidak menginginkan anaknya membuat keributan di hari pemakaman Subroto.


Bukk!


Bukk!


Cakra dan Devan langsung terpental begitu menerima Bogem mentah Tristan.


“Berengsek! Apa yang kalian berdua lakukan!” bentak Tristan yang sangat marah melihat Bisma dan Damar ditahan di pekarangan rumah oleh Cakra dan Devan.


Suara teriakan Tristan yang sangat besar langsung menarik perhatian tamu yang sedang melayat. Perhatian semua orang kini tertuju kepada Tristan.


“Aku hanya mengikuti perintah Paman Purwadi untuk menahan Bisma dan anaknya,” keluh Devan beralasan sambil memegang pipinya.


“I... iya Tristan, kami hanya menjalankan perintah dari Purwadi.” sahut Cakra yang terlihat ketakutan. Dia sudah pernah merasakan kemarahan Tristan, rasa takut itu masih bersarang di kepalanya.


Purwadi yang sedang menemani tamu di dalam rumah segera keluar rumah ketika mendengar ada keributan.


Emosinya naik, matanya melotot, dia menggertakkan giginya ketika melihat Cakra dan Devan terduduk di tanah.

__ADS_1


Tristan! Apa yang kamu lakukan?” hardik Purwadi. Dengan pemandangan seperti itu dia bisa langsung menebak jika Tristan sudah memukuli mereka di depan para tamu.


“Paman Purwadi, urus calon menantumu yang tidak berguna ini, kami hanya menjalankan perintahmu, dan dia tiba-tiba memukuli kami,” kata Devan sembari menunjuk Tristan. Devan seolah mendapatkan semua keberaniannya sewaktu melihat Purwadi tiba.


“Kurang aja-”


“Diam bajingan!” suara teriakan Tristan menggelegar di tempat itu. Teriakannya langsung menyela Purwadi yang hendak berbicara.


Kini tamu yang berada di dalam rumah juga menjadi penasaran, mereka ikut keluar untuk melihat apa yang terjadi.


“Kamu tidak berhak melarang paman Bisma dan anaknya melihat kakek Subroto untuk terakhir kali!”


“Kamu...,” Purwadi semakin geram kepada Tristan, dia diteriaki oleh calon menantunya di depan orang banyak.


“Apa!!” teriak Tristan yang kembali menyela perkataan Purwadi.


“Selama seminggu terakhir, hanya Paman Bisma dan Damar yang mengurus Kakek Subroto, kamu dan keluarga bajinganmu bahkan tidak pernah menjenguk kakek Subroto sejak beliau sakit,” bentak Tristan, emosinya semakin meledak-ledak.


Beberapa tamu yang datang tampak mulai saling berbisik-bisik.


Purwadi menjadi sedikit panik, dia tidak ingin membuat kesan jelek kepada tamu yang datang. Dia harus bertindak untuk menjaga wibawanya.


Purwadi menghampiri Tristan, dia berencana membungkam Tristan dengan tinjunya. Dia ingin membalas Tristan karena sudah mempermalukan dirinya di depan umum.


Tristan tidak tinggal diam, dia mengepalkan tangannya, dia tidak lagi peduli walaupun identitasnya terbongkar setelah menghajar Purwadi, saat ini dia hanya ingin Bisma dan Damar dapat memberikan penghormatan terakhir kepada Kakek Subroto.


“Hentikan anak muda,” ucap pria itu lembut.


Tristan langsung menoleh mendengar suara pria tua itu memanggil namanya.


“Kake... Tuan Hartono Prabaswara,” sambil sedikit menundukkan kepala, Tristan menyapa Kakeknya yang sudah berdiri di belakangnya. Dia hampir saja kebablasan memanggil Hartono dengan Kakek.


Di belakang Hartono tampak ketiga bibi dan juga ketiga pamannya berdiri, Hartono yang dikenal jarang muncul di depan umum, datang memberikan penghormatan terakhir bersama anggota keluarganya. Ini menunjukkan kedekatan antara Hartono dan Subroto sudah sangat dalam.


“Tristan?” Ayah dan Ibu Tiysa yang baru saja tiba terkejut melihat Tristan hadir di tempat Subroto. Dia tidak tahu jika pria yang berpacaran dengan anaknya mengenal keluarga Kuncoro.


“Paman? Bibi?”


Purwadi semakin kesal melihat orang-orang yang dulu dia singkirkan kembali muncul satu persatu.


Sama halnya dengan Bisma, Bimo Ayah Tiysa juga adalah korban kelicikan Purwadi bersama teman-temannya.


Saat ini dia memilih menahan diri, dia tidak mau mengusik Bisma dan Bimo di hadapan Hartono.

__ADS_1


“Ah... Paman Hartono selamat datang,” sapa Purwadi yang terlihat canggung, karena peristiwa yang baru saja terjadi.


“Bisma..., Bimo..., ayo kita memberikan penghormatan terakhir kepada sahabatku,” kata Kakek Tristan yang tidak menggubris salam dari Purwadi.


Bisma dan Ayah Tiysa mengangguk. Mereka semua masuk bersama-sama melihat Subroto untuk terakhir kali.


Gea yang sudah tiba sejak tadi menyaksikan semuanya dari tempatnya berdiri, dia yang baru saja merasa senang karena berhasil menyingkirkan Tiysa, kini harus dibuat pusing karena Tristan tampak sangat membenci keluarganya.


Dia ingin ikut bergabung dengan rombongan Tristan, tapi dia juga takut kedua orang tuanya akan marah kepadanya jika dia melakukan hal itu.


Untuk saat ini dia tidak akan mengganggu Tristan, toh orang yang telah membuat Tristan menjauhi dirinya, telah berjanji akan melupakan Tristan pikir Gea.


Satu demi satu mereka memberikan penghormatan terakhir kepada Subroto, Nindya yang juga ikut, kini terlihat terus memeluk Hartono yang juga dia panggil Kakek seperti Subroto.


Tristan dapat melihat jelas kedekatan yang terjalin di antara mereka.


Setelah mereka semua selesai memberikan penghormatan, rombongan Tristan dan Kakeknya langsung berniat pergi meninggalkan tempat itu, keluarga Prabaswara juga memiliki rumah di Bogor, sebelum kembali ke Jakarta mereka berniat beristirahat di rumah itu.


Bisma dan Damar mengangguk setuju untuk ikut, Ayah Tiysa dan Ibu Tiysa juga menyetujui permintaan Kakek Tristan, Suryo dan anaknya yang sempat merasa risih untuk ikut, langsung di tarik oleh ketiga paman Tristan, sambil tersenyum mereka meminta Suryo dan anaknya untuk ikut serta ke kediaman Prabaswara di kota Bogor.


Saat mereka sudah hampir tiba di mobil masing-masing Ibu Gea langsung memanggil Tristan.


“Tristan, bukankah kamu itu calon menantu keluarga kami?”


Pertanyaan ibu Gea sontak membuat rombongan Kakek Tristan berhenti.


Tristan menoleh ke Veronica.


“Ayah mertuaku sudah memungutmu untuk menjadi calon menantu keluarga kami, dia memberikan rumah dan mobil serta jabatan kepada kamu, inikah caramu membalas budi kepada kami?”


Veronica berniat membalas mempermalukan Tristan yang sudah membuat suaminya kehilangan wajah.


Plakk !!


Bibi Tristan yang bernama Mawar sudah tidak tahan dengan kata-kata Veronica, dia langsung menampar wajah Veronica di depan para tamu yang hadir.


“Hei ****** sialan, apa kamu lupa dari mana asalmu? Kamu hanyalah wanita murahan yang sengaja membuat dirimu hamil untuk bisa masuk ke dalam keluarga Kuncoro, Tirta Baskara Group milik keluargaku sangat menghargai orang yang sudah bekerja keras dalam mengembangkan usaha keluarga kami, dalam waktu 6 bulan Tristan sudah memberikan keuntungan beberapa Triliun kepada Tirta Baskara Group, bagaimana dengan dirimu? Apa yang sudah kamu berikan kepada Tirta Baskara Group?” Bibi Tristan terus menatap mata Veronica lurus dengan penuh kemarahan. Dia tidak terima anak kakaknya di perlakukan seperti itu.


Bibi Tristan lalu menoleh ke Purwadi yang sedang diam tidak bisa berkata-kata.


“Jika bukan karena Paman Subroto, keluarga Kuncoro sudah dari dulu kami tendang dari Tirta Baskara Group, apakah kamu pikir keluarga Prabaswara tidak tahu jika kamu menjebak Kak Bisma dengan tuduhan palsumu?”


Purwadi berkeringat dingin ketika Bibi Tristan mengatakan hal itu, dia selalu mengira jika keluarga Prabaswara tidak mengetahui perihal dia menjebak Bisma agar mundur dan dicoret dari keluarga Kuncoro.

__ADS_1


Mawar meraih lengan Tristan, sebelum pergi dia berkata. “Oh, satu lagi, tentang niat busukmu untuk menjebak CEO Tristan, sebaiknya kamu berhenti, kami sudah mengetahui semua rencanamu.”


Setelah mengatakan hal tersebut rombongan Kakek Tristan pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2