
Di sofa yang berada di kamar itu, Tristan terlihat mengelus rambut Tiysa yang sedang tertidur lelap sambil memeluk tubuhnya. Dalam posisi duduk Tiysa menyandarkan kepalanya di dada Tristan, butuh tiga jam sampai akhirnya Tiysa bisa tenang.
Cup!
Entah sudah berapa kali Tristan mengecup kening Tiysa yang sedang tertidur lelap, tak terhitung jumlah kata maaf yang terus dia bisikkan di telinga Tiysa, dengan mata berkaca-kaca, Tristan terus memandangi wajah Tiysa, sesekali Tristan mengusap airmata Tiysa yang menetes, bahkan dalam tidurnya Tiysa masih terus-menerus menyebut namanya.
Tak! Tak! Tak!
Terdengar suara langkah kaki mendekat, Tristan menoleh, di depan pintu ayah dan ibu Tiysa berdiri sambil tersenyum kepada Tristan.
“Dia benar-benar memiliki kebiasaan aneh, setelah meluapkan emosinya, dia pasti akan tertidur lelap,” kata ayah Tiysa sambil berjalan mendekati Tiysa.
Tristan tersenyum lalu memandangi wajah Tiysa, mendengar ucapan Bimo dia kembali mengingat ketika dia pertama kali bertemu dengan Tiysa, hal yang sama juga terjadi, sesaat setelah Tiysa menangis, Tiysa langsung tertidur dalam dekapan Tristan.
Ibu Tiysa ikut membelai rambut putrinya, dengan mata berkaca-kaca, dia berkata, “Tristan, bukankah dia semakin cantik?”
Tristan mengangguk pelan, sambil tersenyum dia memandangi wajah Tiysa yang terlihat semakin mempesona.
“Tristan, apakah kamu benar-benar mencintai putri kami?” tanya Ibu Tiysa dengan mata berkaca-kaca. Dia terlihat sangat serius menunggu jawaban dari Tristan.
“Sangat bibi, aku sangat mencintai Tiysa... dia adalah segalanya untukku, aku bahkan tidak tahu akan bagaimana jika Tiysa memutuskan untuk bersama orang lain, aku....” Tristan tak bisa melanjutkan kata-katanya, airmatanya mengalir membasahi pipinya.
Tristan benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Tiysa memutuskan untuk bersama orang lain, dia kembali mengutuk kebodohannya 5 tahun yang lalu, saat itu dia dengan yakin siap melepas Tiysa jika Tiysa bertemu dengan pria yang cocok.
Namun setelah bertemu Tiysa, dia menyadari satu hal, bahkan jika Tiysa sudah bertemu dengan pria yang cocok dengannya, selama belum menikah, Tristan akan terus mengejar dan memperjuangkan cintanya, dia sangat bersyukur karena tidak perlu melakukan itu, dan dia sangat bersyukur karena Tiysa masih setia dan terus menunggunya.
Ayah Tiysa berjalan mendekati Tristan, dia meletakkan tangannya di pundak Tristan, “Aku tidak tahu apa yang menyebabkan kamu pergi 5 tahun yang lalu, kurasa hal itu cukup mendesak sampai kamu memutuskan pergi diam-diam, aku tidak akan bertanya tentang hal itu, setia pria memiliki rahasianya sendiri,” kata Bimo.
“Namun sebagai pria, aku juga tahu jika Pria sepertimu tidak akan menangis sambil mengucapkan kebohongan, Tristan, airmatamu itu sudah cukup sebagai bukti jika kamu benar-benar mencintai putri kami,” sambung Bimo sambil tersenyum kepada Tristan.
Tristan tertunduk, airmatanya mengalir semakin deras, tidak hanya Tiysa, bahkan kedua orang tua Tiysa sangat mempercayainya, dia merasa benar-benar menjadi pria yang sangat beruntung dicintai oleh Tiysa dan kedua tuanya.
“Satu tahun... Paman, Bibi, beri aku waktu satu tahun untuk menyelesaikan urusanku, setelah itu aku akan mempersunting Tiysa dan menjadikannya salah satu wanita yang paling bahagia di dunia.”
Ayah dan ibu Tiysa sangat terkejut mendengar perkataan Tristan, kata-kata yang di ucapkan Tristan tidak terdengar seperti sebuah janji, namun lebih terdengar seperti sebuah deklarasi yang pasti akan terjadi.
'Salah satu wanita paling bahagia di dunia' kata-kata itu terasa sangat nyata ketika diucapkan oleh Tristan, bulu kuduk Bimo bahkan merinding, sebagai sesama pria, dia bisa merasakan jika Tristan sangat bersungguh-sungguh dengan perkataannya dan itu seolah jika Tristan siap membahagiakan putrinya di level yang jauh sangat berbeda.
“Kamu tidak perlu terburu-buru, dengan langsung menemui kami, itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan jika kamu benar-benar mencintai putri kami,” kata Bimo sambil menepuk-nepuk halus pundak Tristan.
Tristan tersenyum, dia lagi-lagi dibuat terdiam oleh keramahan kedua orang tua Tiysa.
“Ayo istriku, kita tidak mau membuat Damar menunggu lebih lama,” kata ayah Tiysa.
“Damar?” tanya Tristan sambil menyeka airmatanya.
“Iya, dia menunggu kami di depan rumah, dia sangat ingin bertemu denganmu, namun Bisma melarang dan memintanya agar memberi Tiysa waktu berdua denganmu terlebih dahulu,” jawab Ayah Tiysa.
“Dia benar-benar menangis seperti anak kecil ketika mengetahui jika kamu telah kembali,” sambung Ibu Tiysa sambil tertawa kecil.
“Kami akan berlibur selama 1-2 hari, jadi kami akan menitipkan putri kami kepadamu,” kata ayah Tiysa sambil mengedipkan matanya ke Tristan.
__ADS_1
“Tapi Paman....” Tristan berusaha menghentikan mereka, dia merasa tidak enak jika kedua orang tua Tiysa harus mengungsi karena dirinya.
“Sudahlah, kami percaya kepadamu, Tiysa juga sepertinya membutuhkan waktu berdua denganmu, lagi pula kami akan berlibur di hotel bintang lima di Jakarta, Damar yang telah memesan kamar untuk kami berdua, dia bahkan menggunakan uang pribadinya dan siap mengantar kami ke Jakarta,” balas ayah Tiysa.
“Hmm, aku lupa nama hotelnya, kalau tidak salah hotel Golden....” kata ayah Tiysa sambil berusaha mengingat nama hotel yang dipesan Damar.
“Golden Luxury Hotel,” kata ibu Tiysa mengingatkan suaminya.
“Iya itu, hahaha.”
Tristan mengangkat kedua alisnya karena terkejut, dia lalu tersenyum kepada Ayah dan Ibu Tiysa, “Paman, Bibi, terima kasih...,” kata Tristan sambil menundukkan kepalanya. Dia merasa benar-benar beruntung memiliki calon mertua yang sangat baik hati seperti mereka berdua.
Ayah dan Ibu Tiysa membalas senyuman Tristan, sebelum mereka meninggalkan Tristan, ayah Tiysa menoleh dan berkata, “Tristan, jika kamu bersungguh-sungguh akan mempersunting Tiysa, nanti kamu harus mengubah panggilanmu kepada kami berdua, Paman dan bibi terasa begitu asing,” ucap Bimo sambil menggandeng tangan istrinya.
Tristan tersenyum, dia lalu berkata, “Baiklah ayah, semoga liburan ayah dan ibu menyenangkan,” balas Tristan sambil tersenyum bahagia.
Ayah dan ibu Tiysa sontak terkejut mendengar itu, mereka berdua tersenyum kepada Tristan.
“Padahal aku bilang nanti, dan kamu langsung melakukannya.” Mata Bimo tampak berkaca-kaca mendengar Tristan memanggilnya ayah, sudah lama dia sangat menginginkan seorang putra.
Bimo yang tersentuh hendak menghampiri Tristan dan memeluknya, namun ibu Tiysa langsung menarik lengan bajunya.
“Suamiku, sudah saatnya kita pergi, kasian Damar yang sudah menunggu lama, kamu bisa memeluk putramu nanti saat kita kembali,” kata Ibu Tiysa sambil tersenyum.
“Hah... baiklah,” balas ayah Tiysa, setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan Tristan dan Tiysa.
“Istriku sekarang aku punya seorang putra, hahaha,” terdengar suara ayah Tiysa tertawa saat menuruni tangga.
“Ini berbeda istriku, dia memanggilku ayah sebelum dia menikah, itu artinya....”
Perlahan suara ayah dan ibu Tiysa tidak terdengar lagi, Tristan tertawa kecil mendengar pembicaraan ayah dan ibu Tiysa dalam hati dia terus-menerus bersyukur karena takdir mempertemukan dirinya dengan Tiysa.
Tristan lalu mengambil ponselnya dari saku celananya.
Tut...
“Iya Tuan Muda,” jawab Haris.
“Ayah dan Ibu Tiysa akan berlibur di Golden Luxury Hotel selama 2 hari, tolong sampaikan kepada pihak manajemen di sana untuk menjamu mereka seperti orang tuaku sendiri,” kata Tristan.
“Seperti Tuan Gennady Yaroslav dan Nyonya Liliana, baik Tuan Muda, akan kusampaikan kepada mereka,” jawab Haris mengakhiri panggilan teleponnya.
___
Beberapa jam kemudian Damar beserta kedua orang tua Tiysa tiba di depan Golden Luxury Hotel, mereka langsung terkejut ketika beberapa orang pegawai hotel itu menghampiri mereka, dua orang langsung membuka pintu untuk Ayah dan Ibu Tiysa, beberapa orang lainnya terlihat mengambil koper yang dibawa orang tua Tiysa.
15 orang yang terdiri dari pria dan wanita asing juga terlihat menyambut mereka ketika baru turun dari mobil, semua orang asing itu tampak menunduk sopan menyapa mereka.
__ADS_1
Damar dan kedua orang tua Tiysa tampak tercengang mendapat sambutan seperti itu, 15 orang asing itu langsung memandu mereka menuju sebuah kamar di area presidential suite.
Damar yang memesan kamar untuk kedua orang tua Tiysa terus terkejut dia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi.
Mereka sudah tiba di depan pintu kamar berwarna hitam dengan simbol Ярослав (Yaroslav) di pintu.
15 orang asing itu mempersilahkan kedua orang tua Tiysa masuk, Damar yang ikut mengantar kedua orang tua Tiysa juga ikut masuk ke dalam kamar itu, setelah mereka bertiga masuk, 15 orang asing yang mengantar mereka langsung mohon pamit.
Damar terperangah menyaksikan kemewahan kamar itu, berbagai ornamen yang terbuat dari emas dan berlian menghiasi kamar itu, tidak hanya luas dan mewah, menurut Damar kamar ini benar-benar tidak masuk akal, perapian, sebuah jacuzzi bahkan lampu kristal dengan ukuran raksasa membuat Damar tidak bisa berkata-kata.
“Damar apa kamu yakin ini kamar yang kamu pesan?” tanya Ayah Tiysa yang juga terlihat sangat tercengang. Ibu Tiysa terlihat memeluk lengan suaminya, dia juga sangat terkejut melihat kamar yang sedang dia tempati.
Damar mengusap matanya yang sembab dia lalu mengecek kamar yang sudah dia pesan melalui layar ponselnya.
Ini benar-benar berbeda dengan gambar kamar dilayar ponselnya, “Paman, Bibi, aku akan bertanya ke pihak menajemen hotel terlebih dahulu,” kata Damar dengan suara terbata- bata.
Ayah dan Ibu Tiysa mengangguk pelan, Damar lalu pergi ke resepsionis untuk mengkonfirmasi hal ini, dia takut terjadi kesalahpahaman.
“Maaf, sepertinya terjadi kesalahpahaman disini,” kata Damar.
“Tidak ada kesalahpahaman,” kata pria itu sambil tersenyum.
“Tapi....”
“Tolong rahasiakan ini dari Paman Bimo dan Bibi Kirana, aku yang telah menyiapkan semua ini untuk mereka,” kata Pria itu sambil tersenyum.
“Paman? Bibi? Kamu adalah?” tanya Damar keheranan.
“Aku Gino Dewata, pemilik hotel ini, ibu dan ayahku adalah teman lama mereka berdua, jadi tolong rahasiakan ini dari Paman Bimo dan Bibi Kirana, katakan saja bahwa ini adalah program spesial dari Golden Luxury Hotel, khusus untuk pengunjung ke satu juta hotel kami.” kata Gino sambil tertawa kecil.
“Hah... baiklah,” kata Damar bernafas lega, dia sudah berkeringat dingin membayangkan tarif dari kamar yang ditempati oleh kedua orang tua Tiysa.
“Kalau begitu aku izin pamit, aku akan memberitahukan ini kepada paman dan bibi,” balas Damar.
Tak lama setelah Damar pergi, Gino langsung menghubungi Haris.
Tut...
“Iya Tuan Muda,” jawab Haris.
“Pak Haris, sepertinya kita sudah harus menambahkan nama Tiysa di calon kandidat istri Kak Tristan yang selama ini kosong, aku saja sudah mendaftarkan 7 nama kandidat sebagai calon istriku,” kata Gino sambil tertawa.
“Sepertinya hanya nama Nona Tiysa yang akan menjadi kandidat utama dan satu-satunya sebagai istri Tuan Muda Tristan,” jawab Haris sambil tertawa kecil.
“Iya, dia bahkan menggunakan kamar orang tua kami untuk menjamu calon mertuanya, dia benar-benar serius kali ini,” kata Gino.
“Sepertinya Tuan Muda Gino juga sudah saatnya serius memilih calon istri,” balas Haris menyindir.
“Iya, aku akan mempertimbangkan hal itu,” kata Gino mengakhiri panggilan mereka.
__ADS_1
__