Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 87 : Vladimir Yaroslav


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu, Yono beserta istri dan anaknya sudah meninggalkan gedung baru Trisha Motor untuk menemui Haris.


Trisha yang masih belum ingin berpisah dengan yang lainnya sempat menangis, namun setelah di bujuk oleh Tristan dan Tiysa, peri kecil itu akhirnya setuju untuk pergi bersama ayah dan ibunya.


Sama halnya ketika dia pertama kali menjabat di Tirta Wira Perkasa, Tristan saat ini memanggil karyawan Yono satu persatu ke ruangannya untuk mendengar masukan dari mereka terkait rencana kerja kedepannya.


2 Karyawan pria Yono tampak bersemangat memaparkan ide mereka kepada Tristan, namun 5 karyawan wanita Yono membuat Tristan geleng-geleng kepala dan tertawa saat memanggil mereka satu persatu.


Tidak ada satu pun dari 5 wanita itu yang membahas tentang pekerjaan, mereka lebih tertarik dengan latar belakang Tristan, kapan Tristan bertemu dengan Tiysa, dan kapan rencana Tristan untuk menikahi Tiysa.


Mereka semua lebih tertarik membahas hubungan Tristan dan Tiysa dari pada membahas pekerjaan.


Tibalah saatnya giliran Tiysa.


Tok! Tok! Tok!


“Tuan Wapresdir Tristan, aku masuk,” kata Tiysa sambil membuka pintu ruangan Tristan.


Karyawan Yono lainnya langsung bersorak saat Tiysa mengucapkan itu dengan suara yang cukup nyaring.


“Jangan kasih ampun Tis!“ teriak salah satu karyawan pria ketika Tiysa membuka pintu ruangan Tristan yang langsung disambut tawa oleh yang lain.


Click!


Begitu Tiysa masuk ke dalam ruangan Tristan, dia langsung mengunci pintu, Tristan yang tadinya tertawa karena mendengar sorakan karyawan pria Yono langsung terdiam, dia memandangi Tiysa yang sedang menatap tajam ke padanya.


Tiysa melangkah maju menghampiri Tristan, sambil menggigit bibir bawahnya, dia terus menatap wajah Tristan yang terlihat begitu mempesona di matanya.


“Astaga, jangan lagi,” keluh Tristan dalam hati, dia sangat mengenal ekspresi wajah Tiysa saat ini, sudah dua kali dia melihat Tiysa dengan ekspresi wajah seperti ini.


Yang pertama ketika dia bermalam di rumah orang tua Tiysa, dan yang kedua ketika Tiysa mengetahui jika dia akan melamar Tiysa tahun depan.


Saat itu Tiysa menunjukkan ekspresi wajah yang sama persis seperti saat ini.


“Sayang, kita lagi di kantor, jadi….“


Tiysa tidak menggubris kata-kata Tristan, dengan cepat dia menghampiri Tristan lalu duduk di pangkuan Tristan.


Sambil berhadap-hadapan Tiysa melingkarkan lengannya di leher Tristan, dia berkata, “Kamu terlihat sangat seksi.“


Cup!


Tepat setelah mengatakan itu, Tiysa langsung mencium bibir Tristan, dia memejamkan matanya sambil menggigit kecil bibir kekasihnya.

__ADS_1


Tristan tersenyum, dia membalas permainan bibir Tiysa sambil memandangi wajah Tiysa yang terlihat begitu menikmati peraduan bibir mereka.


Tristan balas memeluk tubuh Tiysa, lidahnya menyusup masuk mencari lawan di dalam mulut Tiysa.


Tristan ikut terbawa arus peraduan bibir mereka, gairahnya semakin melonjak, wangi parfum Triysa yang menjadi kesukaannya turut memanaskan suasana yang terjadi diantara mereka, lagi-lagi dia kehilangan kendali atas dirinya.


Beberapa menit berlalu, mereka terus menikmati peraduan bibir mereka, mata Tristan yang sayu karena memandangi Tiysa tiba-tiba membelalak, dia melepaskan ciumannya dari Tiysa.


“Sayang… lagi,” kata Tiysa manja dengan nafas yang terlihat memburu.


Tristan menggelengkan kepalanya, dia menunjuk ke bagian bawah celah pintu ruangannya, Tiysa lalu menoleh ke arah yang ditunjuk Tristan, dia ikut terkejut, hal itu karena dia melihat beberapa bayangan menutupi celah bagian bawah pintu itu.


“Mereka benar-benar mengganggu,” keluh Tiysa yang tersenyum sambil berbisik kepada Tristan.


Tristan ikut tertawa kecil, dalam hati dia bersyukur dengan sifat ingin tahu teman-teman Tiysa, jika mereka tidak menguping di pintu ruangan Tristan, entah apa yang terjadi antara dirinya dengan Tiysa.


“Membuat website, promosi di sosial media, dan mengundang influenfer, aku yakin itu cara promosi yang paling tepat saat ini.“


Tiysa mengatakan itu dengan suara yang cukup nyaring agar teman-temannya yang sedang menguping di pintu bisa mendengar apa yang Tiysa katakan.


Tristan tertawa, hal yang membuatnya tertawa bukan karena Tiysa mencoba menipu teman-temannya dengan seolah-olah sedang membicarakan strategi pemasaran, namun karena Tiysa mengatakan itu dengan posisi yang masih duduk di pangkuannya sambil melingkarkan lengannya di leher Tristan.


“Baiklah Tiysa, mari kita lakukan itu,” kata Tristan dengan suara nyaring, dia memutuskan untuk ikut dalam sandiwara kekasihnya.



___


“Paman Haris!“ teriak Trisha yang langsung berlari memeluk Haris.


Haris yang juga sudah dekat dengan Trisha langsung mengangkat dan menggendong putri kecil Yono.


“Halo Nona kecil,” kata Haris sambil tersenyum lembut kepada Trisha.


Adelia memeluk lengan suaminya sambil menatap putri kecil mereka yang terlihat sangat bahagia, Trisha benar-benar mendapatkan sosok pengganti keluarganya dan keluarga suaminya.


Tristan dan Haris terlihat begitu menyayangi Trisha, Adelia semakin membenarkan jika Tristan dan Tiysa adalah bintang keberuntungan keluarga mereka.


“Apakah ini rumah paman Haris?“ tanya Trisha dengan mata berbinar-binar sambil memandangi rumah mewah di depannya.



“Rumah ini bukan rumah paman Haris,” jawab Haris.

__ADS_1


“Trisha, apakah kamu menyukai rumah ini?“ tanya Haris.


“Iya Paman, rumah ini sangat luas dan juga sangat cantik, aku sangat menyukai rumah ini,” kata Trisha sambil tersenyum.


“Hahaha, kalau begitu mulai sekarang ini akan menjadi rumah Trisha,” balas haris sambil berjalan masuk ke dalam rumah mewah itu.



Yono dan Adelia sontak terkejut mendengar ucapan Haris, mereka tidak menyangka jika Haris langsung memberikan rumah ini kepada putrinya, dengan tergesa-gesa mereka berdua menyusul Haris ke dalam rumah.


Yono dan Adelia berniat menolak pemberian rumah mewah ini, mereka merasa tidak enak kepada Tristan, Tristan sudah melunasi utang-utangnya, Tristan juga sudah memberinya bisnis yang begitu menguntungkan, menurut mereka pemberian itu sudah lebih dari cukup, mereka merasa tidak layak menerima rumah mewah di kawasan pondok indah ini.


“Sayang menurutmu berapa harga rumah ini?“ tanya Adelia sambil berjalan menyusul Haris dan Trisha.


Yono memandangi rumah itu, dia sedikit banyaknya tahu pasaran harga rumah di kawasan itu, “Entahlah, mungkin sekitar 400 Milyar,” kata Yono sambil menghela nafas berat.


“400 Milyar? Suamiku kita benar-benar harus menolak pemberian ini, aku merasa tidak enak menerima rumah ini." kata Adelia dengan ekspresi wajah yang terlihat panik.



Mereka kembali terkejut saat mereka masuk ke dalam rumah mewah itu, ruang tamu dan ruang keluarga rumah itu sudah di dekorasi dengan berbagai hiasan untuk merayakan ulang tahun Trisha, dekorasinya tampak lebih mewah dari pada dekorasi ulang tahun di showroom baru mereka.


Putri mereka berlari sambil tertawa bahagia mengelilingi ruangan itu, beberapa orang yang mengenakan seragam catering juga terlihat sibuk mengatur makanan diatas meja, dari jumlah makanan yang dihidangkan, itu setidaknya cukup untuk menjamu beberapa ratus orang, Adelia dan Yono semakin kebingungan karena hal itu.


Yono dan Adelia mengesampingkan masalah hidangan yang disiapkan untuk menjamu beberapa ratus orang terlebih dahulu, mereka ingin menyampaikan kepada Haris jika mereka dengan berat hati harus menolak pemberian rumah dari Tristan.


"Tuan Haris, kami sepertinya harus menolak rumah mewah ini, Tuan Tristan sudah memberikan kami terlalu banyak hadiah, aku sampai merasa tidak enak dengan hal itu."


Haris tertawa, dia berkata, “Rumah ini bukan hadiah dari Tuan Muda Tristan,” kata Haris.


“Berarti ini hadiah dari Tuan Haris?“ tanya Yono.


“Awalnya seperti itu, aku berniat membeli rumah ini untuk aku jadikan hadiah ulang tahun Trisha, sayangnya hadiah rumah ini bukan dari aku, aku terpaksa memberi hadiah itu kepada Trisha” jawab Haris sambil menunjuk boneka beruang berukuran orang dewasa yang sedang di peluk Trisha.


“Jika ini bukan dari Tuan haris dan Tuan Muda Tristan, lalu hadiah ini dari siapa?“ tanya Yono.


“Ini hadiah ulang tahun Trisha dari Tuan Besar,” jawab Haris.


“Tuan besar?“ Yono semakin penasaran mendengar jawaban Haris.


“Iya, Tuan Besar adalah Kakek dari Tuan Muda Tristan yang bernama Vladimir Yaroslav,” kata Haris sambil tersenyum kepada Yono dan Adelia.


___

__ADS_1



__ADS_2