
“Bagaimana bisa seperti ini,“ ucap Purwadi Lirih. Dia terpaksa harus menerima kenyataan jika Austin yang mereka tunggu bukan lagi pemilik Moneyra Global Trade.
Tidak hanya itu, Tristan yang baru saja mengungkapkan identitasnya membuat Purwadi tidak bisa lagi membantah, jika dibandingkan dengan keluarga Ayah Tristan di Rusia, Austin memang hanyalah baru kerikil kecil yang dapat mereka singkirkan kapan saja.
Purwadi kembali mengutuk Subroto yang telah meninggal, jika sedari awal dia tahu identitas Tristan yang sebenarnya, dia tentu tidak akan berteman dengan Lingga untuk menjatuhkan Keluarga Prabaswara.
“Ayah, kita sebaiknya meninggalkan tempat ini, pria yang bernama Haris itu sangat berbahaya,” kata Devan dengan wajah pucat kepada William.
Devan semakin ketakutan, dia tidak hanya sering menghina Tristan, dia juga telah meniduri Gea yang merupakan tunangan Tristan dulu, dia tahu jika Tristan tentu tidak akan memaafkan perbuatannya selama ini, karena itulah dia ingin meninggalkan tempat ini secepatnya.
William menoleh ke Purwadi, setelah Tristan mengungkapkan identitasnya, dia sadar jika mereka sudah tidak memiliki kesempatan untuk membalik keadaan.
“Purwadi apa yang harus kita lakukan sekarang,” tanya William panik.
Purwadi tidak bisa menjawab pertanyaan William, dia hanya bisa terus menyalahkan mendiang ayahnya yang menyembunyikan status Tristan darinya.
Gea hanya bisa menangis, dia semakin membenci Tiysa, dia berpikir jika mungkin Tiysa dari awal sudah mengetahui status Tristan yang sebenarnya , karena itulah Tiysa terus setia menunggu Tristan walaupun Tristan sudah meninggalkannya selama 5 tahun.
“Pantas saja gadis sialan itu terus mengejar Tristan, ternyata dia sudah mengetahui identitas Tristan sejak awal,” umpat Gea sambil menatap Tiysa dengan penuh kebencian.
Setelah Tristan memberitahukan identitasnya, salah seorang bawahan Haris memberi kode ke Tristan dengan mengangkat tangannya, Tristan yang melihat itu menganggukkan kepalanya, dia kembali menatap para tamu dan berkata.
“Mungkin hanya itu yang bisa aku sampaikan tentang statusku saat ini, sekarang mari kita sambut kedatangan keluarga besarku yang baru saja tiba di hotel ini,“ ucap Tristan.
Tepat setelah Tristan berbicara, suara wanita pemandu acara itu kembali terdengar.
“Para tamu diharap berdiri… akan segera memasuki ruangan, Tuan Hartono Prabaswara dan Tuan Vladimir Yaroslav, beserta rombongan dari Keluarga Prabaswara.“
Suasana menjadi hening, terdengar beberapa langkah kaki memasuki ruangan.
Hartono dan Vladimir memasuki ruangan disusul ketiga Paman dan ketiga Bibi Tristan.
Tampak ketiga Bibi Tristan sedang tersenyum sambil merangkul Sofia dan Gino yang ikut memasuki ruangan bersama mereka.
Purwadi yang tidak bisa lagi membalik keadaan sontak berdiri dari duduknya, dia berniat menyambut Hartono agar bisa terbebas dari masalah ini, dia tidak lagi peduli dengan harga dirinya, sekarang yang ada dipikirannya hanya satu, dia harus selamat dari situasi ini walau harus dianggap sebagai penjilat oleh orang-orang yang hadir di tempat itu.
“Paman Hartono, selamat-”
“Apa yang kamu lakukan bajingan!“ umpat Luciano menghalau Purwadi yang hendak menuju Hartono.
“Kamu hanya pengawal, jangan menggangguku, aku ingin menyambut kedatangan Pamanku,” hardik Purwadi yang merasa sikap pengawal Tristan sangat tidak sopan kepadanya.
Luciano tertawa sinis, dia mengambil kartu namanya dari saku jas, dan menempelkan kartu namanya di dahi Purwadi dengan kasar.
Plakk!
“Kurang ajar!“ kata Purwadi, dia lalu mengambil kartu nama yang menempel di dahinya.
__ADS_1
Begitu dia melihat kartu nama itu, matanya langsung membelalak.
“Luciano… CEO Benevari Internazionale… Italy…,“ gumam Purwadi membaca kartu nama Luciano.
Purwadi semakin berkeringat dingin, dia yang juga mengetahui nama perusahaan Luciano kini terdiam tak bisa berkata-kata.
“Setiap pengawal yang berdiri disini memiliki bisnis yang setara dengan bisnisku, sekarang kamu mengerti betapa tidak berharganya Austin yang kamu banggakan,” kata Luciano sambil mendekatkan wajahnya ke Purwadi yang sedang terduduk dilantai.
“Ah… apakah aku harus memberitahu kamu bagaimana Oscar dan Putranya memohon pengampunan untuk nyawa mereka?“ bisik Luciano ke telinga Purwadi.
Mendengar ucapan Luciano, Purwadi langsung merasa putus asa, dia akhirnya mengerti mengapa ketiga rekannya tiba-tiba menghilang.
Dia kembali mengingat bagaimana kekejaman keluarga Yaroslav menghabisi 23 keluarga pengusaha, yang menganggu Liliana 26 tahun yang lalu.
Saat itu juga dia langsung menyakini, baik Austin, Cakra dan juga ketiga rekannya sudah pasti menghilang di tangan keluarga Yaroslav.
“Ma… maafkan aku… aku akan kembali ke tempatku,” jawab Purwadi menunduk lemas dengan ekspresi wajah yang sangat ketakutan.
“Baguslah jika kamu mengerti,” kata Luciano singkat yang lalu kembali menuju barisannya.
“Cih… dasar tidak tahu malu,” umpat Damar melihat Purwadi yang mencoba menjilat Hartono ketika keadaan tidak menguntungkan baginya.
Hartono dan Vladimir yang sempat terhenti, kembali melangkahkan kakinya menuju panggung tempat Tristan berada.
Sementara Paman dan Bibinya bergabung bersama Bimo dan yang lainnya.
“Kalian berdua sangat jahat karena menyembunyikan status Tristan dariku,” ucap Tiysa begitu Gino dan Sofia menghampirinya.
“Itu benar Kak Tiysa, kamu harus memarahi Kak Tristan begitu acara ini selesai,” kata Gino sambil tertawa.
Setelah Vladimir dan Hartono duduk di sampingnya, Tristan kembali menatap para tamu yang hadir.
“Karena semua telah hadir di tempat ini, aku akan langsung mengumumkan beberapa hal penting sebagai pemimpin baru Tirta Baskara Group.“
“Pertama aku akan menunjuk Damar Kuncoro sebagai CEO baru di Tirta Wira Perkasa menggantikan Cakra.“
“Yang kedua, status Bisma Kuncoro akan di kembalikan sebagai kepala keluarga Kuncoro sesuai dengan surat wasiat yang dititipkan mendiang Tuan Subroto kepada keluarga Prabaswara.“
Purwadi menunduk lemas mendengar pengumuman dari Tristan, dia sudah lama mengetahui keberadaan surat wasiat itu dari pengacara keluarganya yang berhasil dia tarik masuk kedalam kelompoknya.
Surat wasiat itu berisi jika Bisma ternyata adalah anak kandung Subroto, dan Bisma jauh lebih berhak dari dirinya untuk menjadi kepala keluarga Kuncoro.
Selama ini dia terus menyuap pengacara yang bekerja untuk ayahnya agar merahasiakan surat wasiat itu dari siapapun, hal yang tak pernah dia sangka karena ternyata keluarga Prabaswara juga mengetahui hal itu.
“Suamiku, bagaimana ini bisa terjadi,” kata Veronica yang tidak percaya dengan apa yang baru saja Tristan katakan.
“Dia tidak berhak mencampuri urusan keluarga kita, kamu harus mengajukan protes terkait pengumuman itu,” kata Veronica sambil berdecak kesal.
__ADS_1
Purwadi tidak menggubris ucapan istrinya, dia tahu bahwa dia tidak memiliki kekuatan secara hukum untuk membantah apa yang baru saja Tristan ucapkan.
Sedangkan di tempat Bimo dan yang lainnya berada, para bawahan keluarga Yaroslav kompak bertepuk tangan memberikan selamat kepada Bisma dan Damar.
Bisma dan Damar hanya bisa tersenyum dan mengucapkan Terima kasih kepada orang-orang yang memberikan selamat, mereka berdua meneteskan airmata bahagia, mereka tidak percaya jika akan ada hari dimana mereka bisa kembali menyandang status sebagai anggota keluarga Kuncoro.
“Aku benar-benar beruntung memiliki saudara seperti dia,” kata Damar kepada Tiysa sambil menyeka airmatanya.
Tiysa tersenyum, sejak kemunculan Tristan, hal-hal baik terus terjadi kepada mereka.
Sementara Bimo terus menepuk halus pundak Bisma yang juga berderai airmata.
“Aku akan membantu kalian jika kalian mengalami kesusahan, itu yang dikatakan Gennady dulu ketika kita melindungi Liliana 26 tahun yang lalu dari Lingga dan teman-temannya, walaupun dia sudah tiada, dia tetap menepati janjinya melalui putranya,” ucap Bisma.
“Iya, saat seperti inilah aku benar-benar merindukan sosok Gennady dan Liliana, mereka pasti bangga melihat apa yang putranya sekarang lakukan,” balas Bimo.
Gea semakin tercengang, bukan hanya karena dia tidak mendapatkan Tristan, kini statusnya dan status kedua orang tuanya di keluarga Kuncoro berada di tangan Bisma, tidak ada lagi yang bisa dia sombongkan, dia harus mengakui jika keluarganya sekarang berada jauh dibawah keluarga Tiysa.
“Ibu, ternyata tunanganku dulu bukanlah pria biasa, ini semua gara-gara Devan yang menjebakku ketika berada di Bogor, jika dia tidak melakukan itu, saat ini aku pasti sudah menjadi calon istri Tristan,“ kata Gea yang hanya bisa melemparkan kesalahannya kepada Devan.
“Apa maksudku berkata seperti itu,” hardik William yang tidak Terima jika Gea melempar semua kesalahan kepada putranya.
“Ini semua gara-gara Putramu, jika saja dia tidak menjebak Gea, kami pasti sekarang tidak akan terlibat masalah ini,” balas Veronica yang kini ikut menyalahkan Devan.
Suasana semakin tegang di kubu Purwadi, beberapa orang yang dulu menjilat kepadanya mulai mengambil jarak dari Purwadi, mereka berharap jika Tristan tidak akan melibatkan mereka dalam masalah yang dibuat oleh Purwadi.
Ketika suasana sudah mulai tenang, Tristan kembali maju dan menatap para tamu yang yang hadir di tempat itu.
“Yang ketiga, aku akan mengumumkan jika hari ini, aku dan Tiysa Utari Harsa secara resmi bertunangan, dan dua bulan lagi kami akan segera melangsungkan pernikahan.”
Mata Tiysa membelalak tidak percaya dengan apa yang Tristan baru saja katakan.
Semua orang yang hadir sontak berdiri dan bertepuk tangan, Haris dan Faiz segera memegang tangan Tiysa, dengan lembut mereka berdua mengantar Tiysa menuju tempat Tristan.
Sofia dan Gino juga sama, mereka menghampiri Bimo dan Kirana, dengan lembut mereka berdua menuntun Bimo dan Kirana menuju Vladimir dan Hartono yang sedang tersenyum memandangi mereka.
“Silakan Paman dan Bibi,” kata Sofia lembut kepada Bimo dan Kirana yang sempat tidak bisa berkata-kata mendengar pengumuman dari Tristan.
Kirana yang sejak tadi menahan diri ketika melihat Putri sahabatnya langsung memeluk Sofia, “Kamu benar-benar cantik seperti ibumu 'Nak,” kata Kirana sambil tersenyum lembut kepada Sofia.
“Bibi juga sangat cantik, kecantikan Bibi persis seperti apa yang dikatakan mendiang ibuku dulu, Bibi Kirana memang memiliki paras yang sangat cantik,“ balas Sofia manja kepada Kirana.
Bimo yang sedang berjalan bersama Gino pun sama, dia yang sudah menganggap Gennady seperti saudara tak bisa menahan haru ketika Gino memegang tangannya.
“Kalian semua tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan pemberani, Gennady dan Liliana pasti sangat bangga melihat kalian,” kata Bimo.
“Terima kasih Paman, pujian dari Paman benar-benar membuat ku merasa sangat senang dan bangga, setelah aku melihat reaksi kalian ketika bertemu kami, aku akhirnya sadar mengapa ayah dan ibuku dulu berkata jika selain dari anggota keluarga Prabaswara dan keluarga Yaroslav, kami masih memiliki dua Paman dan satu Bibi lagi yang harus kami hormati layaknya Ayah dan Ibu kami sendiri yaitu Paman Bimo, Paman Bisma dan juga Bibi Kirana," ujar Gino yang kembali membuat Bimo menitikkan airmata.
__ADS_1
"Orang tua kalian benar-benar mendidik kalian dengan baik," kata Bimo sambil tersenyum berderai airmata.
...****************...