
Tut...
"Iya Tuan Muda," jawab Haris.
"Pak Haris, beritahukan semuanya kepadaku," kata Tristan tegas.
Beberapa saat yang lalu, tanpa diperintah, Haris yang selalu mengawasi Tristan dari jauh segera mengumpulkan informasi begitu Boby dan teman-temannya tiba di kediaman Bisma.
Dalam sekejap bawahan Haris sudah mendapatkan semua informasi mengenai Boby, mulai dari latar belakang Boby, bisnis yang sedang dia jalankan, jaringan partner bisnis Boby, sampai tindakan melanggar hukum yang telah Boby lakukan, semua sudah berada dalam genggaman Haris.
"Tuan Muda, menurut informasi yang aku dapatkan dari bawahanku, beberapa tahun yang lalu, saat Tuan Bimo jatuh sakit, Nyonya Kirana sempat mencoba meminjam uang di Bank dengan jaminan aset Rumah yang mereka miliki."
"Saat itu, pihak Bank sudah menyetujui permintaan Nyonya Kirana, namun setelah beberapa hari, pihak Bank tiba-tiba menolak permintaan Nyonya Kirana dengan berbagai alasan."
"Karena merasa Bank tidak dapat membantu, Nyonya Kirana mencoba menjual aset tanah dan rumah yang mereka miliki, namun setelah beberapa lama tidak ada satupun orang yang melakukan penawaran terhadap aset yang dijual Nyonya Kirana."
"Menurut informasi dari bawahanku, itu semua karena pria bernama Boby bermain dibelakangnya, dia yang mempengaruhi pihak Bank agar tidak memberikan pinjaman kepada Nyonya Kirana, dia juga yang membuat Nyonya Kirana tidak bisa menjual asetnya, itu semua karena dia ingin membeli aset yang dimiliki oleh keluarga Nona Tiysa dengan harga yang sangat murah," kata Haris menjelaskan.
"Apakah kamu mengetahui alasan Damar dan Tiysa terlihat tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan Boby?" tanya Tristan kembali.
"Tunggu sebentar Tuan Muda, aku akan bertanya kepada bawahanku terlebih dahulu," jawab Haris.
Haris diam beberapa saat, sayup-sayup terdengar suara gaduh di tempat Haris berada.
"Tuan Muda menurut informasi dari bawahanku yang menginterogasi salah satu anak buah Boby, beberapa tahun lalu Nona Tiysa ditemani Damar sempat mendatangi kantor Boby untuk menjual aset milik keluarganya. Karena sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan Tuan Bimo, Nona Tiysa terpaksa menyetujui permintaan Boby yang ingin membeli aset milik keluarga Nona Tiysa dengan harga murah, disamping itu Boby juga memberikan pinjaman sejumlah uang kepada Nona Tiysa yang jika di totalkan, uang yang diberikan Boby masih jauh dibawah nilai jual aset yang dimiliki oleh keluarga Nona Tiysa."
"Berarti si Boby ini telah menipu Tiysa dan Damar dengan berpura-pura sebagai pahlawan yang membantu Tiysa dan keluarganya?" tanya Tristan.
__ADS_1
"Iya Tuan Muda, Nona Tiysa dan Damar sepertinya tidak mengetahui jika Boby lah yang bermain di belakang layar, sampai saat ini Nona Tiysa masih terus membayar utangnya kepada Boby, itu karena Boby memberikan pinjaman dengan bunga yang tidak masuk akal." jawab Haris.
"Hah... itu bisa menjelaskan mengapa mereka berdua bersikap seperti itu," kata Tristan.
"Dan sepertinya orang yang bernama Boby ini memiliki koneksi dengan Purwadi, karena itulah dia juga menyerang Suryo yang merupakan kenalan dekat Bisma dan Bimo," kata Haris melanjutkan.
"Pak Haris, urus orang-orang yang datang bersama Boby, aku sendiri yang akan mengurus Boby," perintah Tristan mengakhiri pembicaraannya.
Tristan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku, dia lalu menuju ke halaman depan.
__
Boby masih terus bertingkah di halaman depan, dia terus-terusan memprovokasi Suryo, Bimo membawa Kirana yang terlihat cemas menjauh dari Boby yang semakin bertingkah, dia tidak ingin istrinya panik karena tingkah laku Boby.
Dua buah mobil berwarna hitam tiba di kediaman Bisma, mereka semua langsung menoleh ke arah mobil yang baru saja tiba, Boby sedikit cemas ketika melihat beberapa pria turun dari mobil itu, namun ketika melihat pria-pria itu menyapa orang-orangnya dengan ramah, Boby langsung tertawa dan kembali memprovokasi Suryo, Bisma dan Bimo.
"Tiysa kemarilah," teriak Boby memanggil.
"Hei Tiysa apa kamu lupa dengan perjanjian kita?" teriak Boby yang mulai kesal karena Tiysa tidak menggubris panggilannya.
Suryo, Bisma dan kedua orang tua Tiysa sontak terkejut mendengar ucapan Boby, mereka tidak mengetahui jika Tiysa memiliki semacam perjanjian dengan Boby.
"Tidak usah kamu hiraukan," kata Damar mencoba menahan Tiysa yang hendak melangkah.
"Sini biar aku temani," kata Tristan yang baru saja tiba, dia meraih tangan Tiysa dan berjalan menghampiri Boby.
"Tristan...."
__ADS_1
Tiysa terlihat ingin menghentikan Tristan, dia tidak ingin Tristan ikut terlibat dalam masalah yang dia buat, terlebih lagi dia tahu jika Tristan tidak lagi mempunyai status Tuan Muda seperti dulu.
Namun dia mengurungkan niatnya ketika Tristan tersenyum dan berkata kepadanya, "Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja."
"Siapa pria ini?" tanya Boby kepada Tiysa begitu mereka berdua tiba dihadapan Boby.
"Aku calon suami Tiysa," kata Tristan sambil menatap Boby.
"Hahaha, calon suami? Apakah calon istrimu sudah memberitahu perjanjianku dengannya? Saranku lebih baik kamu mundur jika tidak ingin terlilit hutang setelah kalian menikah, benar 'kan Tiysa," kata Boby sambil tertawa lepas.
Damar berdecak kesal mendengar perkataan Boby.
Sedangkan Suryo, Bisma dan kedua orang tua Tiysa langsung tercengang mendengar perkataan Boby, mereka tidak menyangka jika Tiysa terpaksa berhutang kepada Boby.
"Ini karena aku 'kan?" ucap Bimo lirih, dia tahu jika putrinya terlibat banyak masalah untuk membiayai pengobatannya.
Tiysa menggenggam erat telapak tangan Tristan, sambil menunduk matanya berkaca-kaca, hatinya terasa sakit karena Boby mempermalukan dirinya di depan Tristan.
"Berapa utangnya?" tanya Tristan
"Mengapa kamu tidak tanyakan itu kepada calon istrimu? Hei Tiysa katakan sesuatu," ucap Boby sambil mengulurkan tangannya ingin menyentuh wajah Tiysa.
Namun tepat sebelum Boby menyentuh wajah Tiysa, Tristan dengan cepat menangkap jari telunjuk dan jari tengah milik Boby.
Krakk!
"Ackkk!" Pekik Boby berteriak kesakitan.
__ADS_1
Kedua jarinya langsung dipatahkan oleh Tristan. Sambil tersenyum sinis, Tristan berkata, "Apa yang ingin kamu lakukan berengsek."