
"Apakah Tristan sudah menghubungi kamu lagi?" tanya Dian yang sedang berbicara dengan Tiysa melalui panggilan telepon.
"Belum, aku juga sudah mencoba menghubungi nomor Tristan, sayangnya nomor ponselnya masih tidak aktif," jawab Tiysa lesu.
"Bersabarlah, aku yakin dia pasti akan menghubungi kamu lagi," kata Dian menghibur Tiysa.
"Iya," jawab Tiysa.
"Bagaimana dengan Gino?" tanya Dian, semalam begitu Tiysa sampai di apartemennya, dia langsung menghubungi Dian dan menceritakan kejadian yang dia alami bersama Gino
"Entahlah, dia juga belum menghubungiku hari ini, mungkin dia sedang dalam perjalanan ke luar kota." jawab Tiysa.
Tiysa melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 16.03.
"Apakah kamu akan pulang ke Bogor?"
"Iya, aku sudah berjanji kepada orang tuaku untuk pulang setiap akhir minggu, aku tidak ingin mereka terus-menerus mengkhawatirkan keadaanku," jawab Tiysa.
"Bagaimana jika Yuda yang mengantarmu? setidaknya dia perlu bertanggung jawab karena telah mengatakan hal yang bisa membuat Tristan salah paham."
"Tidak perlu, itu juga bukan kesalahan Yuda, lagian aku merasa Tristan tidak akan salah paham hanya karena hal seperti itu," balas Tiysa sambil tersenyum.
"Baiklah, sampaikan salamku kepada Paman dan Bibi, ingat kamu harus tetap fokus dalam berkendara," kata Dian.
"Oke Kakak cantik," balas Tiysa mengakhiri panggilan mereka.
Tiysa lalu bersiap untuk pulang, dari tempatnya duduk dia dapat mendengar suara Yono yang sedang bercanda dengan teman-teman Tiysa yang juga adalah karyawan di showroom itu.
Tiysa menghampiri Yono, dia terlihat ikut berbincang-bincang, beberapa saat kemudian, dia akhirnya pamit kepada Yono dan teman-temannya.
__ADS_1
Tak berselang lama, mobil Tiysa terlihat meninggalkan tempat itu menuju ke rumah orang tuanya.
__
"Istriku, apakah barang yang aku pesan sudah tiba?" tanya Bimo yang baru saja tiba dirumahnya.
"Belum sayang, apakah kamu sudah mengecek status pengirimannya?" jawab Kirana yang sedang menghidangkan makanan di meja.
"Iya, statusnya sedang diantarkan, mungkin kurirnya terjebak macet, apalagi ini akhir pekan," jawab Bimo bercanda, dia lalu duduk di Sofa yang berada di ruang tengah.
"hmm, wangi sekali," kata Bimo memuji aroma masakan istrinya.
Kirana tersenyum mendengar pujian dari suaminya, beberapa tahun terakhir sudah menjadi rutinitas bagi Kirana untuk memasak hidangan yang menggugah selera setiap akhir pekan ketika Tiysa pulang ke rumah.
Tok... Tok... Tok...
"Paket..."
"Terima kasih...," kata Bimo kepada kurir yang mengantar barang pesanannya.
Setelah mengambil barang pesanannya dia lalu kembali menuju sofa yang berada di ruang tengah.
Ketika dia sedang membuka paket pesanannya, pintu rumah mereka kembali di ketuk.
Tok... Tok... Tok...
"Biar aku saja," kata Kirana kepada Bimo sambil berjalan menuju pintu rumah mereka.
"Anakku!" seru Kirana.
Bimo yang sedang membuka paket pesanannya sontak kaget ketika mendengar suara istrinya, dengan cepat dia menuju pintu rumah mereka.
__ADS_1
Sayup-sayup terdengar suara Kirana yang sedang menangis, Bimo mempercepat langkahnya, namun begitu Bimo tiba di depan pintu, mata Bimo langsung berkaca-kaca, bibirnya bergetar, dia melihat istrinya menangis sambil memeluk Tristan, pemuda yang sudah mereka anggap seperti anak sendiri.
Selama 5 tahun Bimo dan istrinya selalu berharap suatu saat nanti Tristan akan pulang dan menemui mereka, dan hari ini harapan itu menjadi kenyataan.
"Paman... aku..."
"Selamat datang anakku," kata Bimo sambil tersenyum, dia lalu ikut memeluk tubuh Tristan, airmata yang sedari tadi dia tahan langsung tumpah membasahi pipinya.
"Paman, Bibi... Aku pulang..." ucap Tristan yang langsung membalas pelukan Ayah dan Ibu Tiysa, dia yang berusaha tenang tak lagi dapat menahan airmatanya, pelukan dari kedua orang tua Tiysa terasa begitu hangat, sejak kepergian kedua orang tuanya dia akhirnya bisa kembali merasakan hangatnya pelukan kasih sayang dari orang tua.
Di ruang keluarga, Tristan meminta Bimo dan Kirana untuk duduk di sofa, dengan berlutut Tristan membungkukkan badannya dan meletakkan tangan Bimo di keningnya, dia terus meminta maaf atas perbuatannya yang pergi tanpa mengabari Bimo dan Kirana.
Dadanya terasa sesak, perasaan bersalah terus datang dan semakin menumpuk, sambil menangis dia meminta maaf dengan tulus kepada kedua orang tua Tiysa.
Tristan tidak pernah menyangka jika dia akan mendapatkan sambutan hangat seperti ini, hal ini semakin menguatkan perasaan Tristan jika Tiysa memang adalah wanita yang diatur langit untuk menjadi pasangan hidupnya.
Beberapa saat berlalu, Bimo dan Kirana terlihat sedang bersiap-siap.
"Tristan kami akan pergi ke rumah Bisma," kata Bimo kepada Tristan.
"Tapi paman...,"
"Tidak apa-apa, aku tidak bisa membayangkan bagaimana luapan perasaan Tiysa ketika bertemu denganmu," kata Bimo sambil tersenyum kepada Tristan.
Tristan mengangguk, dia lalu berterima kasih kepada Bimo dan Kirana, tak berselang lama, Bimo dan Kirana terlihat pergi meninggalkan Tristan di rumah itu.
Tristan memandangi foto yang menempel di tembok rumah, dia dapat melihat beberapa fotonya ikut dipajang, Hal itu menandakan jika Tristan memang sudah diterima menjadi bagian keluarga ini.
__
__ADS_1