
Brakk!
Gino menghantamkan wajah keduanya di permukaan meja. Makanan dan minuman di atas meja itu berhamburan, Gea dan ketiga sahabatnya berteriak histeris.
Kedua pria itu langsung tumbang setelah wajah mereka mencium mesra permukaan meja.
Beberapa karyawan pria ditempat itu terlihat ingin melerai, namun karyawan di kasir menghentikan mereka sambil memperlihatkan cek dan kartu nama yang tadi Gino serahkan kepadanya.
"Jangan mengganggu mereka, pria yang sedang mengamuk itu bukan orang biasa, dia dengan mudah menghamburkan 400 juta tanpa berpikir sama sekali," kata kasir itu.
Karyawan yang lain setuju, mereka hanya bisa menonton Gino yang terlibat perkelahian dengan teman-teman pria Gea.
"Berengsek!" teriak teman pria Gea yang lain, dia langsung melesat menyerang Gino dengan tinjunya.
Gino mundur untuk menghindari tinju dari pria itu, sambil tetap tersenyum dan tanpa menoleh, dia meraih kursi kayu yang berada di belakangnya dan langsung menghantam pria yang sedang menyerangnya dengan kursi itu.
Brakk!
Acckk! Pekik pria itu yang juga langsung tumbang setelah di hantam kursi oleh Gino.
3 teman pria Gea yang tersisa tampak ragu, dia tidak menyangka jika pria tampan yang terlihat lemah itu ternyata sangat ganas.
"Haha, di mana keberanian kalian yang tadi?" tanya Gino mengejek 3 pria yang berada di dekatnya sambil tertawa.
Emosi mereka langsung terpancing mendengar kata-kata Gino, dua orang dari mereka menyerang bersama-sama.
Gino mundur dan meraih vas bunga yang berada di meja lalu melemparnya ke pria yang berada di sebelah kanan.
Praank!
Aack!! Teriak pria itu, darah langsung bercucuran dari wajahnya yang terkena pecahan vas bunga.
Setelah melempar vas bunga dia mundur menghindari pukulan pria yang berada di sebelah kanan, dia lalu melompat sambil melakukan tendangan putar dan menghantam rahang pria itu.
Bukk!
Pria yang terkena tendangan Gino langsung terlempar dan menabrak meja kosong di dekat Gea.
Dalam sekejap 5 orang teman pria Gea sudah meringis kesakitan di lantai Cafe itu, tersisa satu orang pria yang masih berdiri mematung ditempatnya.
__ADS_1
"Selalu seperti ini, yang paling banyak bicara adalah yang paling pengecut," kata Gino sembari menghampiri pria itu.
"Jangan mendekat, ayah kami adalah pengusaha bisnis property yang terkenal, kamu akan terkena masalah jika kamu terus menyerang kami," kata pria itu, dari suaranya yang bergetar Gino bisa memastikan jika pria itu sudah sangat ketakutan.
"Oh, maafkan aku tuan muda, aku tidak tahu jika kamu adalah anak dari pengusaha kaya di kota ini," sindir Gino, dia terlihat merapikan kerah baju kemeja pria itu.
"Ba... baguslah jika kamu mengerti," kata pria itu terbata-bata, keringat dingin terus bercucuran dari dahinya.
Gino tersenyum, dia lalu mencengkram kedua kerah baju pria itu lalu dengan teknik judo, dia membanting pria itu ke lantai.
Bukk!
Ackk! teriak pria itu kesakitan.
Gino lalu mendekatkan wajahnya ke pria itu, dengan berbisik dia berkata, "Besok kalian berenam akan menjadi gembel," kata Gino sambil menyunggingkan bibirnya.
Setelah mengatakan itu Gino menoleh ke tempat Gea dan ketiga sahabatnya, ketika dia hendak menghampiri mereka, Tiysa yang sudah berdiri di dekatnya langsung menarik tangan Gino.
"Sudah cukup, ayo kita pulang," kata Tiysa sambil menarik tangan Gino meninggalkan Cafe itu.
Gea dan ketiga sahabatnya hanya bisa terdiam, tidak ada satu katapun terucap dari bibir mereka. Tindakan Gino yang sangat brutal terus menghantui pikiran mereka, rintihan kesakitan dari teman-temannya yang sedang terbaring di lantai Cafe itu membuat mereka semakin ketakutan.
"Kamu benar-benar gila, mengapa kamu sampai membuat Cafe itu berantakan, hah... mengapa aku selalu bertemu dengan pria yang dengan mudahnya melakukan tindakan gila seperti itu," keluh Tiysa sambil mendengus kecil.
"Seperti Tristan?" tanya Gino sambil tersenyum.
"Iya, kegilaan tindakanmu sudah selevel Tristan," ketus Tiysa.
"Eh...," ucap Tiysa yang langsung menoleh ke Gino, dia memicingkan matanya menatap Gino dengan penasaran.
"Jangan-jangan kamu...."
"Ada apa?" Tanya Gino yang tampak menahan tawa melihat ekspresi wajah Tiysa.
"Hah... sudahlah...," jawab Tiysa sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil.
Beberapa saat kemudian mobil mereka sudah tiba di pelataran parkir apartemen Tiysa.
"Gino, maaf... aku tidak bisa mengajakmu masuk ke apartemenku, aku...." Tiysa terlihat tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Aku mengerti," balas Gino sambil tersenyum kepada Tiysa.
Gino terlihat mengantar Tiysa sampai ke depan pintu lift, tak berselang lama setelah Tiysa masuk ke dalam lift, Gino pun pergi meninggalkan apartemen Tiysa.
___
Keesokan harinya...
Pesawat pribadi milik keluarga Yaroslav kembali terlihat di Bandara Soekarno-Hatta, setelah 18 jam menempuh perjalanan Tristan akhirnya tiba di Indonesia, Haris dan beberapa orang bawahannya terlihat mendampingi Tristan.
Perasaan senang dan juga rindu langsung terasa begitu Tristan menginjakkan kakinya di Bandara Soekarno-Hatta, setelah 5 tahun, Tristan akhirnya bisa kembali ke negara tempat wanita pujaan hatinya berada.
"Kak Tristan!" Teriak seorang pria memanggil namanya.
Tristan menoleh, dia langsung tersenyum begitu melihat sosok pria yang memanggilnya.
"Gino," balas Tristan.
Gino menghampiri Tristan dan langsung memeluk Tristan dengan erat.
"Apa yang kamu lakukan disini? bukankah kamu juga menjalani misi pelatihan sepertiku?" tanya Tristan yang merasa heran karena adiknya yang berusia dua tahun lebih muda berada di Indonesia.
"Hah... itu karena kakek, dia tiba-tiba memberi instruksi agar aku ke Indonesia," balas Gino.
"Sebaiknya kita ke Golden Luxury Hotel, di sana kamu bisa menceritakan semuanya kepadaku," balas Tristan.
"Baiklah," kata Gino.
__
Bonus Visual 😊
__ADS_1