Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 33 : Purwadi berniat menyingkirkan Tristan


__ADS_3

Gina ingin memberitahu Tiysa tentang Haris yang pagi ini membeli 30 mobil mewah, dan mengirim mobil itu ke beberapa pemilik perusahaan besar sebagai hadiah.


“Kak Tiysa kamu di mana ...,” keluh Gina. Sejak tadi dia terus menghubungi nomor ponsel Tiysa, tapi tak kunjung dijawab oleh Tiysa.


Gina kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas, dia akan mencoba menghubungi Tiysa setelah serah terima mobil dengan pembeli ini.


Saat ini dia sudah berada di salah satu rumah mewah yang memesan mobil Audi ** Coupe seharga 1,8 Milyar. Dia diminta oleh Yono untuk melakukan serah terima kendaraan.


Setelah mengantar mobil sampai pekarangan rumah, sopir yang mengantar Gina terlihat menunggu di dekat pos satpam rumah mewah itu.


Gina mengetuk pintu rumah, tak berselang lama, seorang pemuda tampan membuka pintu, dia lalu menyapa Gina sambil tersenyum.


Senyum pemuda itu sempat membuat Gina salah tingkah, dia sudah sering menemani Tiysa serah terima kendaraan, namun baru kali ini dia bertemu pembeli yang berwajah tampan jauh di atas rata-rata.


Gina tertawa kecil, saat ini dia melihat pemuda itu tampak menarik tangan seorang wanita yang enggan untuk keluar.


“Hei... sini...,” ucap pemuda itu. Dia terus menarik dengan lembut tangan wanita yang enggan menampakkan diri.


“Tunggu... aku ganti baju dulu...,” balas wanita itu yang bersikukuh tidak mau menunjukkan dirinya.


Gina sendiri merasa tidak asing saat mendengar suara wanita itu.


“Kamu tetap terlihat cantik walaupun menggunakan pakaian itu,” ucap pemuda itu merayu dan berusaha meyakinkan.


“Tris-” Belum sempat wanita tadi menyelesaikan perkataannya.


Pemuda itu dengan cepat menarik lengan si wanita, begitu wanita tadi keluar dari pintu, pemuda itu dengan sigap langsung memeluknya.


“Tristan... apa yang kamu lakukan?” protes wanita itu karena di tarik secara paksa.


Gina terkejut melihat wanita itu.


“Kak, Tiysa!!” teriak Gina. Dia seakan tak percaya jika wanita yang sedang di peluk pemuda tampan di depannya adalah Tiysa.


“Gina?!” jawab Tiysa. Dia juga terkejut melihat Gina yang tiba-tiba muncul di rumah Tristan.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Tiysa.

__ADS_1


“Aku diminta Pak Yono untuk mengantar mobil itu di sini.” Gina menunjuk ke arah mobil yang terparkir di pekarangan rumah Tristan.



“Kenapa harus kamu? Mana marketing yang lain?” Tiysa merasa heran karena Yono meminta Gina, yang hanya mahasiswi magang di showroom Yono untuk bekerja.


“Semua marketing lain sibuk mengurus pesanan, pagi ini pak Haris tiba-tiba memesan 30 unit mobil, dan harus di antar secepatnya, itu membuat pak Yono dan karyawan lain kewalahan,” jawab Gina.


“30!” Mata Tiysa melotot, dia tak percaya jika Haris melakukan itu, satu-satunya yang bisa melakukan ide gila seperti itu menurutnya hanya satu orang.


Dia lalu menoleh ke Tristan yang sedang mengendap-endap masuk ke dalam rumah.


“Tristan!” teriak Tiysa manja.


Tristan berhenti sejenak..., tersenyum..., lalu dia berlari masuk ke dalam rumah.


Tiysa menghela nafas. “Hah... Tristan...,” keluh Tiysa sambil menepuk jidatnya.


Gina tertawa melihat Tristan dan Tiysa yang bertingkah seperti itu.


Gina meraih kedua tangan Tiysa.


Tiysa menoleh ke Gina, senyum bahagia menghiasi wajahnya, setelah itu dia berkata. “Iya, dialah orangnya.”


Beberapa saat berlalu.


Gina meminta sopir yang mengantarnya untuk kembali ke showroom Yono tanpa dirinya. Dia lalu bergabung bersama Tristan dan Tiysa di ruang keluarga.


Tiysa sempat menolak mobil pemberian Tristan, menurutnya mobil itu terlalu mewah untuk di pakai karyawan seperti dirinya, dia juga beralasan jika tempatnya indekos sekarang tidak memiliki parkiran yang luas, jadi sulit untuk memarkir mobil itu di tempatnya. Tentu saja itu semua hanya alasan yang dibuat oleh Tiysa.


Bukannya mundur, Tristan malah berniat membeli rumah untuk Tiysa, dengan begitu Tiysa tidak lagi pusing mengurusi parkiran mobil.


Mendengar jawaban Tristan, Tiysa terpaksa menerima mobil pemberian Tristan, dia tahu jika dia terus menolak, Tristan akan melakukan hal tidak masuk akal lainnya.


Dalam sekejap Tristan dan Gina juga sudah menjadi akrab, Gina yang supel dan ceria, langsung bisa menyesuaikan diri dengan karakter Tristan.


Saat ini Tristan dan Gina sedang menonton TV di ruang keluarga. Tiysa sendiri hendak menghubungi Yono untuk meminta maaf.

__ADS_1


Tiysa mengambil ponselnya dan menghubungi Yono.


“Halo Tiysa, maaf aku sedang sibuk,” ucap Yono.


“Aku minta maaf Pak Yono, aku akan segera kembali ke kantor untuk membantu Pak Yono,” balas Tiysa. Dia merasa bersalah kepada Yono dan teman-temannya.


“No! Kamu tidak usah kembali dulu!" sahut Yono.


Yono lalu terdengar menghela nafasnya dalam-dalam. “Tiysa... kamu sudah bekerja keras, aku akan memberimu libur selama satu bulan penuh tanpa memotong gajimu, jadi tolong Tiysa...,” ucap Yono dengan nada memelas.


“Baiklah Pak Yono,” balas Tiysa lalu mengakhiri panggilannya.


Dengan wajah cemberut dia mendatangi Tristan yang sedang santai menonton TV.


“Tristan, ini semua gara-gara kamu, aku diliburkan secara paksa oleh Yono karena tindakanmu,” protes Tiysa.


Tristan tertawa. “Jika tadi kamu setuju untuk menemaniku hari ini, aku pasti tidak akan melakukan hal ini.”


“Tapi baguslah, dengan kejadian ini, kamu bisa menemaniku selama sebulan,” sambung Tristan, dia lalu kembali tertawa.


Gina juga ikut tertawa mendengar jawaban Tristan, dia terlihat mengacungkan jempolnya memuji ide gila Tristan.


___


Di salah satu rumah sakit di Jakarta, ayah Devan terlihat sangat marah, pagi ini dia dihubungi Yono terkait kondisi anaknya. Setelah tiba di rumah sakit dan melihat kondisi anaknya yang terbaring lemah, membuat dia ingin membalas perbuatan orang itu.


Namun ketika dia mendengar penjelasan Yono, dia mengurungkan niatnya, dari penjelasan yang disampaikan Yono, bisa di pastikan jika orang yang telah membuat anaknya dan Cakra masuk rumah sakit, bukan orang yang bisa diganggu.


Akhirnya dia hanya bisa menahan amarahnya sambil berharap agar anaknya bisa segera pulih.


Purwadi yang baru saja tiba langsung duduk di samping William. “Bagaimana keadaan Cakra dan Devan?”


“Kondisi mereka sudah semakin membaik, mungkin dalam 2 atau 3 hari ke depan, mereka sudah bisa keluar dari rumah sakit," jawab William.


“Baguslah,” ucap Purwadi. Dia lalu mengambil beberapa berkas di dalam map yang dia bawa.


“Sepertinya tidak lama lagi kita bisa menyingkirkan Tristan.” Purwadi memberikan berkas tadi kepada William.

__ADS_1


William tertawa jahat ketika melihat berkas yang diberikan Purwadi. “Hahaha, kita akan menyingkirkan calon menantu mu seperti kita menyingkirkan Bisma.”


Purwadi tersenyum mendengar ucapan William. “Iya, dan kurasa kondisi ayahku juga semakin memburuk, jadi tidak lama lagi kita bisa melancarkan aksi kita.”


__ADS_2