Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 64 : Pesan beruntun dan Tangisan Damar


__ADS_3

Keesokan harinya...


“Tristan, aku dan kamu... berdua...,” ucap Tiysa sambil menunjuk kamar mandi. Sejak mengetahui Tristan akan menikahinya, dia terus-menerus menggoda Tristan.


Tristan yang hendak menuju kamar mandi langsung menoleh, dia memandangi Tiysa yang sedang menggunakan kimono handuk berwarna merah dengan postur yang sangat menggoda.



“Tiysa kumohon berhentilah menggodaku, aku ini pria normal, jadi....” Tristan sontak berhenti berbicara ketika Tiysa memegang tali kimono handuknya dan seolah-olah akan melepasnya.


“Astaga Tiysa,” protes Tristan, dia langsung menyambar handuk yang berada di tempat tidur dan lari meninggalkan Tiysa menuju kamar mandi.


Tiysa tertawa melihat tingkah Tristan, sejak dulu dia terus menjadi korban kejahilan Tristan, saat ini dia sudah memiliki kartu as untuk balik mengerjai Tristan.


Semalam Tiysa menggunakan pakaian tidur yang sangat menggoda, hadiah pemberian Dian setahun yang lalu, Tristan benar-benar dibuat kelabakan karena tingkah Tiysa, untuk menghindari Tiysa, Tristan bersembunyi di dalam kamar dan mengunci pintu, Tristan baru membuka pintu ketika Tiysa mengganti pakaian tidurnya dengan piyama yang normal.



Bagi sebagian orang mungkin akan menganggap Tristan sebagai pria yang munafik, namun dia bersikap seperti itu karena memiliki alasannya sendiri.


7 tahun lalu dia dan Gino diberikan amanat sebelum kepergian ibunya, untuk Gino, dia diminta oleh ibunya agar selalu menghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda, alasan ibunya memberi amanat seperti itu, karena sifat Gino yang sedikit bandel dan sulit diatur, waktu Gino masih remaja, dia bahkan pernah mengajak Tristan berkelahi karena hal sepele.


Sedangkan Tristan diberi amanat agar tidak mempermainkan wanita, bahkan dengan tegas ibunya melarang Tristan berhubungan badan dengan wanita sebelum dia menikah, ibunya pun memiliki alasan mengapa dia memberikan amanat seperti itu kepada Tristan.


Sifat Tristan yang lembut akan mudah membuat wanita menjadi salah paham, jika Tristan tidak diberi amanat seperti itu, dia akan dengan mudah mempermainkan wanita-wanita yang dekat dengannya, sifat lembutnya itu akan membuat wanita yang merasa dipermainkan menjadi sangat sakit hati, dan ibunya tidak ingin jika putra tertua mereka menjadi monster yang suka menyakiti hati wanita.


Karena memegang amanat itu ditambah kepercayaan dari kedua orang tua Tiysa, dia sampai saat ini masih mencoba bertahan dari gempuran-gempuran godaan Tiysa.


“Hah... ibu mengapa kamu memberikanku amanat seperti itu,” keluh Tristan, dia sedikit merasa iri dengan Gino yang bebas melakukan hal itu tanpa kekangan amanat seperti dirinya.


Beberapa saat kemudian dia dan Tiysa sudah berganti pakaian, hari ini rencananya mereka akan pergi mengunjungi kediaman Bisma, pagi tadi ayah dan ibu Tiysa mengabari jika mereka akan langsung ke tempat Bisma sepulangnya dari Hotel.


“Tristan kemari,” panggil Tiysa sambil memegang ponselnya.


Tristan menoleh dan menghampiri Tiysa, “Ada apa?” tanya Tristan.


“Ayo kita foto berdua, aku ingin mengabari Dian dan semua mantan karyawanmu jika kamu telah kembali,” kata Tiysa bersemangat.


“Baiklah,” balas Tristan sambil tersenyum.


Tristan merangkul pundak Tiysa, wajah keduanya merapat.

__ADS_1


Cekrek!



Tiysa tersenyum bahagia melihat hasilnya, dia lalu mengunggah foto mereka berdua ke sosial medianya dengan caption, ‘Calon suamiku kembali, dia terlihat semakin tampan’


Setelah itu mereka berdua menuju ke mobil milik Tiysa, tak berselang lama mereka berdua meninggalkan tempat itu.


Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! ...


Suara notifikasi terus terdengar dari ponsel milik Tiysa, Tristan yang sedang mengemudikan mobil menjadi penasaran karena hal itu.


[Dian] Astaga,Tristan sudah kembali! kamu harus membawanya ke rumahku! Tiysa selamat sayangku penantianmu berbuah manis.


[Cindy] Tiysaaaaa... selamat sayang... cium pipinya untukku, aku benar-benar gemas melihatnya.


[Sapto] Tristaaan aku padamu, Tiysa... selamat sayang kalian berdua benar-benar pasangan yang sempurna.


[xxxx] Tuan Putri selamat atas kepulangan sang pangeran, ikat dia di tempat tidur agar tidak kemana-mana, hahahaha.


[xxxx] Tiysa selamat, penantian 5 tahunmu akhirnya terbayarkan.


“Tiysa, siapa yang mengirimimu pesan sebanyak itu?” tanya Tristan penasaran.


Tristan tersenyum, namun dia kembali terkejut tatkala Tiysa tiba-tiba tertawa saat kembali membaca pesan masuk.


“Hahaha, Sayang lihatlah,” kata Tiysa sambil menunjukkan layar ponselnya.


[xxxx] Hah pantas saja kamu selalu menolakku, ternyata pria yang menjadi calon suamimu setampan itu, selamat Tiysa.


[xxxx] Aku mundur, walau tidak ikhlas aku ucapkan selamat untukmu. :(


[xxxx] Selamat tinggal Tiysa :(


[xxxx] Jangan mengundangku ketika kamu menikah, ini terlalu menyakitkan.


Pesan yang membuat Tiysa tertawa adalah pesan yang di kirim oleh pria-pria yang telah mengejar Tiysa selama beberapa tahun ini.


Tristan tampak menelan ludah ketika melihat pesan-pesan itu, dia tidak menyangka jika pria yang mengejar calon istrinya sampai sebanyak itu. Dalam hati dia kembali bersyukur karena Tiysa masih setia menunggunya.


Ting!

__ADS_1


[Gino] Selamat Tiysa, aku doakan kalian akan langgeng selamanya.


“Gino...,” kata Tiysa sambil tersenyum.


Tristan melirik Tiysa dan langsung bertanya, “Gino?”


“Iya, dia mendoakan semoga hubungan kita bertahan selamanya, dia pria yang baik, aku tidak yakin akan berjumpa dengan dia lagi.”


Tristan tersenyum, dia lalu berkata, “ Aku yakin dimasa depan nanti kalian akan sering bertemu.”


Tiysa menoleh ke Tristan, matanya menyipit tajam menaruh curiga, “Tristan jangan-jangan kalian berdua....”


Tiysa merasa jika ucapan Tristan sangat aneh, itu seakan Tristan sudah memastikan jika dia dan Gino akan sering bertemu nantinya, terlebih lagi Gino memiliki mata indah seperti Tristan, bahkan ada kesamaan di beberapa fitur wajah mereka berdua.


“Adik Tristan?” kata Tiysa dalam hati yang juga mengetahui jika usia Gino 2 tahun lebih muda dari Tristan.


“Ada apa?” tanya Tristan seolah tidak mengerti.


“Hah... sudahlah....” Tiysa terlihat menghela nafasnya, dia langsung menepis kemungkinan yang baru saja muncul di benaknya.


Beberapa saat kemudian mobil mereka sudah tiba di depan kediaman Bisma, dari jauh Tristan dan Tiysa dapat melihat jika Bisma, Damar, Suryo bahkan kedua orang tua Tiysa sudah menunggu di pekarangan rumah.


Sambil berpegangan tangan Tiysa dan Tristan menuju ke tempat orang-orang yang telah menunggu mereka berdua.


Namun sebelum mereka sampai, Damar langsung berlari menghampiri Tristan.


Buk!


Tiysa sontak terkejut ketika Damar memeluk erat tubuh Tristan.


Tristan tersenyum kepada Tiysa dan berkata, “Aku akan menenangkan pria ini dulu,” kata Tristan sambil melepas tangan Tiysa.


Tiysa tersenyum dan mengangguk, dia lalu meninggalkan Damar dan Tristan menuju ke tempat orang tuanya menunggu.


“Kamu... benar-benar....” kata Damar sambil menangis berderai airmata, dia yang sudah menganggap Tristan seperti adiknya sendiri sangat terpukul ketika mengetahui Tristan pergi meninggalkan Indonesia.


Damar bahkan berniat untuk mengamuk di tempat Purwadi karena menyangka jika Purwadilah penyebab Tristan meninggalkan Indonesia, untung saja saat itu Bisma, Bimo dan Suryo dapat menahan Damar agar tidak melakukan aksinya.


“Maafkan aku saudaraku, aku....” Tristan ikut terbawa suasana, matanya ikut berkaca-kaca, perasaan bersalah kembali menyerang hatinya, dia tidak menyangka jika tindakannya 5 tahun lalu melukai orang-orang yang sangat peduli kepadanya.


Bisma, Suryo, Tiysa dan kedua orang tuanya ikut terharu melihat kedekatan yang terjalin antara Tristan dan Damar. Mereka mengetahui jika Damar dan Tristan sudah mengikrarkan persaudaraan mereka, namun tidak menyangka jika hubungan mereka berdua sudah sedekat itu.

__ADS_1


“Sudah kukatakan kepadamu, senangmu adalah senangku, susahmu adalah susahku, dan....,” kata Damar dengan suara bergetar karena menangis.


“Tangismu adalah tangisku,” sambung Tristan melengkapi.


__ADS_2