Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 20 : Yono Minta Ampun dan Tiysa menolak pemberian Haris.


__ADS_3

Yono terus memikirkan apa yang sudah dia perbuat, mengapa semua produsen mobil mewah yang sudah bekerja sama dengan keluarganya selama lebih dari 20 tahun tiba-tiba menghentikan kerja sama mereka secara sepihak.


Yono merasa tidak pernah menyinggung orang dengan kekuasaan sebesar itu, tiba-tiba Yono tersadar akan sesuatu. Dia langsung melihat Haris yang menatapnya dengan sinis.


Yono terlihat sudah mengetahui alasan dibalik kejadian ini, satu-satunya orang besar yang pernah terlibat masalah dengannya adalah pria yang sedang duduk di hadapannya. Insting Yono sudah tahu bahwa Haris memiliki latar belakang yang tidak biasa, hanya saja Yono tidak menyangka jika Haris bisa melakukan hal yang seperti ini.


“Pak Haris tolong maafkan aku, aku mengaku salah,” ucap Yono sambil bertekuk lutut di hadapan Haris.


“Apakah kamu tahu maksud kedatanganku kesini?” Haris kembali mengulang pertanyaan yang tadi dia lontarkan kepada Yono.


Yono terdiam sejenak lalu berkata. “Tiysa … iya aku yakin itu karena Tiysa, aku minta maaf, aku tidak akan mengulangi perbuatanku.”


Yono akhirnya mengerti apa yang membuat Haris sampai bertindak seperti itu, dia kembali mengingat kejadian seminggu yang lalu, ketika seorang pemuda menolong Tiysa dan membayar biaya kerusakan mobilnya. Dia juga mengingat sikap Haris kepada Tiysa saat baru saja tiba di kantornya.


“Nona Tiysa adalah orang yang penting bagi Tuan Muda kami, yang barusan terjadi hanyalah peringatan, jika kamu berani menyakiti Nona Tiysa lagi, tidak hanya menghancurkan bisnismu, aku sendiri yang akan menguburmu hidup-hidup,” ucap Haris sambil mendorong kepala Yono dengan jari telunjuknya.


“Aku tidak akan berani Tuan Haris … aku akan menjaga Tiysa selama dia bekerja di tempatku,” ucap Yono dengan nada memelas.


Setelah itu Haris bangun dari duduknya, sebelum pergi dia berkata kepada Yono. “Biar aku memberikan saran kepadamu, bukan hanya kepada Tiysa, bersikap baiklah kepada semua karyawan Wanita yang bekerja di tempatmu, kamu tidak akan pernah tahu, jika salah satu dari mereka memiliki status yang sama seperti Nona Tiysa.” Haris lalu pergi meninggalkan Yono yang sedang berlutut di ruangannya.


Setelah Haris meninggalkan ruangan Yono, tak berselang lama, tiba-tiba bunyi notifikasi pesan terdengar di ponsel miliknya. Isinya berbunyi jika semua produsen mobil mewah kembali menjalin Kerjasama dengan perusahaan milik Yono.


__


Gina terus terkejut mendengar cerita dari Tiysa, Gina tidak menyangka kejadian seperti itu terjadi kepada seniornya, cerita yang disampaikan Tiysa juga membuat dia penasaran dengan Tristan.


Karena asik bercerita Tiysa dan Gina tidak menyadari kehadiran Haris, setelah menyelesaikan urusannya dengan Yono, Haris menuju ke tempat Tiysa untuk berpamitan.


“Nona Tiysa,” sapa Haris kepada Tiysa yang masih tidak menyadari keberadaannya.


Tiysa langsung menoleh ke Haris.


“Pak Haris, apa urusan Anda sudah selesai?” ucap Tiysa yang langsung bangun dari duduknya.

__ADS_1


“Iya Nona, sekarang saya mohon pamit,” balas Haris.


“Tunggu Pak Haris, ... um … itu....” Tiysa terlihat ragu ketika ingin menyampaikan sesuatu kepada Haris.


“Tristan … um … nomor,” ucap Tiysa sambil menunduk.


Haris tersenyum, dia sudah mengetahui apa yang Tiysa ingin sampaikan kepadanya. Haris mengambil Note dan pena yang berada di sakunya lalu menyerahkannya kepada Tiysa.


“Nona Tiysa, silahkan tulis nomor ponsel anda disini, nanti aku akan menyerahkannya ke Tuan Muda.”


Tiysa tersenyum karena Haris mengetahui maksudnya, dia lalu mengambil pena dan buku catatan kecil yang diserahkan oleh Haris.


“Wah cantik sekali pena ini,” ucap Tiysa. Tiysa terpesona dengan desain dari pena yang diberikan oleh Haris. Pena berwarna silver dengan tulisan Aurora di bagian tengahnya.


Haris tersenyum ketika mendengar itu.


Tiysa lalu mencatat nomor ponselnya, setelah itu dia menyerahkan catatan dan pena yang berada di tangannya kepada Haris.


“Tentu saja pak Haris, pena ini sangat indah,” jawab Tiysa sambil melihat desain pena yang berada di tangannya.


“Jika Nona Tiysa suka, aku bisa memberikan itu kepada Nona Tiysa.”


“Ah ... tidak ... tidak, pena ini terlalu bagus untukku,” jawab Tiysa sambil menggelengkan kepalanya.


Tiysa lalu memasukkan catatan ke dalam saku jas milik Haris, dia juga menyelipkan pena itu di sakunya.


Haris terkejut ketika Tiysa melakukan itu, dia tersenyum kepada Tiysa.


“Benar kata Tuan Muda, kalian berdua memang sangat mirip,” ucap Haris.


Setelah itu Haris mohon pamit kepada Tiysa.


“Mirip?” Tiysa masih bingung dengan apa yang baru saja Haris katakan. Ketika dia hendak duduk kembali ke tempatnya. Dia terkejut melihat ekspresi wajah Gina.

__ADS_1


“Hei ada apa denganmu,” ucap Tiysa yang merasa keheranan dengan Gina.


“Kak Tiysa apakah kamu tahu tentang pena milik Pak Haris yang tadi kamu tolak? Gina masih merasa terkejut karena Tiysa menolak ketika Haris menawarkan pena kepada Tiysa.


Tiysa menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, tapi itu benar-benar pena yang bagus,” jawab Tiysa.


“Menurut Kak Tiysa, berapa harga pena itu?” Gina kembali bertanya kepada Tiysa.


“Entahlah, mungkin jutaan, pena itu memiliki desain yang indah,” jawab Tiysa.


Dia lalu teringat ketika dia diberikan kartu ATM berisi uang 5 Milyar untuk pengobatan ayahnya.


“Ah ... apakah itu pena seharga ratusan juta?” ucap Tiysa yang kini ikut terkejut.


Gina menepuk jidatnya, lalu menarik tangan Tiysa ke meja komputernya. Di kotak pencarian browser, Gina mengetik Aurora Diamante Fountain Pen Limited Edition.


Setelah mengetik itu, muncul beberapa gambar dilayar.


“Ah benar, ini pena milik Pak Haris,” seru Tiysa sambil menunjuk gambar di layar komputer.


“Oh, 1.4 juta, haha ..., aku kira itu pena seharga ratusan juta,” ucap Tiysa sambil tertawa.


Gina kembali menepuk jidatnya. “Kak Tiysa, liat harga yang tertera di sampingnya.”


Tiysa kembali melihat layar komputer milik Gina.


Limited edition Diamante fountain pen by Aurora


Estimasi Harga USD 1,4 Juta atau 20 Milyar Rupiah.


“Hah ... 20 Milyar!!” Tiysa terkejut melihat harga yang tertera di layar.


“Haha.., Kak Tiysa baru saja menolak pena seharga 20 Milyar Rupiah,” ledek Gina sambil tertawa ketika melihat ekspresi wajah Tiysa yang mirip dengan ekspresi wajahnya tadi.

__ADS_1


__ADS_2