Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 78 : Gino Jatuh Cinta


__ADS_3

Tristan dan Gino sedang dalam perjalanan menuju Bandara, Gino yang sudah menyelesaikan urusannya di Indonesia sudah di minta untuk kembali melanjutkan misi pelatihannya.


"Jadi di negara mana kamu akan melanjutkan misi pelatihanmu?" tanya Tristan.


"Aku belum mendapatkan informasi tentang hal itu, mungkin aku akan kembali ke Rusia terlebih dahulu untuk bertemu Kakek," jawab Gino yang sedang mengemudikan mobil Tristan.


"Jadi apa langkah yang akan kakak ambil selanjutnya? Kak Tristan sudah tahu 'kan jika Purwadi yang menjadi dalang semua ini."


"Aku akan mengurus Purwadi nanti, mungkin setelah ini aku akan menolong Yono terlebih dahulu," balas Tristan.


"Bagaimana menurut kamu, apakah Yono sudah pantas menjadi bagian keluarga kita?" tanya Tristan.


"Dia sudah melindungi calon istri penerus keluarga Yaroslav seorang diri selama 5 tahun, itu sudah membuktikan kelayakannya," jawab Gino.


Tristan tersenyum mendengar jawaban Gino, dia sepakat dengan apa yang Gino katakan.


"Kamu sendiri bagaimana? 21 bawahanmu bisa dipastikan akan segera menikah, kamu sebaiknya mulai serius mencari calon istri."


"Kakak, aku ini seperti singa yang ingin hidup bebas di alam liar, aku masih mau menikmati masa-masa bebasku tanpa kekangan yang bernama pernikahan," jawab Gino sambil membusungkan dadanya.


"Hahaha, bukan singa tapi buaya, kamu bahkan mendaftarkan 7 kandidat wanita sebagai calon istrimu, aku yakin kamu sudah mengetahui jika mereka pasti akan gagal saat menjalani ujian dari keluarga kita," kata Tristan sambil tertawa.


"Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan apapun dari kamu kak," kata Gino yang juga ikut tertawa.


Ting! Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Tristan, dia pun segera mengecek ponselnya.


[Tiysa] Sayang, apakah kamu sedang sibuk?


[Tristan] Tidak juga, ada apa sayang?


[Tiysa] Nindya baru saja mengabari aku jika dia baru saja tiba di Jakarta, saat ini Nindya sedang berada di bandara.


[Tristan] Kebetulan aku sedang mengantar temanku ke bandara, kirimkan aku nomor Nindya, aku akan menjemputnya setelah mengantar temanku.


[Tiysa] Oke sayang.


“Dari Kak Tiysa?” tanya Gino


“Iya, dia memintaku untuk menjemput Nindya di Bandara,” jawab Tristan.


“Nindya... oh anak Pak Suryo,” balas Gino yang juga sudah mengetahui informasi Suryo.


Tristan mengangguk pelan sambil menyimpan nomor Nindya di kontak ponselnya.


"Kalau begitu aku akan menaikkan kecepatan, kencangkan sabuk ppengamamu Kak."


"Tunggu!" teriak Tristan.

__ADS_1


Broom!


Gino menginjak pedal gas, mobil audi coupe yang sedang mereka gunakan melaju dengan kecepatan tinggi.


____


"Kamu benar-benar sinting, bagaimana jika tadi kita kecelakaan," protes Tristan, mereka berdua baru saja tiba di bandara Soekarno-hatta.


"Hmm, jika tadi kita kecelakaan, Kak Tiysa mau tidak mau harus mencari calon suami yang baru," kata Gino sambil tertawa.


"Bocah nakal ini betul-betul...."


"Kak, Tristan!" teriak seorang wanita yang langsung memeluk tubuh Tristan.


Tristan dan Gino sontak kaget, mereka berdua saling menatap karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Gino menganggukkan kepalanya sambil menatap Tristan. Dia bertanya tentang identitas wanita berambut panjang yang sedang memeluk Tristan.


Tristan berusaha melihat wajah wanita yang sedang memeluknya, namun Tristan tidak bisa melihat wajah wanita itu karena wanita itu membenamkan wajahnya di dada Tristan.


Tristan menoleh kepada Gino, dia lalu mengangkat kedua bahunya sebagai tanda jika dia juga tidak mengenali wanita yang sedang memeluknya.


"Maaf, kamu siapa?" tanya Tristan sambil mengangkat kedua tangannya, dia terlihat sungkan untuk menyentuh wanita yang sedang memeluknya.


Wanita itu mendongakkan kepalanya menatap wajah Tristan, dengan air mata yang terlihat membasahi pipinya, dia berkata, "Aku Nindya Kak."


"Nindya?" seru Tristan, dia tidak menyangka jika wanita cantik yang sedang memeluknya adalah Nindya yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.



Nindya membalas senyuman Tristan, setelah 5 tahun berlalu, Nindya benar-benar tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik.


"Biar ku perkenalkan temanku kepadamu, dia adalah...."


Tristan yang hendak memperkenalkan Gino kepada Nindya sontak kaget ketika melihat wajah Gino yang sedang diam terperangah sambil memandangi wajah Nindya.


"Hei, ada apa denganmu," kata Tristan sambil menyentil dahi Gino.


"Ahh maaf, aku terkesima melihat kecantikan wanita ini," kata Gino sambil tersenyum manis kepada Nindya.


Tristan balik terperangah, dia tidak tahu setan apa yang tiba-tiba merasuki adiknya.


"Aku Nindya, adik Kak Tristan." Nindya memperkenalkan dirinya terlebih dahulu sambil mengulurkan tangannya kepada Gino.


Gino meraih tangan Nindya, sambil bersalaman Gino juga memperkenalkan dirinya kepada Nindya, "Aku Gino, calon suamimu yang juga adalah adik Kak Tris...-"


Belum sempat Gino menyelesaikan perkataannya, Tristan langsung menepuk pundak Gino dengan kasar.

__ADS_1


Bukk!


"Hahaha, temanku ini memang suka bercanda," kata Tristan dibarengi tawa yang terdengar sangat canggung.


Nindya mengangguk pelan, dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi antara Tristan dan Gino.


"Kak Tristan, aku tiba di Indonesia bersama beberapa temanku, aku akan pamitan kepada mereka terlebih dahulu," kata Nindya.


"Baiklah... kabari aku jika kamu sudah selesai," kata Tristan sambil menghubungi nomor ponsel Nindya.


Nindya mengecek ponselnya, dia menyimpan nomor Tristan yang baru saja masuk di kontak ponselnya.


"Kalau begitu aku permisi dulu Kak," kata Nindya sambil berjalan menuju teman-temannya.


Setelah berjalan beberapa langkah dia kembali menoleh, sambil melambaikan tangannya Nindya berkata, "Aku hampir lupa, Gino! sampai ketemu lagi!"


Gino membalas dengan memberikan ciuman jauh kepada Nindya, dia benar-benar terpesona dengan kecantikan Nindya.


Plakk!


"Apa-apaan sikapmu itu," kata Tristan sambil menepuk jidat Gino.


"Kak, kurasa aku sudah mengerti apa itu cinta pada pandangan pertama," jawab Gino, dia terus tersenyum sambil memandangi Nindya yang berjalan semakin menjauh.


"Kamu menyukai Nindya?" tanya Tristan dengan ekspresi wajah yang terkejut.


Gino menganggukkan kepalanya, senyuman terus menghiasi wajahnya.


"Gino, jika kamu hanya ingin mempermainkan Nindya, lebih baik kamu mundur atau aku yang akan menghajarmu, aku benar-benar menyayangi anak itu seperti layaknya Sofia adik kita," kata Tristan sambil merangkul Gino.


"Kakak, aku tidak akan mempermainkan dewiku, dia adalah tulang rusukku yang selama ini aku cari, dia adalah wanita yang diturunkan langit untuk menjadi pasangan hidupku, seperti lirik lagu Band Noah, karena separuh... a... ku... si Nindya...." balas Gino sambil tetap tersenyum.


"Pffftt! Hahaha, bukankah kamu adalah singa liar yang ingin hidup bebas tanpa kekangan?" tanya Tristan sambil tertawa terbahak-bahak.


"Kakak, aku tetaplah seekor singa, namun saat ini aku sudah bertemu pawangku, dan dia adalah Nindya," jawab Gino.


"Hahaha," Tristan terus tertawa, dia tidak menyangka jika adiknya yang terkenal suka bermain-main dengan wanita juga bisa jatuh cinta.


"Kakak, lihatlah disana." Gino tiba-tiba memasang wajah serius sambil menunjuk ke tempat Nindya dan teman-temanya sedang berbicara.


Tristan menoleh ke arah Nindya, dari jauh Tristan bisa melihat jika seorang pria asing sedang memegang tangan Nindya.


Dari gestur Nindya yang berusaha menarik tangannya, dan teman-teman wanita Nindya yang juga ikut mendorong tubuh pria itu, Tristan bisa langsung tahu jika pria berambut pirang itu sedang memaksakan sesuatu yang Nindya tidak suka.


Tristan dan Gino saling menatap, mereka berdua lalu berjalan menuju Nindya dan teman-temannya.


__

__ADS_1



Visual Nindya 🤔🤔


__ADS_2