
Keesokan harinya, Purwadi kembali meeting bersama Lingga, Oscar dan juga Winata, mereka sedang membahas kedatangan Austin sahabat Lingga yang merupakan pemilik Moneyra Global Trade.
Semua rekan-rekan Purwadi hadir di tempat itu termasuk Cakra, Devan dan juga William.
Gelas-gelas mereka terisi dengan wine mahal, selama dua hari ini mereka terus berpesta merayakan kemenangan mereka memukul mundur keluarga Prabaswara.
“Jadi kapan rencananya Austin akan datang ke Indonesia?” tanya Purwadi.
“Austin akan tiba Minggu depan, saat dia tiba, kamu harus membuat pesta penyambutan untuknya sebagai pemegang saham mayoritas Tirta Baskara Group yang baru,” jawab Lingga sambil tertawa lepas, moodnya benar-benar sangat bagus, setelah membalaskan dendamnya kepada keluarga Prabaswara, senyum dan tawa terus menghiasi wajahnya.
“Tentu saja, saat Austin tiba minggu depan, aku berencana membuat pesta penyambutan untuknya, di acara itu aku juga akan mempermalukan Bisma, Bimo dan keluarga Prabaswara,” balas Purwadi sambil tertawa.
Rencananya minggu depan, Austin pemilik Moneyra Global Trade akan datang di Indonesia, Purwadi berencana menyambut kedatangan Austin dengan membuat acara penyambutan yang meriah.
Dia berencana mengundang semua pemilik saham dan teman-temannya untuk datang ke acara itu, rencananya dia akan membagi tempat duduk para tamu menjadi dua kelompok yang terpisah.
Kursi tamu di bagian kiri akan diperuntukkan untuk tamunya, sedangkan kursi tamu di bagian kanan akan dia peruntukkan untuk tamu dari keluarga Prabaswara, Bisma dan Bimo.
Dia sengaja mengelompokkan para tamu seperti itu, dia ingin mempermalukan Bisma dan Bimo dengan menunjukkan perbedaan kualitas dan jumlah relasi yang dia miliki.
Di acara itu juga, dia akan kembali mengumumkan Devan sebagai CEO Tirta Wira Perkasa dan juga sebagai tunangan Gea, Purwadi berencana mengembalikan status Devan yang merupakan anak William sahabat dekatnya.
Cakra yang merupakan CEO di Tirta Wira Perkasa saat ini tidak terlalu keberatan jika harus kembali menyerahkan posisinya ke Devan, selama dia bisa kembali menjalankan aksinya, dia tidak masalah dengan statusnya yang harus di turunkan kembali menjadi wakil Devan di Tirta Wira Perkasa.
Beberapa jam kemudian, Cakra sudah kembali ke Tirta Wira Perkasa, di tangannya dia membawa setumpuk undangan untuk acara pesta penyambutan Austin minggu depan, dia berjalan ke meja Damar yang juga bekerja di Tirta Wira Perkasa untuk memantau pergerakan kelompok Purwadi.
“Pastikan Bisma dan Bimo juga hadir di acara ini, oh, aku hampir lupa, karena ini penyambutan besar untuk bos baru, pastikan setiap anggota keluarga pemilik saham juga ikut hadir,” kata Cakra sambil melempar dua undangan ke meja Damar.
Sikap Cakra benar-benar sangat angkuh, namun Damar hanya bisa terdiam menahan amarah. Dia tahu jika Kubu keluarga Prabaswara sedang sangat tidak di untungkan saat ini.
“Acara penyambutan pimpinan baru Tirta Baskara Group,” ucap Damar pelan membaca undangan yang di berikan Cakra kepadanya.
Dia langsung berdecak kesal setelah membaca undangan itu, dia langsung bisa menebak jika Purwadi berniat mempermalukan keluarga Prabaswara, ayahnya dan juga Bimo di acara ini.
__ADS_1
Dia sudah mendengar cerita jika Purwadi dulunya menyukai ibu Tiysa, karena itulah dia yakin jika salah satu alasan Purwadi meminta keluarga para pemilik saham hadir untuk mempermalukan Bimo di depan Kirana ibu Tiysa.
Setelah jam kantor selesai, diapun segera pergi menuju Bogor untuk memberitahukan hal ini kepada Ayahnya dan juga Ayah Tiysa.
Cakra tersenyum puas melihat Damar yang menahan amarahnya, dia akhirnya bisa membalas Damar yang selalu bersikap angkuh di depannya karena mendapat dukungan dari keluarga Prabaswara.
Cakra saat ini sedang menuju bandara, dia berencana menjemput wanita muda simpanannya yang baru saja pulang dari Bali, karena terus di tekan oleh Damar di kantor, dia pun terpaksa memelihara wanita muda.
45 menit kemudian Cakra tiba di bandara, baru saja dia memarkirkan mobilnya, dia tiba-tiba terkejut saat melihat sosok pria membawa tas berwarna coklat.
Keringat dinginnya mengucur, wajahnya menjadi pucat dia seolah melihat malaikat pencabut nyawa di depan matanya.
“Ha... Haris?” ucapnya terbata-bata, momen mengerikan ketika di siksa Haris dengan cepat terlintas di dalam benaknya.
Dia lalu meraih ponselnya, dia ingin memberitahu Purwadi jika orang yang melindungi Tiysa sudah kembali di Indonesia.
“Hentikan itu,” kata seorang pria yang langsung merebut ponsel Cakra.
Ketika Cakra menoleh, dia terkejut karena seorang pria sedang menodongkan pistol di kepalanya.
“Lama tidak berjumpa,” kata Evander salah satu bawahan Haris kepada Cakra.
Dua orang bawahan Haris muncul dan langsung memegang kedua tangan Cakra.
Cakra memandangi wajah orang-orang itu, dia semakin pucat, orang-orang itu adalah kelompok Haris yang menyiksanya beberapa tahun yang lalu.
Cakra menunduk lesu, dia tidak bisa berkata-kata, dengan mudah Evander dan kedua bawahan Haris membawa Cakra menuju pesawat pribadi Haris.
“Hahaha, Cakra, aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengan dirimu,” kata Haris yang tertawa melihat Cakra yang baru saja masuk di pesawatnya.
__ADS_1
“Sepertinya kamu harus ikut denganku ke Thailand, jadi nikmati penerbanganmu ke negara itu, kamu juga tidak usah memikirkan wanita muda simpananmu, dia baru saja tertangkap pihak kepolisian Bali karena terbukti membawa narkoba dalam jumlah yang banyak, kamu sendiri sudah tahu ‘kan jika wanita itu adalah pengguna Narkoba,” kata Haris sambil kembali tertawa.
Cakra semakin putus asa, Haris bahkan sudah mengetahui identitas wanita simpanannya, itu artinya Haris selalu memantau pergerakannya, Dia yakin Haris juga sudah mengetahui hubungannya dengan Jacob yang terus mengganggu Tiysa 3 tahun ini.
Dia kembali mengingat pesan Yono untuk tidak mengganggu Tiysa saat Yono menjemputnya setelah di siksa oleh Haris beberapa tahun yang lalu.
“Cakra, negara Thailand akan menjadi tempat terakhirmu, oleh karena itu sebelum kamu berpisah dari dunia ini biar kukatakan satu hal kepadamu, Tuan Muda Tristan yang kalian anggap bocah dengan latar belakang tidak jelas adalah putra dari Tuan Gennady dan Nyonya Liliana, aku yakin kamu dan kelompokmu sudah mengetahui identitas orang yang baru saja aku sebutkan,” jelas Haris sambil menatap dingin mata Cakra yang terlihat sangat terkejut.
"Jadi selama ini nyang melindungi Tiysa...."
"Sepertinya kamu sudah bisa menebak siapa orang besar yang kalian singgung, yang melindungi Tiysa selama ini adalah Tuan Muda Tristan, kalian semua telah mengganggu dan menyakiti orang-orang terdekat dari Tuan Muda keluarga Yaroslav di Rusia."
Cakra menunduk, dari Purwadi dia sudah mendengar cerita tentang Gennady dan keluarga misterius asal Rusia yang sudah menghilangkan 23 keluarga konglomerat yang dulu mengganggu keluarga Prabaswara, dalam hati dia terus mengutuk Purwadi yang tidak mengetahui dan menyelidiki latar belakang Tristan dengan benar.
“Tuan, maafkan aku, aku tidak mengetahui jika Tristan...-“
“Husshh....” Haris meletakkan jarinya di bibirnya sendiri, dia meminta Cakra untuk diam.
“Bukankah Yono sudah memberitahumu hukuman apa yang menanti jika kamu kembali berulah?” tanya Haris.
Cakra menganggukkan kepalanya pelan.
“Tenang saja, kamu tidak akan sendiri, Lingga di Thailand, Oscar dan Jacob di Italia, dan Winata di Kanada, mereka bisa dipastikan akan segera menyusulmu, oh, aku hampir lupa, walaupun mungkin sedikit terlambat, Purwadi, Devan dan William juga dipastikan akan ikut bergabung bersama kalian,” ucap Haris sambil menatap cakra dengan tatapan dingin.
Cakra terdiam, dia sudah tidak bisa berkata-kata, Purwadi dan kelompoknya selalu menganggap jika mereka bergerak dengan hati-hati, ternyata aksi mereka sudah terpantau, sejak awal mereka semua menari-nari dibawah genggaman keluarga Yaroslav.
"Tuan Haris, kita akan segera berangkat," kata salah satu bawahan Haris.
Haris mengangguk pelan, tak berselang lama pesawat pribadi Haris terbang meninggalkan Jakarta.
...****************...
__ADS_1