
“Kak Tiysa, apartemen ini sangat jauh lebih bagus dari apartemen milikmu dulu.” Nindya sama sekali tidak menyembunyikan kekagumannya begitu dia menginjakkan kaki di apartemen Tristan.
Tristan dan Tiysa tertawa mendengar ucapan Nindya, “Kata-katamu terdengar begitu jujur namun menyakitkan,” kata Tiysa sambil mencubit pelan pipi Nindya.
Nindya mengelilingi apartemen milik Tristan matanya terlihat berbinar-binar saat mengecek satu persatu ruangan yang berada di apartemen itu.
Begitu Nindya melihat kamar utama, dia langsung berlari dan melemparkan dirinya di atas tempat tidur, “Woah kasurnya sangat empuk, pasti kalian sangat nyaman tidur di kasur ini.”
Tristan dan Tiysa saling menatap mendengar ucapan Nindya, mereka berdua menjadi salah tingkah, wajah keduanya terlihat memerah, itu karena semalam mereka berdua memang tidur bersama di kamar ini.
Tiysa menghampiri Nindya yang sedang tiduran di atas tempat tidur, “Ka... kami tidak tidur bersama, kami belum menikah, jadi...-“ dengan wajah yang kemerahan, Tiysa bermaksud membantah ucapan Nindya.
“Kak Tiysa, aku bukan lagi anak kecil, aku sudah berusia 23 tahun, jadi percuma jika Kak Tiysa mencoba menutupi hal itu dari aku,” kata Nindya sambil tertawa genit menggoda Tiysa.
Tiysa tidak bisa berkata-kata, dia langsung memeluk tubuh Nindya dan mulai menggelitik pinggang ramping Nindya, “Anak ini benar-benar nakal,” kata Tiysa sambil tertawa.
Tristan tersenyum melihat tingkah Tiysa dan Nindya, hal itu mengingatkannya kepada Gino yang selalu menggodanya, bahkan hukuman yang Tiysa berikan kepada Nindya sama persis dengan hukuman yang sering Tristan berikan kepada Gino.
“Aku akan menyiapkan makanan, aku akan memanggil kalian begitu makanannya siap,” kata Tristan.
“Iya, sayang,” jawab Tiysa sambil terus menggelitik Nindya.
Sedangkan Nindya hanya menunjukkan ibu jarinya kepada Tristan sambil terus tertawa.
Beberapa saat kemudian Tristan telah selesai memasak beberapa hidangan, dia lalu memanggil Tiysa dan Nindya yang sedang asyik bercerita di kamar utama apartemen itu.
Mereka bertiga lalu menyantap hidangan yang di siapkan Tristan, Nindya yang baru pertama kali mencicipi hidangan yang di masak Tristan tampak sesekali memuji kelezatan hidangan buatan Tristan.
“Jadi apa rencanamu berikutnya,” tanya Tristan.
“Besok Kak Tiysa akan menemaniku ke Bogor untuk bertemu Ayah dan yang lainnya, sejak berkuliah di Amerika aku belum pernah pulang ke Indonesia,” jawab Nindya.
“Sayang, apakah kamu mau ikut ke Bogor?” tanya Tiysa.
“Besok aku masih ada urusan, mungkin lebih baik kalian berdua saja yang berangkat ke Bogor,” jawab Tristan.
Tiysa tersenyum kepada Tristan, mereka lalu melanjutkan menyantap hidangan sambil bercerita tentang berbagai topik.
__ADS_1
Setelah makan mereka bertiga menonton TV di ruang keluarga, mereka kembali larut dalam obrolan seputar hal-hal yang mereka lewatkan selama 5 tahun terakhir.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.11 malam, karena besok pagi Nindya dan Tiysa akan berangkat ke Bogor, mereka memutuskan untuk beristirahat lebih cepat.
Ninyda dan Tiysa tidur bersama di kamar utama, sedangkan Tristan tidur di kamar yang lainnya.
Keesokan harinya, Nindya dan Tiysa sudah bersiap untuk ke Bogor, Tristan mengantar mereka sampai di parkiran mobil.
Setelah Tiysa dan Nindya pergi, Tristan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Haris.
“Pak Haris, jemput aku sekarang, aku ingin mengunjungi kediaman Yono,” kata Tristan.
“Siap Tuan Muda,” jawab Haris singkat.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan Haris tiba, tak berselang lama setelah Tristan masuk, mobil mereka meninggalkan tempat itu menuju ke kediaman Yono.
Beberapa saat kemudian, Haris dan Tristan sudah tiba di depan kediaman Yono, “Pak Haris, apa kamu yakin jika ini kediaman Yono?” Tristan terlihat sangat terkejut ketika tiba di depan kediaman Yono, dia memandangi rumah Yono yang berukuran jauh lebih kecil dari rumah orang tua Tiysa.
“Iya Tuan Muda, ini adalah kediaman Yono saat ini.”
Tristan yang hendak turun dari mobil langsung mengurungkan niatnya, dia melihat sebuah mobil berwarna hitam juga berhenti tepat di depan kediaman Yono.
Beberapa orang mengenakan kemeja lengan panjang turun dan langsung menuju kediaman Yono.
Dari dalam mobil Tristan dan Haris mengamati beberapa pria itu, mereka tampak memanggil nama seseorang dengan suara yang cukup nyaring.
Seorang wanita berumur 35 tahun yang sedang menggendong anak perempuan berumur 4 tahun terlihat keluar menemui pria-pria itu.
Dari gestur mereka Tristan bisa menebak jika terjadi perdebatan antara pria-pria itu dengan wanita yang baru saja keluar dari kediaman Yono.
“Pak Haris, apakah wanita itu istri Yono?” tanya Tristan sambil menunjuk ke arah wanita yang sedang menggendong anaknya.
“Iya Tuan Muda, wanita itu adalah istri Yono yang bernama Adelia,” jawab Haris singkat.
Tristan masih mengamati dari mobil, namun ketika putri Yono mulai menangis, Tristan memutuskan turun dari mobil dan menghampiri mereka.
“Sudah aku katakan suamiku tidak berada di rumah,” kata Adelia sambil menepuk-nepuk halus pundak putri kecilnya yang sedang menangis.
__ADS_1
“Kami baru saja ke showroom mobil Pak Yono, dia juga tidak berada di sana!” bentak salah satu pria yang berada di depan rumah Yono.
Putri kecil Yono yang ketakutan terus menangis ketika mendengar pria-pria itu membentak ibunya.
“Ibu....” Dia terus memanggil ibunya yang terlihat sedih karena mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan.
“Maaf, bisa aku tahu permasalahannya,” kata Tristan yang berdiri di samping pria-pria itu.
Para pria yang sedang berdebat dengan istri Yono langsung menoleh kepada Tristan dan Haris, mereka yang telah lama bekerja sebagai penagih sudah bertemu dengan banyak nasabah yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda.
Ketika melihat perawakan Tristan dan Haris, insting mereka langsung bisa menyadari jika dua pria yang datang menghampiri mereka memiliki latar belakang yang tidak biasa.
Salah satu dari pria itu dengan sopan berkata, “Kami dari Bank Dana Cempaka yang ditugaskan untuk menagih utang Pak Yono yang sudah menunggak beberapa bulan,” kata Pria itu.
“Kami juga tidak ingin melakukan ini, namun karena sampai saat ini kami belum juga bisa bertemu Pak Yono, kami terpaksa mengambil tindakan seperti ini," kata Pria yang lainnya menjelaskan.
Setelah mendengar penjelasan kedua pria itu, Tristan menoleh ke Haris dan berkata, “Pak Haris tolong urus masalah ini.”
“Iya Tuan Muda,” jawab Haris singkat.
Haris lalu menemui salah satu pria dari Bank Dana Cempaka dan memberikan kartu namanya.
Pria yang melihat kartu nama Haris sontak terperangah, pria itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang sambil berjalan menjauh dari kediaman Yono.
Setelah pria mengakhiri pembicaraannya melalui telepon, pria itu segera menemui Haris, dengan sopan pria itu berkata, “Kami akan menunggu kedatangan Tuan Haris di kantor kami.”
Haris mengangguk pelan menjawab perkataan dari pria itu, setelah mereka mohon pamit kepada Haris, Tristan dan juga Istri Yono, mereka kembali ke mobil dan meninggalkan kediaman Yono.
“Tuan Muda, sepertinya aku harus pergi menemui perwakilan Bank Dana Cempaka, beberapa orang penting di Bank itu mengundangku ke kantor mereka,” kata Haris dengan sopan.
“Pak Haris bisa menemui mereka, aku akan menunggu Yono di sini,” kata Tristan sambil tersenyum kepada Haris.
Adelia yang menyaksikan itu terlihat sangat terkejut, hanya dengan memberikan kartu nama, penagih dari Bank Dana Cempaka langsung memperlakukan pria yang bernama Haris dengan sopan, terlebih lagi, Haris yang terlihat sangat berwibawa memanggil pria di depannya dengan sebutan Tuan Muda.
“Maaf, kalau boleh tahu Anda siapa?” tanya Adelia dengan sopan kepada Tristan.
__
__ADS_1