Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 113 : Tiysa tiba di Indonesia


__ADS_3

Keesokan harinya...


“Apa ini!” bentak Purwadi kepada salah satu bawahannya yang menyerahkan selembar kertas berisi pengunduran diri Cakra.


Bawahannya hanya bisa menunduk terdiam, dia juga tidak tahu menahu tentang alasan Cakra yang tiba-tiba mengundurkan diri.


Pagi ini, ketika dia baru saja masuk kantor, dia tiba-tiba mendapat email dari Cakra yang berisi pengunduran dirinya dari Tirta Wira Perkasa, saat Purwadi tiba, dia pun menyerahkan surat itu kepada Purwadi.


Devan dan William yang juga berada di tempat itu ikut melihat isi surat yang di pegang Purwadi, mereka berdua sama terkejutnya dengan Purwadi, mereka yang juga sudah mengetahui isi surat itu merasa heran, mereka pun bertanya-tanya mengapa Cakra tiba-tiba mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas.


“Apakah karena aku akan kembali menjadi CEO di Tirta Wira Perkasa?” tanya Devan mencoba menebak alasan Cakra mengundurkan diri.


“Tidak mungkin karena itu, aku sudah berbicara dengan Cakra, dan dia dengan senang hati memberikan posisinya kepadamu,” jawab Purwadi.


“Lalu karena masalah apa?” tanya Devan lagi.


“Mungkin karena masalah ini.” William yang sedang membaca berita online melalui hpnya segera menunjukkan berita tentang penangkapan wanita muda yang terbukti membawa narkoba dalam jumlah besar ketika hendak kembali ke Jakarta.


“Bukankah itu wanita muda simpanan Cakra?” Devan sontak terkejut ketika melihat berita itu, dia, William dan juga Purwadi sudah beberapa kali bertemu dengan wanita simpanan Cakra, hal itu yang membuat dia bisa mengenali wajah wanita yang terpampang di layar ponsel William.


Purwadi berdecak kesal, “Aku sudah bilang kepadanya untuk berhati-hati dengan wanita itu, dia terlalu bodoh dan keras kepala sampai tidak mau mendengarkan nasehatku,” ucap Purwadi yang terlihat sangat marah.


“Mungkin dia takut terjerat permasalahan ini, karena itulah dia menyembunyikan dirinya untuk sementara waktu,” kata William.


Purwadi melempar surat pengunduran diri Cakra ke tempat sampah, walaupun dia merasa kesal, dia setuju dengan apa yang William katakan.


“Sebaiknya dia menyembunyikan dirinya dengan baik, aku tidak ingin rencana kita terganggu hanya karena masalah wanita tidak jelas itu,” dengus Purwadi kesal.


Ketika Haris dan bawahannya tiba di Thailand Haris langsung memerintahkan bawahannya untuk memalsukan surat pengunduran diri Cakra, hal itu dia lakukan untuk menghindari kecurigaan Purwadi dan kelompoknya karena Cakra tiba-tiba menghilang tanpa kabar.


Setelah mendapatkan informasi tentang orang-orang yang membantu Purwadi untuk menjatuhkan Keluarga Prabaswara.


Vladimir langsung memerintahkan Gino, Faiz dan Haris untuk menyingkirkan ikan teri yang sudah mengganggu keluarga Prabaswara.

__ADS_1


Gino mendapat tugas untuk mengurus Jacob dan Oscar di Italia, sementara Faiz mendapat tugas ke Kanada untuk mengurus Winata.


Sedangkan untuk Haris sendiri, dia diminta untuk mengurus Austin yang merupakan pemilik dari Moneyra Global Trade dan juga Lingga yang sama-sama berada di Thailand.


Dua buah mobil jeep tiba, Haris masuk ke salah satu mobil itu, sedang mobil yang lainnya tampak membawa Cakra yang sudah terlihat pasrah dan tak berdaya.


Kedua mobil itu pergi ke tempat yang berbeda, jika mobil Haris menuju ke salah satu hotel bintang mewah di kota itu, mobil yang membawa Cakra pergi ke arah yang berlawanan, sudah bisa di pastikan jika hari ini adalah hari terakhir Cakra berada di dunia ini.


...****************...


Di Rusia, Tiysa tampak memeluk erat tubuh Tristan, dia sedang berada di bandara dan hendak terbang kembali ke Indonesia bersama Sofia.


“Jika urusan kamu dan Pak Yono telah selesai, kamu harus segera kembali ke Indonesia,” kata Tiysa dengan mata berkaca-kaca.


Baru beberapa bulan berlalu sejak dia dan Tristan akhirnya bisa bersama, kini dia harus kembali meninggalkan Tristan di negara lain, hal itu membuatnya sedikit cemas, dia takut jika Tristan akan menghilang lagi seperti dulu.


“Aku berjanji, setelah semua urusanku selesai, aku akan langsung pulang ke Indonesia, lagipula Yono, Trisha dan Kak Adelia bersamaku, tidak mungkin aku akan menghilang lagi seperti dulu,” ucap Tristan yang langsung bisa menebak apa yang membuat Tiysa merasa khawatir.


Tiysa benar-benar merasa bersyukur karena Sofia ikut bersamanya, sepanjang perjalanan Sofia terus menghiburnya dengan sikap manjanya dan juga kelakuan lucunya, berkat Sofia Tiysa bisa sedikit teralihkan dari rasa sedih karena harus pulang ke Indonesia tanpa Tristan bersamanya.


16 Jam berlalu dengan cepat, Tiysa akhirnya tiba di Indonesia.


“Kabari aku jika nanti kamu ke Indonesia, aku akan memperkenalkanmu kepada kedua orang tuaku,” kata Tiysa kepada Sofia.


“Tentu saja Kakak sayang, maafkan aku juga karena tidak bisa tinggal lama, sampaikan salamku untuk kedua orang tua Kak Tiysa,” balas Sofia sambil tersenyum.


Mereka berdua lalu berpelukan, setelah itu Sofia kembali menuju pesawat Pribadi keluarga Yaroslav, sedangkan Tiysa segera pergi menemui Damar yang memang sudah diberitahu tentang kepulangannya.


“Di mana Tristan?” tanya Damar begitu melihat Tiysa yang datang seorang diri.


“Dia masih ada pekerjaan di Amerika bersama pimpinanku, mungkin dia baru kembali ke Indonesia beberapa hari lagi,” jawab Tiysa lemah.


“Oh... sini biar aku bantu membawa barang-barangmu,” kata Damar sambil mengambil koper dan tas milik Tiysa.

__ADS_1


“Terima kasih....” jawab Tiysa pelan.


Mereka berdua lalu pergi menuju parkiran tempat Damar memarkirkan mobilnya.


“Damar, bisakah kamu menceritakan kepadaku tentang masalah Kakek Hartono?” tanya Tiysa begitu mobil mereka meninggalkan bandara Soekarno Hatta.


“Hah... itu sama dengan apa yang disampaikan Bibi Kirana, kondisi keluarga Prabaswara sedang tidak baik saat ini,” jawab Damar sambil menghela nafasnya pelan.


“Kamu pasti sudah bisa menebak rencana busuk Purwadi dibalik acara penyambutan itu,” sambung Damar sambil melirik Tiysa yang duduk di sampingnya.


“Dia pasti ingin mempermalukan kubu keluarga Kakek Hartono,” kata Tiysa.


“Benar, menurutku juga begitu, tapi sepertinya kamu lupa dengan hal penting lainnya.”


Tiysa mengerutkan dahinya, dia memikirkan apa yang baru saja Damar ucapkan, namun setelah berpikir lama, dia pun menanyakan hal itu kepada Damar.


“Apa yang aku lupakan?” tanya Tiysa penasaran.


“Apakah kamu lupa jika Purwadi dulunya menyukai ibumu?”


Tiysa akhirnya paham ke mana arah pembicaraan Damar. Dia menghela nafasnya pelan, “Bukan hanya keluarga Prabaswara yang menjadi targetnya, Purwadi juga menargetkan ayahku,” kata Tiysa sambil menundukkan kepalanya.


“Iya, di acara penyambutan nanti, aku yakin Purwadi juga akan mencoba mempermalukan paman Bimo di depan Bibi Kirana,” balas Damar.


“Aku benar-benar heran, mengapa mendiang Kakek Subroto memiliki putra sejahat itu, aku merasa paman Bisma lebih cocok menjadi putra Kakek Subroto yang sesungguhnya,” keluh Tiysa yang merasa kesal dengan watak Purwadi yang menurutnya sangat jahat.


Damar tertawa mendengar ucapan Tiysa, dia tidak menyangka jika Tiysa juga memiliki pemikiran yang sama dengannya.


“Aku tahu bagaimana perasaanmu, aku juga terkadang merasa jika Ayahku lebih cocok menjadi anak kandung Kakek Subroto karena mereka berdua memiliki sifat yang hampir sama,” kata Damar sambil terus tertawa.


Mobil mereka terus melaju menuju kediaman Tiysa di Bogor, rencananya mereka bersama-sama akan berangkat dari Bogor menuju acara penyambutan Austin beberapa hari lagi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2