Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 31 : Tiysa melepas kerinduan


__ADS_3

"5 menit lagi...," bisik Tiysa yang masih merasa berat untuk bangun dari tidurnya.


Dia masih sulit untuk membuka matanya, entah mengapa hari ini tempat tidurnya terasa sangat nyaman, dia kembali tidur sambil memeluk bantal guling di sampingnya.


5 menit berlalu ...


10 menit berlalu ...


Tiysa akhirnya mulai membuka matanya, mau tidak mau dia harus bangun untuk berangkat kerja.


"Apa ini?" gumam Tiysa sambil perlahan membuka matanya, samar-samar dia melihat bantal guling yang dipeluknya terlihat berbeda.


Ketika akhirnya mata Tiysa terbuka, dia sontak terkejut, karena yang dia peluk bukanlah bantal guling melainkan tubuh seorang pria yang bertelanjang dada.


Dia semakin panik ketika menyadari jika saat ini dia mengenakan pakaian tidur tipis tanpa dalaman dengan seorang pria yang tidak dia kenal.


Karena kondisi ruangan yang sedikit gelap, Tiysa tidak dapat melihat wajah pria kurang ajar yang sudah melakukan ini padanya.


"Arrrgg!" teriak Tiysa sambil melepas pelukannya dari tubuh pria itu.


Dengan posisi duduk di tempat tidur dia mengarahkan kedua kakinya ke tubuh pria itu.


"Duakk!!"


Dengan sekuat tenaga Tiysa menendang tubuh pria itu hingga jatuh dari tempat tidur.


Bukk!!


"Ouch," rintih pria itu yang sedang tergeletak di lantai.


Tiysa tidak memberikan kesempatan pria itu bangkit, begitu kepalanya terlihat sedikit, Tiysa langsung melemparnya dengan batal.


Buk...!


"Duh," rintih pria itu ketika bantal Tiysa kembali menghantam wajahnya.


“Biadab!” teriak Tiysa sembari terus melempar bantal ke pria itu. Mata Tiysa berkaca-kaca menahan air matanya.


"Hei, Tiysa hentikan," ucap pria itu.


Tiysa tidak mau mendengar apa pun dari pria itu, dia sangat marah, ketika sudah tidak ada lagi bantal, dia mencari sesuatu yang bisa dia lemparkan ke pria itu, di atas meja dekat tempat tidur dia melihat laptop, segera Tiysa mengambil laptop itu dan mengangkatnya dengan kedua tangan.


Tepat sebelum Tiysa melempar Laptop ke pria itu, pria itu berkata.


“Tiysa! Ini aku Tristan!” teriak pria itu.

__ADS_1


Mendengar nama Tristan di sebut, Tiysa langsung menyibak tirai jendela yang masih tertutup di belakangnya, cahaya matahari pagi langsung masuk menyinari ruangan itu.


Kini ia terdiam, Tiysa akhirnya bisa melihat wajah dari pria itu, dan benar saja, itu adalah wajah pria yang membuatnya terus menatap layar ponselnya selama 5 bulan ini, pria yang terus dia tunggu untuk menghubunginya.


Tristan perlahan menuju Tiysa yang sedang mematung dengan laptop di tangannya. Begitu tepat berada di depan Tiysa. Tristan berkata. “Apa kabar Nona Tiysa,” ucapnya sembari tersenyum lembut kepada Tiysa.


Tak !!


Laptop di tangan Tiysa jatuh ke lantai. Tiysa langsung memeluk tubuh Tristan, dia membenamkan wajahnya di dada Tristan, air matanya langsung mengalir deras membasahi pipinya.


“Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku, apakah kamu marah kepadaku, apakah-”


Cup!


Sambil memegang kepala belakang Tiysa, Tristan mencium bibir Tiysa, tak ada kata-kata yang terucap, bibir mereka saling berpagutan.


Beberapa saat berlalu, Isak tangis Tiysa berganti menjadi des*han kecil, sambil menutup matanya dia menikmati setiap sentuhan yang dia terima di bibirnya, melepaskan semua rasa rindu yang sudah menumpuk di dadanya.


Tristan menyudahi aksinya, dia takut akan semakin lepas kontrol jika terus melanjutkan peraduan bibir mereka, sambil menatap wajah Tiysa yang masih memejamkan mata, dengan suara lembut Tristan berkata “Maafkan aku....”


___


Gea merasa gelisah, saat ini dia berada di kantor Tristan, sejak semalam dia mencoba menghubungi Tristan, namun Tristan tidak pernah menjawab panggilan dari Gea.


Selama 5 bulan ini, hubungan mereka sudah sangat dekat, setiap malam Gea akan menghubungi Tristan, lewat panggilan telepon Tristan akan selalu menemani Gea bercerita sampai Gea tertidur.


Pagi hari pun sama, setiap pagi, sebelum mereka berdua beraktivitas, biasanya Gea akan menghubungi Tristan, walaupun hanya sekedar saling menyemangati untuk menjalani hari.


Karena panggilan teleponnya tak kunjung di jawab, Gea memutuskan untuk mengunjungi Tristan, namun setelah tiba di kantor Tristan, dia tidak menemukan tunangannya, dengan wajah tertunduk lesu, dia terus mencoba menghubungi nomor Tristan.


Dian yang melihat Gea dari kejauhan juga ikut bertanya-tanya, ketika meeting kemarin dia juga melihat Tristan mengabaikan pesan dari Gea, bahkan kemarin Tristan pulang lebih awal.


Biasanya di jam seperti ini, atasannya itu sudah datang di kantor dan melakukan meeting dengan karyawannya, jadi sangat aneh ketika atasannya yang sangat disiplin itu tiba-tiba terlambat.


Bzzzt... Bzzt...


Ponsel Dian bergetar, dia segera menjawab panggilan.


“Halo Pak Tristan.”


“Halo Dian, maaf hari ini aku tidak bisa masuk kantor,” ucap Tristan.


“Ada apa Pak ? Apakah Pak Tristan lagi sakit?” tanya Dian yang sedikit cemas.


“Tidak, aku baik-baik saja, aku hanya ingin beristirahat di rumah,” balas Tristan.

__ADS_1


“Baiklah Pak Tristan, oh iya Pak..., Nona Gea lagi berada di ruangan Pak Tristan, dia sepertinya menunggu kedatangan Pak Tristan,”


“Oh...,” jawab Tristan singkat.


“Aku sudah membuat janji dengan salah satu perusahaan untuk bertemu, tolong gantikan aku untuk bertemu dengan mereka,” ucap Tristan.


Dian sontak terkejut dengan itu, Tristan yang selalu terlihat memprioritaskan Gea di tengah kesibukannya kini seolah tidak peduli dengan perkataannya tentang Gea.


“Baiklah Pak Tristan, selama beristirahat,” ucap Dian.


“Terima kasih Dian..., ... Tristan! Jangan melihat kesini! Tutup matamu!” Samar-samar terdengar suara wanita berbicara sebelum Tristan mengakhiri panggilannya.


Lagi-lagi Dian dikejutkan oleh hal itu, setelah wanita tadi berbicara, sempat terdengar suara Tristan yang tertawa lepas.


“Tristan selingkuh?” gumam Dian sambil melihat Gea di ruangan Tristan.


Dian sedikit merasa iba dengan Gea, Dian lalu mendatangi Gea yang sedang sibuk untuk menghubungi Tristan.


“Nona Gea...,” sapa Dian.


“Kak Dian...,” jawab Gea yang sedikit terkejut.


“Apakah Nona Gea sudah bisa menghubungi Pak Tristan?” tanya Tiysa.


Gea menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sedih. Dia lalu berkata. “Baru saja nomornya sibuk, namun saat kucoba untuk menghubungi lagi, dia tidak menjawab panggilannya.”


Mendengar jawaban dari Gea, Dian sudah bisa memastikan jika terjadi sesuatu antara Tristan dan Gea.


“Pak Tristan baru saja menghubungiku, dia berkata tidak bisa masuk kantor hari ini,” ucap Dian.


Gea terkejut, dan langsung menoleh ke Dian. “Apakah dia sedang sakit?” tanya Gea yang terlihat sangat panik, dia bahkan mengabaikan fakta jika Tristan menghubungi Dian dan mengabaikan panggilannya.


“Tidak, sepertinya Pak Tristan hanya ingin istirahat di rumah hari ini,” ucap Dian.


“Kalau begitu aku akan mengunjunginya...,” balas Gea, dia mengambil tasnya lalu menuju pintu ruangan Tristan.


“Nona Gea..., sepertinya akan lebih baik jika tidak mengganggu Pak Tristan dulu untuk saat ini.” Dian menghentikan Gea yang hendak pergi mengunjungi Tristan.


Setelah mendengar suara wanita di telepon tadi, Dian yakin jika itu ada sangkut pautnya dengan perubahan sikap Tristan ke Gea.


Gea sendiri langsung sadar ketika mendengar ucapan Dian, apa yang diucapkan Dian ada benarnya, mungkin saat ini tunangannya sedang tidak ingin diganggu. Apalagi sampai saat ini Tristan tidak menjawab panggilannya.


“Baiklah, mungkin lebih baik aku pulang ke rumah dan menunggu kabar dari Tristan,” ucap Gea tertunduk lesu.


Setelah mohon pamit ke Dian, Gea pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2