
Gea yang sedang jalan bersama teman-temannya tiba-tiba menjadi emosi, dia yang baru saja tiba di Cafe tempat dia dan teman-temannya sering menghabiskan waktu bersama, melihat Tiysa wanita yang paling dia benci sedang bersama seorang pria di Cafe itu.
Gea selalu merasa jika alasan Tristan meninggalkan dirinya itu karena Tiysa, dan bukan karena perselingkuhan yang dia lalukan bersama Devan.
Jika Tiysa tidak ada, dia meyakini jika Tristan akan memaafkannya walaupun sudah berselingkuh dengan Devan, sifat lembut Tristan kepadanya menjadi alasan mengapa dia berpikir seperti itu.
Gea yang sudah menyimpan dendam langsung menghampiri Tiysa, dia ingin menumpahkan semua kekesalannya yang telah dia pendam selama 5 tahun.
"Dasar wanita sialan! Itu karena kamu terus menggoda tunanganku sehingga dia pergi meninggalkanku!" Teriak Gea yang tiba-tiba muncul di tempat itu.
Gino dan Tiysa langsung menoleh ketika mendengar suara wanita yang tiba-tiba berteriak di dekat mereka.
Walaupun sudah 5 tahun berlalu, Tiysa masih dapat mengenali wajah Gea, dia adalah wanita yang telah membuat Tiysa salah paham kepada Tristan.
Fika, Dini dan Dewi bersama 6 teman prianya terlihat berdiri di belakang Gea.
"Oh, ini wanita yang sudah merebut tunanganmu?" ucap Dewi dengan nada menyindir.
"Dia bahkan sudah mendapatkan pengganti Tristan," kata Dini yang juga ikut menyindir Tiysa.
Fika yang berdiri paling dekat dengan Tiysa juga tak mau ketinggalan, dia berkata, "Wanita sialan ini sudah melupakan si gembel Tristan, dia-"
Plakk!
Belum sempat Fika menyelesaikan kata-katanya, sebuah tamparan mendarat di
pipinya.
"Berhenti menghina Tristan, atau akan aku sobek mulut busukmu itu," kata Tiysa sambil menatap tajam wajah Fika.
Gino sontak terkejut melihat Tiysa yang biasanya tenang tiba-tiba menjadi beringas karena seseorang menghina Tristan di
depannya. Dalam hati dia merasa takjub dengan apa yang dilakukan Tiysa.
"Kamu?" protes Fika sambil memegang pipinya yang sudah ditampar oleh Tiysa.
"Apa!" teriak Tiysa menantang Fika.
Dini dan Dewi langsung emosi ketika melihat sahabatnya di tampar oleh Tiysa, mereka berdua maju dan langsung menyerang Tiysa.
Tiysa yang memiliki tinggi badan jauh di atas Dini dan Dewi dengan mudah dapat menghindar.
Dengan cepat Tiysa menjambak rambut Dewi dengan tangan kanannya dan menampar Dini dengan tangan kirinya.
Plakk!
__ADS_1
"Ackk!" Pekik Dini kesakitan.
Dewi yang rambutnya sedang dijambak Tiysa meringis kesakitan. Tiysa tersenyum sinis lalu mendorong kepala Dewi hingga Dewi jatuh terduduk di lantai.
Tiysa lalu menoleh ke Gea yang sedang mematung karena terkejut.
"Apakah kamu pikir aku tidak mengetahui tentang perselingkuhanmu?" tanya Tiysa.
Gea terkejut, dia tidak menyangka jika Tiysa juga mengetahui tentang perselingkuhannya dengan Devan.
"Lucu sekali, Tristan meninggalkanmu karena kamu berselingkuh, dan sekarang kamu malah menyalahkanku?"
"Gunakan otakmu," kata Tiysa sambil mendorong kepala Gea dengan telunjuknya.
"Mengapa kalian diam saja?" seru Fika sambil menatap teman prianya.
Salah satu teman pria mereka terlihat ingin menghampiri Tiysa, namun baru selangkah berjalan, Gino langsung berdiri dari duduknya dan menatap pria itu.
"Apakah ini waktunya bagi kaum pria turun tangan?" tanya Gino dengan nada menantang.
6 teman pria yang datang bersama Gea langsung terlihat emosi mendengar perkataan Gino, namun belum sempat mereka bertindak, karyawan pria ditempat itu datang dan melerai mereka.
Dengan perasaan kesal, Gea dan teman-temannya terpaksa berhenti, mereka terlihat pergi menuju salah satu meja di Cafe itu.
"Sabarlah jangan membuat keributan dulu, mari kita buat perhitungan dengan mereka di luar, untuk saat ini lebih baik kita menunggu mereka selesai," kata salah seorang teman pria mereka kepada Fika yang masih terlihat sangat kesal.
"Aku tidak menyangka kamu bisa menghadapi mereka dengan mudah," kata Gino sambil tersenyum puas.
"Waktu masih berkuliah, aku ikut Karate, dan itu sudah lebih dari cukup untuk menghajar gadis-gadis manja seperti itu," balas Tiysa.
"Haha, pantas saja kamu bisa menghindari serangan dua wanita tadi..., hmm... dari apa yang aku dengar, wanita yang pertama memaki itu adalah mantan tunangan Tristan," kata Gino sambil melirik ketempat Gea dan teman-temannya duduk.
"Iya, dia juga yang telah membuatku salah paham kepada Tristan," keluh Tiysa.
"Salah paham?" tanya Gino yang terlihat penasaran.
Tiysa mengangguk pelan, dia lalu menceritakan masalah yang terjadi antara dia dan Gea kepada Gino.
"Benar-benar tidak bisa dipercaya, bagaimana mungkin gadis bernama Gea itu masih tetap jalan dengan teman-temannya yang berkarakter busuk seperti itu." ucap Gino sambil menggelengkan kepalanya.
"Jika bukan karena karyawan Cafe disini, pria itu sudah pasti kami hajar, hahaha," kata teman pria Gea, dia dengan sengaja mengatakan itu dengan suara yang cukup nyaring untuk memprovokasi Gino.
__ADS_1
"Hentikan itu, kamu bisa membuat pria itu ketakutan dan tidak mau meninggalkan Cafe ini karena kata-katamu," balas pria lainnya sambil tertawa.
Gino sudah mulai kehilangan kesabaran, ketika dia hendak berdiri menghampiri mereka, Tiysa memegang tangannya.
"Lebih baik kita tidak usah menghiraukan mereka, aku rasa pria-pria yang ada disana memiliki latar belakang yang tidak biasa, aku tidak mau kamu mendapat masalah," kata Tiysa menahan tangan Gino.
Gino tertawa kecil mendengar ucapan Tiysa, dia kembali duduk di kursinya.
Namun setelah beberapa saat berlalu, teman pria Gea ternyata tidak berhenti, mereka terus mengejek Gino dan Tiysa.
"Tiysa sebaiknya kita pulang saja, aku tidak bisa fokus memandangi kecantikanmu karena suara gonggongan anjing di tempat ini," kata Gino bercanda.
Tiysa tersenyum, "Baiklah," jawab Tiysa singkat.
"Kalau begitu aku akan pergi membayar makanan kita terlebih dahulu," kata Gino, dia lalu berdiri dan pergi menuju kasir.
Sesampainya di meja kasir, Gino merogoh saku jasnya dan mengeluarkan buku cek beserta kartu namanya.
Di selembar cek itu dia menulis empat ratus juta rupiah, lalu menyerahkannya kepada kasir yang berdiri di depannya.
"Berikan ini kepada manager atau pemilik Cafe ini, jika masih kurang silahkan menghubungi aku melalui nomor yang tertera di kartu namaku," kata Gino sembari menyerahkan selembar cek dan kartu namanya.
"Tapi Pak, untuk apa uang sebanyak ini?" tanya karyawan itu, dia merasa heran karena nominal angka yang ditulis Gino terlalu banyak, dan karyawan itu juga berpikir jika tidak perlu sampai menggunakan cek untuk membayar makanan mereka.
Gino tersenyum lalu berkata, "Untuk biaya perbaikan dan biaya bersenang-senang."
"Perbaikan?" tanya karyawan itu yang terlihat kebingungan dengan ucapan Gino.
Setelah mengatakan hal tersebut, Gino lalu pergi menuju ke tempat Gea dan teman-temannya duduk.
Bukannya takut, teman-teman pria Gea tampak semakin menjadi-jadi ketika melihat Gino mendatangi mereka, karena merasa jumlah mereka lebih banyak, mereka terus-menerus mengejek Gino dan juga Tiysa.
"Awas pria itu datang, aku takut," kata salah satu teman pria Gea yang terus ingin memancing kemarahan Gino.
Sangat terlihat jelas dimata Gino jika enam pria ini berusaha terlihat keren di depan Gea dan teman-temannya.
Setelah berada tepat di depan meja Gea dan teman-temannya, Gino lalu tersenyum.
Dengan cepat dia meletakkan telapak tangannya di belakang kepala dua pria yang sedang duduk saling berhadapan.
Brakk!
Gino menghantamkan wajah keduanya di permukaan meja. Makanan dan minuman di atas meja itu berhamburan, Gea dan ketiga sahabatnya berteriak histeris.
__ADS_1
__