
Widy dan para mempelai wanita tampak berderai airmata, mereka telah resmi menjadi suami istri setelah mereka mengucapkan janji suci mereka.
Tiysa yang menyaksikan itu juga ikut terharu, dia ikut menitikkan airmatanya, dia bisa merasakan kebahagiaan para wanita yang sudah melangkah ke jenjang baru kehidupan mereka.
Tristan tampak sesekali menyeka airmata Tiysa, dia bisa melihat kedekatan Tiysa dengan 21 wanita yang menjadi bintang di acara ini.
Gino, Haris dan Faiz yang berada di kejauhan ikut tersenyum bahagia, akhirnya tugas mereka benar-benar telah selesai, mereka tidak hanya menyelamatkan ke 21 wanita itu, mereka juga menjamin kehidupan masa depan yang layak untuk mereka semua.
Satu persatu pasangan yang baru menikah tampak berjalan menuju sebuah meja yang memiliki ukiran indah, di meja itu tampak seorang pria tua yang memiliki badan tegap sedang duduk sambil tersenyum memandangi para pasangan yang sedang berjalan mendekatinya.
Aura yang dipancarkan pria dengan setelan tuxedo berwarna hitam itu sangat berwibawa, karena penasaran Tiysa pun bertanya kepada Igor yang berdiri di samping tempat duduknya.
"Pak Igor, siapa Tuan itu?" tanya Tiysa.
Igor tersenyum mendengar Tiysa menyematkan kata Tuan saat bertanya, "Dia adalah Tuan besar dan juga kepala keluarga dari keluarga Yaroslav, dia bernama Vladimir Yaroslav," jawab Igor.
"Oh..." balas Tiysa, dia lalu kembali bertanya, "Mengapa Widy dan teman-temannya menuju ke tempat Tuan besar itu?"
Tristan hampir saja tidak bisa menahan tawanya ketika Tiysa juga memanggil kakeknya dengan sebutan Tuan Besar, untung saja Igor dengan cepat menjawab pertanyaan Tiysa sehingga Tiysa tidak sempat menoleh kepadanya yang sedang menahan tawa.
"Mereka sedang meminta restu dari Tuan Besar, keluarga suami Widy dan yang lainnya merupakan orang-orang yang bekerja di keluarga Yaroslav, jadi mendapatkan restu dari Tuan Besar seperti sebuah berkah untuk mereka," ucap Igor menjelaskan.
"Biasanya pasangan yang mendapat restu dari Tuan besar akan hidup langgeng, tentu saja itu hanya mitos dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya, tapi banyak pasangan yang bekerja di keluarga Yaroslav yang mempercayai itu." kata Faiz yang tiba-tiba muncul di meja Tristan dan Tiysa.
Tiysa langsung menoleh ke arah Faiz yang sedang tersenyum, Igor sendiri langsung menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Faiz, sedangkan Tristan tampak terkejut melihat Faiz datang ke mejanya.
"Tuan Faiz," sapa Igor dengan sopan.
Tiysa menoleh ke Igor, dia ingin bertanya tentang identitas pria yang tiba-tiba muncul di dekatnya.
"Nona Tiysa, maafkan aku jika aku mengganggu waktumu, saat ini seseorang dari keluarga Yaroslav ingin bertemu dirimu," kata Faiz sambil menunjuk ke meja tempat sepasang suami istri yang mungkin berumur 50 tahun sedang duduk.
__ADS_1
"Aku?" Tiysa tampak kebingungan, dia tidak mengerti mengapa anggota keluarga Yaroslav ingin bertemu dirinya.
Tristan ikut menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Faiz, dia dapat melihat adik kandung Ayahnya yang bernama Victor dan istrinya sedang duduk sambil tersenyum kepada mereka.
Tiysa menoleh ke Tristan, dia terlihat bingung dengan permintaan dari Faiz.
"Tidak apa-apa, kamu pergi saja, mereka mungkin ingin berkenalan denganmu, lagipula tidak sopan menolak permintaan mereka yang sudah menyiapkan fasilitas mewah untuk menjamu kita," kata Tristan sambil tersenyum.
Tiysa mengangguk pelan, dia setuju dengan perkataan Tristan, dia lalu beranjak dari duduknya dan ikut bersama Faiz ke meja Victor dan istrinya Arina duduk.
"Igor, apakah keluargaku sedang merencanakan sesuatu?" tanya Tristan, dia kembali melihat para tamu yang hadir di tempat itu, dari apa yang dia lihat, semua anggota inti yang melayani keluarga Yaroslav hadir di tempat itu.
Menurut Tristan itu sedikit aneh, 21 bawahan Gino memang memiliki posisi yang cukup bagus di keluarga Yaroslav, namun masih tetap tidak mungkin untuk mengumpulkan atau mengundang orang-orang ini, itu karena anggota inti yang melayani keluarga Yaroslav tersebar hampir di seluruh dunia, dan mereka baru bisa berkumpul jika keluarga Yaroslav sendirilah yang membuat acara.
Igor tersenyum mendengar pertanyaan Tristan, dia berkata, "Tuan Muda, aku tidak mengerti maksud pertanyaan tuan muda, aku hanya seorang sopir di keluarga ini."
Tristan tertawa mendengar ucapan Igor, walaupun dia hanyalah seorang sopir, Tristan tahu jika dia juga memiliki banyak perusahaan dibawahnya.
...****************...
"Silahkan duduk." Victor dengan sopan langsung mempersilakan Tiysa duduk dikursi begitu Tiysa sampai ke meja mereka.
"Terima kasih," kata Tiysa, Faiz yang berdiri disampingnya menarik sandaran kursi dan mempersilakan Tiysa duduk, setelah itu Faiz langsung pamit undur diri kepada Victor dan istrinya.
"Maaf Tuan dan Nyonya, aku diberitahu oleh pria tadi jika kalian berdua ingin berbicara denganku," kata Tiysa yang terlihat gugup.
"Kamu tidak perlu memanggil kami seperti itu, kamu bisa memanggil kami Paman dan Bibi," kata Arina.
"Tapi...." Tiysa terlihat ragu, dia merasa tidak enak, namun Victor dengan cepat meyakinkan dirinya jika tidak masalah jika Tiysa memanggil mereka dengan sebutan paman dan Bibi.
"Tidak apa-apa, kami lebih senang di panggil seperti itu," kata Victor sambil tersenyum.
Tiysa mengangguk pelan, dia setuju untuk memanggil Victor dan istrinya dengan sebutan paman dan Bibi.
__ADS_1
"Siapa namamu Nak?" tanya Arina.
"Ah maafkan ketidak sopananku, namaku Tiysa Utari Harsa, aku berasal dari Indonesia." Sambil berdiri Tiysa memperkenalkan dirinya dengan sopan kepada Victor dan Arina.
"Sudah kubilang, kamu tidak perlu bersikap terlalu formal dengan kami," kata Arina sambil meminta Tiysa kembali duduk di kursinya.
Tiysa tersenyum lalu kembali duduk di kursinya, dia merasa terpesona dengan keramahan yang ditunjukkan pasangan suami istri yang berada di depannya.
"Tiysa, alasan kami memanggilmu ke sini karena pemuda itu, apakah pemuda itu kekasihmu?" tanya Victor sambil menunjuk Tristan yang sedang bercakap-cakap dengan para pengantin yang baru selesai menerima restu dari kakek Tristan.
Tiysa menoleh ke Tristan, dia tersenyum melihat Tristan yang tampak akrab berbicara dengan Widy dan pasangannya, dia laku berkata,
"Dia kekasihku, tahun depan kami berencana akan menikah," terang Tiysa.
Victor dan Arina tampak terkejut mendengar perkataan Tiysa, Tristan memang belum menyampaikan tentang rencana pernikahannya tahun depan kepada keluarganya.
Karena penasaran Arina kembali bertanya kepada Tiysa, "Apakah itu yang dikatakan kekasihmu?"
Tiysa mengangguk pelan sambil tersenyum dia berkata, "Iya, dia sendiri yang mengatakan itu kepada kedua orang tuaku, dia sepertinya harus mengurus beberapa hal terlebih dahulu, aku tidak tahu masalah apa itu, aku hanya perlu mempercayai dia dan berharap masalahnya segera selesai," jawab Tiysa.
Victor dan Arina saling menatap, mereka berdua tersenyum, mereka tidak menyangka jika keponakannya sudah menyatakan itu di depan orang tua kekasihnya.
Victor beranjak dari duduknya, dan berkata, "Tiysa aku ada keperluan sedikit, kamu bisa berbincang-bincang dengan Bibi." Setelah mengatakan itu Victor pergi menuju meja ayahnya yang tak jauh dari tempatnya duduk.
Victor tampak berbicara dengan kakek Tristan dengan ekspresi wajah yang cukup serius, tak berselang lama, kakek Tristan tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Victor.
"Hahaha, aku tidak menyangka jika cucu pertamaku sudah mengatakan itu kepada calon mertuanya," kata Vladimir, dia tertawa bahagia ketika mendengar perkataan Victor tentang Tristan yang sudah berniat melamar Tiysa tahun depan.
Saat semuanya sedang asyik berbicara, tiba-tiba terdengar suara wanita memanggil Tristan.
"Kak Tristan!" kata wanita itu yang langsung memeluk tubuh Tristan, tak sampai disitu wanita cantik itu juga mencium pipi Tristan lalu merangkul mesra tangannya dengan manja.
...****************...
__ADS_1