
2 Jam lagi pesawat Tristan akan tiba di bandara Moscow Domodedovo (DME) Rusia. Walaupun sudah mempercayakan Tiysa kepada Yono, entah mengapa, semakin dekat pesawat Tristan dengan tujuan, semakin kuat kerinduan yang dia rasakan kepada Tiysa.
“Hah... padahal baru beberapa jam berlalu dan rasanya sudah sesulit ini, aku benar-benar tidak bisa jauh dari Tiysa,” batin Tristan.
Sepanjang perjalanan dia terus memikirkan Tiysa, apa yang di katakan Suryo kepada Bimo tentang kesedihan, ketakutan dan ketidakberdayaan memang benar adanya. Kesedihan yang dia rasakan karena Tristan harus berpisah dengan Tiysa dalam waktu yang sangat lama, ketakutan yang dia rasakan karena Tristan takut jika nanti Tiysa melupakan dirinya, atau bisa saja Tiysa sudah memiliki pria lain ketika dia selesai dengan pelatihannya, dan ketidakberdayaan yang dia rasakan karena Tristan benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolak perintah dari Kakeknya.
“Pak Haris... dengan mengarahkan Yono tanpa sepengetahuanku, itu sudah termasuk pelanggaran berat menurut peraturan keluarga Yaroslav, mengapa kamu melakukan itu?” tanya Tristan.
“Maafkan aku Tuan Muda, aku siap menerima hukuman dari Tuan Muda karena hal itu, tapi tindakan yang kulakukan juga murni karena mengikuti peraturan keluarga Yaroslav.
“Mengikuti peraturan keluargaku?” tanya Tristan kembali. Seingat Tristan tidak ada peraturan yang menyatakan jika bawahan keluarga Yaroslav bisa membantu orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada keluarga Yaroslav.
“Peraturan yang mana?” tanya Tristan penasaran sembari meneguk air mineral yang berada ditangannya.
“Iya Tuan Muda, ini peraturan tentang melindungi anggota utama keluarga Yaroslav bahkan jika harus mengorbankan nyawa, apa yang aku lakukan murni untuk melindungi wanita yang akan melahirkan generasi penerus bagi keluarga Yaroslav,” jawab haris tegas.
Pfffuufft!!
Tristan menyemburkan air yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Dia tidak menyangka jika Haris akan memberikan jawaban seperti itu.
“Hahaha... Pak Haris, aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku bisa membayangkan dengan jelas bagaimana ekspresi wajah Tiysa jika dia mendengar apa yang baru saja kamu katakan.” Tristan tertawa terbahak-bahak, dia terus membayangkan wajah Tiysa yang tersipu malu karena mendengar ucapan Haris. Airmata Tristan bahkan keluar karena tertawa, beban dihatinya menjadi berkurang karena kata-kata yang baru saja Haris sampaikan.
Tristan mengatur nafasnya dan menyeka airmatanya yang keluar karena tertawa, “Pak Haris, berapa lama waktu yang mendiang ayahku butuh kan untuk menyelesaikan pelatihan ini?”
“Tuan Gennady Yaroslav menyelesaikan pelatihannya selama 8 tahun,” jawab Haris.
“Baiklah aku akan berusaha menyelesaikan ini dalam 7 tahun,” kata Tristan membulatkan tekadnya.
“Dan terima kasih Pak Haris, apa yang baru saja kamu katakan benar-benar membuatku lebih siap menjalani pelatihan dari keluargaku.” Tristan tersenyum lalu kembali bersandar di kursinya.
__ADS_1
Tristan sudah membulatkan tekadnya untuk melampaui pencapaian ayahnya, yang terkenal genius dan memiliki fisik yang terbaik di antara keluarga Yaroslav.
Jika Tristan benar-benar bisa menyelesaikan masa pelatihannya selama 7 tahun, dia akan mencatatkan namanya sebagai penerus keluarga Yaroslav yang paling cepat dalam menyelesaikan misi pelatihan hidup dan mati.
__
Devan baru saja tiba di perusahaan Tirta Wira Perkasa, hari ini dia terlihat sangat bahagia, selama 2 hari terakhir dia terus menginap bersama Gea di rumah yang pernah di tinggali oleh Tristan, selama 2 hari itu, Devan betul-betul menikmati setiap lekuk tubuh Gea, entah sudah berapa kali Devan melampiaskan nafsunya di kamar yang pernah di tempati oleh Tristan, aroma parfum Tristan seakan membius Gea, dan membuat Gea semakin bergairah.
Kemarin ketika aroma parfum Tristan sudah mulai menghilang, Gea terlihat tidak lagi tertarik untuk melakukan ‘itu’ dengan Devan. Karena itulah Devan langsung menghubungi temannya yang cukup tahu banyak tentang jenis-jenis parfum, agar mencari tahu Brand parfum yang digunakan oleh Tristan dari aroma yang tersisa di kamar itu. Dari informasi temannya, parfum yang di gunakan Tristan adalah parfum Clive Christian No1 Masculine Edition. Parfum yang dibanderol dengan harga 11 juta per 50ml.
Setelah dia membeli dan menggunakan parfum itu, Gea terlihat kembali bersemangat, pagi ini sebelum berangkat ke Tirta Wira Perkasa, Gea bahkan yang meminta untuk melakukan ‘itu’ terlebih dahulu.
Ketika memasuki ruangan kantor, Devan langsung disambut hangat oleh Cakra yang juga terlihat sangat bahagia. Cakra akhirnya bisa kembali berkuasa, dia sudah berniat untuk menikmati setiap karyawan wanita di tempat itu yang terlihat semakin cantik semenjak dipimpin oleh Tristan.
Devan yang baru pertama kali ke Tirta Wira Perkasa langsung bergairah ketika melihat karyawan wanita yang akan menjadi bawahannya nanti, dia merasa benar-benar beruntung, selain bisa mendapatkan Gea, dia bahkan bisa mendapatkan perusahaan dengan omzet ratusan milyar beserta dengan karyawan cantiknya.
“Siapa wanita itu?” tanya Devan sembari menunjuk ke arah Dian.
“Hahaha, pantas saja bocah itu menghajarmu, wanita itu memang terlihat menggoda selera, aku menginginkan dia,” kata Devan sambil tertawa.
Beberapa karyawan pria terlihat emosi setelah mendengar ucapan Devan, itu karena Devan bahkan tidak berusaha menyembunyikan niatnya, dia secara terang-terangan mengatakan itu di depan semua karyawan yang berada di tempat itu.
“Sudahlah jangan terlalu bersemangat di hari pertamamu, ayo kita lihat ruangan kerjamu terlebih dahulu,” ucap Cakra.
Devan mengangguk, setelah itu mereka berdua menuju ruang kerja yang kemarin di gunakan oleh Tristan.
Cindy menghampiri dan meraih tangan Dian, dia berkata. “Bukankah lebih baik jika kita mengundurkan diri?” tanya Cindy yang terlihat cemas.
Dian mengangguk, dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Cindy, namun belum sempat mereka berdua kembali ke meja masing-masing, tiba-tiba suara seorang pria memanggil namanya.
__ADS_1
“Ibu Dian,” sapa orang itu yang ternyata adalah Suryo.
Suryo langsung menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Dian.
“Aku dan seluruh karyawan kebersihan beserta seluruh petugas keamanan di kantor ini, mengajukan pengunduran diri kami bersama-sama, mulai hari ini kami resmi keluar dari Tirta Wira Perkasa” kata Suryo.
Semua karyawan yang berada di tempat itu mendengar dengan jelas apa yang baru saja Suryo sampaikan, mata mereka kini tertuju kepada Suryo yang sedang berbicara dengan Dian.
“Hah... sepertinya kami semua juga akan mengundurkan diri,” keluh Dian dengan suara lirih.
“Apakah Tristan tidak meminta kalian mengundurkan diri?” tanya Suryo.
“Tidak..., jangan-jangan Pak Suryo mengundurkan diri karena disuruh oleh Tristan?” tanya Dian dengan serius.
“Iya, kemarin malam Tristan sendiri yang meminta agar aku mengundurkan diri dari Tirta Wira Perkasa,” jawab Suryo.
Dian dan Cindy saling menatap, mereka tidak mengerti mengapa Tristan tidak memberikan instruksi kepada mereka.
“Apakah Tristan lupa?” Cindy bertanya kepada Dian yang juga terlihat kebingungan.
“Tidak mungkin Tristan melupakan kalian, aku sering melihat bagaimana Tristan melatih dan mengarahkan kalian selama 6 bulan ini,” kata Suryo menjawab pertanyaan Cindy.
“Tristan bahkan membungkukkan badannya memberi penghormatan kepada kalian.” sambung Suryo mengingatkan.
Dian dan Cindy mengangguk, mereka setuju dengan apa yang dikatakan Suryo.
“Aku yakin Tristan sudah menyiapkan sesuatu untuk kalian, mungkin sekarang kalian hanya perlu bersabar,” kata Suryo, setelah mengatakan itu Suryo mohon pamit kepada Dian, Cindy dan seluruh karyawan yang berada di ruangan itu.
Tak berselang lama setelah Suryo pergi, Devan yang belum resmi menjadi CEO keluar dari ruangannya dan memanggil Dian.
“Dian ke ruanganku sekarang.” seru Devan dengan tatapan yang terlihat menjijikkan.
__ADS_1