Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 41 : Subroto Meninggal, Gea menemui Tiysa


__ADS_3

Beberapa karyawan di tempat Tristan mulai merasa aneh dengan Tristan, akhir-akhir ini Tristan terlihat seperti terburu-buru dalam memberikan materi kepada mereka. Dian yang sudah sangat mengenal Tristan juga merasakan hal yang sama.


Dia merasa jika Tristan mempercepat beberapa langkah dalam memberikan materi dan arahan kepada bawahannya. Itu terasa seperti Tristan akan meninggalkan mereka.


Apa yang dikhawatirkan Dian memang benar, dua minggu lagi Tristan akan mengundurkan diri dan meninggalkan Tirta Wira Perkasa, oleh karena itu Tristan mempercepat progres pembelajaran karyawannya sebagai hadiah kenang-kenangan darinya.


Sesaat setelah Tristan mengakhiri meeting, ponsel Tristan berdering, dia melihat nama Damar di layar ponselnya.


“Hal-”


“Tristan Kakek Subroto...,” sela Damar yang langsung memotong ucapan Tristan. Suara isak tangis terdengar darinya yang sedang berusaha menyampaikan pesan kepada Tristan.


Tristan menunduk, matanya berkaca-kaca, dia langsung dapat mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh Damar.


“Saudaraku... aku mengerti, aku akan langsung menuju ke tempat Kakek Subroto,” jawab Tristan lirih.


“.... ....” Tak ada jawaban dari Damar hanya isak tangis kesedihan yang terdengar mengakhiri panggilan telepon mereka.


Tristan bersandar di kursinya, dia menatap langit-langit ruang kerjanya. Tristan sendiri sudah tahu hal ini akan terjadi. Saat pertama melihat kondisi Kakek Subroto, Tristan merasa jika tak lama lagi Subroto akan pergi untuk selamanya, karena hal itulah Tristan berusaha mempertemukan Subroto dengan Bisma dan Damar.


Saat mendengar kondisi Kakek Subroto yang sudah membaik, Tristan sedikit terkejut dan ikut senang, namun dia teringat salah satu teman dokternya pernah berkata jika di dalam dunia medis ada istilah yang di sebut Rally atau terminal lucidity.


Rally atau terminal lucidity adalah kondisi di mana pasien yang sedang kritis tiba-tiba membaik, namun setelah beberapa hari kemudian pasien tersebut akan meninggal dunia. Fenomena ini di kategorikan sebagai salah satu pengalaman sebelum kematian atau end of life experience (ELE).


Tristan berharap jika itu bukan hal yang dialami oleh Kakek Subroto, namun setelah mendapat panggilan telepon dari Damar, hanya fenomena itu yang dapat menjelaskan kematian tiba-tiba Kakek Subroto.


Tristan meraih ponselnya kembali, dia lalu menghubungi Tiysa.


“Halo sayang,” sapa Tiysa.


“Tiysa, maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa makan siang bersamamu hari ini, salah satu kerabatku baru saja meninggal dunia,” ucap Tristan lirih.


“Aku turut berduka cita... baiklah kita bisa makan siang lain kali,” jawab Tiysa.


“Terima kasih atas pengertianmu,” balas Tristan lalu mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Tristan lalu menoleh ke Dian yang masih berada di ruangannya. “Dian sepertinya aku harus pulang lebih awal hari ini, tolong gantikan aku untuk mengurus pekerjaan hari ini,” kata Tristan sambil berdiri dari duduknya.


Dian mengangguk, dia sudah mengetahui apa yang terjadi ketika mendengar percakapan Tristan dan pria yang menghubungi Tristan.


Tristan meninggalkan ruangannya dan pergi ke salah satu ruangan yang biasa di jadikan tempat beristirahat, oleh petugas kebersihan di kantornya.


“Pak Suryo.”


“Iya Pak,” jawab Suryo yang terlihat terkejut melihat pimpinan tertinggi di perusahaan itu berada di depan ruangan petugas kebersihan.


“Aku mendengar jika Pak Suryo dulunya bekerja sebagai sopir dari CEO lama,” ucap Tristan.


“Iya betul Pak,” jawab Suryo singkat.


“Bisakah Pak Suryo mengantarku ke Bogor sekarang?” tanya Tristan kembali.


“Tentu saja Pak,” balas Suryo, dia lalu bangkit dari tempat duduknya, dan menuju parkiran mobil dinas perusahaan untuk CEO di parkir.


Saat ini bisa di pastikan jika Purwadi dan keluarganya juga akan menuju ke Bogor, karena identitasnya dirahasiakan, Tristan tidak mungkin menyuruh Haris mengantarnya ke sana, selain itu alasan Tristan meminta Suryo untuk mengantarnya karena Bisma pernah bercerita jika Suryo adalah sopir pribadinya ketika menjabat sebagai CEO di perusahaan Tirta Wira Perkasa, Suryo juga termasuk bawahan yang sudah mengabdi cukup lama di keluarga Kuncoro.


Dalam perjalanan, Suryo terus melirik Tristan yang berada di kursi belakang melalui kaca spion tengah, Suryo bisa melihat kesedihan tergambar dengan jelas di raut wajah Tristan.


“Pak Tristan, ada apa?” tanya Suryo. Dia merasa heran melihat pimpinannya yang biasa terlihat gagah dan penuh semangat sekarang terlihat murung.


Tristan tersenyum, dia benar-benar hanyut dalam khayalannya.


“Pak Suryo apakah kamu dekat dengan Paman Bisma?” tanya Tristan.


Suryo terkejut ketika mendengar kata ‘Paman’ yang disematkan Tristan kepada Bisma.


“Tentu saja Pak, aku cukup dekat dengan beliau,” balas Suryo.


“Hari ini aku dihubungi oleh Damar anaknya paman Bisma, sepertinya Kakek Subroto sudah pergi untuk selamanya,” ucap Tristan lirih.


Kedua tangan Suryo yang sedang memegang kemudi langsung bergetar mendengar kabar kematian Subroto.

__ADS_1


“Pak Tristan... apakah tuan Bisma dan anaknya sudah bertemu dengan Tuan Subroto?” tanya Suryo dengan sedih.


“Iya, selama seminggu terakhir, mereka berdua yang merawat Kakek Subroto,” jawab Tristan sambil menatap keluar jendela.


Suryo tersenyum bahagia, dia tahu jika Bisma menyembunyikan keberadaannya setelah dia dikeluarkan dari keluarga Kuncoro.


Suryo juga tahu jika Subroto terus mencari keberadaan Bisma selama ini. Mendengar jika kedua orang yang pernah dia layani kembali bertemu, membuatnya merasa senang dan sedih di saat yang bersamaan.


“Pak Tristan, bisakah aku membawa anakku ikut bersama kita untuk memberi penghormatan terakhir kepada Tuan Subroto? Dia juga memanggil Tuan Subroto dengan sebutan Kakek, aku ingin dia melihat Tuan Subroto untuk terakhir kalinya,” pinta Suryo.


“Tentu saja Pak,” balas Tristan singkat.


__


Tiysa terkejut dan tak bisa berkata-kata, setelah Tristan menghubunginya, seorang gadis bernama Gea tiba-tiba datang menghampirinya ketika dia hendak masuk ke dalam mobilnya.


Gea berkata jika dia adalah tunangan Tristan, Gea juga memintanya dengan baik-baik untuk meninggalkan Tristan.


Setelah tidur bersama Devan di hotel, Devan memberinya ide untuk membuat Tiysa meninggalkan Tristan, dia menyuruh Gea agar bicara secara baik-baik dengan Tiysa, Devan juga memberikan alamat tempat Tiysa bekerja kepada Gea.


Mendengar ucapan Gea, Tiysa tidak langsung percaya, namun setelah melihat foto acara pertunangan Tristan di ponsel milik Gea, ditambah dengan Gea berkata jika hari ini dia akan bertemu Tristan di pemakaman Kakeknya, itu membuat Tiysa akhirnya harus mempercayai perkataan gadis itu.



Tristan yang baru saja menghubunginya menyampaikan hal serupa, Tristan berkata akan mengunjungi salah satu kerabatnya yang meninggal dunia.


“Jadi kumohon Kak Tiysa bisa mengerti, aku sangat mencintai tunanganku, memang saat ini hubungan kami sedang sedikit bermasalah, tapi aku dan Tristan saling mencintai, kami bahkan berencana untuk menikah di tahun depan,” kata Gea dengan memohon kepada Tiysa.


Tiysa terdiam, dia juga sangat menyayangi Tristan, tapi disituasi saat ini dia merasa bersalah karena sudah merebut tunangan orang lain.


Sambil Tersenyum Tiysa berkata, “Baiklah aku janji tidak akan bertemu dengan Tristan lagi ... maafkan aku juga yang sempat jalan dengan tunanganmu.”


Gea tersenyum bahagia, dia berkata, “Terima kasih Kak Tiysa atas pengertianmu.” Setelah menyampaikan itu, dia langsung pamit kepada Tiysa dan meninggalkan tempat itu.


Beberapa saat setelah Gea pergi, Tiysa tak lagi bisa membendung air matanya, dia langsung masuk ke dalam mobil miliknya. Di kursi penumpang, Gina yang sudah masuk ke dalam mobil Tiysa sebelum Gea datang, melihat semua kejadian itu.

__ADS_1


Dia ikut sedih melihat Tiysa yang menangis sejadi-jadinya. Dia tidak bisa berkata apa-apa untuk menghibur Tiysa.


__ADS_2