
Tristan menuju kamar yang berada di lantai dua, dia masih mengingat jelas momen ketika Tiysa menariknya masuk ke dalam kamar itu, dan langsung menciumnya.
Tristan tertawa kecil saat mengingat kembali kejadian itu, dengan perlahan Tristan membuka pintu kamar yang menjadi saksi bisu momen indah mereka berdua.
Deg.
Jantung Tristan berdetak cepat, dia terperangah, foto mereka berdua terlihat memenuhi tembok kamar itu.
Sofa dan lemari buku yang berisi novel kesukaan Tristan di tambahkan ke dalam kamar itu, sebuah gitar di gantung di dekat jas berwarna hitam miliknya yang dulu ketinggalan saat dia menginap di kamar ini.
Tiysa benar-benar merubah kamar ini menjadi kamar yang dipenuhi barang kesukaan Tristan.
Perlahan Tristan melangkah menghampiri salah satu foto yang berada di meja. Ketika Tristan melihat foto itu, matanya langsung menggenang, dia melihat foto mereka berdua, dengan tulisan maafkan aku disekitar foto itu dan tulisan aku sayang kamu yang dituliskan dengan tinta berwarna merah.
Hal yang paling menyakitkan bagi Tristan karena foto itu sudah terlihat rusak akibat terkena tetesan air, Tristan bisa membayangkan bagaimana Tiysa menyalahkan dirinya sambil menangis dan memandangi foto itu.
Perasaan bersalah terus menumpuk di dadanya, dia mengutuk keegoisannya 5 tahun lalu yang pergi tanpa mengabari Tiysa.
Dia duduk di sofa yang ada dikamar itu, dalam hati dia berkata, "Apa yang sudah aku lakukan... Tiysa... Maafkan aku...."
___
Tiysa baru saja tiba di depan rumahnya, setelah dia memarkirkan mobilnya, tiba-tiba bunyi notifikasi pesan masuk terdengar dari ponselnya.
Ting!
Tiysa segera mengecek ponselnya.
[Bimo] Ayah dan Ibu sedang berada di rumah paman Bisma, ada urusan sedikit dengannya, jadi mungkin kami tidak bisa ikut makan malam bersamamu.
Tiysa menoleh ke pekarangan rumah, dia baru menyadari jika mobil ayahnya tidak ada di situ.
[Tiysa] Baiklah Ayah, sampaikan salamku untuk paman Bisma dan Damar.
[Bimo] Iya, pasti akan ayah sampaikan.
Setelah berbalas pesan dengan Ayahnya, Tiysa lalu turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Aroma makanan yang dimasak ibunya langsung tercium seolah menyambut kedatangan Tiysa.
Tiysa tersenyum, dia lalu melepas high heels berwarna hitam yang sedang dia gunakan.
Sambil berjalan menuju meja makan, dia terlihat menyanyikan salah satu lirik pada bagian reff di lagu James Arthur - Say You Won't Let Go yang pernah di nyanyikan oleh Tristan.
I knew i needed you, but i never show.
Aku tahu aku membutuhkanmu tapi tak pernah ku tunjukkan.
But i wanna stay with you, until we're grey and old.
Tapi aku ingin selalu bersamamu sampai kita tua dan beruban.
"Just say you wo-" Tiysa sontak berhenti bernyanyi saat dia berada tepat di depan tangga yang menuju lantai dua rumahnya.
"Just say you won't let go...."
Katakan saja kamu takkan pergi..
"Just say you won't let go...."
Katakan saja kamu takkan pergi..
__ADS_1
Sayup-sayup terdengar suara seseorang yang juga menyanyikan lagu James Arthur dari kamar yang berada di lantai dua, petikan gitar yang sangat indah terdengar mengiringi suara pria itu bernyanyi.
"Ini tidak mungkin 'kan?" ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Nafasnya memburu karena dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, dia melangkah menaiki tangga dengan perlahan.
"I'll wake you up with some breakfast in bed."
Aku akan membangunkanmu dengan sarapan di tempat tidur.
"I'll bring you coffe with a kiss on your head."
Aku akan membawakanmu kopi dengan kecupan di keningmu.
And i'll take the kids to school
Dan aku akan mengantar anak-anak ke sekolah,
Wave them goodbye.
Melambaikan tangan kepada mereka.
And I'll thank my lucky stars for that night.
Dan aku akan berterimakasih pada bintang keberuntunganku untuk malam itu.
Lantunan lagu yang terdengar dari kamar membuatnya tak bisa lagi membendung airmatanya. Tiysa menangis terisak, ini adalah suara dari pria yang telah dia nantikan.
"Tuhan, jika ini mimpi tolong jangan bangunkan aku, dan jika ini ilusi tolong jangan sadarkan aku, biarkan aku bertemu dengannya, walau hanya sekedar mimpi ataupun hanya ilusi." gumamnya berderai airmata.
Tiysa sudah berada didepan pintu kamar, perlahan dia membuka pintu kamar, airmatanya semakin mengalir deras, di sofa kamar itu dia melihat Tristan yang bernyanyi sambil memainkan gitar.
When you looked over your shoulder
Saat kamu menoleh dan menatapku.
For a minute, I forget that I'm older
Untuk sesaat, aku lupa bahwa aku lebih tua.
I wanna dance with you right now
Aku ingin menari dengan mu sekarang.
Oh, and you look as beautiful as ever
Oh. Dan kamu terlihat cantik seperti biasanya.
And I swear that everyday you'll get better
Dan aku yakin kamu akan semakin cantik.
You make me feel this way somehow
Kamu membuatku merasa seperti ini...
Tristan berhenti dan meletakkan gitar yang sedang dia pegang di sofa, dia beranjak dari sofa itu dan menghampiri Tiysa yang berdiri di depan pintu dengan airmata yang terus mengalir deras membasahi pipinya.
Tiysa diam tak bergerak, kedua tangannya mengepal erat. Suara tangisnya memenuhi kamar itu, dia takut mendekat, takut jika ini hanyalah mimpi dan Tristan akan kembali menghilang. Sudah berungkali dia bermimpi seperti itu, mimpi bertemu dengan Tristan, namun ketika dia memeluknya Tristan akan tiba-tiba menghilang.
Tristan berdiri di hadapan Tiysa yang mematung, dia lalu memeluk tubuh Tiysa dengan erat, tanpa sadar dia menitikkan airmatanya.
__ADS_1
"Lanjutkan lagu itu...," kata Tiysa sambil menangis sesenggukan. Dia masih belum berani membalas pelukan Tristan.
Tristan tersenyum, sambil memeluk Tiysa, Tristan mendekatkan wajahnya ke telinga Tiysa, dengan suara lembut, dia melanjutkan lagu yang tadi dia nyanyikan.
I'm so in love with you
Aku sangat mencintai mu.
And I hope you know
Dan aku berharap kamu tahu.
Darling, your love is more than worth its weight in gold
Sayang, cintamu lebih berharga dari pada emas.
We've come so far, my dear
Kita sudah sejauh ini, sayangku.
Look how we've grown
Lihatlah bagaimana kita bersama.
And I wanna stay with you until we're grey and old
Dan aku ingin bertahan dengan mu sampai kita beruban dan menua.
Just say you won't let go...
Katakan kau tidak akan pernah pergi
Just say you won't let go...
Katakan kau tidak akan pernah pergi
"Maafkan aku Nona Tiysa, aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu lagi, aku berjanji akan selalu bersamamu, seperti lirik lagu yang baru saja aku nyanyikan," bisik Tristan di telinga Tiysa.
Tiysa langsung memeluk erat tubuh Tristan, dia membenamkan wajahnya di dada Tristan, luapan emosi yang sedari tadi dia tahan meledak ketika Tristan membisikkan kalimat itu di telinganya.
Dia tak lagi menahan suara tangisnya, Tiysa betul-betul melepaskan semuanya didalam pelukan Tristan.
"Dulu kamu kembali setelah 5 bulan, dan sekarang kamu kembali setelah 5 tahun, berikutnya apakah kamu akan meninggalkanku selama 50 tahun?"
"Tristan, jika aku salah aku meminta maaf, kamu bisa marah kepadaku, kamu bisa menghukumku, tapi tolong... jangan biarkan aku tidak bisa lagi melihatmu, itu terlalu menyakitkan untukku...."
Tiysa menangis sesenggukan, suaranya yang bergetar begitu menyakitkan.
"Kumohon jangan pergi lagi...,Kumohon jangan menghilang lagi..., Tristan aku sangat mencintaimu, aku...."
"Tiysa... maafkan aku... Aku benar-benar sangat mencintaimu."
Tak ada yang bisa Tristan ucapkan, dia hanya bisa terus menyalahkan dirinya akibat keputusan egoisnya.
Bukan hanya meninggalkan Tiysa selama 5 tahun tanpa kabar, dia bahkan membuat wanita yang dia cintai menderita karena kelakuannya.
__
__ADS_1