Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 101 : Tidak Bisa Menahan Diri?


__ADS_3

Mantan karyawan Tristan langsung bisa beradaptasi dengan cepat, tanpa di arahkan mereka langsung mengetahui apa yang harus di kerjakan, melihat kinerja mereka yang sangat profesional, Tiysa akhirnya bisa berangkat ke Rusia tanpa perlu mengkhawatirkan Yono dan teman-temannya.


Jam 2 siang, Tristan dan Tiysa sudah izin kepada Yono untuk pulang lebih awal, mereka berdua akan mengemasi barang mereka yang akan mereka bawa ke Rusia.


Setelah mengabari Widy jika mereka siap untuk pergi ke Rusia, Widy langsung mengirimkan mereka dua tiket First Class tujuan Bandar Udara Internasional Domodedovo Moscow dengan menggunakan maskapai Emirates.


Mereka berdua dijadwalkan berangkat pada pukul 00.40 dan tiba pukul 14.20 dengan satu kali transit di Bandar Udara Internasional Dubai selama 4 jam.


Setelah menemani Tiysa berbelanja di salah satu mall, Tristan dan Tiysa kembali ke apartemen mereka untuk bersiap.


Beberapa jam kemudian Tristan dan Tiysa sudah berada di bandara, cuaca yang cukup dingin disertai hujan gerimis membuat Tiysa dan Tristan mengenakan jaket yang cukup tebal, satu persatu penumpang masuk ke dalam pesawat, tampak dua pramugari menyambut mereka dengan senyuman.



Saat Tiysa yang berjalan di depannya sedang di pandu oleh seorang pramugari menuju kursi mereka, pilot yang akan menerbangkan pesawat itu bersama dua awak kabin pria datang menghampiri Tristan.


Dengan sopan pilot itu berkata dalam bahasa Rusia, “Tuan Tristan Yaroslav, selamat datang di maskapai Emirates, semoga Anda menikmati perjalanan menuju Rusia menggunakan maskapai kami.”


Tristan tertawa kecil, dia dibuat kagum dengan jaringan informasi maskapai ini yang langsung bisa mengenali dirinya, sambil tersenyum Tristan menjawab mereka dengan menggunakan bahasa Rusia, “Terima kasih atas keramahan kalian, tolong rahasiakan identitasku dari wanita itu,” kata Tristan sambil menunjuk Tiysa yang berjalan di depannya.


Pilot dan kedua awak kabin pria itu tersenyum, mereka mengangguk pelan mengiyakan permintaan Tristan lalu pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


Tiysa tampak dibuat takjub, dia memandangi keindahan desain ruangan yang dia dapatkan sebagai penumpang kelas satu maskapai Emirates, setelah pramugari yang memandunya pergi dia segera mengeluarkan ponselnya dan memotret suasana di tempat itu sebagai kenang-kenangan.



Baginya ini adalah pengalaman pertama kali terbang ke luar negeri menggunakan fasilitas kelas satu, beberapa saat kemudian Tristan datang dan duduk di kursi yang berada di sebelahnya.


Setelah menunggu beberapa menit, pesawat mereka terbang meninggalkan Bandara Soekarno Hatta.



5:30 Pagi Pesawat mereka transit di bandara International Dubai, karena hanya 4 Jam Tristan dan Tiysa memutuskan istirahat di salah satu hotel untuk menunggu penerbangan selanjutnya.


Jam 10:05 Tristan dan Tiysa kembali ke pesawat, mereka lalu mengudara selama 5 jam 15 menit sampai akhirnya mereka tiba di bandara Domodedovo Moscow tepat pada pukul 14:20.


__ADS_1


“Apakah Anda Nona Tiysa?” tanya seorang pria yang sontak membuat Tiysa dan Tristan menoleh ke pria tersebut.


Ketika Tristan melihat wajah pria itu, dia lagi-lagi tersenyum karena pria itu adalah sopir yang bekerja untuk keluarga Yaroslav.


Dari cara dia menyapa Tiysa, sepertinya orang di keluarga Yaroslav sudah diberitahu jika Tristan sedang menyembunyikan identitasnya saat ini.


Tiysa sendiri tampak terkejut saat melihat seorang pria Rusia menyapanya menggunakan bahasa Indonesia yang sangat fasih.


Dia lalu menjawab pria itu, “Iya Benar, dan Anda?”


“Aku Igor, sopir yang ditugaskan oleh Nona Widy untuk menjadi sopir pribadi Anda dan Tuan...” Igor seakan tidak mengenali Tristan, dia tampak berpura-pura menanyakan nama Tristan.


“Aku Tristan,” jawab Tristan kepada Igor seolah memperkenalkan dirinya, dia benar-benar menahan tawanya saat ini.


“Oh Tuan Tristan,” kata Igor, dia lalu melanjutkan, “Sebelum aku mengantar kalian ke Hotel yang dipersiapkan Nona Widy, izinkan aku mengucapkan selamat datang ke Rusia,” kata Igor sambil menunduk dengan sopan.


“Terima kasih atas keramahan Pak Igor,” balas Tiysa.


Setelah itu Igor lalu memasukkan barang bawaan Tristan dan Tiysa ke bagasi mobil, tak berselang lama mereka meninggalkan bandara Domodedovo moscow menuju hotel yang di persiapkan untuk mereka berdua.


Sepanjang perjalanan, Tiysa berbincang-bincang dengan Igor, Tiysa juga menanyakan mengapa Igor bisa berbahasa Indonesia dengan fasih, dengan sopan Igor menjawab jika mendiang majikannya dulu adalah orang Indonesia.


Tristan sendiri lebih banyak diam, sesekali dia melirik Igor dari kaca spion tengah mobil yang mereka kendarai, dapat terlihat jelas jika Igor sudah sangat menyukai Tiysa sebagai calon istri tuan mudanya.


Beberapa saat kemudian mobil mereka tiba di depan The Ritz-Carlton Hotel, begitu masuk ke dalam Hotel, Tristan bergegas mengenakan maskernya, hal itu untuk menghindari orang-orang yang kemungkinan mengenali dirinya.


Sebelum Tristan ke Indonesia, dia sudah sering datang ke Hotel ini untuk membicarakan bisnis.


Walaupun dia sudah berusaha menyembunyikan dirinya, beberapa petinggi di hotel itu langsung mengenali Tristan dan menyapanya menggunakan bahasa Rusia, mau tidak mau Tristan terpaksa balas menyapa mereka yang juga dengan menggunakan bahasa Rusia.


Tiysa sendiri sempat dibuat kaget karena tidak menyangka jika calon suaminya itu bisa berbicara menggunakan bahasa Rusia.


Ketika beberapa petinggi hotel itu mulai bermunculan, dengan cepat Igor menghampiri mereka dan menjelaskan perihal Tristan yang sedang menyembunyikan statusnya.


Berkat itu, Tristan akhirnya bisa terlepas, dan segera menuju kamar hotel yang dipersiapkan untuk mereka berdua.


Tiysa tampak terkagum-kagum ketika memasuki Imperial suite yang dipesan Widy untuk mereka berdua, dia benar-benar sangat senang ketika melihat ruangan itu hanya memiliki satu tempat tidur King Bed size, itu artinya dia bisa tidur sambil memeluk tubuh Tristan, dan tentu saja Tristan tidak bisa menolak lagi seperti saat berada di apartemen mereka.

__ADS_1




Namun senyumannya tiba-tiba menghilang, dia dengan cepat menoleh ke Tristan dengan tatapan penuh curiga, hal itu karena dia baru saja melihat kekasihnya berbicara menggunakan bahasa Rusia.


Orang-orang yang menyambutnya tadi juga tampak seperti orang-orang penting di Hotel ini, hal itu yang membuat Tiysa semakin penasaran.


“Sayang, aku benar-benar tidak tahu, jika kamu bisa menggunakan bahasa Rusia, apakah ada penjelasan untuk itu?” Tiysa bertanya sambil menatap tajam mata Tristan, itu membuat Tristan salah tingkah.


“Itu sayang... hmm itu....” Tristan benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan Tiysa, dia terlihat bingung mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan kekasihnya.


Tiysa mendekat ke Tristan yang sedang gugup, dia terus menatap wajah Tristan sambil berkacak pinggang.


Tristan terus bergerak mundur sampai akhirnya menabrak sisi tempat tidur dan membuatnya terduduk di tempat tidur.


Tiysa sendiri terus mendekat, dia sangat penasaran dengan rahasia calon suaminya.


Dalam keadaan sedikit panik, timbul sebuah ide yang mungkin bisa membuat kekasihnya itu melupakan kejadian tadi.


Dengan cepat dia menarik tangan Tiysa dan membaringkan tubuh Tiysa di atas tempat tidur.


Tiysa sontak terkejut, ketika tubuhnya sudah terbaring diatas tempat tidur, Tristan dengan cepat memposisikan dirinya di atas Tiysa dengan kedua tangannya mengapit kepala Tiysa sambil menahan badannya.


“Ruangan ini hanya memiliki satu tempat tidur, sepertinya kita berdua harus berbagi tempat tidur selama beberapa hari ini.” Sambil mengatakan itu, Tristan tampak mendekatkan wajahnya ke wajah Tiysa.


Wajah Tiysa memerah, dia tersipu malu, jantungnya berdebar cepat, dengan gugup dia berkata, “Ma... mau bagaimana... lagi, kondisinya mengharuskan seperti... itu.”


“Benarkah... bagaimana jika aku tidak bisa menahan diriku,” bisik Tristan di telinga Tiysa. Dia mulai membuka kancing kemeja Tiysa satu persatu.


Hembusan nafas Tristan membuat bulu kuduk Tiysa merinding, dia dengan cepat merapatkan matanya sambil berkata, “Ka... mu... harus ber... tahan, tinggal beberapa bulan lagi dan kita berdua akan menikah,” kata Tiysa yang tidak menghentikan Tristan membuka kancing bajunya.


Tristan tertawa dalam hati, apa yang dikatakan kekasihnya sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang tidak menghentikan aksinya.


Bersambung...


...****************...

__ADS_1


... 😅😅😅😅...


__ADS_2