Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 112 : Tiysa kembali ke Indonesia tanpa Tristan


__ADS_3

Damar baru saja tiba di kediaman Ayahnya di kota Bogor, Bimo dan Kirana yang sudah diberitahu sebelumnya sudah menunggu kedatangan Damar.


Setelah saling menyapa, Damar mengeluarkan dua undangan yang tadi diberikan oleh Cakra. Dia lalu memberikan undangan itu kepada Bisma dan juga Bimo.


“Sepertinya Purwadi ingin mempermalukan kita semua, dia bahkan menyuruh semua pemilik saham agar datang bersama keluarganya dengan alasan menyambut pimpinan baru Tirta Baskara Group,” kata Damar sambil mendengus kesal.


Bisma dan Bimo yang baru selesai membaca undangan itu tampak menghela nafas mereka, Mereka berdua langsung setuju dengan perkataan Damar setelah membaca undangan itu.


“Sepertinya memang itulah tujuan Purwadi,” balas Bisma.


Kirana merangkul tangan suaminya, dia menjadi cemas karena tahu jika Purwadi sangat membenci Bimo dan juga Bisma.


“Apakah kita harus menuruti perintahnya?” tanya Kirana.


Bimo mengusap wajahnya lalu menoleh ke istrinya, “Iya sayang, kita harus hadir, aku tidak mau keluarga Paman Hartono menghadapi Purwadi seorang diri di acara itu,” kata Bimo dengan suara pelan.


Bisma mengangguk setuju, Hartono sudah sering membantu mereka, setidaknya mereka ingin meringankan beban keluarga Prabaswara di acara itu.


Mereka siap menerima penghinaan dari Purwadi agar keluarga Prabaswara tidak menjadi satu-satunya tempat Purwadi melampiaskan amarahnya di acara penyambutan pemimpin baru Tirta Baskara Group nanti.


“Mau bagaimana lagi? Mari kita hadapi Purwadi bersama-sama,” kata Bisma sambil menepuk halus pundak Bimo.


“Bagaimana dengan Tiysa, bukankah dia saat ini berada di Rusia bersama Tristan?” tanya Damar.


Sebelum ke Rusia, Tristan dan Tiysa tidak lupa mengabari orang tua Tiysa dan juga Damar, karena itulah Damar juga mengetahui jika Tiysa sedang berada di Rusia bersama Tristan.


“Aku akan mengabari Tiysa dan memintanya untuk pulang, jika aku jelaskan bahwa ini untuk membantu keluarga Prabaswara, aku yakin Tiysa akan mengerti,” jawab Kirana.


Damar mengangguk pelan, dia sudah mengetahui watak Tiysa dan Tristan, Damar yakin mereka berdua akan mengerti dengan situasi sekarang ini.


Mereka berempat lalu terlibat diskusi yang cukup serius menyangkut identitas Austin yang merupakan pemilik Moneyra Global Trade.


...****************...


Yono beserta istri dan anaknya baru saja tiba di Rusia, kedatangannya bertujuan untuk meresmikan statusnya sebagai anggota keluarga Yaroslav, sewaktu di Indonesia, Haris sudah memberitahu tentang status Tiysa yang diangkat menjadi cucu oleh Vladimir, hal itu membuat Yono dan Istrinya benar-benar merasa sangat bahagia.


Tiysa yang kembali terkejut terus bertanya ke Yono, salah satu yang Tiysa tanyakan adalah mengapa Yono bisa bekerja di bawah keluarga Yaroslav.


Haris yang sudah bisa menebak jika Tiysa akan bertanya seperti itu, sudah memberi Yono saran bagaimana harus menjawab pertanyaan Tiysa.


Dengan lembut Yono berkata, “Tuan Muda Gino yang membantuku bergabung dengan keluarga Yaroslav ketika dia berada di Indonesia, dia mungkin membantuku karena aku selalu bersikap baik kepadamu.”


Tiysa menganggukkan kepalanya, penjelasan Yono langsung bisa menjawab pertanyaannya, dia hanya tidak menyangka jika selama ini Yono ternyata sudah mengenal Gino.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan Tristan? Bukankah awalnya terjadi kesalahpahaman antara Pak Yono dan Tristan? Mengapa kalian berdua sekarang terlihat akrab?” tanya Tiysa. Awalnya dia tidak pernah berpikir untuk menanyakan ini kepada Yono, namun setelah dia mengalami berbagai hal di Rusia, pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalanya.


Yono dan Adelia saling menatap, Haris tidak memberitahunya bagaimana harus menjawab pertanyaan ini, dia bisa saja mengarang cerita lain, tapi dia takut ceritanya akan menyebabkan Tiysa menjadi curiga tentang status Tristan yang saat ini dirahasiakan.


Tristan yang sedang menggendong Trisha juga bisa mendengar pertanyaan yang dilontarkan Tiysa kepada Yono, karena Yono terlihat kesulitan menjawab pertanyaan Tiysa, dia pun memutuskan untuk membantu Yono menjawab pertanyaan itu.


“Aku dikenalkan oleh Gino, saat itu aku baru tahu jika Yono ternyata sudah bergabung dengan keluarga Yaroslav, Gino jugalah yang memintaku untuk bekerja membantu Yono di Trisha Motor,” jawab Tristan.


“Oh....” Tiysa kembali menganggukkan kepalanya.


Saat Tiysa kembali ingin bertanya, Tristan segera mengambil alih pembicaraan, dia berkata, “Tiysa, aku yakin Kakek Vladimir sedang menunggu Yono dan Kak Adelia, tidak baik membuat Kakek Vladimir menunggu, sebaiknya kita mengantar mereka berdua dulu untuk bertemu Kakek Vladimir.”


Tiysa akhirnya sadar jika dia telah membuat Vladimir menunggu dia pun segera meminta maaf atas kelakukannya, “Ah... maafkan aku, aku benar-benar lupa tentang hal itu,” balas Tiysa.


Mereka berdua lalu mengantar Yono dan Adelia menemui Vladimir di ruangan tempat Vladimir biasanya menerima tamu.


Vladimir yang telah menunggu di ruangannya langsung menyambut Yono dan Adelia dengan senyuman hangat begitu mereka berdua masuk ke ruangan Vladimir.


Tristan yang sedang menggendong Trisha juga memperkenalkan peri kecil itu ke Vladimir, tanpa sungkan Trisha yang lucu langsung memanggil Vladimir dengan sebutan Kakek, Trisha pun terus bersorak gembira.


“Aku akhirnya punya Kakek,” seru Trisha sambil memeluk Vladimir yang menggendongnya.


Yono dan Adelia sangat terkejut, mereka tahu jika status Vladimir sangat berbeda dengan Tristan, ketika Yono dan Adelia ingin mengambil Trisha, Vladimir dengan senyum lembut berkata, “Tidak usah, aku tidak keberatan di panggil Kakek oleh peri lucu seperti ini.”


“Aku benar-benar beruntung karena bisa menjadi anggota dari keluarga ini,” Kata Yono dengan suara pelan kepada Adelia.


Adelia mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca melihat putri kecilnya yang tampak sangat bahagia bersama Vladimir.


Saat semua mata mereka tertuju kepada Trisha, tiba-tiba ponsel Tiysa berdering, diapun segera meminta izin untuk menjawab panggilan itu.


“Dari Ibu?” tanya Tristan begitu melihat panggilan masuk di layar ponsel Tiysa.


Tiysa yang memperlihatkan layar ponselnya ke Tristan langsung mengangguk pelan, ditemani Tristan, Tiysa meninggalkan ruang kerja Vladimir untuk menjawab panggilan telepon ibunya.


“Halo Ibu,” jawab Tiysa.


Tristan berjalan sedikit menjauh dari Tiysa, dia lalu duduk di sofa sambil memandangi Tiysa yang sedang berbicara dengan Kirana melalui sambungan telepon.


“Bagaimana bisa seperti itu?” tanya Tiysa dengan ekspresi panik, Kirana baru saja memberitahunya tentang keadaan di Tirta Baskara Group dan tentang acara penyambutan untuk Austin, dimana anggota keluarga pemilik saham di minta untuk hadir di acara itu.


“Jadi Nak, apakah kamu bisa datang ke acara itu?” tanya Kirana.


“Tentu saja Ibu, aku juga akan membantu keluarga Kakek Hartono, besok pagi aku kembali ke Indonesia,” tegas Tiysa.

__ADS_1


“Terima kasih ‘Nak, aku benar-benar beruntung memiliki putri pengertian sepertimu,” kata Kirana.


Tak berselang lama setelah Tiysa mengakhiri pembicaraannya dengan Kirana, dia pergi menuju Tristan yang sedang duduk santai di Sofa.


“Tristan, aku sepertinya harus kembali ke Indonesia,” kata Tiysa lirih, dia lalu menjelaskan kepada Tristan, inti dari percakapannya dengan ibunya.


“Bagaimana denganmu?” tanya Tiysa kepada Tristan.


“Aku tidak bisa pulang bersamamu, aku akan ke Amerika bersama Yono untuk membahas kerja sama dengan salah satu produsen mobil mewah di sana,” jawab Tristan.


Tiysa menunduk lesu, hal itu membuat Tristan sedikit merasa bersalah, alasan yang baru saja dia ucapkan tentu saja adalah alasan yang sudah Haris persiapkan untuknya.


Vladimir dan Haris meminta Tristan untuk tetap berada di Rusia sampai keluarga Yaroslav menyingkirkan semua orang yang sudah mengganggu keluarga Prabaswara di Indonesia.


Selama operasi penumpasan ikan teri di jalankan, Tristan dan Tiysa rencananya akan menghabiskan waktunya bersama di Rusia.


Karena Kirana tiba-tiba memintanya pulang ke Indonesia, hal itu membuat Tristan dan Tiysa harus berpisah lagi untuk sementara waktu.


“Hah... mau bagaimana lagi, urusan keluarga Prabaswara tidak ada sangkut pautnya denganmu,” keluh Tiysa sambil menunduk lemas.


Tristan tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya tersenyum sambil mengelus kepala Tiysa yang terlihat lesu karena permasalahan di Indonesia.


“Perjalanan pulangku ke Indonesia pasti akan sangat tidak menyenangkan tanpa dirimu,” kata Tiysa manja.


“Bagaimana jika aku yang mengantar Kak Tiysa ke Indonesia?” tanya Sofia yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


Tristan dan Tiysa sontak menoleh ke Sofia.



“Mengantarku? Apakah kamu juga berencana ke Indonesia?” tanya Tiysa.


“Bukan ke Indonesia, aku berencana bertemu dengan beberapa bawahan keluarga Yaroslav yang menjalankan bisnis di Singapura, karena jaraknya cukup dekat, aku rasa aku bisa mengantar Kak Tiysa ke Indonesia terlebih dahulu,” jawab Sofia.


Tiysa bernafas lega, dia akan sangat kesepian jika harus pulang ke Indonesia seorang diri, dengan Sofia bersamanya, dia tentu tidak akan bosan selama di perjalanan.


Tiysa memeluk Sofia, sambil tersenyum lembut dia berkata, “Terima kasih sayang, kamu benar-benar adik yang terbaik.”


Tristan ikut tersenyum, dia bersyukur karena Sofia mau menemani Tiysa ke Indonesia, dia tentu akan merasa tenang dengan adanya Sofia di sisi Tiysa.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2