Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 45 : Acara perpisahan Tristan


__ADS_3

Tristan mengendarai mobilnya menuju tempat Tiysa berada, dia ingin menjelaskan kesalahpahaman ini kepada Tiysa, berkali-kali dia terlihat mengumpat dirinya sendiri, dia menyesali kebodohannya yang tidak memberi tahu Tiysa tentang masalah pertunangannya sewaktu menginap di rumah Tiysa.


Bzzt... Bzzt...


Ponsel Tristan bergetar, nama Haris muncul dilayar ponsel Tristan.


“Tuan Muda, aku baru saja menerima telepon dari Kakek Anda di Rusia.”


“Kakek?” batin Tristan, dia lalu menepikan mobilnya, “Apa pesan dari Kakek?” tanya Tristan penasaran.


“Sudah waktunya Anda menjalani pelatihan bersama keluarga anda.”


Tristan mengusap wajahnya, dia tahu suatu saat dia harus menjalani pelatihan keluarganya, dia tidak menyangka jika waktu datangnya di saat yang kurang tepat seperti ini.


“Apakah tidak bisa ditunda lagi?” tanya Tristan berharap.


“Iya Tuan Muda,” jawab Haris singkat.


“Baiklah... Aku akan berangkat Jam 10 besok pagi.” Dengan berat hati Tristan terpaksa menerima perintah dari keluarganya.


“Siap Tuan Muda,” jawab Haris mengakhiri panggilan teleponnya.


Tristan terpaksa membatalkan niatnya menuju ke tempat Tiysa, dia memutar balik mobilnya dan langsung pergi ke kediaman Prabaswara untuk berpamitan kepada keluarga besar ibunya.


__


Gina masih berada di tempat Tiysa, dia kembali harus izin jika dia dan Tiysa tidak masuk kantor hari ini, kondisi Tiysa masih sangat mengkhawatirkan, dia tidak bisa meninggalkan Tiysa seorang diri.


“Kak Tiysa, makanlah dulu,” kata Gina sambil mencoba menyuapi Tiysa yang tidak mau membuka mulutnya.


Tiysa menolak dengan menggelengkan kepalanya.


“Apakah Kak Tiysa membenci Tristan karena sudah berbohong?” tanya Gina.


Tisya menggelengkan kepalanya.


“Berarti Kak Tiysa masih mencintai Tristan?”


Tiysa mengangguk pelan, air matanya kembali menetes.


Gina mengusap airmata Tiysa, dia membelai rambut Tiysa dan berkata.


“Menurut Kak Tiysa, apakah Tristan akan senang jika melihat Kak Tiysa sakit?” tanya Gina berusaha membujuk Tiysa.

__ADS_1


Tiysa kembali menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu Kak Tiysa harus makan,” kata Gina kembali merayu Tiysa.


Tiysa mengangguk pelan, dia mengikuti perkataan Gina.


Sambil menyuapi Tiysa, Gina memandangi Tiysa yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri, mata Tiysa terlihat sembab karena terus menangis semalaman, bahkan setelah beberapa jam berlalu dia akan tiba-tiba menangis jika mengingat momen indah bersama Tristan. Namun anehnya, Tiysa tidak membenci Tristan sama sekali, dia mempercayai jika Tristan memiliki alasan tersendiri sehingga dia harus menyembunyikan statusnya dari Tiysa.


Apa yang membuatnya menangis bukan karena Tristan berbohong, tapi karena dia harus melepaskan Tristan kepada orang lain. Hati Tiysa tidak kuat untuk menerima keadaan itu, namun sebagai sesama wanita, dia tidak mau menyakiti Gea, dia juga sadar jika dirinya berada di posisi yang salah karena sudah merebut tunangan orang lain.


__


Waktu menunjukkan pukul 20:11, setelah meminta izin kepada keluarga ibunya, Tristan langsung kembali menuju ke kantornya, dia telah berjanji untuk membuat acara perpisahan dengan semua karyawannya.


Raut wajah sedih tampak memenuhi wajah bawahan Tristan, mereka baru saja diberitahu jika Tristan akan mengundurkan diri, dan malam ini akan menjadi hari terakhir mereka bersama Tristan.


Satu persatu karyawan Tristan maju dan memeluk Tristan, mereka mengucapkan terima kasih kepada Tristan yang sudah banyak membantu mereka.


Beberapa karyawan wanita sudah tidak bisa membendung airmata mereka ketika memeluk Tristan, kehilangan sosok pemimpin yang baik dan selalu melindungi bawahannya, menjadi pukulan yang sangat berat bagi mereka.


“Aku yakin kalian akan mendapatkan pemimpin yang lebih baik dari pada aku,” kata Tristan berusaha menghibur karyawannya.


“Dan aku juga menyampaikan rasa terima kasihku kepada kalian, selama 6 bulan ini kalian begitu sabar mendengar dan mengikuti semua ucapanku,” ucap Tristan seraya membungkukkan badannya memberi penghormatan kepada seluruh bawahannya.


“Pak Tristan, kami tidak pantas di hormati seperti itu,” ucap salah satu bawahan Tristan yang ikut memegang bahu Tristan.


Tristan tersenyum, dia lalu berkata. “Aku yang paling muda di tempat ini, apakah salah jika aku memberikan penghormatan kepada para seniorku untuk yang terakhir kali?”


Kata-kata dari Tristan sontak membuat seluruh karyawan meneteskan airmata, ucapan Tristan terasa seperti seorang adik bungsu yang berterima kasih kepada kakak-kakaknya karena telah merawatnya selama beberapa bulan ini.


“Sudah... sudah... ayo kita lanjutkan acara makan-makannya, ini hari terakhir kita bersama Tristan, mari kita buat kenangan perpisahan ini dipenuhi canda tawa dan bukan airmata,” kata Dian sembari menyeka airmatanya.


Semua karyawan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dian.


“Dian... tunggu...,” ucap Cindy sambil mengernyitkan dahinya.


“Tristan? Mengapa kamu menyebut nama Pak Tristan tanpa menyematkan kata ‘Pak’ di depannya?” tanya Dian keheranan.


Semua karyawan lain juga baru menyadari apa yang dikatakan Cindy


Dian tersenyum, dia lalu menghampiri Tristan dan langsung mencium pipi Tristan.


Cup!

__ADS_1


Semua karyawan di tempat itu semakin kaget melihat tingkah Dian.


“Bukankah seperti itu panggilan seorang Kakak kepada adiknya sendiri? Lagian Tristan juga sudah mengundurkan diri, aku hanya bersikap seperti seorang Kakak kepada adik kecilnya yang lucu,” kata Dian sembari mengedipkan matanya ke Tristan. Dia baru saja mengambil kesempatan dalam kesempitan.


“Adikku!” Cindy berseru sambil memonyongkan bibirnya seperti ikan mujair. Dia juga ingin mencium pipi Tristan.


Karyawan pria tidak mau kalah, mereka juga ikut berakting seperti seorang kakak yang sedang melindungi adiknya dari serangan musuh, beberapa karyawan Pria langsung mengelilingi Tristan dan menghalau Cindy.


Karyawan lain tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka, berkat Dian, suasana yang tadinya sedih kini menjadi lebih ceria.


Diiringi permainan gitar dari satpam kantor Tristan, beberapa karyawan wanita menyanyi dengan gembira, tak mau kalah, karyawan pria terlihat berjoget dan bertingkah seolah sedang menyawer biduan dangdut antar kota. Di taman kantor Tristan malam itu, suasana ceria begitu terasa.


“Tristan bagaimana dengan Tiysa? Apakah kalian sudah menyelesaikan kesalahpahaman akibat ulah Gea?” tanya Dian.


Tristan menggelengkan kepalanya, “Tidak, mungkin ini yang terbaik untuknya,” jawab Tristan sambil menghela nafasnya.


“Besok aku akan pergi ke tempat Kakekku di luar negeri, dan aku tidak bisa memastikan jika aku bisa kembali ke Indonesia atau tidak.”


Dian bisa merasakan kesedihan dibalik kata-kata Tristan, sangat berbeda ketika dia bermasalah dengan Gea.


“Apakah kamu sangat mencintai gadis itu?” tanya Dian sembari memandangi wajah Tristan.


Tristan tersenyum, dia menatap ke langit malam dan berkata. “Bertemu dengannya seperti sebuah keajaiban, hari-hariku terasa lebih berwarna dengan kehadiran Tiysa, dia bukanlah gadis yang sempurna dan memiliki banyak kekurangan, namun entah mengapa, kekurangan itulah yang membuatku semakin mencintainya.”


Dian tersenyum mendengar kata-kata Tristan, tidak ada kebohongan dari setiap kata yang dia lontarkan, itu terdengar begitu tulus.


“Hah... aku tidak mengerti mengapa aku tiba-tiba menjadi puitis, ini tidak-”


Tiba-tiba airmata menetes membasahi pipinya, itu terjadi di luar kehendak Tristan, seakan airmatanya memiliki kesadaran sendiri.


Tristan menyeka airmatanya, lalu melihat telapak tangan yang dia gunakan untuk menyeka pipinya, dia terdiam


“Aku... tidak-” ucap Tristan yang tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Dian meletakkan telapak tangannya di punggung Tristan dan mulai menepuk-nepuk secara halus punggung Tristan. Dari airmata yang menetes dengan sendirinya sudah cukup menjadi bukti jika Tristan sangat mencintai Tiysa.


Tristan menunduk, “Hah... aku benar-benar sangat mencintai gadis itu.”


“Tristan apakah kamu bisa bermain gitar?” tanya Cindy yang tiba-tiba datang sambil memegang sebuah gitar di tangannya.


Tristan tersenyum dan mengangguk. Dia mengambil Gitar di tangan Cindy dan mulai memainkan lagu, semua karyawan duduk melingkari Tristan, semua mata mereka tertuju kepada Tristan yang sedang menyanyi sambil memainkan gitar di tangannya.


Dian sontak kaget ketika mendengar lagu yang dimainkan Tristan, dengan cepat dia mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam Tristan.

__ADS_1


__ADS_2