Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 115 : Bawahan keluarga Yaroslav di Indonesia


__ADS_3

“Ayah!” teriak Tiysa, saat melihat salah satu pengawal Purwadi melayangkan tinjunya ke arah Bimo.


Bukk!


Pengawal pribadi Purwadi terpental ke belakang, tepat sebelum pukulannya menyentuh Bimo, petugas keamanan Hotel itu dengan cepat memukuli pengawal Purwadi terlebih dahulu.


Purwadi dan para pengawalnya tercengang, dua orang pria berbadan kekar, tiba-tiba berdiri di depan meja Bimo dan yang lainnya.


Tiysa dan Kirana langsung memeluk Bimo, sementara Damar yang tidak terima terus mengumpat Purwadi yang sudah melewati batas.


“Purwadi Berengsek! Beraninya kamu!” Damar yang sudah naik pitam melangkah ke tempat Purwadi yang sedang berlindung di belakang pengawalnya.


“Tuan, tenanglah....” kata petugas keamanan hotel yang baru saja memukuli pengawal Purwadi. Dengan lembut dia menarik tangan Damar yang sudah terlihat sangat emosi.


Bisma juga ikut menahan Damar, dia berkata, “Mereka telah melindungi Bimo, sebaiknya kamu dengarkan kata-kata mereka.”


Damar mengangguk pelan, dia kembali ke kursinya, dapat terlihat jelas, wajahnya masih tampak emosi karena tindakan pengawal Purwadi yang tadi hendak menyerang Bimo.


Suasana Aula menjadi tegang, para tamu yang hampir semuanya berada di kubu Purwadi tampak bertanya-tanya mengapa petugas keamanan hotel ini melindungi Bimo dari Purwadi.


“Mengapa kalian memukuli pengawalku?” tanya Purwadi.


“Itu karena pengawal Anda mencoba menyerang Tuan di belakangku,” jawab petugas keamanan itu tenang.


“Kalian hanya petugas keamanan hotel ini, kalian tidak berhak mencampuri urusan kami, aku akan mengajukan komplain ke manajemen Hotel ini!” bentak Purwadi.


“Silakan saja Tuan, kami tidak masalah dengan itu,” jawab petugas itu, mereka berdua tampak tidak bergeming dan tetap tenang walaupun mendapat ancaman dari Purwadi.


Para pengawal yang berada di dekat Purwadi mulai merasa cemas, mereka tidak ingin mencari masalah dengan petugas keamanan Golden Luxury Hotel yang diisukan sangat terampil dalam bela diri.


“Tuan Purwadi, sebaiknya kita mundur saja, tidak ada hal baik yang akan terjadi jika kita bermasalah dengan petugas keamanan hotel ini,” kata salah satu pengawal Purwadi.


Namun Purwadi yang sudah terlanjur terbakar emosi tidak mendengar kata-kata pengawalnya, harga dirinya terluka, dia tidak mau terlihat memalukan di depan para tamu yang hadir di tempat itu.


“Apakah kalian berdua tidak mengenal siapa aku, Aku-“ belum sempat Purwadi menyelesaikan perkataannya.


Tiba-tiba seorang Pria dengan setelan Jas mewah muncul.


“Purwadi dari keluarga Kuncoro, aku tahu siapa kamu,” kata Adrian Presiden Direktur dari Golden Luxury Hotel.


Beberapa petugas keamanan berbadan kekar tampak mengikuti Adrian di belakangnya, melihat itu nyali para pengawal Purwadi langsung ciut.

__ADS_1


“Adrian?” kata Purwadi terperangah, dia juga sudah mengetahui sosok Adrian walaupun tidak pernah berkenalan langsung dengannya.


“Jika kamu tahu siapa aku, bisakah kamu kembali ke tempatmu dan tidak membuat keributan disini,” kata Adrian.


“Maaf pak Adrian, ini masalah internal Tirta Baskara Group, jadi....”


“Purwadi, apakah kamu tidak mendengar kata-kataku, apakah keluarga Kuncoro ingin mencari masalah dengan hotel kami?” potong Adrian yang tidak memberikan kesempatan Purwadi menyelesaikan kalimatnya.


Purwadi kembali terkejut, dia tidak mengerti mengapa Adrian tiba-tiba menjadi marah dan terlihat ingin memantik api permasalahan antara Golden Luxury Hotel dan keluarga Kuncoro miliknya.


“Bahkan jika Austin tiba, dia tidak akan membantah apa yang aku katakan,” sambung Adrian sambil menatap dingin Purwadi.


Purwadi menunduk, dia tahu jika Golden Luxury Hotel memiliki kekuatan finansial dan kekuatan jaringan bisnis jauh di atas keluarganya.


“Maafkan aku, sepertinya sudah terjadi kesalahpahaman di sini, aku akan mendengar perkataan Pak Adrian untuk tidak melanjutkan ini, sebagai permintaan maaf bagaimana jika aku mengundang Pak Adrian ke mejaku sambil menunggu kedatangan Austin,” kata Purwadi merendah.


“Tidak terima kasih, aku datang ke sini untuk bertemu seseorang,” kata Adrian tegas menolak tawaran Purwadi.


Purwadi menunduk malu, dia benar-benar merasa di permalukan di depan para tamu yang hadir, sambil menahan amarah dia pamit ke Adrian menuju mejanya di mana Gea, Istrinya, Devan dan Wiliam berada.


Setelah Purwadi kembali ke tempatnya, Adrian menoleh ke Bimo dan Kirana, dengan sopan dia membungkukkan badannya dan memperkenalkan dirinya.


“Selamat pagi Tuan Bimo dan Nyonya Kirana, izinkan aku memperkenalkan diriku, Aku Adrian Presiden Direktur dari Golden Luxury Hotel, jika berkenan bolehkah aku bergabung bersama kalian?” kata Adrian sopan.


“Pak Adrian tidak perlu begitu, aku sudah di bantu oleh Pak Adrian, silakan Pak, kami dengan senang hati menerima Pak Adrian bersama kami,” jawab Bimo dengan sopan.


Purwadi yang juga melihat itu menjadi semakin kesal, sikap Adrian sangat berbanding terbalik ketika bersama Bimo, para tamu yang hadir pun mulai berbisik satu sama lain, mereka mulai bertanya-tanya mengapa Adrian bersikap begitu sopan kepada Bimo dan Istrinya.


“Anda pasti Nona Tiysa, sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda,” kata Adrian sambil berjabat tangan dengan Tiysa.


Tiysa dan Damar saling menatap, baru saja mereka terkejut dengan sikap Adrian kepada Bimo dan Kirana, kini mereka kembali terkejut dengan sikap Adrian kepada Tiysa.


“I... Iya terima kasih, tapi aku benar-benar tidak mengerti mengapa Anda bersikap seperti ini,” ucap Tiysa yang merasa sedikit canggung.


Adrian tersenyum lembut, setelah berjabat tangan, dia mengambil kartu nama berwarna hitam di dalam sakunya, dengan kedua tangannya dia menyerahkan kartu nama itu kepada Tiysa.


Tiysa menerima kartu dari Adrian, dia terlihat terkejut lalu akhirnya tersenyum saat membaca kartu nama Adrian, dengan cepat dia memasukkan kartu nama itu ke dalam tasnya.


Nama keluarga Yaroslav tertulis di kartu nama Adrian, Tiysa akhirnya sadar jika Adrian adalah bagian dari keluarga Yaroslav. Dia sendiri tidak menyangka jika anggota keluarga Yaroslav di Indonesia sudah mengetahui statusnya.


“Terima kasih Pak Adrian, silakan duduk,” kata Tiysa sambil mempersilakan Adrian untuk duduk bersama mereka.

__ADS_1


“Maaf Nona Tiysa, aku tidak berhak duduk di kursi ini,” kata Adrian menolak dengan sopan.


“Aku akan menunggu yang lainnya tiba terlebih dahulu,” sambung Adrian melanjutkan.


“Yang lain?” tanya Tiysa.


Tepat setelah mengatakan itu, Purwadi tiba-tiba berjalan cepat menuju pintu Aula, Tiysa dan yang lainnya sontak tertuju kepada Purwadi.


“Apakah Austin sudah tiba?” tanya Bisma dengan perasaan cemas.


Beberapa saat kemudian tampak puluhan orang masuk ke dalam Aula itu. Purwadi pun dengan sopan menyapa mereka satu persatu.


“Aku tidak menyangka jika Presiden Direktur Golden Snow Hotel juga datang di acara ini,” kata Purwadi dengan sopan sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Dia baru dikabari oleh salah satu bawahannya jika puluhan orang yang terdiri dari Presiden Direktur dan CEO dari perusahaan ternama datang di tempat itu.


Dia menebak jika orang-orang itu datang untuk menyambut Austin, karena itulah dia segera menyambut mereka dengan perasaan bangga.


“Aku tidak menyangka jika pengaruh Austin sebesar ini, jika tahu seperti ini, aku tidak akan mundur saat berhadapan dengan Adrian,” batin Purwadi.


Sayangnya tidak ada satu orang pun yang menyambut tangan Purwadi untuk berjabat tangan, mereka semua berlalu tanpa menggubris Purwadi yang sedang tersenyum menyapa mereka.


“Tunggu....” kata Purwadi, namun pemandangan berikutnya membuat Purwadi semakin terperangah.


Puluhan orang itu menuju tempat Bimo dan Bisma, dengan sopan mereka berjabat tangan dengan rombongan Tiysa lalu duduk di kursi kosong yang Purwadi persiapkan dengan tujuan untuk mempermalukan Bimo dan Bisma.


“Bagaimana bisa seperti ini,” ucap Purwadi Lirih.


Dengan menunduk lesu karena menahan malu, dia berjalan kembali menuju mejanya.


Tiysa yang sudah pernah bertemu dengan orang-orang itu hanya bisa tersenyum, dia akhirnya mengetahui jika para tamu yang dulu datang di acara ulang tahun Trisha dan juga di acara opening showroom Yono ternyata adalah anggota keluarga Yaroslav di Indonesia.


Di bantu Adrian, Tiysa lalu memperkenalkan mereka kepada Damar, Bisma dan juga kedua orang tuanya, setelah itu Tiysa di bantu Adrian dan Damar mengantar orang-orang itu untuk mengisi meja kosong di sisi kiri aula itu.


“Tiysa, bagaimana kamu bisa mengenal mereka?” tanya Bimo, dari apa yang dia lihat, Tiysa terlihat sangat akrab dengan orang-orang yang baru saja datang.


Kirana, Damar dan Bisma juga merasakan hal yang sama, mereka juga menunggu jawaban dari pertanyaan Bimo.


“Mereka adalah kenalan dari Pak Yono, aku sudah beberapa kali berjumpa dengan mereka, karena itulah aku bisa akrab dengan mereka,” jawab Tiysa sambil tersenyum.


Dia tidak menyebutkan tentang keluarga Yaroslav, menurutnya, belum saatnya bagi keluarganya untuk mengetahui tentang hal itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2