Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 105 : Sofia


__ADS_3

Suasana yang tadi terdengar ramai tiba-tiba menjadi hening, mata semua orang tertuju pada gadis cantik yang baru saja masuk, hal itu yang membuat Tiysa juga ikut menoleh.


"Hah?" Tiysa tampak sangat terkejut, dia melihat Tristan yang sedang dipeluk, pipinya dicium dan tangannya langsung di rangkul mesra oleh seorang gadis muda yang sangat cantik.



Tiysa menoleh ke Arina dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut, "Bibi itu?" tanya Tiysa.


Arina tersenyum, dia berkata, "Gadis cantik itu adalah keponakanku?"


Tiysa semakin terkejut mendengar jawaban dari Arina, dia tidak mengerti mengapa gadis itu terlihat sangat akrab dan romantis kepada Tristan.


Gino yang mengamati dari kejauhan langsung menepuk jidatnya, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Anak itu... padahal sudah aku bilang untuk menahan diri ketika bertemu dengan Kak Tristan," keluh Gino.


Haris dan Faiz tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Nona Muda mereka yang tidak bisa menahan diri, "Tuan Muda Gino, apa yang harus dilakukan sekarang? Jika dibiarkan, identitas Tuan Muda Tristan bisa terbongkar," kata Haris sambil tertawa.


"Hah... Aku tidak mengerti lagi, anak itu benar-benar mengacaukan semuanya," kata Gino yang kembali mengeluh.


"Sofia?" Tristan sangat terkejut ketika melihat adiknya tiba-tiba muncul, tanpa sadar sambil tersenyum dia mencubit pelan pipi adik kecilnya.


Mata Tiysa membelalak ketika melihat itu, dia tidak menyangka jika Tristan bersikap seperti itu kepada gadis cantik yang baru saja datang.


Tristan akhirnya sadar dia membuat kesalahan, dia benar-benar terbawa suasana dan melupakan Tiysa, namun terlambat, ketika dia menoleh ke Tiysa, dia mendapati Tiysa sedang menatapnya tajam.


"Aduh... Bagaimana aku akan menjelaskan ini kepada Tiysa," kata Tristan lemah.


"Ada apa Kakak, mengapa kamu terlihat tidak bersemangat?" tanya Sofia yang masih merangkul mesra tangan Tristan.


"Sofia, apakah kamu lupa jika aku datang bersama Tiysa?"


"Oh iya, dimana Kak Tiysa? Sudah lama aku ingin bertemu dengannya," kata Sofia bersemangat.


"Hah... Apakah kamu lupa jika aku sedang menyembunyikan identitasku? Lihatlah ke arah kananmu, Tiysa saat ini sedang memandangi kita berdua dari tempat Bibi Arina," kata Tristan sambil menunduk tak berani menatap Tiysa.


Sofia menoleh ke meja Arina, dia mendapati Tiysa yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat, dia akhirnya sadar telah berbuat kesalahan, dia baru mengingat pesan dari Gino yang memintanya untuk menahan diri.


"Aduh... Kak, bagaimana ini?" Sofia menjadi panik sendiri, dia tidak mau calon kakak iparnya salah paham.


"Sebelum itu, mungkin lebih baik kamu melepaskan tanganmu yang sedang merangkul lenganku," kata Tristan.


Dengan cepat Sofia melepas tangan Kakaknya, namun itu membuat keadaan semakin aneh, cara Sofia melepas tangan Tristan dengan terburu-buru, terlihat seperti wanita selingkuhan yang tertangkap basah merangkul mesra tangan kekasih orang lain.


"Bibi, sepertinya aku harus meninggalkan bibi sebentar, aku ada sedikit keperluan," Kata Tiysa kepada Arina.


Arina tersenyum, dia mengangguk pelan mengiyakan permintaan Tiysa.


Tiysa lalu beranjak dari duduknya, sambil menatap tajam Tristan yang menunduk tidak berdaya, dia berjalan menuju tempat Tristan dan Sofia berada.


Vladimir dan Victor yang melihat itu ikut tertawa, sambil bercanda Vladimir berkata, "Hahaha, Victor lihat itu, calon cucu mantuku berjalan seperti ingin melabrak Tristan yang ketahuan memiliki selingkuhan."


"Ayah, wanita manapun yang seusia Tiysa pasti akan salah paham jika gadis secantik Nak Sofia tiba-tiba mencium pasangannya," balas Victor sambil tertawa.


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Tiysa, melihat Tristan yang menunduk tidak berani menatapnya, membuat Tiysa semakin yakin jika terjadi sesuatu antara kekasihnya dengan gadis cantik itu.

__ADS_1


Ketika dia sedang tenggelam dengan kecemburuannya, Tiba-tiba tangan kirinya di pegang oleh seseorang, Tiysa sontak menoleh dan melihat sosok pria yang sedang memegang tangannya.


"Gino!" seru Tiysa yang sangat terkejut ketika mengetahui jika pria yang sedang memegang tangannya adalah Gino.


Gino tersenyum lembut, dia berkata, "Ayo, akan aku perkenalkan gadis cantik yang sudah mencium kekasihmu."


Tiysa yang masih kebingungan karena melihat Gino tampak mengangguk pelan, dia mengikuti Gino yang sedang menuntunnya ke tempat Tristan.


"Gino?" tanya Tristan dalam hati, dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang direncanakan adiknya kali ini.


Sedangkan Haris dan Faiz kembali tertawa, dia menantikan bagaimana Gino akan menyelesaikan masalah yang dibuat oleh Sofia.


"Tiysa, biar aku perkenalan gadis ini, dia adalah adikku yang bernama Sofia," kata Gino memperkenalkan Sofia kepada Tiysa.



"Adik?" Tiysa sedikit terkejut ketika Gino memperkenalkan Sofia sebagai adiknya.


Namun itu belum menjawab pertanyaan Tiysa tentang hubungan Sofia dan Tristan, terlebih lagi Tiysa merasa aneh dengan sikap Gino yang seolah-olah sudah mengenal Tristan.


"Kamu tenang saja, aku dan Tristan sudah saling mengenal lama, dia juga sudah menganggap Sofia sebagai adiknya sendiri, karena itulah mereka terlihat sangat akrab," kata Gino sambil menatap Tristan.


"Benar 'kan?" tanya Gino ke Tristan.


"I... Iya" jawab Tristan terbata-bata sambil tersenyum canggung.


"Itu benar, aku sudah menganggap Kak Tristan seperti Kakakku sendiri," kata Sofia menimpali.


Walaupun merasa masih ada yang aneh, Tiysa memilih untuk mempercayai pengakuan Tristan dan juga penjelasan Gino, terlebih lagi dia akhirnya bisa melihat dengan jelas jika Sofia memang masih sangat muda, sikap manja Sofia juga tidak terlihat seperti seorang kekasih kepada Tristan.


"Bagaimana kalian berdua bisa saling mengenal?" tanya Tiysa kepada Gino dan Tristan.


Secara bersamaan Gino dan Tristan menjawab pertanyaan Tiysa.


"Gino adalah teman masa kecilku."


"Tristan adalah mantan karyawan ku."


Jawaban mereka berdua yang berbeda membuat Tiysa mengernyitkan alisnya.


Para mempelai pria yang ikut menyaksikan itu terlihat cemas, mereka sedikit takut dengan jawaban Gino yang mengatakan jika Tristan adalah mantan karyawannya. Mereka takut jika Tuan Muda pertama mereka tersinggung dengan jawaban Gino yang sedikit merendahkan.


Sedangkan para mempelai wanita hanya tertawa mendengar jawaban Tristan dan Gino yang bertolak belakang, mereka menganggap jika kedua Tuan muda ini sangat lucu.


"Hah... Jadi yang mana yang benar?" tanya Tiysa sambil menepuk jidatnya.


Tristan menatap tajam ke Gino, yang membuat para mempelai pria semakin merasa cemas.


"Dia teman masa kecilku, dan pernah bekerja di perusahaanku, kamu lihat sendiri 'kan kondisi keluargaku?" jawab Gino dengan penuh percaya diri.


Tiysa mengangguk pelan, Arina yang merupakan anggota keluarga kaya pemilik mansion mewah ini tadi sempat mengatakan jika Sofia adalah keponakannya, itu artinya Gino yang adalah Kakak Sofia juga merupakan bagian keluarga ini.


Tiysa menoleh ke Tristan, dia menunggu jawaban dari Tristan.


"Hah... Itu seperti yang dikatakan bocah ini, dia adalah teman masa kecilku dan juga mantan bos," keluh Tristan dengan tidak bersemangat, dia memilih mengikuti perkataan Gino agar Tiysa tidak semakin curiga.

__ADS_1


"Bocah?" Walaupun Tiysa sedikit terkejut dengan cara Tristan memanggil Gino, tapi itu juga semakin membuatnya yakin jika hubungan Tristan dan Gino memang dekat.


Tiysa kembali mengingat sesuatu yang penting, dengan panik Tiysa menarik tangan Gino menjauh dari Tristan dan Sofia.


"Ikut aku," perintah Tiysa.


Gino menurut, setelah berada beberapa meter dari Tristan, dengan wajah serius Tiysa bertanya ke Gino.


"Gino, jika kamu sudah mengenal Tristan sejak lama, mengapa waktu itu kamu ingin menjadikan aku pacarmu?" kata Tiysa sambil berbisik kepada Gino.


Gino tersenyum lembut, dia juga sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini, "Waktu itu aku mendengar kabar jika Tristan menghilang, aku juga tidak mengetahui keberadaannya, namun aku mendapat informasi jika dia memiliki seorang kekasih, karena itulah aku ke Indonesia untuk menemuimu, dia pernah berpesan kepadaku, jika terjadi sesuatu yang buruk kepadanya, dia memintaku untuk menjagamu, namun karena aku mengetahui jika Tristan baik-baik saja, aku langsung pergi meninggalkan Indonesia setelah berpamitan dengan dia," terang Gino.


"Jadi Tristan sudah mengetahui hal ini?" tanya Tiysa.


Gino mengangguk pelan, "Iya, nanti kamu bisa mengkonfirmasi hal ini ke Tristan," jawab Gino sambil tersenyum.


"Hah... Syukurlah, aku benar-benar tidak ingin Tristan salah paham," kata Tiysa bernafas lega.


"Hei, kamu menarik aku kesini dan berbicara dengan suara berbisik, itu pasti akan membuat orang salah paham 'kan?" kata Gino menggoda Tiysa.


Tiysa dengan panik baru menyadari tindakannya, dia lalu berbalik dan kembali ke tempat Tristan berada, hal itu membuat Gino tertawa karena melihat kelakuan lucu calon kakak iparnya.


"Bagaimana? Apakah masih ada yang ingin kamu tanyakan?" Tristan tersenyum lembut, dari ekspresi wajah Tiysa, dia yakin jika Gino sudah menyelesaikan masalah yang di buat oleh Sofia.


"Iya, sekarang aku sudah mengerti," jawab Tiysa sambil tersenyum.


"Kak Tiysa, hmm... bisakah aku memelukmu?" ucap Sofia manja dengan mata berbinar-binar, hal itu membuat Tiysa tersenyum lembut, dia sedikit merasa bersalah karena sudah berfikir yang tidak-tidak kepada Sofia.


"Tentu saja sayang, maafkan aku yang sudah salah sangka kepadamu," jawab Tiysa.


"Yeay, akhirnya aku punya kakak perempuan," seru Sofia yang langsung memeluk tubuh Tiysa.


"Aku sudah sering mendengar cerita tentang kecantikan dan juga keramahan calon istri Kak Tristan dari Kak Gino, aku sangat senang karena akhirnya aku bisa bertemu denganmu," kata Sofia manja.


"Benarkah? Bisakah kamu menceritakan lebih banyak hal kepadaku?" tanya Tiysa.


"Tentu saja Kak," jawab Sofia.


Widya dan para mempelai wanita juga ikut bergabung, suara tawa para wanita cantik itu membuat para tamu yang hadir tersenyum.


"Mereka benar-benar menjadi bintang acara ini," kata Gino yang sudah berada di samping Tristan.


Tristan tersenyum, "Kamu benar-benar menyelamatkanku kali ini," kata Tristan sambil merangkul pundak Gino.


"Tetap saja, kamu benar-benar berani menyebutku sebagai mantan karyawanmu, sepertinya aku perlu kembali memberitahu kamu aturan keluarga kita." Tristan menoleh ke Gino sambil tersenyum sinis.


"Kakak, kamu tahu kan jika itu terpaksa, jika aku tidak mengatakan itu, Kak Tiysa mungkin akan curiga," ucap Gino membela diri.


Para mempelai pria yang berada bersama Tristan dan Gino tertawa, mereka tahu jika Gino hanya mengada-ada dengan alasannya.


Gino mengangkat tangannya, dia menunjukkan jempolnya ke arah Haris dan Faiz yang mengamati dari kejauhan.


Harian dan Faiz tersenyum, mereka bertepuk tangan, lagi-lagi Tuan Muda kedua mereka memang bisa diandalkan dalam keadaan mendesak seperti ini.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2