
“Putri kecil kami adalah malaikat kami, dia adalah bintang keberuntungan kami, dia bukan anak yang seperti keluargaku dan teman-temanku katakan.” Suara isak tangis Adelia memenuhi ruangan itu, dia terus memeluk dan mencium putri kecilnya.
Tristan terdiam, dia membiarkan Adelia menumpahkan semua airmatanya.
Beberapa saat kemudian Adelia sudah cukup tenang, dia mengusap airmatanya, dia juga menenangkan putrinya yang ikut menangis bersamanya.
“Maafkan aku yang sudah bersikap menyedihkan seperti ini, aku benar-benar tidak bisa menahan luapan emosiku, ini pertama kalinya aku menceritakan masalah keluargaku kepada orang lain,” kata Adelia.
Tristan sangat terkejut mendengar perkataan Adelia, “Pertama kali?”
Adelia mengangguk pelan, “Iya, aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain Yono dan Putri kecilku, aku tidak bisa terlihat menyedihkan di depan suamiku yang sedang memiliki banyak masalah, dengan begitu aku bisa meringankan beban yang di pikul suamiku.”
Tristan semakin kagum mendengar perkataan Adelia. Saat kondisi ekonomi suaminya sedang tidak baik, dia masih tetap setia, bahkan dia berusaha menjaga perasaan suaminya.
“Bagaimana dengan keluarga Yono, setahuku keluarganya juga memiliki usaha yang cukup bagus,” tanya Tristan.
“Keluarga suamiku awalnya sangat marah kepadanya, namun setelah mereka mengetahui kebenarannya, mereka tidak lagi marah dan membantu suamiku secara diam-diam, keluarga suamiku melakukan itu karena takut jika bisnis mereka yang lain akan ikut terkena serangan dari Elegantio Premium Car dan teman-temannya,” jawab Adelia.
“Hal yang membuatku terharu karena Trisha memiliki paman dari pihak keluargaku dan juga keluarga suamiku, namun tak sekalipun dia bisa berinteraksi dengan mereka, saat aku melihat Trisha yang tertawa lepas ketika berinteraksi denganmu, aku benar-benar senang, itu pertama kalinya bagi putri kami berinteraksi bersama orang yang bisa dia panggil dengan sebutan paman,” sambung Adelia sambil memeluk putrinya yang sudah berhenti menangis.
“Ah, maafkan aku, karena terlalu larut dalam ceritaku, aku bahkan belum membuatkan minuman untukmu, bisakah kamu menemani Trisha sebentar?”
“Tentu saja, aku tidak keberatan menemani putri cantik ini,” jawab Tristan sambil tersenyum.
___
Yono yang beberapa saat lalu menerima panggilan telepon dari istrinya sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, dalam hati dia terus bertanya-tanya tentang sosok pria yang sedang mencarinya.
“Teman lama?” gumamnya sambil mencoba menebak sosok pria itu.
Setelah kondisi ekonominya memburuk, teman-teman Yono yang dulu selalu memuji dan mencari muka di depannya kini menjauh dan menghindar darinya, jadi sangat aneh jika ada orang yang tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai temannya.
Beberapa saat kemudian, Yono telah tiba di depan rumahnya, begitu turun dari mobil dia bisa mendengar suara putri kecilnya sedang tertawa riang dari dalam rumahnya.
Yono bergegas masuk ke dalam rumahnya, dia dapat melihat punggung pria yang sedang menunggunya, pria itu sedang duduk dilantai membelakanginya sambil menemani putri kecilnya yang sedang asyik menggambar di selembar kertas A4.
__ADS_1
“Maaf, apakah Anda sedang mencariku?” tanya Yono yang masih belum mengenali pria itu.
Pria itu beranjak dari duduknya dan berbalik menghadap Yono, sambil tersenyum dia berkata, “Yono, bagaimana kabarmu?”
Mata Yono langsung berkaca-kaca ketika melihat Tristan, “Tu... Tuan Muda Tristan....” Yono langsung menghampiri dan memeluk tubuh Tristan.
Yono yang selalu berusaha menjaga ketenangannya ketika berada di rumah kini menangis seperti anak kecil, dia tidak bisa menahan luapan emosi yang tiba-tiba meledak ketika bertemu Tristan.
Adelia yang baru saja kembali dari dapur sambil membawa secangkir kopi, sangat terkejut ketika melihat suaminya menangis terisak sambil memeluk tubuh pria yang baru saja dia temui.
Tanpa sadar dia ikut menitikkan airmatanya, selama suaminya di terpa masalah, tak sekalipun dia melihat suaminya menangis, namun ketika bertemu pria dengan pria yang baru saja dia temui, airmata suaminya mengalir deras tak terbendung.
Adelia menyeka airmatanya, dia meletakkan secangkir kopi yang baru saja dia buat di meja, setelah itu dia menggendong Trisha menuju kamar tidurnya. Dia ingin memberikan waktu kepada suaminya untuk berbicara berdua dengan pria yang mengaku sebagai kenalan suaminya.
“Yono, terima kasih atas kerja kerasmu, kamu benar-benar menjaga janjimu kepadaku selama 5 tahun ini, aku juga meminta maaf, karena menjaga Tiysa bisnis keluargamu sampai berantakan seperti ini,” kata Tristan.
Yono melepaskan pelukannya dari Tristan, dia mengusap airmatanya, dan berkata, “Tuan Muda, masalah bisnisku bisa di bicarakan nanti, ada hal mendesak yang harus Tuan Muda lakukan terlebih dahulu,” kata Yono.
Yono lalu mengambil ponselnya dan hendak menghubungi seseorang.
“Tiysa, aku ingin mengabari Tiysa jika Tuan Muda sudah kembali ke Indonesia,” jawab Yono sambil mencari nama Tiysa di kontak ponselnya.
Selama 5 tahun terakhir, hubungan Tiysa dan Yono sudah sangat dekat, Yono benar-benar menganggap Tiysa sebagai keluarganya sendiri, selama 5 tahun ini Yono selalu memperhatikan Tiysa, dia dapat melihat jika Tiysa benar-benar terpukul atas kepergian Tristan.
Tristan kembali dikejutkan dengan reaksi Yono yang lebih mengutamakan mengabari Tiysa dari pada membahas bisnisnya yang sedang bermasalah.
“Yono kamu tidak perlu menghubungi Tiysa,” kata Tristan.
“Tapi....”
“Yono menurut kamu apa alasanku kembali ke Indonesia?” tanya Tristan.
“Tentu saja untuk bertemu Tiysa....”
“Ah,” desah Yono yang terlihat sudah menyadari maksud perkataan Tristan.
__ADS_1
“Itu artinya Tuan Muda dan Tiysa sudah bertemu, pantas saja Tiysa kemarin terlihat sangat bahagia,” kata Yono sambil tertawa.
“Aku benar-benar senang, akhirnya anak itu bisa bertemu dengan Anda, selama 5 tahun ini dia benar-benar menderita, aku yang selalu memperhatikan Tiysa ikut sedih melihat Tiysa yang seperti itu,” sambung Yono sambil menjatuhkan dirinya ke sofa.
“Kamu benar-benar sudah berubah,” balas Tristan sambil tersenyum kepada Yono.
Mendengar suara Yono tertawa, Adelia memutuskan untuk kembali ke ruang tamu, begitu keluar dari kamar, Trisha langsung berlari menuju Tristan.
“Paman!” teriak Trisha sambil tersenyum.
Tristan langsung mengangkat Trisha dengan kedua tangannya, itu membuat Trisha kembali tertawa.
Adelia duduk di samping Yono, dia dan suaminya ikut tertawa melihat putri mereka yang tampak sangat bahagia bersama Tristan.
“Aku sudah mendengar semuanya dari Kak Adelia, kata Tristan.
“Ada beberapa orang yang menganggap jika Trisha adalah anak yang kurang beruntung,” sambungnya.
Yono dan Adelia terlihat sedih saat Tristan mengatakan itu.
“Mereka semua salah, Trisha bukannya tidak beruntung, malah sebaliknya, keberuntungan Trisha terlalu banyak, itu hanya menunggu saat yang tepat hingga Trisha bisa menerima semua keberuntungannya.” Kata Tristan menjelaskan.
Yono dan Adelia saling menatap, mereka mencoba mencerna apa yang Tristan coba sampaikan kepada mereka berdua.
Tepat setelah Tristan mengatakan itu, ponsel milik Yono tiba-tiba berdering. Yono langsung mengecek ponselnya untuk melihat siapa yang sedang menghubunginya.
“Bank Dana Cempaka,” keluh Yono sambil menghela nafasnya, dia terlihat ragu untuk menjawab panggilan itu.
“Jawab saja panggilan itu, aku akan menunjukkan jika apa yang baru saja aku sampaikan tentang keberuntungan Trisha benar adanya.”
Yono mengangguk pelan, dia lalu menjawab panggilan teleponnya.
“Halo,” kata Yono menjawab panggilan teleponnya.
__
__ADS_1