Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 22 : Tristan memukul Hendra


__ADS_3

“Kamu pasti Tristan,” ucap Hendra kepada Tristan yang baru saja tiba di ruangan.


Tristan lagi-lagi terkejut ketika disapa secara tidak formal, walaupun dia masih muda, dia tetap saja seorang CEO dari perusahaan ternama, kemarin Cakra memanggil namanya dengan santai, sekarang bahkan orang dari perusahaan lain juga langsung memanggil namanya, Tristan merasa bingung dengan perlakuan yang dia dapat.


“Anda pasti Psk Hendra,” ucap Tristan dengan sopan sambil berjabat tangan dengan Hendra.


Dian sendiri tidak berbicara, dia hanya sedikit menunduk dan tersenyum untuk menyapa Hendra.


“Aku benar-benar sudah bersusah payah sehingga transaksi ini bisa berhasil.” Tanpa basa-basi Hendra mulai menyombongkan diri sambil menunjukkan map yang berisi dokumen di tangannya.


Tristan sedikit terkejut mendengar perkataan dari Hendra. Dian pun begitu, dia tidak menyangka Hendra akan mengatakan hal itu kepada Tristan.


“Tentu saja kamu pastinya sudah tahu jika pamanku adalah CEO di perusahaan kami, setiap perusahaan kami melakukan transaksi di sini, itu karena aku yang selalu berhasil meyakinkan pamanku agar transaksi itu berhasil,” ucap Hendra yang lagi-lagi menyombongkan diri.


Tristan semakin terkejut dengan perkataan Hendra, Tristan sendiri sudah melihat riwayat transaksi dengan perusahaan tempat Hendra bekerja, dan menurut Tristan itu sangat kecil, setelah CEO lama di ganti, tercatat mereka hanya melakukan transaksi untuk pembelian 2 unit.


Dan yang lebih mengejutkan karena transaksi yang bernilai 314 Milyar, Hendra juga mengaku ikut berperan sehingga itu bisa terjadi.


“Oh, Terima kasih atas bantuan pak Hendra,” ucap Tristan sambil tersenyum. Tristan akan membiarkan Hendra melawak dan mengikuti arus pembicaraan.


Dian juga ikut tersenyum mendengar ucapan Tristan, dia tahu bahwa Tristan sedang merencanakan sesuatu.


Hendra tersenyum puas mendengar jawaban Tristan. “Baguslah kalau kamu mengerti, biasanya ketika transaksi aku akan meminta fee 15 juta untuk setiap unitnya, namun kali ini aku hanya akan meminta 10 juta saja untuk setiap unitnya.”


Tristan langsung tertawa mendengar ucapan Hendra, Tristan merasa jika Hendra benar-benar memiliki bakat untuk melawak, Hendra meminta 10 juta untuk setiap unit, itu berarti dari 240 unit transaksi, Hendra akan mendapat fee sebesar 2,4 Milyar Rupiah tanpa melakukan apa pun.


“Hahaha, baiklah, aku akan memenuhi permintaan Pak Hendra,” ucap Tristan.


Dian tampak merasa keberatan dengan hal itu, tapi ketika dia hendak bicara, Tristan memberikan kode dengan tangannya dan meminta Dian untuk tetap diam.


Tentu saja Tristan tidak akan melakukan apa yang Hendra minta, setelah memproses transaksi, Tristan tidak akan mengirimkan Hendra uang yang dia minta.


“Tapi aku sedikit penasaran, apa yang membuat pak Hendra mengurangi jumlah fee yang biasa pak Hendra terima.” Tanya Tristan.


“Oh, itu karena Dian, aku dan dia sudah berteman lama.” ucap Hendra sambil menatap wajah Dian dengan tatapan mesum.


Tristan kembali merasa ada yang aneh dengan ucapan yang baru saja di lontarkan oleh Hendra.


Setelah itu Hendra memberikan dokumen yang berada di tangannya kepada Dian untuk di proses.


Ketika Dian mengambil dokumen itu, tangan Hendra berusaha mengelus tangan Dian.


Dian sendiri dengan refleks langsung menarik dokumen itu dengan cepat dari tangan Hendra, dan tentu saja Tristan dapat melihat semua itu dengan jelas.


Setelah dokumen berada di tangannya Dian mohon pamit kepada Tristan dan Hendra lalu meninggalkan ruangan.


“Apa pak Hendra mengenal Pak Cakra?” tanya Tristan.


“Tentu saja, aku dan Cakra bersahabat, aku bahkan mengenal calon mertuamu, Purwadi Kuncoro.”

__ADS_1


Mendengar jawaban Hendra, Tristan akhirnya mengerti.


Tristan lalu meminta izin kepada Hendra untuk pergi ke Toilet.


Begitu keluar dari ruangan, Tristan melihat Dian yang sedang berjalan dengan lesu sambil memegang dokumen yang baru saja diberikan oleh Hendra, di sampingnya ada Cindy yang sepertinya sedang berusaha menyemangati Dian.


Tristan menghampiri mereka berdua dan langsung menarik tangan Cindy dan Dian menuju ke ruangannya.


“Apakah Hendra sudah melakukan tindakan buruk kepada kalian?” Tristan langsung bertanya kepada Cindy dan Dian begitu mereka berada di ruangan Tristan.


Dian dan Cindy terkejut mendapat pertanyaan dari Tristan, keduanya terlihat menunduk dan tidak menjawab pertanyaan Tristan.


“Dian, boleh aku pinjam ponselmu?” tanya Tristan sambil mengulurkan tangannya kepada Dian.


Tanpa menaruh curiga Dian langsung menyerahkan ponselnya.


Begitu ponsel milik Dian berada di tangan Tristan, Tristan langsung memeriksa pesan masuk dari Hendra.


Emosi Tristan langsung naik ketika membaca pesan dari Hendra. Inti dari semua pesan yang dikirim oleh Hendra cuma satu, dia ingin meniduri Dian.


“Jika kalian mempercayaiku, aku ingin sekarang kalian jawab dengan jujur, apakah Hendra sudah sering melakukan tindakan tercela kepada kalian?” Tristan kembali bertanya kepada Dian dan Cindy dengan ekspresi wajah yang lebih serius.


Dian akhirnya menyadari mengapa Tristan meminjam ponselnya, itu karena Tristan ingin melihat riwayat percakapan dia dengan Hendra.


Karena sudah tidak bisa mengelak, Dian akhirnya mengangguk mengiyakan pertanyaan Tristan. Cindy juga ikut mengangguk setelah melihat Dian.


Dian dan Cindy kembali mengangguk.


Tristan mengembalikan ponsel Dian, setelah itu dia menuju ke pintu ruang kerjanya, namun Dian menghentikan Tristan, dari melihat ekspresi wajah Tristan, Dian tahu jika Tristan sudah emosi dan akan melakukan tindakan seperti yang dia lakukan kemarin kepada Cakra.


“Jangan pak, transaksinya ...,” ucap Dian dengan terbata-bata.


“Oh, kamu takut jika transaksinya batal gara-gara ini? Tenang saja, bahkan jika pamannya yang CEO menolak transaksi ini dilakukan, aku yakinkan kepada kalian jika transaksi tidak akan pernah batal," tegas Tristan.


Setelah mengucapkan itu, Dian akhirnya tidak menahan Tristan lagi, Dian percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Tristan.


Tristan lalu mengambil dokumen yang berada di tangan Dian, setelah itu Tristan meninggalkan Dian dan Cindy di ruangannya.


Tristan kembali ke ruangan tempat Hendra menunggu, begitu masuk Tristan langsung melempar dokumen yang berada di tangannya ke wajah Hendra.


Hendra langsung kaget dan marah, dia tidak mengerti apa yang membuat Tristan melakukan hal itu.


“Bawa dokumen ini pulang, dan minta orang lain untuk mengurus transaksi ini” ucap Tristan.


“Bocah berengsek! Apa maksudmu dengan ini?” balas Hendra yang sudah emosi.


“Kamu tidak pantas untuk mengurus transaksi ini,” ucap Tristan.


“Aku tidak pantas? Bocah! Apa kamu lupa transaksi ini berhasil karena aku, apa kamu lupa siapa pamanku, pamanku itu CE-”

__ADS_1


“CEO, kan? Berhentilah menyombongkan pamanmu, itu prestasinya dan bukan prestasimu, jadi keluar dari sini,” ucap Tristan yang langsung memotong ucapan Hendra.


“Hah! Sialan! Aku akan pastikan transaksi ini tidak akan pernah terjadi!” teriak Hendra sambil mengumpulkan dokumen yang berserakan di lantai.


Semua karyawan Tristan yang sedang bekerja tentu saja kaget mendengar teriakan dari Hendra. Mereka semua langsung menoleh ke ruangan tempat Tristan dan Hendra.


Namun Tristan tampak tenang dan menunggu Hendra meninggalkan kantornya.


“Bocah sialan, aku juga akan memberitahu Purwadi tentang hal ini!” ucap Hendra, dia terus mengumpat dan mengancam Tristan.


Tristan sendiri sudah tidak mau lagi menanggapi apa pun yang dikatakan oleh Hendra.


“Aku tidak tahu bagaimana Purwadi mendidik anjingnya yang berasal dari keluarga tidak jelas ini,” ucap Hendra sambil menunjuk wajah Tristan.


Mendengar itu, Tristan langsung menarik kerah kemeja Hendra dan langsung melayangkan tinjunya tepat di wajah Hendra.


Bukk !!


Darah langsung mengalir dari hidung Hendra, hanya dengan sekali pukul hidung Hendra langsung patah.


“Ah, kurang ajar!” Hendra memegang hidungnya yang kini terus mengeluarkan darah.


Hendra mencoba membalas, namun serangannya berhasil dihindari oleh Tristan.


Bukk !!


Sambil tetap memegang kerah baju kemeja Hendra, pukulan kedua Tristan kembali mendarat di wajah Hendra.


"Acckk!" Pekik Hendra.


Hendra hanya bisa meringis kesakitan, dia akhirnya sadar jika dia tidak memiliki peluang menang melawan Tristan.


“Ampun, ... sudah ... sudah aku akan pergi,” ucap Hendra yang meminta ampun sambil memegang hidungnya yang patah.


Tristan lalu menarik kerah baju Hendra, setelah membuka pintu, Tristan langsung melempar Hendra keluar ruangan.


Duakk !!


Tubuh Hendra terhempas ke lantai, darah yang keluar dari hidungnya terus mengalir.


Semua karyawan yang berada di tempat itu melihat kejadian ini, mereka melihat Hendra yang dengan mudah diterbangkan oleh Tristan.


Sebelum Tristan dan Dian datang, karyawan di tempat itu sudah saling bercerita tentang aksi yang dilakukan Tristan kemarin kepada Cakra.


Dan saat ini mereka bisa membuktikan omongan yang beredar dengan mata kepala mereka sendiri.


“Ah, berengsek!” teriak Hendra sambil memegang hidungnya, Hendra bangun dan langsung melarikan diri meninggalkan kantor Tristan.


Semua karyawan yang melihat itu kembali dibuat kagum, Tristan tidak hanya menghajar orang yang dekat dengan calon ayah mertuanya, kini pimpinan mereka bahkan menghajar orang dari perusahaan yang akan melakukan transaksi dengan nilai fantastis, dan semua itu Tristan lakukan karena alasan yang sama, yaitu melindungi karyawannya.

__ADS_1


__ADS_2