Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 121 : Kamu masih hidup?


__ADS_3

Tristan lalu menemui kedua orang Tiysa, dengan penuh hormat, dia membungkuk dan mencium tangan kedua orang tua Tiysa.


Setelah mengetahui jika Tristan adalah putra dari Gennady dan Liliana Bimo dan Kirana tak bisa menahan harunya, mereka berdua kembali menangis sambil memeluk Tristan yang ternyata adalah putra dari sahabat mereka berdua.


Sama seperti Tiysa, kedua orang tua Tiysa juga tidak mempermasalahkan mengapa Tristan menyembunyikan statusnya, hal itu membuat Tristan tak henti-hentinya bersyukur karena sudah dipertemukan dengan Tiysa dan kedua orang tuanya.


“Paman,” kata Bimo lembut sambil menghampiri Hartono yang sedang menatap mereka berdua sambil tersenyum.


Bimo dan Kirana lalu membungkukkan badan dan mencium tangan Hartono yang sudah mereka anggap seperti orang tua orang tua mereka sendiri.


“Sekarang kita benar-benar akan resmi menjadi keluarga,” kata Hartono lembut kepada Bimo dan Kirana.


Bimo dan Kirana mengangguk pelan, sambil tersenyum Bimo berkata, “Saat Tristan baru saja lahir, aku masih mengingat dengan jelas ketika Gennady dan Liliana berkata akan menikahkan putranya yang baru lahir dengan putri kami yang sudah berusia tiga tahun saat itu, aku tidak menyangka jika candaan Gennady waktu itu benar-benar menjadi kenyataan.”


“Di saat seperti ini aku semakin merindukan Gennady dan Liliana,” sambung Kirana sambil menetaskan airmata.


Hartono tersenyum mendengar mereka berdua, dia lalu meletakkan telapak tangannya di bahu Kirana dan Bimo.


“Itu berarti Tristan dan Tiysa sudah ditakdirkan untuk bersama-sama,” balas Hartono sambil tersenyum kepada mereka berdua.


Bimo dan Kirana lalu menghampiri Vladimir yang juga langsung tersenyum kepada mereka berdua.


“Paman....” kata Bimo lembut menyapa Vladimir.


Tanpa berkata-kata, Vladimir langsung memeluk mereka berdua, hal itu membuat Bimo dan Kirana langsung tersenyum dan membalas pelukan Vladimir.


“Paman, kamu masih sama seperti yang dulu,” ucap Kirana lembut.


Ketika Bimo dan Kirana berkuliah di Amerika, Ibu Tristan sudah mengenalkan mereka berdua kepada Vladimir.


Saat Gennady dan Liliana menikah dan juga saat Tristan baru saja lahir, Vladimir juga datang ke Indonesia dan bertemu Bimo dan Kirana.


Itu membuat Bimo dan Kirana tidak lagi merasa asing dengan Vladimir.


“Melihat kalian berdua langsung mengingatkanku kepada Gennady dan Liliana, kalian berdua tumbuh menjadi orang tua yang hebat karena berhasil mendidik Tiysa menjadi anak yang memiliki kepribadian mengagumkan,” ucap Vladimir memuji mereka berdua.

__ADS_1


Setelah Bimo dan Kirana menyapa Hartono dan Vladimir, acara pertunangan Tristan dan Tiysa dimulai.


Semua tamu berdiri dan bertepuk tangan meresmikan status mereka yang baru.


Tiysa dan kedua orang tuanya tak henti-hentinya menitikkan airmata, suasana menjadi riuh diwarnai senyuman bahagia dari seluruh anggota keluarga Yaroslav yang hadir di tempat itu.


...****************...


Purwadi, William dan Devan hanya bisa menunduk lesu, Evander dan beberapa bawahan Haris membawa mereka menuju salah satu rumah mewah di Pondok Indah.


Mereka bertiga tidak mengetahui alasan Evander membawa mereka ke kompleks ini, namun dalam hati, mereka bisa sedikit bernafas lega karena bawahan Haris tidak membawa mereka ke tempat sepi, seperti yang Devan dulu ceritakan ketika di siksa oleh Haris karena mengganggu Tiysa.


Beberapa saat kemudian mobil mereka tiba di depan sebuah rumah mewah, mereka bertiga lalu turun dan di minta masuk ke dalam rumah mewah itu.


“Ayo cepat masuk, seseorang sudah menunggu kalian di dalam,” bentak Evander sambil mendorong kepala Devan.


Mereka bertiga menuruti perintah Evander dan mempercepat langkah kaki mereka memasuki rumah mewah itu.


Setelah berada di dalam rumah mewah itu, Purwadi dan William di suruh duduk dan menunggu di sofa ruang tamu, sementara Devan di bawa ke tempat lain oleh bawahan Haris.


“Ayah....” kata Devan memanggil dengan ekspresi wajah ketakutan.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki dari lantai dua rumah itu. Begitu melihat pria yang baru saja turun dari lantai dua, wajah Purwadi dan William langsung menjadi pucat.


“Ka... kamu... bukankah kamu dan istrimu sudah meninggal,” kata Purwadi dengan suara terbata-bata.


“Purwadi, ekspresi wajahmu sangat lucu, itu mengingatkanku dengan ekspresi wajah Lingga tiga hari yang lalu,” kata Gennady sambil tertawa.


William yang juga mengenali wajah Gennady semakin ketakutan, dia kembali mengingat cerita Purwadi ketika Gennady mengamuk dan tanpa pandang bulu menghabisi orang-orang yang sudah mengganggu calon istrinya 26 tahun yang lalu.


“Kamu dan kelompokmu benar-benar tidak tahu malu, jika bukan karena permintaan istriku 26 tahun yang lalu, sudah di pastikan kamu, Lingga dan yang lainnya tidak akan berumur panjang, keluarga Prabaswara juga sudah memaafkanmu, bukannya bertobat, kamu malah ingin menyingkirkan mereka....”


“Gennady ini....”


“ssshhhh!” jawab Gennady meminta Purwadi untuk diam.

__ADS_1


“Gennady, tolong maafkan aku, aku dipaksa Lingga untuk melakukan itu, jadi....”


Bukk!


Gennady langsung menendang bagian dada Purwadi, tanpa membiarkan Purwadi menyelesaikan kalimatnya.


Ackkk! Pekik Purwadi.


“Berhentilah mengucapkan omong-kosong, apakah menurutmu aku tidak mengetahui apa saja yang sudah kamu lakukan? Kamu tidak hanya mengganggu keluarga istriku, kamu juga telah menyakiti mendiang Paman Subroto, yang lebih membuatku merasa kesal, karena kamu telah menyakiti Bimo, kirana dan juga Bisma, tiga orang yang sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri,” bentak Gennady dengan wajah yang sangat marah.


Purwadi memegang dadanya yang masih terasa sakit karena tendangan Gennady, dia tidak menyangka jika Gennady masih hidup dan mengetahui semua aksinya selama ini.


“Satu hal lagi, 26 tahun yang lalu, aku sudah mengetahui jika kamulah orang yang sudah memberitahu lokasi tempat Liliana bersembunyi kepada Lingga, aku benar-benar ingin membunuhmu saat itu, kamu beruntung karena Bisma dan Paman Subroto memintaku untuk tidak mengampuni kamu,” sambung Gennady.


...****************...


Setelah acara pertunangan Tristan dan Tiysa selesai, para tamu yang memihak Purwadi langsung pamit undur diri, mereka tahu jika keberadaan mereka di aula itu hanya akan membuat keadaan semakin buruk untuk mereka.


Ratusan tamu berbondong-bondong meninggalkan tempat itu, beberapa tamu yang berada di pihak Purwadi tampak berusaha mendekati Bisma, namun dengan sigap Luciano dan teman-temannya meminta para penjilat itu untuk meninggalkan ruangan.


“Terima kasih,” kata Bisma sambil tersenyum kepada Luciano.


Luciano menundukkan sedikit kepalanya, dengan suara lembut dia berkata, “Sama-sama Tuan.”


Aula itu sekarang hanya berisi orang-orang dari keluarga Yaroslav. Bisma ikut bergabung bersama Bimo dan Kirana di panggung, tak lupa dia memeluk Sofia dan Gino, dan memberi ucapan selamat kepada Trisan dan juga Tiysa.


“Aku benar-benar bahagia melihat kalian berdua,” kata Bisma kepada Tiysa dan Tristan.


Tristan dan Tiysa membalas pujian Bisma dengan senyuman, setelah itu mereka berdua mempersilakan Bisma bergabung bersama Bimo dan Kirana yang sedang berbincang-bincang dengan kedua Kakek mereka.


Sofia lalu menghampiri Tiysa, dengan lembut dia menarik tangan Tiysa menuju ketiga Bibi Tristan dan para tamu wanita yang hadir di tempat itu.


“Selamat Kak,” ucap Gino yang langsung memeluk tubuh Tristan.


“Ini juga berkat bantuanmu, aku dengar dari Pak Haris, kamulah orang pertama yang mengusulkan ini kepada Kakek," balas Tristan sambil membalas pelukan adiknya.

__ADS_1


Setelah melepaskan pelukannya dari Tristan, Gino dan Tristan lalu menuju Damar yang sedang berkumpul bersama Luciano dan bawahan Gino yang mengenakan setelan jas merah.


...****************...


__ADS_2