
Alhamdulillah akhirnya novel ini sampai juga di episode 100. Terima kasih kepada Reader setia yang sudah menemani author untuk terus update novel ini setiap hari.
Tanpa kalian author bukan siapa-siapa. Semoga bulan ini lencana author akan ganti menjadi gold dan level karyapun akan meningkat lebih tinggi. Sehingga semangat author untuk update semakin tinggi tentu saja. Karena pasti bonus juga makin tinggi 😂
Happy reading for all
Begitu Arjun sampai di rumah sakit. Dia merasa bahagia karena ayahnya sudah bisa duduk dan juga bercanda dengan kepala pelayan yang sejak kemarin selalu setia menunggunya.
"Arjun kau pulanglah dulu ke Indonesia dan jemputlah istrimu karena Papa ingin bertemu dengan dia!" ucap Hendra memberi perintah kepada Arjun.
"Aku mau bantu papa bukan berarti aku sudah memaafkan kesalahan Papa. Aku hanya tidak tega apabila melihat kerja keras Papa hilang sia-sia oleh manusia-manusia kurang ajar itu!" ucap Arjun masih dengan suara dingin sedingin kulkas 3 pintu.
"Ayolah Arjun! Papanya ingin bertemu dengan istrimu. Itu bukanlah sesuatu yang berat untukmu. Papa ingin bertemu dengan dia sebelum ajal menjemput papa!" ucap ayahnya Arjun memohon kepada putranya untuk membawa menantunya agar bisa bertemu dengan dirinya.
"Ayolah tuan muda Arjun! Turuti permintaan Tuan besar! Hal itu tidaklah susah sama sekali. Hanya membawa istrimu kemari dan mempertemukannya dengan beliau. Apa Anda tidak merasa kasihan pada ayahmu nyawanya mungkin tidak lebih dari satu bulan lagi!" ucap kepala pelayan tersebut dengan mata berkaca-kaca.
"Sudahlah kalian jangan bersandiwara! Saya tahu kalau Papa akan berumur panjang. Biasanya kan orang jahat itu berumur panjang Tidak mungkin orang jahat itu umurnya pendek!" ucap Arjun kemudian keluar dari ruangan itu.
Sukanta dan Firman tampak memperhatikan Arjun dari kejauhan. Mereka melihat Arjun sekarang sedang menangis terisak di depan pintu kamar perawatan ayahnya.
"Saya tahu Tuan Arjun tuh sebetulnya menyayangi Papahnya. Hanya saja dengan sifat dia yang gengsian dan juga Arogan yang selalu memperlihatkan kebencian dihadapan Tuan besar!" ucap Sukanta merasa prihatin dengan Arjun yang saat ini masih terisak dalam tangisnya.
__ADS_1
"Tuan Arjun itu orang yang baik. Walaupun tampangnya garang. Tetapi dia tidak pernah berbuat jahat kepada siapapun. Saya sangat tahu kehidupan dia di Jakarta. Karena saya sering diperintahkan oleh Tuan besar untuk memperhatikan dia dari kejauhan!" ucap Firman menimpali perkataan dari Sukanta.
"Menurutmu Tuan Arjun akan mengikuti keinginan Tuan besar atau tidak? Untuk membawa istrinya ke Amerika?" tanya Sukanta kepada Firman yang sekarang menatapnya dengan tajam.
"Melihat Tuan Arjun yang sekarang sedang menangis seperti itu. Masa kau masih bertanya sih? Saya yakin satu jam lagi, Tuan Arjun pasti langsung terbang ke Indonesia dan membawa istrinya ke sini!" ucap Firman dengan penuh rasa percaya diri.
Tetapi belum selesai Firman bicara. Arjun sudah bangkit dari duduknya dan langsung berlari menuju pintu keluar dari rumah sakit.
"Apa aku bilang? Tuh, tidak sampai saat jam pun Tuan Arjun sudah pergi ke Indonesia kan? Tuan Arjun tuh aslinya menyayangi Tuan besar hanya saja dia merasa gengsi untuk mengakuinya!" ucap Firman dengan bangga hati karena tebakannya benar.
"Alah nggak usah jumawa kamu Firman! Belum tentu juga Tuan Arjun mau pergi ke Indonesia. Siapa tahu kan kalau dia ingin pergi ke Mansion dan mau istirahat? Kau tidak lihat sekarang jam berapa? Ini waktunya orang tidur!" ucap Sukanta sambil mentoyor kepala Firman yang langsung cemberut kepadanya tidak terima.
"Jangan begitu! Kepala itu tanda kehormatan orang. kau jangan main-main dengan kepala orang!" protes Firman kepada Sukanta.
"Kan tadi mobilnya dibawa pergi sama Tuan Arjun terus kita pulang pakai apa?" tanya Firman sambil menatap tajam kepada Sukanta sahabatnya dan juga rekan kerjanya.
"Yaelah lu jadi orang ganteng-ganteng tapi bego banyak taksi di luar oon!" ucap Sukanta sambil mencibirkan bibirnya samping gemesnya terhadap temannya yang berpikir lelet itu bikin dia gemas.
"Lu betul-betul ya! Kaga ngehargain gue sebagai sahabat Lu. Tadi lu noyor kepala gue dan sekarang Lo bilangin gue oon dan bego lagi!" ucap Firman protes kepada Sukanta.
Sukanta memutar bola matanya dengan malas dan kemudian dia meninggalkan Firman seorang diri di rumah sakit. Dia sudah malas untuk berdebat dengan orang lain dan ingin segera tidur dan beristirahat.
__ADS_1
Firman langsung mengikuti Sukanta dari belakang dia tidak mau kalau harus tidur sendirian di rumah sakit sungguh sangat menyeramkan.
Apalagi kalau mengingat cerita-cerita seram seputar rumah sakit. Firman sudah merinding duluan. Oleh karena itu Firman langsung berlari dengan kencang mengikuti Sukanta takut ditinggal oleh sahabatnya.
"Sukanta! Tunggu dong. Lo seenaknya saja ninggalin gue. Dasar nggak Freind lu emang ah!" protes Firman sambil berlari mengikuti Sukanta yang tampak acuh kepada dirinya.
Begitu mendapatkan taksi. Sukanta langsung naik ke dalamnya tanpa menunggu Firman terlebih dahulu. Dia jelas-jelas jengkel kepada sahabatnya itu yang selalu saja protes dengan apapun yang dia lakukan.
"Ah nyesel gue! Kenapa juga nggak bawa mobil sendiri tadi ya? Nah kalau kayak gini kan jadi repot. Meni sudah tengah malam lagi mau dapat taksi dari mana? Aduh merinding gue naik taksi sendirian di tengah malam kayak gini. Dasar nih Sukanta memang teman yang jahat! Dasar teman durhaka memang dia nih!" sepanjang perjalanan Firman terus menggerutu. Dia merasa jengkel dengan kelakuan Sukanta yang seenak jidatnya saja meninggalkan dia sendirian di rumah sakit.
"Awas saja besok kalau ketemu di kantor!Akan kukasih pelajaran dia. Bisa-bisanya dia ninggalin gue sendirian di sini benar-benar orang jahat!" ucap Firman terus menggerutu tanpa bosan dan tanpa lelah.
Sehingga akhirnya Firman menemukan sebuah taksi yang membawa dia menuju ke apartemennya.
Begitu sampai di apartemen. Firman merasa heran. Kenapa apartemen jam segini masih sepi? Bukankah tadi Sukanta pulang duluan?
Firman kemudian mengetuk pintu kamar Sukanta barangkali saja sahabatnya itu sudah tertidur. Mengingat tadi dia mengatakan bahwa dia sudah mengantuk dan ingin tidur.
Berkali-kali Firman mengetuk pintu kamar itu tetapi tidak juga ada sahutan. Oleh karena itu Firman memberanikan diri untuk membuka pintu kamar sahabatnya.
"Kosong? Dan kasur juga masih terlihat rapi. Kamar juga tampak belum disentuh sama sekali. Ke mana laki-laki itu pulang ya? Padahal dia sudah pulang duluan sejak setengah jam yang lalu!" ucap Firman terheran-heran melihat kamar sahabatnya masih tampak bersih dan rapi seperti tak pernah disentuh oleh siapapun.
__ADS_1
"Kemana Sukanta ya? Kenapa dia belum pulang?" Firman masih penasaran dengan keberadaan sahabatnya.
"Ah lebih baik gue coba telepon saja. Siapa tahu dia mungkin sedang mencari makan malam. Bukankah tadi dia juga bilang kalau dia kelaparan?" Firman terus mensugesti dirinya sendiri tentang sahabatnya yang mungkin saja sedang mencari makan malam untuk mereka berdua.