
David memeluk kakeknya, melepas rindu karena sangat lama baru bertemu secara langsung. Walaupun setiap hari selalu berhubungan lewat telepon tetapi tetap tidak sama rasanya bila bertemu secara langsung.
"Apa kabar Grandfa? David senang sekali dengan kedatangan Grandfa," David memperkenalkan Qiara pada grandfanya.
"Ini yang namanya Qiara," Qiara tersenyum menyambut uluran tangan Grandfa nya David. Walaupun sudah berumur, tapi terlihat masih gagah dan tampan.
Sekarang Qiara tidak merasa heran lagi dengan ketampanan David, Grandfanya sungguh tampan maksimal. Wajah bulenya sungguh mempesona mata Qiara yang selama ini hanya tahu kalau Kevin adalah lelaki tertampan di dunia.
"Apa kabar Grandfa? Senang bertemu denganmu," Qiara mencium tangan beliau dengan hormat.
"Ternyata kamu lebih cantik dari pada fotomu, sayang," Granfa memeluk Qiara dengan erat. Qiara agak terkejut bahwa Grandfa David tahu dirinya.
Qiara menatap David dengan maksud bertanya, David hanya mengedikkan bahunya dan pergi duluan ke mobilnya.
"Ayo kita bergegas, waktu kita sempit untuk bertemu dengan orang tua kamu," ajak Grandfa sambil merangkul bahu Qiara dengan lembut.
Qiara cukup terharu dengan perlakuan lembut Grandfa nya David. Sekian lama dia hidup seorang diri sebagai anak yatim piatu di panti asuhan, tentu dia sangat bahagia dengan perlakuan Grandfa padanya.
Sementara itu, di kantornya Kevin
"Kemana Qiara sih? Ko di telpon dari tadi gak di angkat juga," Kevin mulai tidak tenang melakukan apapun. Tidak biasanya Qiara berprilaku begini.
Di cobanya lagi menghubungi istrinya, tapi masih sama. Dia akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen miliknya. Kwatir istrinya itu kenapa-kenapa.
"Anda mau kemana Tuan?" tanya asistennya yang terlihat atasannya berlari dengan tergesa.
__ADS_1
"Mau pulang, batalkan semua pertemuan hari ini." dengan mantap Kevin pergi dan melajukan mobilnya ke apartemen.
Saat mendapatkan apartemen kosong, hati Kevin mulai gelisah. "Apa mamah sudah tahu hubungan aku sama Qiara ya?" Kevin bermonolog sendiri sambil mencari istrinya ke semua ruangan. Tapi nihil. Kevin bergegas pergi ke rumah utama keluarganya, berharap mungkin Qiara di bawa oleh mamahnya ke sana.
"Apa mamah membawa istri Kevin?" begitu sampai David langsung mencecar mamahnya dengan pertanyaan, matanya sangat kwatir kalau istrinya di apa-apa mamahnya. Kevin sangat kenal dengan tabiat mamahnya yang kadang keterlaluan kalau tidak suka dengan seseorang.
"Istri? Kamu sudah menikah sayang? Ko kamu gak bilang sama mamah? Jahat kamu nak, mamah papah kamu masih hidup. Tapi kamu anggap kami sudah mati," Kevin jadi bingung dengan ucapan mamahnya, itu artinya mamahnya tidak tahu tentang Qiara.
Kevin membuang nafas kesal karena kehilangan ide dimana istrinya sekarang. Tanpa menjawab pertanyaan mamahnya, Kevin langsung pergi dari rumah utama, dan melakukan mobilnya. Kevin mencoba menghubungi istrinya kembali. Tetapi masih belum di angkat juga.
"Kamu kemana sayang? Kamu bikin aku cemas tahu gak sih?" Akhirnya Kevin memilih untuk kembali ke apartemennya, memutuskan untuk menunggu di sana. Berharap istrinya segera pulang.
Karena lelah menunggu akhirnya Kevin tertidur di sofa sampai tengah malam Qiara masih belum juga datang. Kevin sudah sangat frustasi menebak ke mana kira-kira istrinya.
Selama menikah Kevin memang tidak tahu apa-apa tentang istrinya. Dia hanya tahu bahwa Qiara adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan sejak dia bayi. Tidak berkerabat tidak berkawan.
Qiara sekarang di kamar hotel khusus keluarga David. Di sebelah kamar Grandfa nya David. Pertemuan dengan kedua orang tuanya masih menunggu sekitar empat jam lagi.
Sekitar satu jam lalu, David menerima panggilan dari asisten ayahnya, kalau pertemuan di undur menjadi jam 8 malam, jam makan malam. Karena tadi siang ayahnya mendapatkan tamu dari luar kota yang tidak bisa di tinggalkan.
" Kamu gak apa-apa aku tinggal sendirian di sini?" tanya David, merasa kwatir dengan Qiara.
" Gak apa-apa, kamu temani Grandfa, pasti dia sangat rindu denganmu. Aku mau tidur sebentar. Lelah sekali," David menutup pintu kamar Qiara namun dia tampak kembali lagi.
"Ada apa?" tanya Qiara heran.
__ADS_1
"Mandi dulu, seharian di luar, badan kamu pasti gerah. Itu baju gantinya di paperbag, sudah aku siapkan," Qiara merasa sangat senang dengan perhatian David kepadanya.
David sangat baik, walaupun mereka baru dua kali ini bertemu. Ada perasaan nyaman saat dekat dengan lelaki tampan itu.
"Aduh.. aku sungguh jahat, sudah punya suami masih juga kagum dengan cowok lain," Qiara merutuki hatinya yang begitu mudah terpesona dengan ketampanan David.
"Ingat suami kamu Qiara!!!" sisi lain dalam dirinya mengingatkan agar tetap waras dan sadar dengan status dirinya sebagai istri Kevin. Walaupun pernikahan mereka hanya sah di mata agama, Qiara dan Kevin menikah secara siri, karena mereka masih belum dapat restu dari orang tua Kevin yang menginginkan Kevin menikah dengan Susan, yang menurut mereka lebih cantik dan kaya daripada dirinya.
Qiara menghembuskan nafas kasar. Merasa kesal dengan perjalanan asmaranya yang berliku. Qiara memang sengaja tidak mengatakan perihal orang tuanya pada Kevin, karena dia sendiri belum siap dan belum yakin dengan nasib pernikahan dirinya dan Kevin.
Sekarang pun Qiara pergi tanpa sepengetahuan Kevin. Qiara merasa belum waktunya untuk bicara jujur tentang orang tuanya pada Kevin.
Memang terkesan jahat ya? Qiara sama suaminya sendiri ragu. Itu dapat di maklumi. Mengingat mamahnya Kevin selalu menghina dirinya. Sejauh ini Kevin selalu membela dan melindungi dirinya. Sudah sejak dua bulan lalu mereka menikah. Tetapi Kevin belum ada niat untuk mendaftarkan pernikahan mereka berdua. Hal itulah yang mengganggu perasaan Qiara sampai saat ini.
Qiara melangkah menuju ke kamar mandi dan merilekskan pikirannya dengan berendam di bathtub. Seharian berada di luar memang membuat otot-otot nya terasa kaku dan tegang.
Tadi Qiara dan David menemani Grandfa untuk keliling hotel miliknya, katanya sambil mengisi waktu sambil menunggu pertemuan dengan kedua orang tuanya yang terpaksa di undur.
Tanpa terasa Qiara malah tertidur di bathtub. Dia tidak tahu saat David masuk ke kamarnya. David yang mencari Qiara tidak ditemukan di manapun. Akhirnya mencoba mencari ke kamar mandi.
David tercekat, saat melihat Qiara yang saat ini berendam di bathtub. Untung saja busa sabun menutupi seluruh tubuhnya yang telanjang. Jadi mata David aman dari pemandangan yang haram bagi matanya itu.
"Qiara, hei... hei.. bangun!! Itu orang tua kamu sudah menunggu dari tadi," David mencoba membangunkan Qiara dengan menggoncang bahu Qiara yang terekspos, sangat putih dan mulus. Susah payah David menangkan perasaannya. Bagaimanapun dia lelaki normal. Bagaimana mungkin tidak bereaksi jika melihat pemandangan seperti itu?
Qiara yang terkejut dengan keberadaan David di sampingnya, segera meminta David keluar dari sana.
__ADS_1
"Kamu kok lancang sekali masuk ke kamar perempuan tanpa permisi huh?" Qiara protes pada David setelah menyelesaikan ritual mandinya