
Hari ini adalah pernikahan Kevin dengan Susan. Orang tuanya yang mengatur hal itu. Kevin yang pikirannya sangat kalut karena di tinggalkan pergi Qiara tanpa kabar. Akhirnya hanya bisa pasrah.
Dengan gontai dirinya melangkah ke ruang tamu. Kedua orang tuanya dan kakeknya sudah menunggu dirinya.
"Sayang, ayo kita berangkat!" ucap mamahnya yang tampak sangat bahagia. Siapa yang tidak bahagia? Anak yang dia banggakan akan menikahi Susan, yang di gadang-gadang akan mewarisi perusahaan pamannya, Andi Pratama.
Bukan rahasia umum lagi. Andi Pratama yang mempunyai banyak usaha dan bisnis. Hanya memiliki seorang istri yang sejak kecelakaan dua puluh tahun lalu, tidak bisa punya anak lagi. Anak pertama mereka dahulu meninggal saat akan di lahirkan. Semua orang sangat yakin, bahwa Susan yang akan mewarisi kekayaan sang Paman.
"Mah, aku itu sudah menikah dengan Qiara. Mamah ko jahat banget mau nikahin aku lagi sama Susan? Bagaimana nasib pernikahan aku sama Qiara?" Kevin frustasi rasanya.
"Pernikahan kamu sama Qiara hanya siri. Dia juga sudah sebulan ini menghilang. Apa itu tanda istri yang baik? Dia pasti sekarang lagi enak-enakan sama kekasih barunya." tuduh Mamahnya Kevin.
"Qiara bukan wanita seperti itu Mah! Dia istri dan wanita yang baik. Qiara meninggalkan Kevin karena marah dan kecewa sama Kevin. Yang tidak bisa kasih kejelasan masalah hubungan pernikahan kami!" hati Kevin seperti di tusuk sembilu rasanya. Bagaimana saat itu dia melihat mata Qiara yang melihatnya dengan tatapan terluka dan kecewa.
"Maafkan aku sayang. Sudah melukai hati kamu dengan kepengecutanku!" Kevin menangis sedih.
"Sudah! Gak perlu menangis lagi. Ayo cepat! Keluarga calon istri kamu pasti sudah menunggu kita!" dengan bangga mamahnya Kevin menggandeng tangan anaknya.
David yang sangat tertekan hatinya hanya bisa mengikuti mau sang mamah. Takut durhaka juga sama mamah yang sudah melahirkan dirinya.
"Mah, kita itu sudah kaya raya. Tanpa menikah dengan Susan juga, kita tidak akan jatuh miskin!" David berkata dengan sangar kepada mamahnya. Hatinya kesal bukan main. Disuruh dan di paksa menikahi wanita yang sama sekali tidak dia cintai.
"Kevin, kalau perusahaan kita dan perusahaan Pak Andi Pratama bergabung, itu berdampak bagus untuk bisnis kita." itu suara sang Kakek. Kevin tidak bisa berkutik kalau sudah Kakek yang bicara.
"Baiklah Kek!" Kevin lesu tanpa gairah.
Mereka lalu naik ke mobil dan langsung menuju gedung tempat acara pernikahan diadakan.
__ADS_1
Saat mereka tiba disana, semua tamu undangan sudah hadir. Tinggal menunggu mempelai pria untuk datang. Saat melihat Kevin datang, mereka langsung membawa Kevin ke ruang make up dan disuruh untuk perbaiki penampilan Kevin agar serasi dengan mempelai wanitanya.
"Aku senang kamu datang! Akhirnya kita menikah juga ya, Mas!" Susan tersenyum manis sekali.
"Jangan terlalu berharap dengan pernikahan ini. Kalau bukan karena Mamahku yang ancem mo bunuh diri. Aku ogah menikah sama perempuan kaya kamu! Jangan berharap untuk dapetin hati dan juga cinta Aku! Semuanya milik Qiara. Istri pertama dalam hidupku!" ucap Kevin sangar. Tidak perduli dengan ucapan Susan yang gemetar.
"Aku akan berjuang untuk dapetin hati dan cinta kamu Mas!" hati Susan auto merana sebenarnya. Tapi mau nangis dia tahan. Hanya suaranya yang gemetar tidak bisa membohongi siapapun, kalau saat ini hatinya terluka.
"Pengantin! Ayu cepat! Itu penghulunya sudah datang!" itu adalah suara Mamahnya Susan.
Kevin dan Susan keluar bersama dari ruang make up. Ketampanan Kevin memang tiada duanya. Susan yang memang cantik sekali saat ini menjadi pusat perhatian semua tamu.
Di pojokan sana, ada dua pasang mata yang menatap nanar, saat dua insan yang akan melangsungkan pernikahan itu datang dari arah pintu utama dan memasuki ruangan dengan bergandengan tangan. Orang itu adalah David dan Qiara. Mereka terpaku saat melihat dua orang yang pernah mereka cintai kini akan menikah.
"Sekarang kamu yakin bukan? Kalau aku tidak bohong! Suami kamu itu buaya! Buktinya sekarang dia mau menikah dengan Susan." David sekarang meletakkan tangannya di bahu Qiara. Berusaha memberikan kekuatan untuk wanita yang secara tidak dia sadari telah mencuri hatinya.
Qiara hanya bisa menatap nyalang pada suaminya di kejauhan sana. Sayup-sayup terdengar suara ijab Qabul yang diucapkan suaminya.
Qiara tidak mampu membendung tangisan dalam hatinya. Sedih dan sakit rasanya. Selama sebulan ini Qiara bersembunyi di sebuah apartemen yang di sediakan oleh Melinda. Mamahnya.
Niatnya adalah ingin menenangkan dirinya. Kevin yang tidak juga mau untuk mendaftarkan pernikahan mereka, sangat melukai hatinya.
Sekarang Qiara paham, kenapa Kevin selalu banyak alasan kalau diajak mendaftar pernikahan mereka. Pasti karena dia tidak benar-benar mencintai dirinya. Buktinya sekarang Kevin menikah dengan sepupunya, Susan.
"Kita pulang aja yuk, aku gak kuat lagi! Aku mohon!" ucap Qiara dengan berderai air mata. David berusaha memeluk Qiara, tapi selalu di tepis wanita yang hatinya tengah terluka.
"Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Melinda yang sudah ada di samping Qiara.
__ADS_1
"Mamah!" Qiara auto lari ke pelukan mamahnya dan menangis tersedu-sedu. Segala kepedihan dia curahkan dalam pelukan mamahnya yang tercinta.
"Kenapa kamu menangis sayang? Jangan buat mamah kwatir, sayangku!" Melinda menepuk punggung Qiara lalu memberi kode pada David, bertanya kenapa anak tersayangnya menangis.
"Dia sedih karena suaminya, Kevin menikah dengan Susan!" Melinda seketika melihat ke pelaminan. Dimana sekarang Susan dan suaminya duduk bersanding bagaikan raja dan ratu.
"Maafkan Mamah sayang, yang tidak bisa menghentikan pernikahan mereka. Papah kamu yang mengatur semua itu. Mamah belum siap untuk bercerita tentang kamu. Mamah masih kwatir kalau ada orang yang masih ingin mencelakai keluarga kita." Melinda memeluk Qiara makin erat. Menyalurkan kekuatan pada Qiara.
"Qiara mau pergi Mah! Qiara gak kuat lagi!" Qiara kembali menangis. David dan Melinda jadi bingung bagaimana menenangkan Qiara saat ini.
"David, temani Qiara untuk ke pelaminan di sana. Bagaimanapun juga Susan itu sepupu Dia, harus memberikan ucapan selamat kepada mereka!" Qiara menggeleng, menolaknya.
"Sayang, kamu harus kuat! Jangan lemah! Mamah selalu bersama dengan kamu sayang!" Melinda memeluk Qiara sekali lagi.
Dari kejauhan dia melihat suaminya mendekati mereka. Dia sudah gugup dan langsung berpamitan kepada David dan Qiara.
"Sayang, mamah pergi dulu. Papah kamu nanti curiga. David jaga Qiara!" Melinda langsung lari dengan tergesa. Qiara hanya mampu melihat papahnya dari kejauhan.
" Kamu lama sekali sayang! Ayo kita berfoto dengan pengantin. "Andi langsung menggamit tangan istrinya. Mereka berdua naik ke pelaminan dan mengucapkan selamat kepada pengantin.
" Selamat ya, semoga pernikahan kalian bahagia." Andi lalu mengajak sang istri untuk berfoto dengan pengantin.
Melinda yang dari kejauhan melihat Qiara dan David tengah berjalan ke arahnya, langsung menggamit tangan suaminya. Berusaha mencari kekuatan disana. Belum mampu bercerita kepada suaminya masalah anak yang selama dua puluh tahun dia sembunyikan.
"Kamu kenapa sayang? Wajah kamu pucat sekali!" Andi meminta agar istrinya turun dari pelaminan dan pulang saja kerumah mereka.
"Ayo sayang, kita pulang saja. Wajah kamu pucat sekali!" Melinda menatap wajah suami yang sangat dia cintai. Hatinya mulai pilu. Merasa kasihan kepada ayah dan anak itu.
__ADS_1
Mereka tidak bisa saling mengakui sebagai anak dan ayah, karena perbuatannya. Tapi setiap memikirkan kecelakaan yang terjadi dua puluh tahun lalu, hatinya kembali sakit.
Butuh waktu lebih dari satu tahun, baginya untuk kembali pulih pasca kecelakaan yang membuat dia harus memilih untuk menyembunyikan Putri yang baru saja dia lahirkan.