
Begitu sampai di rumahnya, Santi langsung masuk ke dalam kamarnya. Santi sama sekali tidak memperdulikan teriakan kedua orang tuanya yang memanggil namanya terus- menerus. Santi kini sedang menangis di ranjangnya, kembali mengingat apa yang dikatakan oleh Arjun yang telah menyakiti hatinya.
Kedua orang tua Santi terus mengetuk pintu kamar putrinya. Tetapi Santi sama sekali tidak peduli. Dia tetap saja menangis dan melemparkan semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya. Perasaannya saat ini sangat sedih dan sangat terluka dengan perlakuan Arjun yang sangat melukai harga dirinya sebagai seorang perempuan.
"Dasar, Kanebo kering! Kutub Utara! Laki-laki nggak punya perasaan! Awas saja kalau nanti kau datang padaku, aku tidak akan pernah mau mendekatimu, ataupun menemuimu. Aku tidak akan mau mengenalmu lagi. Aku tidak akan menyapamu lagi. Dasar Arjun brengsek!" Santi mengamuk dan kemudian melemparkan semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya tersebut. Sehingga membuat kedua orang tuanya pun merasa panik dan merasa khawatir dengan keadaan putrinya tersebut.
"Apa sebenarnya yang sudah terjadi dengan putrimu? Kenapa dia pulang-pulang kok malah mengamuk? Siapa tadi yang mengantarkan dia pulang?" tanya ayahnya Santi dengan perasaan geram karena tidak pernah seumur hidupnya melihat Santi semarah itu.
"Mama melihat, tadi Santi pulang dengan taksi. Entahlah, dia langsung menangis begitu turun dari mobil. Mama juga dikhawatir dengan keadaannya, Pah!" ucap Mamanya Santi berusaha untuk menggedor pintu putrinya yang kini malah berteriak-teriak sambil menangis histeris di dalam kamarnya.
"Apakah ini ada masalahnya dengan Arjun, ya? Pah, coba Papa hubungi Arjun. Siapa tahu dia yang sudah membuat Putri kita jadi menggila seperti itu!" pinta ibunya Santi kepada suaminya tetapi suaminya tersebut tampaknya merasa enggan untuk menghubungi Arjun.
Ayahnya Santi tersebut masih merasa kesal dengan perbuatan Arjun yang sangat tidak sopan pada saat dia diperkenalkan sebagai kekasihnya Santi. Arjun pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Laki-laki yang tidak punya sopan santun dan adab itu, dia sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan putri kita yang berharga. Sebanyak apapun harta yang dia miliki, tidak akan pernah bisa sepadan dengan Putri kita yang berharga!" geram ayahnya Santi dengan kelakuan Arjun yang sudah membuat Santi kalang kabut semacam itu.
"Cobalah. Papa hubungi saja, jangan sampai putrimu kenapa-napa. Mama khawatir Pah!" pinta ibunya Santi sambil memegang kedua tangan suaminya. Agar segera menghubungi Arjun. Menanyakan apa yang sedang terjadi terhadap Putri mereka berdua.
"Papa males, Mah! Berurusan dengan orang sombong seperti Arjuna itu. Pantas saja, Dia dibuang oleh keluarganya. Lihat saja sikaf yang benar-benar sangat-sangat sangat sangat sangat arogan!" tampaknya kesan ayahnya Santi terhadap Arjuna benar-benar negatif dari pertemuan pertama kali waktu diperkenalkan oleh Santi di restoran waktu itu.
__ADS_1
"Pasti ada alasannya, Pah! Kenapa Arjun bisa bersikap seperti itu. Sudahlah, Pah! Cepatlah jangan sampai membuat Putri Kita kenapa-napa. Mama khawatir!" akhirnya demi memenuhi keinginan istrinya dengan berat hati ayahnya Santi pun menghubungi Arjun.
"Halo assalamualaikum, dengan siapa ya?" jawab Arjun di seberang sana.
"Waalaikumsalam! Saya ayahnya Santi. Saya ingin bertanya kepadamu. Apa yang sudah kau lakukan terhadap putriku? Kenapa Santi begitu pulang langsung mengamuk di kamarnya, dan menghancurkan semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya? Bahkan sekarang Santi Mengunci pintu kamarnya dan tidak mau membukanya sama sekali!" tanya ayahnya Santi dengan geram.
"Saya tidak melakukan apa-apa terhadapnya. Kenapa anda tidak bertanya pada putri anda sendiri? Dia pasti bisa menjawab apa yang ingin anda ketahui. Sudah! Saya sibuk jangan ganggu saya lagi!" tanpa permisi Arjun pun langsung menutup teleponnya serta menonaktifkan ponselnya.
"Dasar anak brengsek! Pantas saja dia diusir oleh keluarganya. Kelakuannya betul-betul sangat tidak tahu sopan santun!" ucap ayahnya Santi begitu emosi dengan kelakuan Arjun yang betul-betul tidak menghargainya sebagai orang tuanya Santi.
Sementara itu, Arjun di ruang kerjanya mulai frustasi memikirkan Santi yang kabarnya saat ini sedang mengamuk di kamarnya.
"Arjun Apakah kau ada di dalam?" tanya Kevin di ambang pintu ruangannya.
"Yah, ada apa? Masuk saja!" ucap Arjun benar-benar tidak memiliki rasa hormat sama sekali kepada siapapun bahkan kepada bosnya sendiri.
Mungkin karena jiwanya Arjun yang terlahir sebagai orang kaya itu, yang membentuk karakternya menjadi seperti itu. Sok berkuasa dan tidak mau tunduk kepada siapapun.
Untung saja Kevin ini adalah orang yang baik hatinya yang sudah mengenal tabiat Arjun yang luar biasa itu. Sehingga dia biasa saja mendapatkan perlakuan tidak hormat semacam itu dari bawahannya.
__ADS_1
"Apakah kau sudah memeriksa file-file dari Pratama grup? Tampaknya tadi ada utusan mereka di lobby. Apakah kau siap untuk menghadapi mereka?" tanya Kevin berhati-hati karena melihat raut wajahnya Arjun yang saat ini begitu mengerikan dan tidak bersahabat.
"Kau saja yang menemui mereka aku tadi sudah mengecek file-filenya dan sudah Aku ceklis bagian-bagian mana yang tidak cocok menurutku. Kau tinggal memeriksanya saja dan Pilihlah yang menurutmu bagus. Aku saat ini sedang pusing gara-gara Santi!" ucap Arjun mulai frustasi.
"Ada apa lagi dengan Santi? Kenapa sih, dengan kalian? Tampaknya kok kalian tidak pernah bahagia?" tanya Kevin akhirnya duduk di depan Arjun.
"Seperti hubunganmu dengan Qiara bahagia saja! Kau saja tidak bisa mempertahankan istrimu sendiri. Masih saja kau berani meledekku di sini. Udah sana, urus aja klien mu jangan ngurusin masalah orang lain!" usir Arjun kepada Kevin, karena sangking kesalnya dia terhadap sahabatnya tersebut yang benar-benar tidak tahu posisi dan kondisinya saat ini yang sedang galau total.
"Ah kau ini betul-betul! Aku kan peduli padamu. Makanya aku bertanya. Kenapa sih kok seperti seorang perempuan yang sedang menstruasi saja. Galak dan selalu tidak bisa menahan emosi!" ucap Kevin akhirnya mengalah dan pergi keluar dari ruangan Arjun dan menemui kliennya sendiri.
Sementara itu, Arjun pun menimang-nimang ponselnya yang telah diamatikan tadi karena tidak menginginkan dapat teror dari ayahnya Santi Yang penasaran dengan keadaan putrinya saat ini.
Jauh di lubuk hati Arjun, Arjun juga merasa penasaran dengan keadaan Santi saat ini. Apakah Santi baik-baik saja ataukah dalam keadaan bahaya.
Tetapi harga diri dan egonya terlalu besar untuk membuatnya melangkahkan kaki ke kediaman Santi. Arjun memilih untuk termenung di kursi kerjanya seperti orang yang kehilangan akal selama seharian.
Bahkan sampai Kevin selesai menemui kliennya, Arjun masih saja setia di tempat semula, tanpa bergeser sedikitpun. Sehingga membuat Kelvin berdecak kagum dengan sahabatnya tersebut dan juga asistennya yang tidak tahu diri itu yang selalu memperlakukannya seperti bawahannya.
"Kalau kau bukan sahabatku sejak kecil, sudah ku pecat kau dari dulu! Dasar bawahan nggak ada akhlak!" maki Kevin geram, ketika mengintip Arjun yang masih juga melamun di kursi kerjanya. Tetapi Kevin pun tidak tega untuk mengganggu sahabatnya itu yang tampaknya sedang bersedih.
__ADS_1