Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
94. Gak Perduli


__ADS_3

"Kau lakukan saja apa yang kau inginkan, aku tidak peduli sama sekali!" ucap Emeralda sambil tertawa terbahak-bahak meninggalkan Andrew yang saat ini sedang frustasi.


"Perempuan gila itu sepertinya tidak takut dengan ancamanku. Apa yang harus aku lakukan sekarang aku tidak mungkin menjadi gembel dalam semalam!" ucap Andrew dengan kesal. Kemudian dia meninggalkan kediaman Prawira yang selama ini telah memberikan banyak kekayaan dan juga kemewahan kepada dirinya.


Andrew datang ke kediaman Priscillia yang terlihat mewah. Tetapi dia mendapatkan sebuah kenyataan bahwa dia ditolak di rumah itu. Andrew benar-benar merasa kesal karena semua orang telah meninggalkannya saat ini.


"Kurang ajar Priscillia! berani sekali dia menolakku! Kalau bukan dia yang selalu datang untuk menggodaku, Aku tidak akan mungkin sampai ke titik sial semacam ini!" ucapkan Andrew merasa kesal sekali, karena sekarang Pricilia pun meninggalkannya.


"Sekarang harapanku hanya Steven. Semoga saja dia masih memandangku sebagai ayahnya dan mau membantuku keluar dari kesulitan ini!" Andrew kemudian kembali ke apartemennya dan kembali menyusun kira-kira rencana apa yang akan dia lakukan kedepannya agar hidupnya bisa berjalan lancar kembali seperti dulu.


"Sebaiknya Aku menjual apartemen ini dan pindah ke tempat yang lebih kecil. Aku akan menggunakan hasil penjualan apartemen ini untuk memulai bisnis baru dan hidup baruku!" ucap Andrew dengan penuh keyakinan. Kemudian dia pun mencari surat-surat apartemen yang diberikan oleh Emeralda kepadanya.


Entah bagaimana reaksi Andrew ketika dia mengetahui bahwa surat-surat yang dia miliki adalah palsu. Hanya digunakan oleh Hendra dalam rangka mengalihkan perhatian seorang Andrew sehingga Hendra bisa mengawasi gerak-gerik istrinya yang berkhianat dengan dirinya. Pasti Andrew akan pingsan seketika ketika mengetahui kenyataan itu.


Kekuatan Prawira grup memang luar biasa menancap ke segala lini kehidupan. Orang yang berani bermain-main dengan Hendra pasti akan mendapatkan akhir yang buruk.


Keesokan harinya dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati. Andrew membawa surat-surat apartemen itu. Menuju sebuah developer untuk menawarkan apartemennya untuk dijual kepada pembeli.


"Maafkan saya Tuan! Tapi saya harus memberitahukan kenyataan ini kepada Anda. Surat-surat ini semuanya palsu. Sehingga anda tidak bisa menjual apartemen itu kepada siapapun!" siap pengembang tersebut membuat Andrew gagap seketika.

__ADS_1


"Apa maksud Anda mengatakan bahwa sertifikat ini adalah palsu jelas-jelas Aku membelinya dengan mata kepalaku sendiri!" ucap Andrew tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pengembang itu tentang sertifikat apartemntnya yang palsu.


"Silakan Anda lihat data-data ini Tuan! Di sini dinyatakan bahwa apartemen itu atas nama tuan Hendra Prawira dan sampai saat ini masih atas nama beliau!" ucap pengembang itu sambil menunjukkan semua data-data yang dia miliki tentang apartemen yang saat ini ingin dijual oleh Andrew.


"Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi? Jelas-jelas aku melihat Emeralda membeli apartemenku dari tangan orang itu dan namanya pemilik sebelumnya bukan Hendra Prawira!" Andrew sudah berteriak histeris meraza frustasi dengan apa yang saat ini dihadapi olehnya.


"Sebaiknya Anda menemui Tuan Hendra Prawira dan membicarakan tentang masalah ini. Kalau anda memang menginginkan untuk menjual apartemen itu!" ucap pengembang itu. Memberikan saran kepada Andrew yang saat ini sedang pusing mengenai nasib apartemennya yang merupakan harapan terakhirnya untuk memulai kehidupan baru.


Dengan perasaan marah Andrew kemudian membawa kembali surat-surat yang katanya palsu tersebut ke dalam apartemennya lagi.


"Entah siapa yang sedang bermain-main denganku. Entah itu Emeralda atau Hendra tapi akan kupastikan mereka akan membayar semuanya!" ucap Andrew dengan penuh kesal dan amarah.


"Bagus apa yang sudah kau lakukan sangat luar biasa! Saya sangat senang. Saya akan segera mengirimkan bonus untukmu dan pastikan laki-laki itu mengalami akhir yang buruk!" ucap Hendra dengan tertawa bahagia kemudian dia menutup panggilan telepon tersebut.


"Untuk ukuran seorang yang sedang sekarat, kau tampak begitu energik, sehingga kau masih mempunyai energi untuk mengerjai orang yang lain!" tiba-tiba saja Arjun sudah berada di ruangan ayahnya sehingga membuat Hendra sangat terkejut dengan kehadiran putranya yang tiba-tiba.


"Sejak kapan kau ada di situ?" tanya Hendra dengan gugup. Karena dia khawatir kalau Arjun mengetahui rahasianya bahwa sebenarnya saat ini dia sedang pura-pura sekarat saja. Untuk membuat Arjun mau datang menemuinya di Amerika.


"Aku mengetahui semua yang kau lakukan. Jadi kau tidak usah bersandiwara lagi padaku cepat kau katakan keinginanmu! Karena aku tidak punya banyak waktu untuk mengikuti permainanmu!" ucap Arjun dengan menatap tajam kepada ayahnya yang kini jadi salah tingkah dibuatnya.

__ADS_1


"Papa hanya menginginkanmu untuk menerima status kamu untuk menjadi pewaris dari perusahaan Prawira group. Kau tahu bukan? Kalai papa hanya mempunyai kamu sebagai anakku!" ucap ayahnya Arjun sambil menggenggam tangan putranya.


Arjun tersenyum sinis ketika mendengarkan ucapan ayahnya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan keinginan ayahnya yang menginginkan dia untuk menerima statusnya sebagai pewaris dari Prawira grup.


"Bukanya aku sudah mengatakan berkali-kali, kalau aku tidak tertarik menjadi pewarismu? Kau berikan saja status itu kepada anak dari perempuan ****** yang kau inikah itu!" ucap Arjun dengan mata berapi-api.


Dia seakan kembali mengingat kembali tentang kejadian 20 tahun yang lalu ketika melihat ayahnya berselingkuh dengan ibunya steven yang sekarang telah menjadi istrinya.


"Entah Butuh berapa puluh tahun lagi. Entah apa yang harus Papa lakukan untuk membuat kamu bisa memaafkan perbuatan terkutuk itu!" ucap ayahnya Arjun sambil berderai air mata tampak sekali kesedihan di matanya.


"Minta maaflah kepada ibuku yang sekarang terbaring di tanah. Bukan kepadaku! Karena kesalahanmu adalah kepada ibuku. Kau yang selalu menyakiti perasaannya. Aku tidak peduli denganmu sama sekali! Terserah kau mau melakukan apapun!" ucap Arjun dengan marah kemudian dia meninggalkan ayahnya sendiri di ruangan kerjanya.


"Kurang ajar! Ternyata dia hanya menipuku untuk mau datang ke sini!" ucap Arjun geram. Tampak dia mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih karena dia merasa telah ditipu oleh ayahnya sendiri.


"Sebaiknya aku segera kembali ke Indonesia. Tidak ada gunanya Aku berlama-lama di sini. Kalau hanya untuk mendengarkan dan melihat segala omong kosong yang mereka lakukan! Manusia-manusia sampah itu betul-betul tidak berguna!" ucap Arjun penuh dengan kemarahan kemudian dia langsung menuju ke kamarnya dan mempersiapkan kopernya untuk segera kembali ke Indonesia.


"Aku bahkan sampai meninggalkan anak dan istriku. Demi laki-laki penjahat itu! Tapi ternyata dianya menipuku saja!" ucap Arjun sambil terus menyiapkan kopernya dan bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia.


Tapi tiba-tiba saja kepala pelayan yang berada di mansion itu datang tergopoh-gopoh dan menyuruh Arjun untuk segera datang ke ruang kerja ayahnya.

__ADS_1


"Tuan muda! Ayo segera datang ke ruang kerja Tuan besar. Karena saat ini Tuan besar sedang jatuh pingsan dan kita harus segera membawa beliau ke rumah sakit!" kepala pelayan di mansion itu dengan wajah penuh kekhawatiran.


__ADS_2