Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
13. Keheranan Susan


__ADS_3

Setelah David mengakhiri telponnya, Susan duduk di kursinya. Merasa heran dengan kelakuan David akhir-akhir ini, David bahkan meminta dirinya untuk pulang ke rumah orang tuanya, dengan alasan kasihan sama mamahnya yang kini hanya tinggal sendirian.


Sudah hampir seminggu dia gak bertemu dengan David, di kantor juga selalu sibuk. Sebagai asisten David jauh lebih sibuk ketimbang dirinya selaku manager sebuah hotel besar di kota ini.


"Apa David punya cewek lain ya? Jadi dia perlahan mau ninggalin aku," Susan bermonolog sendiri. Merasa heran dengan sikaf kekasihnya yang sudah lama berhubungan mesra dengannya. Walaupun di belakang publik, tapi David selalu memanjakan dirinya dengan penuh cinta.


Siang itu, Susan memutuskan untuk mendatangi kantor David, yang berbeda lantai dengan kantor miliknya. Susan memang yang mengatur hal itu, agar orang lain tidak curiga dengan hubungan mereka di luar jam kantor.


"Sayang, kamu sudah makan siang belum?" Susan langsung masuk saja ke ruangan David tanpa permisi. David yang terkejut tampak tidak senang dengan kelakuan bar bar Susan itu. Ada rasa kesal di hatinya.


"Apa susahnya mengetok pintu dan mengucapkan salam?" David menegur Susan dengan lirih. bagaimanapun takut juga menyinggung perasaan Susan yang selama ini selalu arogan kepadanya.


"Kamu kenapa sih sayang? Akhir-akhir ini rasanya kamu berubah deh? Apa karena papahku sekarang di penjara?Jadi kamu memandang rendah padaku sekarang?" tanya Susan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sedih rasanya mendapatkan kenyataan itu, laki-laki yang selama ini dia anggap mencintainya tidak mau memandang dirinya lagi.


"Bukan begitu sayang. Maafkan aku. Aku hanya lelah, banyak sekali pekerjaan. Kamu kemarin cuti beberapa hari, semua kerjaan kamu aku yang handle. Makanya aku jadi lelah sekali, maafkan aku ya," David bangkit dari kursinya dan memeluk Susan. Berusaha menenangkannya.


Bisa berabe kalau Susan curiga dengan sikapnya. Bisa-bisa rencananya yang sudah di susun bertahun-tahun bisa gagal.


"Aku gak mau kehilangan kamu sayang, walaupun aku tidak mengakui kamu di depan publik, tapi aku sangat mencintaimu," Susan membenamkan wajahnya ke pelukan David. Entah kenapa, David selalu mampu menenangkan hatinya yang galau.

__ADS_1


"Aku gak akan pernah ninggalin kamu sayang, percayalah. Aku hanya lelah dengan pekerjaanku yang seakan tidak pernah ada habisnya," David mencium pucuk kepala Susan dan mengeratkan pelukannya. Diakui atau tidak, ada perasaan hangat di hati David, saat mendengar pengakuan Susan barusan. Ada harapan di hatinya untuk merubah Susan menjadi wanita yang baik, dan melepaskan ambisinya akan harta kekayaan Pratama Group. Dia gak suka kalau Susan seperti itu. Harga dirinya sebagai lelaki merasa ternodai.


"Ayo kita makan siang, kamu mau aku Masakin atau mau makan di luar?" Susan tersenyum bahagia mendengar ucapan David barusan.


"Kita makan di luar aja sayang. Dirumahku gak ada bahan makanan, lama aku gak belanja. Maklumlah sibuk sekali dengan kerjaanku. Sejak kamu pindah dari apartemen, setiap hari aku menyibukkan diriku dengan pekerjaanku," Susan merasa kasihan dengan kekasihnya itu, dia mengecup bibir David yang berada di atas kepalanya. Tingginya memang hanya sebatas bahu David, mungkin karena David ada keturunan bule jadi tingginya mencapai 185 cm.


"Baiklah, ayo kita makan di luar," dengan semangat mereka ke luar dari ruangan. Susan menggandeng tangan David dengan mesra. Tidak di hiraukan pandangan rekan-rekan sekantor yang menatap heran kepada mereka.


"Sayang, kita jalan biasa aja, ok? Aku gak mau nanti kamu kena masalah gara-gara aku," ucapan David tidak ditanggapi, Susan malah semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh David dan memeluk David dengan amat mesra.


David jadi bingung dengan kelakuan Susan yang tidak biasa, David berusaha menjauhkan Susan dari tubuhnya, tetapi yang ada, Susan malah mencium bibirnya di depan umum.


Deg


"Kamu kenapa sih sayang? Aneh banget sih," David dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan membawa Susan ke sebuah restoran mewah, dan meminta ruang VIP agar lebih privat.


"Kamu gak suka kalau aku mencium kamu di depan publik?" Susan mencoba mengorek perasaan David terhadap dirinya.


"Aku hanya takut kamu dapat masalah karena aku, kamu tahu bukan? Selama ini aku selalu berusaha melindungi kamu," dusta David lagi.

__ADS_1


David membelalai pucuk rambut Susan dengan lembut, berharap Susan tidak merajuk lagi. Masalahnya dengan Qiara sudah cukup membuat pikirannya sangat berat, jangan sampai Susan menambah beban pikiran untuknya lagi.


"Aku sekarang gak peduli dengan mereka, aku cuma mau kamu sayang, gak mau yang lain," Susan menarik wajah David dan kembali mencium bibir David dengan intens. David kalang kabut, tidak tahu harus membalas ciuman itu atau tidak. Sungguh frustasi sekali. Kalau dahulu Susan berprilaku begitu. David pasti menyambut dengan perasaan sangat bahagia. Tapi sekarang? Sekarang hati David sudah bercabang dengan Qiara. Mengingat permintaan Grandfa kemarin.


"Grandfa tidak perduli Qiara sudah menikah atau tidak, Grandfa hanya tahu, kalau dia adalah tunangan kamu. Dapatkan atau rebut dia dari suaminya sekarang," ucapan grandfa sampai saat ini masih terngiang di telinga David.


Semalaman David sampai tidak bisa tidur, karena memikirkan permintaan Grandfa yang tidak masuk akal baginya." Masa aku di suruh jadi Pebinor. Sungguh keterlaluan Grandfa." rutuk David marah dan jengkel dengan permintaan Grandfa yang aneh baginya.


"Sayang, bisa kita jangan kaya gini di depan publik? Aku takut sayang," David berusaha menjauhkan Susan dari sisinya, tapi Susan semakin mepet ke tubuhnya. David sudah panas dingin rasanya. Apalagi tadi melihat anak buah Grandfa yang diutus untuk mengawasi dirinya.


"Ayo kita makan, nanti kalo sudah dingin tidak enak lagi," David lalu menyendok makanannya dan meminta Susan agar fokus dengan makan siangnya.


"Tapi aku masih kangen sama kamu sayang," SusN berusaha mendekati David lagi, David kali ini bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan VIP lalu pergi ke toilet.


"Kamu mau ke mana sayang? Aku masih kangen sama kamu loh," Susan protes dengan kelakuan David yang terkesan menghindar dirinya.


"Aku ke toilet dulu, sabar ya," David mengusap puncak kepala Susan lalu pergi ke luar.


Di toilet, David frustasi sekali. Apalagi ketika melihat orang suruhan Grandfa yang mendatangi dirinya secara pribadi.

__ADS_1


"Tuan, Tuan besar bilang. Anda harus bisa menjaga martabat keluarga kita," pesannya pada David yang malah menanggapi dengan mata sinis.


"Katakan pada Grandfa bahwa aku pasti tahu dengan apa yang aku lakukan. Jangan cemas," setelah membasuh wajahnya. David lalu keluar dan kembali menemui Susan yang sudah lama menunggu dirinya.


__ADS_2