Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
7. Mamah Kevin


__ADS_3

Wanita itu berjalan ke arah Kevin dengan penuh amarah Kevin masih belum tahu hal itu, karena posisi duduknya yang membelakangi wanita itu. Qiara merasa heran kenapa wanita itu tampak marah melihat mereka berdua.


"Kevin, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Tak jauh dari wanita itu, Qiara melihat Susan juga.


Dia tersenyum pada Susan, namun di balas dengan mata melotot Susan dan juga wanita itu yang ternyata adalah mamahnya Kevin.


"Mamah, apa yang mamah lakukan di sini? " Kevin merasa gugup melihat raut wajah sang mamah yang tidak sedap di pandang. Kevin bangkit dari kursinya dan mencium tangan serta pipinya.


"Silahkan duduk Tante, perkenalan saya kekasihnya mas Kevin!" entah kepercayaan diri yang datang dari mana, Qiara malah bangkit dan memperkenalkan dirinya sebagai kekasihnya Kevin. Kelakuan Qiara sukses membuat sang mamah dan Susan bertambah amarahnya.


Kevin jadi salah tingkah, tapi juga merasa bahagia karena Qiara melakukan itu. Qiara hanya berniat ngerjain Kevin, nah.. loh.. Pasti nanti dia bakalan di marahin sama mamahnya yang kayaknya galak banget. Qiara masih memberikan senyumannya yang termanis dan terbaik.


Qiara bangkit dari duduknya lalu memeluk lengan Kevin, "Sayang aku sudah lelah, bagaimana kalau kita kembali ke apartemen saja. Aku pengen kamu pijitin aku," Qiara bergelayut manja dan tersenyum menggoda Kevin. Kevin merasa tersengat listrik dengan ulah Qiara. sementara mamahnya tampak makin murka.


"Kevin, ayo pulang sekarang juga!" dia menarik tangan Kevin dari Qiara dan menyeretnya untuk pulang ke rumahnya. Susan melihat ke arah Qiara dengan sebal.


"Eh.. perempuan murahan yang gak tahu diri, dengerin yah. Kevin Atmajaya hanya pantes jadi suami aku, kamu, lebih baik pergi saja sana ke laut. Biar kenapa? Biar di makan ikan hiu sana!" geram Susan dan dia pergi melenggang di belakang mamahnya Kevin.


Qiara hanya tersenyum melihat mereka bertiga meninggalkan dirinya di sana. Qiara melanjutkan makan, Untung saja tadi Kevin sudah membayar makanan mereka, jadi Qiara tidak takut walaupun Kevin pergi sekarang.


Tapi siapa yang sangka,ternyata Kevin balik lagi dan langsung menggamit tangan Qiara, mengajak dia lari secepatnya. Qiara yang sedang enaknya makan langsung protes gak terima dengan apa yang Kevin lakukan.


"Aku lagi makan juga, sayang makanan kamu itu masih banyak" Qiara mencoba berontak dari genggaman tangan Kevin.

__ADS_1


"Ayolah sayangku, kita harus segera pergi dari sini atau mamah aku bakalan culik aku ke rumah utama. Aku bisa di kurung di sana dan kita gak akan bisa ketemu lagi!" ucap Kevin sambil lari.


"Aku gak perduli, bukan urusanku juga.." Qiara masih protes. Namun dalam hati dia bersorak karena dia berhasil membuat Kevin memilih dia dari pada Susan yang sombong itu. Qiara sangat kesal dengan Susan yang beberapa hari lalu menghinanya.


Kevin tidak perduli, dia langsung menyuruh Qiara masuk ke mobilnya, memasang sabuk pengaman dan langsung tancap gas. Kevin pergi ke rumah pribadinya yang aman. Mamahnya tidak tahu kalau Kevin membeli rumah itu.


Kevin sengaja merahasiakan keberadaan rumah itu, karena niatnya dulu saat membeli rumah itu sebagai hadiah pernikahan, atau akan dia gunakan sebagai mahar pernikahan dengan calon istrinya kelak. Kevin sudah menyiapkan rumah tersebut untuk rumah pernikahan nanti.


Qiara sangat takjub dengan rumah pribadinya Kevin. Sangat besar dan mewah. Rumah berlantai empat itu menggunakan eskalator untuk naik ke setiap lantainya. Jadi tidak cape untuk baik tangga. walaupun disana ada tangga juga. Untuk hal darurat, misalnya lift rusak karena mati lampu atau hal lainnya.


"Kamu suka rumah ini?" Kevin menatap Qiara dengan penuh cinta dan mendudukan Qiara di sofa yang ada di ruang tengah.


"Suka, bagus sekali!" Qiara menurut saja, dan dia menyenderkan punggungnya karena memang ada rasa lelah, Setelah tadi di ajak berlari sama Kevin karena menghindari mamahnya dan Susan.


"Sebentar ya sayang, aku buatkan minuman panas!" Kevin pergi ke pantry dan memanaskan air.


"Apa saja terserah padamu!" jawab Qiara. Dia sangat lelah dan tanpa sadar dia telah terlelap di sofa. Saat Kevin datang membawa minuman dia tercengang melihat Qiara yang sudah pulas.


"Kamu pasti cape banget, seharian kerja dan kuliah, di ajak lari-lari juga sama aku. Maafkan aku ya sayang!" Kevin membelai wajah ayu Qiara. Tidak tega untuk membangunkan. Kevin menarik selimut yang ada di sofa dan menyelimuti tubuh Qiara. Tadinya mau di pindahkan ke kamar, tapi Kevin takut nanti ngebangunin Qiara. Jadi dia akhirnya ikut tidur juga di bawah dengan beralaskan karpet.


Sementara di sana..


Mamahnya Kevin kebingungan karena Kevin yang tadi ijin ke toilet malah gak kembali-kembali. Dia mencari Kevin tapi tidak ketemu juga. Susan sangat jengkel karena Kevin ternyata kabur.

__ADS_1


Anak buahnya yang di tugaskan untuk mengikuti Qiara juga kehilangan jejak mereka. Kevin mematikan semua perangkat selulernya, jadi kesulitan untuk di lacak. Dengan geram Susan akhirnya kembali ke apartemennya. Menemui David di sana.


Seharian ini sungguh terasa berat sekali. Susan butuh asupan energi. Biasanya David selalu bisa menaikkan mood nya yang jelek. David selalu pintar membuat dia bahagia.


"Kamu sudah pulang, sayang?" David memberikan coklat panas kesukaan Susan.


Di apartemen, Susan adalah miliknya. Makanya David berani memanggil sayang pada Susan. Susan langsung berbaring di apartemen karena memang sangat lelah. David memijit kaki Susan agar lebih rileks.


"Aku cepek sekali. Bisakah kau ke sini? Peluk aku sebentar!" Pinta Susan dengan manja. David menurut dan duduk di belakang Susan lalu memeluk wanita yang sangat dia cintai itu.


"Jangan terlalu ngoyo, nikmati saja hidupmu. Kamu sudah bergelimang harta walau cuma diam bersantai di rumah. Bukankah Om Andi sudah berbaik hati padamu. Memberikan 1% saham untukmu di perusahaan! " ucap David sambil mengelus puncak kepala Susan dengan lembut.


"Aku mau jadi owner perusahaan, 1% saja gak cukup buatku!" Susan membenamkan wajahnya dalam pelukan David. Dia paling suka dengan wangi badan kekasihnya itu.


"Jangan terlalu serakah, tidak baik loh!" David mencoba menasehati Susan. Bagaimana pun dia tidak mau nantinya Susan berbuat nekat dan melakukan hal-hal negatif yang merugikan diri sendiri demi ambisi dan keserakahan yang sudah di tanamkan oleh keluarganya.


David tahu bahwa Susan adalah gadis yang baik dan berhati lembut, orang tuanya yang memaksa agar selalu punya ambisi dalam hidupnya. Selalu menekankan agar menjadi pewaris perusahaan pamannya. Andi Pratama.


"Aku gak mau kamu kelelahan sayang. Aku maunya kamu cukup di rumah saja, membesarkan anak-anak kita nantinya!" David mencium kening Susan dan memeluknya erat.


"Aku juga maunya begitu sayang, tapi orang tuaku akan membunuhku kalau aku melakukan itu. Kamu tahu, dulu saja 20 tahun yang lalu, orang tuaku sudah merencanakan pembunuhan istrinya Om ku dan juga anaknya dalam perutnya yang akhirnya meninggal saat di lahirkan!" David terkejut mendengar pengakuan Susan itu.


Dia sungguh tidak mengira bahwa calon mertuanya itu sungguh sangat kejam dan tidak tahu balas Budi sekali. Kalau bukan karena kebaikan pak Andi Pratama yang memberikan pekerjaan dan saham di perusahaannya, mereka pasti menjadi gembel di jalanan.

__ADS_1


Ayahnya Susan dahulu pernah memiliki perusahaan sendiri, tapi bangkrut karena di tipu oleh temannya. Pak Andi dan istrinya merasa kasihan akhirnya menolong mereka. Memberikan rumah, pekerjaan dan juga pendidikan untuk Susan. Ayah Susan adalah kakak dari Pak Andi Pratama.


Selain kakak juga memiliki dua orang adik perempuan, tetapi mereka tinggal di luar negeri, mengikuti suami mereka yang juga seorang pengusaha sukses di sana.


__ADS_2