Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
96. Warna Asli Steven


__ADS_3

Arjun tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kepala pelayan tentang kesehatan ayahnya saat ini yang mengatakan bahwa umur ayahnya hanya tinggal beberapa bulan lagi karena beliau sedang sakit parah.


"Bagaimana mungkin orang jahat seperti dia memiliki umur yang pendek biasanya orang jahat itu umurnya panjang Karena dia diberikan kesempatan untuk bertobat di dunia sebelum dia mati!" ucap Arjun dengan suara gemetar.


Kepala pelayan yang tahu karakter Arjun yanh sesunggunya. Dia tidak marah sama sekali dengan perkataan Arjin. Karena dia tahu bahwa saat ini Tuan mudanya sedang merasa sedih dengan keadaan ayahnya yang parah.


"Tuan muda! Tolong banyaklah berdoa untuk Tuan besar. Semoga doa dari seorang anak yang menyayangi orang tuanya akan didengarkan oleh Tuhan dan Tuan besar akan mendapatkan kemukjizatan atas doa tuan muda!" kepala pelayan tersebut sambil menatap Arjun yang saat ini menatap dirinya dengan tetapan yang tajam.


"Berhentilah kau bicara omong kosong! Aku tidak peduli apapun yang terjadi dengan pria tua itu. Hari ini juga aku akan segera berangkat ke Indonesia. Tua bangka, kau jangan pernah mempengaruhi lagi pikiranku!" ucap Arjun sengit kepada kepala pelayan yang bekerja di dalam rumah ayahnya.


"Terserah kepada Tuan muda! Untuk melakukan apapun yang anda mau. Yang jelas, saya hanya ingin memberitahu anda. Kangan sampai suatu saat nanti anda menyesali perbuatan ceroboh yang anda lakukan hari ini!" kepala pelayan tersebut sampai menundukkan kepalanya dia tidak berani bertatap Arjun yang saat ini menatap horor kepadanya.


"Maafkan kelancangan saya ini tuan muda! Tetapi anda menghukum diri anda sendiri dan juga tuan besar dengan hukuman yang begitu berat. Selama puluhan tahun Anda membenci Tuan besar hanya karena anda merasa tidak senang Tuan besar telah menghianati nyonya besar. Tetapi anda lupa bahwa saat ini nyonya besar sudah ada di makamnya dan dia sudah beristirahat dengan tenang di alam sana. Tetapi ayah Anda saat ini masih hidup di dunia ini dan bernafas bersama dengan anda. Kenapa Anda memberikan luka yang begitu besar kepadanya? Apakah anda yakin, bahwa suatu saat Anda tidak akan menyesali karena telah melewatkan begitu banyak waktu untuk bisa bercengkrama dengan ayah anda sendiri? Untuk memberikan kasih sayang dan cinta sebagai seorang anak terhadap ayahnya?" ucap kepala pelayan tersebut, bicara panjang lebar. Dia berusaha untuk menasehati Arjun agar bisa memaafkan ayahnya yang telah berbuat kesalahan kepada ibunya Arjun di masa lalu.


Sejenak Arjun terdiam keningnya mengkerut begitu dalam. Tampak dia memikirkan apa yang diucapkan oleh Kepala pelayan tersebut.

__ADS_1


Ketika Arjun Sedang berpikir keras. Tentang ayahnya. Tiba-tiba saja Steven dan Emeralda datang tergopoh-gopoh ke rumah sakit yang saat ini sedang menangani ayahnya Arjun di ruang operasi rumah sakit.


Dua manusia yang selalu membuat hati Arjun merasakan panas dan benci terhadap ayahnya. Mereka kini ada di hadapannya sendiri. Membuat hati Arjun semakin sakit dan mengingat luka yang telah ditorehkan oleh wanita itu bersama dengan ayahnya di masa lalu.


"Bagaimana kabar suamiku?" tanya Emeralda kepada kepala pelayan yang bekerja di rumah suaminya.


"Tuan besar sedang dilakukan operasi saat ini tiga orang dokter sudah menangani beliau kita tinggal menunggu hasilnya saja!" ucap kepala pelayan tersebut berusaha untuk menjawab pertanyaan Emeralda tentang keadaan suaminya saat ini.


"Hei, kau anak durhaka! Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau bilang kalau kau akan pulang ke Indonesia? Kenapa kau masih ada di sini hah?" tanya Emeralda sambil menatap tajam kepada Arjun. Terlihat dia sangat membenci Arjun Begitu juga dengan Arjun.


'Kurang ajar anak ini! Berani-beraninya dia mengancamku seperti ini. Aku tidak akan membiarkan dia berhasil menendangku dari kediaman Prawira. Aku hanya tinggal menunggu waktu saja sampai pria itu mati dan aku bisa mendapatkan semua hartanya. Aku harus berusaha untuk menendang anak kurang ajar ini dan memisahkan mereka berdua agar tidak sampai membuatku mengalami kerugian?' ucap Emeralda dengan gemas dan kesal ketika melihat kesombongan dan arogansi yang ditunjukkan oleh Arjun di hadapannya.


"Kak Arjun! Steven tahu kalau Kak Arjun sangat membenci kami berdua. Tetapi tolong bisa tidak, di saat seperti ini kita jangan saling bermusuhan kita harus membantu papa untuk bisa pulih dan kembali sehat!" Steven dengan suara halusnya berusaha untuk meminta kepada Arjun agar tidak selalu mengajak bermusuhan dirinya dan juga ibunya yang saat ini juga merasakan sedih atas sakit ayahnya.


"Eh, anak haram! Kau tidak punya hak apapun untuk bicara di sini. Siapa kau? Kau tidak punya darah Prawira di dalam darahmu! Darahmu kotor sama seperti ibu dan Ayahmu yang telah berkhianat terhadap ayahku. Kau seharusnya bersyukur karena telah diberikan nama dan tempat oleh Ayahku. Jadi, tidak usah kau banyak tingkah dan banyak gaya di hadapanku!" ucap Arjun sengit sambil menatap Steven dengan penuh kebencian.

__ADS_1


Steven tahu bahwa semua yang dikatakan oleh Arjun adalah benar. Nahwa memang Ayah dan Ibunya telah berkhianat di belakang ayahnya Arjun. Tetapi dia benar-benar menyayangi Hendra Prawira sebagai ayahnya yang selama ini telah membesarkan dia dengan kasih dan sayang.


"Terserah Kak Arjun mau mengatakan apapun juga. Tetapi yang jelas, Steven menyayangi Papa Hendra sebagai ayah Steven. Terlepas dari dia Ayah kandungku atau bukan. Tapi bagiku hanya dialah Ayah satu-satunya di hatiku!" ucap Steven dengan mata berkaca-kaca sehingga membuat adem merasa muak dengan Steven saat ini.


"Hentikan semua omong kosongmu itu! Aku sama sekali tidak tertarik untuk membeli gombalan remehmu itu! Kau bisa menipu siapapun dengan air mata buayamu. Tetapi tidak akan pernah bisa menipuku, bahwa kau dengan wajah polosmu itu sedang mengincar semua harta kekayaan milik ayahku!" ucap Arjun sambil menatap tajam kepada Steven yang kini menatapnya sambil menggelengkan kepalanya seakan omongan Arjun hanya sebuah kaset rusak yang gak berarti baginya.


"Terserah Kak Arjun mau berpendapat apa tentang saya tapi yang jelas Kasih sayang saya tulus kepada Papa Hendra!" ucap Steven. Kemudian Steven mengajak ibunya untuk meninggalkan rumah sakit karena dia sudah malas untuk berdebat dengan Arjun yang pada dasarnya memang membenci dirinya dan juga ibunya.


"Kenapa kita meninggalkan Rumah Sakit Steven? Kalau ada apa-apa dengan tua bangka itu, maka kita tidak akan tahu apa-apa!" protes Emeralda kepada Steven yang membawa dia pergi dari rumah sakit.


"Tenang saja Mah! Steven sudah menaruh mata-mata di rumah sakit untuk selalu memberikan laporan tentang kondisi Papa Hendra kepada kita Mama tidak usah khawatir!" ucap Steven sambil terbit senyum licik di wajahnya.


Senyum licik yang Steven tunjukkan membuat Emerald dan merasa sangat bahagia karena ternyata dia pun mempunyai sekutu lain yaitu anaknya sendiri dalam rangka merebut harta milik keluarga Prawira.


"Mama senang, karena kita berada di perahu yang sama!" ucap Emeralda sambil tersenyum kepada Steven yang kini tertawa terbahak-bahak bersama ibunya.

__ADS_1


__ADS_2