Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
99. Akhirnya


__ADS_3

Arjun tampak tertawa terbahak-bahak di dalam ruangan ayahnya. Ketika di layar besar dia sedang memperhatikan orang-orang yang dia kurung di dalam ruang meeting saat ini sedang ribut dan pada ketakutan dengan ancaman dirinya.


"Hahaha ternyata begitu mudah membodohi orang-orang bodoh itu. Padahal mereka hanya meminum air putih biasa. Hahaha. Ternyata begini menyenangkan mempermainkan orang-orang jahat itu!" itu adalah strategi yang dibuat oleh Arjun dan juga asisten ayahnya.


Obat penawar yang dikatakan oleh asistennya itu pun hanyalah air putih biasa. Racun mematikan yang dikatakan oleh arjun pun hanya air putih saja. Semua drama itu hanya untuk menakut-nakuti orang-orang yang sudah bersikap khianat terhadap ayahnya.


"Bagus juga ide dari asistennya Papa ini. Aku sekarang jadi memiliki tontonan gratis yang begini menyenangkan!" ucap Arjun sambil terus menatap layar besar yang saat ini sedang memperlihatkan orang-orang culas itu sedang sibuk memberikan tanda tangannya kepada asistennya Arjun.


Sesuai instruksi dari dari Arjun orang yang selesai mendatangani MOU kesetiaan dan juga mengembalikan aset yang sudah dicuri oleh mereka dari perusahaan. Maka akan diberikan obat penawar berupa air putih yang lain dari tangan sekretaris ayahnya Arjun.


Sejak tadi Arjun terus tertawa terbahak-bahak melihat orang-orang yang tampak sangat ketakutan dengan ancaman Arjun yang mengatakan bahwa mereka semua telah meminum racun mematikan.


"Benar-benar orang-orang bodoh!" Arjun terus tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan semua drama yang ada di dalam ruangan itu.


"Ini sudah 1 jam. Aku harus segera kembali ke ruangan itu dan tentu saja. aku harus merayakan kemenanganku hari ini!" ucap Arjun sangat bahagia.


Kemudian dengan langkah gagah dan penuh percaya diri. Arjun langsung masuk ke dalam ruangan rapat yang tadi dikunci oleh para Security dan juga para Bodyguard ayahnya.


"Bagaimana Apakah mereka semua sudah mendatangani MOU itu?" tanya Arjun sambil menatap sinis kepada orang-orang yang tampak ketakutan melihatnya.

__ADS_1


"Kenapa kalian menatapku seperti itu huh?Bukankah aku sangat baik hati? Karena aku sudah memberikan penawar racun untuk kalian semua? Kalau aku mau, aku bisa saja membuat nyawa kalian melayang detik ini juga!" ucap Arjun dengan tertawa terbahak- bahak karena dia mengingat kembali ekspresi lucu mereka semua.


Orang-orang yang telah berani mati karena mau menghianati ayahnya dan berniat untuk menghancurkan perusahaan ayahnya.


"Kau sungguh benar-benar seorang laki-laki yang kejam! Bagaimana mungkin kau tega memberikan racun mematikan kepada kami?" ucap salah seorang dewan direksi sambil menatap benci kepada Arjun.


Karena dia harus merelakan uang miliaran yang susah payah dia dapatkan dari perusahaan Itu. Hanya gara-gara Arjun memberikan mereka racun entah kapan dia lakukan itu padahal sejak tadi Arjun selalu bersama mereka


"Aku hanya membalas perbuatan jahat kalian terhadap Ayahku. Aku rasa perbuatanku ini tidak ada apa-apanya dengan kejahatan kalian menipu Ayahku selama bertahun-tahun di belakangnya! Kalian manusia-manusia culas yang tidak tahu diri, yang sudah diberikan kesempatan pekerjaan oleh Ayahku. Tetapi kalian malah mencuri dan berkorupsi dan berniat untuk menghancurkan perusahaan ayahku!" ucap Arjun dengan tatapan penuh kebencian terhadap mereka semua sehingga mereka menggigil ketakutan.


"Berikan sini surat mou-nya dan yang tidak menandatangani surut ini, suruh untuk berdiri di pojok sana!" ucap arjun memberikan perintah kepada sekertaris ayahnya yang saat ini sedang sibuk mengumpulkan tanda tangan. Para dewan direksi dan juga para pemegang saham yang ada di perusahaan milik ayahnya Arjun.


Orang-orang yang hadir di ruang rapat itu tampak lucu dan bingung dengan perintah yang diberikan oleh Arjun. Karena sejak tadi mereka hanya diberikan air putih oleh Seksretarisnya ayahnya Arjun untuk diminum semuanya oleh mereka sampai tandas.


"Kenapa kami yang katanya mempunyai racun mematikan, hanya diobati dengan air putih saja?" tanya salah seorang direktur personalia terhadap teman yang lain.


"Entahlah itu kan racun milik Tuan Arjun. Jadi hanya dia yang tahu apa penawar dari racun itu. Bisa saja kan kalau tuan Arjun sudah mencampurkan obat penawar di dalam air minum itu untuk menjadi penawar kita semua?" tanya salah seorang sahabat yang biasanya selalu berkumpul dengan Arjun. Dia tampak menahan tawanya. Melihat ekspresi bodoh yang ditunjukkan oleh mereka semua.


Setelah mereka semua menandatangani surat perjanjian nota kesepakatan kesetiaan dan juga mengembalikan aset-aset yang mereka curi kepada perusahaan. Mereka pun diperbolehkan pulang oleh Arjun.

__ADS_1


Seketika tawa pecah di ruangan meeting tersebut. Arjun, sekretaris ayahnya dan juga asisten ayahnya. Semuanya tampak tertawa terbahak-bahak melihat dagelan yang baru saja dipertunjukkan oleh Arjun terhadap mereka semua.


"Kau benar-benar usil! Bagaimana mungkin kau mengerjai mereka semua dengan cara seperti itu? Ah kau benar-benar luar biasa!" ucap Arjun memuji ide cemerlang asisten ayahnya sehingga mereka berhasil mendapatkan kembali aset-aset perusahaan yang telah dicuri oleh manusia-manusia culas dan tidak tahu terima kasih.


"Tidak apa-apa! Mereka kan memang layak dikerjain oleh kita. Mereka berani sekali berbuat curang di belakang Tuan Hendra. Padahal selama ini Tuan Hendra sudah baik memberikan pekerjaan dan kehidupan yang baik untuk mereka. Mereka tidak berterima kasih sama sekali malah mencuri di perusahaan ini." ucap asisten ayahnya Arjun dengan wajahnya yang mengemaskan sehingga membuat Arjun tertawa terpingkal-pingkal dengan kelucuannya.


"Tapi ingat! Ini akan menjadi rahasia kita bertiga selamanya. Kalau tidak, hidup kita akan dalam bahaya. Kalau mereka menyadari kalau kita sudah mengerjai mereka dengan hal konyol seperti tadi!" ucap sekretaris ayahnya Arjun memperingatkan mereka bertiga untuk tidak membocorkan kejadian hari ini kepada siapapun.


"Iya kau tenang saja kami juga tidak akan mungkin bunuh diri ini akan menjadi rahasia kita bertiga selamanya!" ucap Sekretaris ayahnya Arjun yang bernama Sukanta.


"Ya sudah ayo kita kembali ke rumah sakit kasihan Tuan Hendra Kalau tidak ada yang menemani!" ucap asistennya ayahnya Arjun yang bernama Firman.


Akhirnya Arjun, Firman dan Sukanta berangkat kembali ke rumah sakit untuk menemui ayahnya Arjun yang keadaannya sudah mulai membaik.


Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Arjun hanya terdiam saja. Dia kembali mengingat apa saja yang sudah mereka lalui hari ini. Bersama Firman dan Sukanta.


Tampak sebuah senyum terukir di bibir Arjun. Ketika dia melirik kepada Firman dan Sukanta yang tampak begitu kompak membantunya. Ketika dia berusaha untuk menaklukkan para dewan direksi dan juga para pemegang saham yang selalu memberontak kepada ayahnya selama bertahun-tahun lamanya gara-gara hasutan dari Esmeralda dan selingkuhannya.


'Sekarang tugasku adalah menendang Emeralda dan Steven dari kediaman Prawira sungguh sebuah tugas yang sangat berat!' bathin Arjun sambil melihat ke luar jendela mobil. Dia menyaksikan jalanan Ibukota yang penuh dengan mobil yang merayap.

__ADS_1


__ADS_2