
David yang saat ini sedang mengunjungi kediaman mertuanya tampak menikmati suasana pedesaan yang begitu Asri dan juga menenangkan.
"Bagaimana menurutmu? Apakah kau menyukai tempat ini?" tanya Martha kepada David.
David tampak terkejut ketika mendapatkan marka sudah ada di sampingnya.
"Kenapa kau itu seperti hantu? Datang dan pergi sesuka hatimu!" gerutu David sambil mengalihkan kembali pandangannya ke area hijauan yang ada di hadapannya.
"Aku memanggilmu dari tadi, tapi kau tidak mendengarkanku. Kau sedang memikirkan apa sih? Serius sekali!" tanya Martha kepada David.
"Apa pedulimu aku sedang memikirkan apa? Kau pikirkan saja dirimu sendiri!" jawab David dengan Ketus.
"Kau kalau di hadapan orang tuaku, bersikap seperti menantu yang baik dan suami yang baik. Tetapi di depanku, kau begitu dingin dan Ketus kau seorang aktor yang baik!" ucap Martha dengan bibir cemberut.
"Aku hanya mencoba untuk membuat kedua orang tuamu, nantinya tidak khawatir ketika kau ikut kembali denganku nanti. Dan meninggalkan mereka di desa ini."
"Kau memberikan ketenangan palsu untuk kedua orang tuaku!" ucap Martha sambil pergi meninggalkan David seorang diri dalam pertanyaan dari perkataannya.
"Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu?" David mengejar Martha.
"Jangan memberikan ketenangan palsu untuk mereka. Tapi berikanlah mereka ketenangan sejati, dengan kau bersikap baik kepadaku, di depan mereka ataupun di belakang mereka. Jadilah laki-laki sejati yang menghargai istrimu!" ucap Martha sambil menatap tajam ke arah David.
"Aku kurang baik apalagi untukmu? Bukankah aku sudah berjanji, akan memberikan semua hakmu kepadamu?" tanya David.
"Tapi sikap dinginmu itu, telah menyakiti hatiku!" David mendekati Martha kemudian dia menatapnya dengan lekat.
Jarak keduanya sangat dekat, sehingga salah satunya bisa merasakan hembusan nafas yang lain.
"Kau dengarkan aku! Selama kau masih menjadi istriku, aku akan menghormatimu dan juga menghargaimu. Tapi bukan untuk mencintaimu! Karena cintaku hanya untuk Qiara!" ucap David.
__ADS_1
Martha menggelengkan kepalanya tampak air mata sudah menetas di kelopak matanya.
"Aku yang istrimu! Aku yang punya hak atas cintamu! Aku menginginkan semuanya yang ada padamu! Apa kau mendengarnya?" merestar mulai menangis histeris di hadapan David sehingga membuat David jadi kalang kabut untuk menenangkannya.
"Tenanglah kau jangan seperti ini kalau tidak kau akan membuat kedua orang tua mau khawatir ketika kita kembali ke kota!" David sambil terus memegang bahu Martha berusaha untuk menenangkan wanita yang sedang terluka hatinya itu.
"Biarkan! Biarkan orang tuaku tahu, tentang kamu, bahwa kamu tidak pernah mencintai Putri mereka!" ucap Martha dalam Isak tangisnya.
David kemudian memeluk tubuh Martha dengan erat untuk memberikan ketenangan kepada wanita itu agar tidak terus berteriak.
"Untuk apa kau melakukan semua ini? Kalau hanya Kepalsuan yang kau berikan. Lebih baik kau ceraikan saja Aku! Aku tidak sudi, harus hidup dalam bayang-bayang perempuan lain!" Martha memukuli dada David karena saking kesalnya hatinya saat ini.
David membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu oleh Martha, karena dia sadar memang dialah yang salah.
"Tenangkanlah dirimu, kalau kau seperti ini, maka kedua orang tuamu, pasti tidak akan mengizinkanmu untuk kembali bersamaku!" ucap David sambil mengelus rambut Martha.
"Biarkanlah aku tinggal di sini. Kalau kau tidak pernah mencintaiku!" ucap Martha dengan lirih.
"Tenangkanlah Dirimu, baru kita akan kembali ke rumah kedua orang tuamu, dan kita berpamitan kepada mereka!" David memberikan perintah tegas kepada Martha.
Sedikit demi sedikit, Martha mulai tenang perasaannya. Karena David terus memeluk dan mengelus rambutnya dengan lembut. Itulah yang membuat perasaan Marta menjadi lebih baik.
"Ayo kita kembali ke kediaman orang tuamu dan berpamitan. Banyak sekali pekerjaan yang tertunda. Karena aku telah berlama-lama di sini!" kemudian David pun membimbing Martha untuk menuju ke rumah mertuanya.
"Martha Kenapa kamu menangis nak?" tanya ibunya ketika melihat anaknya pulang dalam keadaan mata yang sembab.
"Apa yang sudah kau lakukan kepada anakku? Kenapa anakku jadi menangis seperti ini?" Ibu mertuanya David sambil menatap David dengan tajam.
David tampak kesulitan untuk menjawab pertanyaannya. "Mah aku menangis bukan karena Suamiku. Aku menangis karena aku sedih sebentar lagi akan meninggalkan kalian semua di sini!" dusta Martha kepada ibunya. Karena bagaimanapun dia tidak ingin membiarkan nama suaminya buruk di mata kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kenapa kau harus menangis seperti itu? Bukankah kau bisa pulang kapan saja? Toh jarak antara kota ke rumah kita, juga tidak terlalu jauh!" ucap ibunya Martha sambil mengelus pipi Sang Putri dengan penuh kasih sayang.
David melihat cinta yang begitu besar di wajah wanita yang telah menjadi mertuanya itu. David merasa terharu dan merasa buruk hatinya, karena sudah membuat putri dari wanita itu menangis karena dirinya.
"Mah maafkan kami, kami berdua harus segera kembali ke kota karena banyak sekali pekerjaan yang harus saya kerjakan saat ini!" ucap David menyelah pembicaraan antara ibu dan anak itu.
"Baiklah kalau kalian mau pulang hari ini, tidak apa-apa. Kami cukup senang dengan kedatangan kalian. Kalian tunggu dulu Papahnya Marta pulang ya? Jangan sampai nanti dia merasa sedih tidak melihat kepergian kalian!" pinta ibunya Martha kepada David. David terdiam tampak berpikir sesuatu.
" Apakah Papa masih lama pulangnya?" tanya David.
ibunya Martha kemudian melirik ke jam yang ada di dinding rumahnya kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Sebentar lagi juga pulang. Tunggulah! Ayo kalian makan dulu, biar nanti di perjalanan tidak lapar!" kemudian ibunya Martha menarik tangan Marta untuk masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, sudah tersedia makanan kesukaan Martha. Hati Martha merasa sedih, karena harus meninggalkan kedua orang tuanya di pedesaan dan pasti akan sangat lama untuk dia bisa bertemu dengan mereka.
Tiba-tiba Martha Langsung menangis dipelukan Ibunya dan memeluknya.
"Kamu jangan menangis Nak! Kamu sekarang Seorang Istri. Kini tugasmu adalah mengikuti suamimu kemanapun dia pergi. Kini tanggung jawab Kami sebagai orang tuamu sudah selesai. Berbaktilah kepada suamimu dan keluarganya!" ibunya Marta menasehati putrinya.
David hanya melihat saja, interaksi antara ibu dan anak itu. Sebenarnya perasaan David saat ini sangat terharu, melihat cinta yang begitu besar di antara keduanya.
"Itu Papaku datang!" ucap ibunya Martha.
"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti Papamu juga sedih. Dia akan berat hatinya, melepas kamu pergi bersama suami kamu!" ucap ibunya kepada Martha.
Martha kemudian menghapus air matanya. Dan menyambut kedatangan ayahnya dari kebun milik mereka.
David juga memberikan 4ha tanah untuk mereka dan sebuah mobil untuk mobilitas mereka. Adik Martha yang sedang kuliah, merasa senang sekali dengan pemberian dari kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Terimakasih kak, semoga pernikahan kalian selalu bahagia!" doanya sebelum David dan Martha meninggalkan desa itu.
Setelah ayahnya Martha pulang, mereka makan malam bersama dan kemudian martha dan David berpamitan untuk kembali ke kota malam itu juga.