Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
29. Kevin ke panti asuhan


__ADS_3

Pov Kevin


Setelah selesai sarapan buatan sendiri, Kevin langsung pergi ke pantai asuhan yang alamat nya tadi malam diberikan oleh ibu kost Qiara.


"Aku harus bawa kamu pulang ke rumah kita, sayang! Aku rindu sekali denganmu." ucap Kevin.


Setelah sampai ke alamat yang diberikan oleh Ibu kost Qiara, Kevin masuk ke sana. Panti asuhan tersebut tampak terawat dan mewah.


"Tampaknya ada orang kaya yang berbaik hati jadi donatur panti ini, semua fasilitas kualitas premium." monolog Kevin matanya melihat ke sekeliling panti sambi mencari keberadaan Qiara dan juga ruangan kepala panti asuhan tersebut.


"Maaf Ka, Kakak dari tadi saya perhatian tampak kebingungan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang gadis manis berhijab.


"Nama saya Kevin Atmajaya. Saya kesini ingin mencari istri saya yang bernama Qiara Anggraini. Sudah dua hari dia menghilang tanpa kabar. Ibu kost Qiara yang memberikan alamat panti ini." ucap Kevin menjelaskan dirinya.


"Oh, jadi Kakak ini suaminya Kak Qiara, ya? Perkenalan nama saya Susilawati. Kakak bisa panggil saya Susi." Susi bersalaman dengan Kevin, tapi Kevin hanya mengangguk kepala sedikit.


"Maaf, Kak! Ayo saya antar bertemu Ibu panti!" Kevin mengikuti Susi sambil matanya terus mencari keberadaan Qiara di sana. Tapi Kevin tidak melihat tanda-tanda Qiara sama sekali.


"Ini ruangan ibu Panti. Mari masuk." Susi lalu mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Masuk!" sahut seseorang dari dalam. Susi membuka pintu dan masuk ke dalam.


Kreeeek


Suara pintu di buka. Ketika kami masuk, ada seorang wanita paruh baya yang sedang serius membaca berkas di mejanya. Beliau bangun dari kursinya dan menyapa kami berdua.


"Ada apa Susi? Siapa pria yang bersama kamu?" tanya beliau. Susi mencium tangan beliau.


"Maaf, Ibu! Beliau ini namanya Mas Kevin Atmajaya. Dia suaminya Kak Qiara. Dia kesini katanya mencari Kak Qiara yang sudah menghilang selama dua hari!" ucap Susi.


"Silahkan duduk, Nak Kevin! Susi, tolong bawakan teh kesini." perintah ibu panti.


"Tidak usah repot Bu, saya hanya ingin bertemu istri saya. Sudah dua hari dia pergi dari rumah kami." ucap Kevin to the point.


"Tapi Qiara tidak datang ke sini. Sejak Qiara menikah, saya sudah lose contacts dengan Qiara." aku terkejut saat mendengar bahwa istriku tidak datang ke panti ini.


'Kamu di mana sayang? Cepatlah pulang, Mas rindu sama kamu!' bathin Kevin menjerit.

__ADS_1


"Kemana kira-kira Qiara pergi ya Bu? Saya sudah putus asa rasanya!" keluh Kevin sedih.


"Memang ada masalah apa? Tidak mungkin Qiara pergi tanpa sebab." tanya ibu Panti.


Aku lihat Susi masih di ruangan ini, aku rasa ragu untuk menceritakan masalah keluarga ku. Ibu Panti paham dengan maksudku.


"Susi, cepat bawakan teh dan juga camilan ke sini!" Perintah beliau agar Susi keluar dari ruangan. Aku menghargai beliau yang paham perasaanku saat ini.


"Terima kasih, Bu. Saya tidak mau masalah keluarga saya jadi konsumsi publik." ucapku.


"Iya, gak apa-apa. Sekarang ceritakan kenapa Qiara bisa pergi dari rumah?" tanyanya lagi.


"Qiara salah paham dengan saya Bu, dia mengira saya selingkuh dengan teman saya. Saya ada bukti Bu, kalau saya tidak selingkuh." Aku lalu membuka ponselku untuk menunjukkan rekaman CCTV dari ruanganku dua hari yang lalu.


Ibu Panti tampak serius memperhatikan rekaman tersebut, beliau mengangguk-anggukkan kepala, lalu menyerahkan ponselku kembali.


"Ini nomor saya, coba kiriman rekaman tersebut kepada saya. Siapa tahu nanti Qiara datang ke mari, akan saya bantu jelaskan duduknya perkara. Akan saya tunjukkan bukti rekaman tersebut kepada Qiara. Semoga dengan begitu, dia bisa mengerti dengan kesalahan pahaman ini!" Aku lalu memasukkan nomor ibu Panti lalu mengirim rekaman tersebut.


"Terima kasih banyak, Bu! Tolong hubungi saya di nomor ini apabila ada kabar tentang Qiara." Ucapku sambil berpamitan dengan Ibu panti.


"Semoga nanti ada kabar dari ibu Panti tentang Qiara." harapku sambil mengemudikan mobilku.


Sejak aku keluar dari keluarga Atmajaya, aku tidak menggunakan jasa sopir dan asisten lagi. Entah bagaimana kabar Arjun dan Bejo. Aku sudah lama tidak mendengarkan kabar mereka.


dreeeeeetttt


dreeeeeetttt


Ponselku bergetar, tanda ada panggilan masuk. Aku menepikan mobilku ke pinggiran jalan. Bahaya menerima panggilan sambil menyetir.


"Assalamualaikum," sapaku tanpa melihat siapa yang menelpon Ku.


"Pak Kevin, saya Arjun! Asistennya Bapak!" ucap seseorang di seberang sana.


Ya elah, nih anak, baru saja aku pikirkan, sudah nelpon saja. Heran! Apa kami punya ikatan bathin ya? tanyaku dalam hati.


"Ada apa jun?" tanyaku lesu.

__ADS_1


"Ayo pulang ke rumah utama, Kakek sakit, Pak Kevin. Mencari-cari Pak Kevin terus!" ucap Arjun.


"Gak mau, ah! Palingan mau nyuruh saya batalin perceraian dengan Susan. Malas saya!" ucapku.


"Aduh, Pak Kevin! Kalau masalah itu saya tidak tahu menahu. Saya hanya dapat perintah supaya bapak pulang, Kakek sekarang di rawat di ICU. Sudah kritis, Pak. Pulanglah, saya takut nanti Bapak menyesal karena hal ini!" ucap Arjun serius.


"Ya sudah, kirim alamat Kakek di rawat di rumah sakit mana, saya ke sana sekarang." setelah aku menutup panggilan Arjun, Arjun mengirimkan alamat sebuah rumah sakit jantung.


"Apa jantung Kakek Kumat lagi, ya?" tanyaku mulai cemas. Bagaimanapun Kakek itu orang yang sayang sama aku. Aku juga sayang dengan beliau. Hanya saja, aku memang kecewa sama Kakek yang memaksa aku buat menikah dengan Susan. Padahal sudah tahu aku sudah menikah dengan Qiara, walaupun masih siri.


Aku masih menunggu restu keluarga, untuk menikahi Qiara secara resmi. Tapi bukannya dapat restu, aku malah di paksa menikahi Susan. Mereka bilang, selama aku menikahi Susan, mereka akan menerima Qiara sebagai menantu keluarga Atmajaya.


Tapi aku sama sekali gak rela Qiara berstatus sebagai gundikku. Aku mencintai Qiara. Oleh karena itu, sehari setelah pernikahan dengan Susan, aku kabur dengan Qiara. Keluar dari keluarga Atmajaya dan merintis perusahaan milikku sendiri tanpa membawa nama Atmajaya.


Aku juga sudah mengajukan perceraian ke pengadilan. Tinggal menunggu keputusan saja.


Sejak menikah sampai hari ini, aku tidak pernah bertemu dengan Susan. Aku tidak perduli dengan wanita itu. Saat ini fokusku hanya ingin menemukan Qiara, istriku tercinta.


Setelah 30 menit berkendara, aku sampai juga di rumah sakit. Saat aku masuk ke ruangan Kakek, aku melihat ada Susan dan juga Mamahnya di sana. Entah apa yang mereka lakukan disini. Padahal aku sudah menceraikan Susan.


"Kakek, apa kabar?" tanyaku pada Kakek, yang tampak lemah di ranjangnya.


"Kevin, akhirnya kamu pulang, sayang. Cucu Kakek!" Kakek tampak kesulitan saat bicara. Aku jadi sedih melihat keadaan Kakek.


"Maafkan Kevin Kek!" tangisku sambil mencium tangan Kakekku yang sangat keriput. Usia Kakek memang sudah tua, hampir 90 tahun. Kesehatan beliau juga sering terganggu akibat sakit jantung yang sudah lama dia idap.


"Kakek minta maaf, sudah memaksakan pernikahan kamu dengan Susan. Umur Kakek sudah tidak banyak cucuku. Kakek merestui pernikahan kamu dengan Qiara. Bawalah dia bertemu Kakek, kalian menikah ulang secara resmi. Bukankah kamu juga sudah bercerai dengan Susan?" tanya Kakek suaranya semakin lemah saja.


"Mungkin Minggu depan sudah keluar keputusan dari pengadilan, Kek!" ucapku lesu.


Jangan lupa like and komennya ya, terima kasih.


Mampir juga di karya author yang lain ya.


Dijamin seru deh..


Kevin

__ADS_1


__ADS_2