
David hanya manggut-manggut saat mendengar apa yang Qiara sampaikan. David tahu kalau Qiara sedang bercerita tentang Kevin dan asistennya. Yang saat ini masih tak sadarkan diri di rumah sakit. David sudah menerima laporan dari anak buahnya semalam. Tapi David pura-pura tidak tahu, agar Qiara tidak curiga kepadanya.
Ya, dua insan yang selama ini sangat dekat, kini sama-sama bersandiwara untuk hal yang sama. Sungguh keadaan yang sangat lucu dan mengesalkan. David ketakutan kalau Qiara tahu apa yang dia lakukan, dan Qiara takut kalau David berbuat semakin nekat kalau dirinya menunjukkan masih perduli dengan Kevin.
"Aku akan tidur siang dulu, ngantuk sekali!" ucap Qiara lalu masuk ke kamarnya.
"Tapi aku masih rindu sama kamu!" David mengejar Qiara sampai ke kamar.
"Stop! Jangan aneh-aneh deh, kita itu bukan muhrim! Jangan berduaan di dalam kamar! Bahaya dan nantinya jadi fitnah! Kamu pergi kerja saja, ya? Aku mau tidur dulu!" ucap Qiara sambil tersenyum. Berusaha agar David tidak curiga.
"Baiklah, nanti sore setelah aku pulang dari kantor. Aku ajak kamu sama orang tuamu untuk dinner. Ok?" tanya David dengan senyum mengembang.
"Baiklah, kau atur saja. Aku tidur dulu, bye!" Qiara lalu menutup pintu kamarnya. Tampaknya Qiara tidak tahu kalau di manstion tersebut di pasang CCTV di setiap sudutnya. David bisa mengawasi segala pergerakan Qiara di manapun dia berada.
Seperti saat ini, David sedang menatap nyalang layar besar di ruangan kantornya. David sedang melihat Qiara yang sedang menangis dengan sesenggukan dan memanggil nama Kevin. Hati David sungguh sakit rasanya. Melihat wanita yang dia cintai masih menangisi mantan suaminya.
"Apa yang harus Mamah lakukan sekarang sayang? Papah kamu dalam keadaan kritis. Pasti tidak ada yang merawat dia. Ya Allah, aku harus bagaimana?" tanya Qiara dalam kebingungan.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Melinda yang masuk ke dalam kamar Qiara. Qiara langsung berlari ke dalam pelukan Mamahnya.
"Mamah, Qiara harus bagaimana sekarang? Qiara bingung, Mah! Hiks hiks!" Qiara langsung menangis di pelukan mamahnya.
"Sayang, ini ada Telpon dari ibu Panti. Dia ingin bicara sama kamu. Terima dulu, ya?" ucap Mamah Qiara sambil memberikan ponselnya.
"Iya, Mah! Qiara akan terima, Qiara juga rindu sama ibu Panti!" Qiara lalu mengambil ponsel Mamahnya dan menghapus air matanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Bu! Apa kabarnya?" tanya Qiara dengan suara seraknya.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya ibu Panti khawatir.
"Tidak apa-apa, Bu! Hanya sedang pilek saja!" dusta Qiara, dia tidak mau membuat ibu Panti yang sejak kecil merawat dirinya.
"Oh ya, Qiara! Apa kamu sudah bertemu dengan suami kamu?" tanya beliau.
"Suamiku? Siapa, Bu?" tanya Qiara mulai gugup.
"Pak Kevin! Memangnya kamu punya berapa Suami?" tanya si ibu tampan heran.
"Cuma satu, Bu!" ucap Qiara mulai lesu.
"Saya tidak mau tahu tentang dia lagi, Bu!" jawab Qiara mulai sedih. Suaranya parau dan hampir menangis. Kesedihan yang lama dia pendam, seketika mencuat kembali.
"Qiara, tadi ibu mengirimkan video CCTV di ruangan suami kamu pada hari itu. Suami kamu yang meminta Ibu untuk menunjukkan kepadamu. Dia tidak bersalah, Nak! Saat itu Kevin tidak melakukan hal asusila dengan temannya itu. Lihatlah sendiri video itu, Ibu yakin nanti kamu paham sendiri!" Qiara lalu berpamitan kepada ibu Panti, dan membuka file video CCTV yang lumayan panjang durasinya.
Video itu menunjukkan awal masuk Kelly ke dalam ruangan Kevin hingga pengusiran Kevin terhadap Kelly. Qiara terus menonton video tersebut. Hatinya sudah kalang kabut.
Adegan dalam CCTV di ruangan Kevin saat itu:
"Sebaiknya kamu pergi dari sini! Jangan coba-coba menggodaku! Aku sudah punya istri dan aku mencintai dia! Pergi sekarang juga!" Hardikku dengan emosi. Kelly tampak ketakutan lalu langsung pergi dari ruanganku.
"Sialan! Hampir saja aku tergoda! Untung Qiara selalu jadi penguat imamku!" aku sudah tidak bisa menahan diri lagi dari rasa rindu terhadap istriku. Aku langsung menemui sekretaris ku.
__ADS_1
"Kalau wanita tadi datang lagi ke kantor ini, apapun alasannya, kamu langsung usir! Paham kamu?" sekretaris ku tampak ketakutan karena melihat aku yang berkilat menatap dia.
"Baik, tuan! Maafkan keteledoran saya." ucapnya.
"Ya sudah! Untuk kali ini aku akan maafkan kamu! Tapi lain kali, aku akan langsung pecat kamu!" bentakku lalu aku masuk kembali ke ruanganku. Lupa belum bawa ponsel dan kunci mobilku.
Video pun berakhir.
Qiara auto menangis. Menyesal dengan keputusan dirinya yang langsung pergi tanpa meminta penjelasan dulu pada suaminya. "Aku sungguh bodoh sekali!" rutuk Qiara sambil menangis pilu.
Pak Andi dan Bu Melinda juga menonton video tersebut, mereka juga paham apa yang terjadi.
"Qiara, tampaknya ada kesalahpahaman di antara kalian. Papah harap kalian bisa meluruskan masalah kalian berdua. Papah dan Mamah akan selalu mendukung apapun keputusan kamu!" ucap Papahnya memberikan dukungan dan kekuatan mental yang banyak untuk putri mereka.
"Kevin saat ini ada di rumah sakit. Semalam ada segerombolan mafia yang menghajar Kevin dan Arjun. Qiara harus bagaimana, Pah? Hiks hiks!" tangis Qiara sudah pecah. Kesedihan dan penyesalan bercampur aduk menjadi satu.
Sementara itu, David yang sedang melihat adegan di ruangan tengah di manstion Qiara di layar besar yang ada di kantornya, kini menggeram kesal.
"Tampaknya aku memang harus membunuh Kevin, baru aku bisa memilikimu seutuhnya. Selama Kevin masih hidup. Dia akan menjadi benalu dalam hati kamu!" ucap David dengan geram dan kemarahan yang memuncak.
"Sunar! Cepat matikan CCTV dan listrik dalam radius 2km di area rumah sakit xxxxxx, aku akan memindahkan Kevin ke rumah sakit di pelosok, sehingga tidak perlu bertemu dengan Qiara lagi." perintah David yang langsung dia laksanakan oleh Sunar. David memang mafia kelas kakap, koneksi dan anak buahnya bukan kaleng-kaleng.
Setelah semuanya steril, David langsung ke tempat Kevin di rawat. David memakai pakaian Dokter, masuk ke rumah sakit bersama beberapa suster dan membawa sebuah ambulans.
David lalu membawa Kevin dan Arjun ke luar daerah. Di sana mereka di masukkan ke dalam rumah sakit kecil. Rumah sakit yang biasa di gunakan oleh para mafia apabila terluka. Rumah sakit itu di bangun khusus oleh Grandfa demi kepentingan organisasi mereka. Anak buahnya selalu terluka kalau menyelesaikan misi atau tugas berbahaya. Rumah sakit itu khusus menangani anak buahnya yang terluka yang tidak mungkin akan di bawa ke rumah umum, akan sangat beresiko.
__ADS_1