Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
102. Sebuah Rahasia


__ADS_3

Firman yang sekarang sudah mulai siuman setelah pingsan ketika dia mengidentifikasi jenazah Sukanta ini duduk di sofa yang ada di kantor polisi.


"Aku di mana sekarang? Ya Tuhan! Kenapa Kepalaku pusing sekali?" tanya Firman sambil memegang kepalanya yang sejak tadi terus berdenyut nyeri.


"Tenanglah Pak Firman! Anda saat ini ada di kantor polisi. Tadi Anda pingsan ketika mengidentifikasi jenazah sahabat Anda tuan Sukanta!" ucap petugas polisi yang tadi menemani Firman di dalam kamar jenazah.


Mendengarkan apa yang diucapkan oleh polisi tersebut. Seketika Firman lemas kembali badannya. Karena dia mengingat tentang Sukanta sahabatnya yang ternyata sudah meninggal malam ini.


"Katakan padaku! Di mana kalian menemukan jenazah Sukanta?" tanya Firman dengan suara sedih.


"Kami menemukan tubuhnya di TPU ada seseorang yang membuangnya di sana. Kami melihat pada ponselnya. Pada panggilan telepon terakhir kami melihat nomor teleponmu yang menelpon dia berkali-kali. Oleh karena itu, saya menelponmu untuk datang ke kantor polisi dan mengidentifikasi jenazahnya!" ucap polisi tersebut menerangkan semua kronologis tentang penemuan jenazah Sukanta.


"Terakhir saya bertemu dengan dia itu di rumah sakit. Dia pergi dengan menggunakan sebuah taksi. Bagaimana mungkin tiba-tiba saja dia bisa meninggal? Ini sangat aneh Pak Polisi!" ucap Firma kepada petugas tersebut.


"Pak polisi. Coba anda periksa CCTV Rumah Sakit tempat majikan saya dirawat. Pasti di situ akan merekam taksi yang digunakan oleh Sukanta sebelum dia berpisah dengan saya! Kita bisa memulai penyelidikan ini melalui super taksi itu. Dia pasti mengetahui sesuatu! Karena dialah yang terakhir bersama dengan Sukanta sahabat saya!" ucap Firman memberikan sebuah petunjuk kepada petugas polisi untuk memulai penyelidikan kematian sahabatnya yang tiba-tiba dan terasa janggal bagi dirinya.


"Apakah anda memiliki sebuah nama yang mungkin anda curigai menjadi dalang dari pembunuhan ini?" tanya polisi tersebut kepada Firman yang saat ini masih tampak belum bisa berpikir jernih karena masih syok atas kematian Sukanta.

__ADS_1


"Entahlah pak! Selama ini Sukanta selalu menjalani hidupnya dengan baik dan bersih. Saya lihat dia tidak pernah memiliki musuh. Tapi memang akhir-akhir ini saya dan dia banyak melakukan hal-hal rahasia di perusahaan bersama Tuan muda Arjun. Pewaris dari Prawira Group. Bahkan kemarin kami sempat mengerjai dewan direksi dan para pemegang saham di perusahaan kami bekerja. Apakah mungkin ada salah satu diantara mereka yang mengetahui perbuatan kami dan membalas dendam terhadap sahabatku?" tanya Firman sambil menatap kepada petugas polisi yang saat ini ada di sampingnya.


"Mengerjai bagaimana? Apa maksudnya Saya tidak paham!" petugas polisi tersebut ingin suatu kejelasan.


"Jadi begini pak ceritanya! Tapi ini harus jadi rahasia di antara kita ya? Karena akan menjadi sangat berbahaya untuk Kami bertiga. Kalau sampai dewan direksi dan juga para pemegang saham dari perusahaan Prawira group mengetahui tentang ini. Anda harus berjanji padaku kalau anda akan merahasiakannya!" ucap Firman dengan menatap serius kepada petugas polisi tersebut sehingga membuat petugas itu merasa khawatir dengan Firman.


"Ceritakanlah padaku Saya berjanji kalau saya akan merahasiakan ini dari siapapun walaupun kepada istri saya sendiri!" janji petugas polisi itu kepada Firman .


Kita akan lihat!Apakah polisi ini bisa menjaga janjinya tadi atau tidak. Apabila dia sudah tahu apa yang sudah dilakukan oleh Sukanta, Arjun dan juga firman kepada dewan direksi dan juga para pemegang saham di perusahaan Prawira Group.


"Jadi di perusahaan kami itu, kami menemukan banyak sekali kecurangan dan juga korupsi yang dilakukan oleh para dewan direksi maupun para pemegang saham karena selama ini Tuhan perwira memang tampak seperti membebaskan mereka sehingga mereka bersikap sewenang-wenang di dalam perusahaan!" Firman memulai ceritanya dan petugas polisi itu merekam apa yang akan diceritakan oleh Firman karena itu akan menjadi sebuah bukti autentik tentang sebuah peristiwa yang mungkin saja menjadi semacam pemantik dari terbunuhnya Sukanta sahabatnya Firman.


"Jadi, Apa strategi Kalian bertiga untuk menaklukkan para Manusia khianat itu?" tanya petugas tersebut seperti Penasaran sekali.


"Kalian harus tahu, bahwa kalian telah meminum racun yang saya masukan di dalam minuman kalian semua. Apabila dalam waktu 1 jam, kalian tidak meminum penawarnya. Maka kalian pasti akan mati secara mengenaskan. Tolong agar kalian berpikir secara bijaksana! Sebelum kalian mengambil keputusan!"ucap Arjun dengan datar sebelum meninggalkan ruangan meeting tersebut.


"Berikan mereka penawar racunnya, setelah mereka menandatangani akta kesepakatan untuk setia kepada ayahku dan juga kesediaan mereka untuk mengembalikan apa yang sudah mereka curi dari perusahaan ini!" ucap Arjun kepada asisten ayahnya sebelum dia benar-benar meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Ucap Firman kembali memperagakan apa yang dikatakan oleh Arjun di ruangan meeting tersebut sehingga membuat petugas polisi itu tampak tegang.


"Kalian memberikan racun untuk mereka? Ya Tuhan kejam sekali kalian bertiga!" ucap petugas polisi tersebut seakan petugas polisi tersebut seakan berada di dalam ruangan meeting itu dia merasa kasihan kepada para dewan direksi dan juga pemegang saham yang telah diberikan racun oleh Arjun.


"Tunggu dulu pak! Cerita ini belum berakhir!" sergah Firman sebelum polisi tersebut mengambil kesimpulan yang salah.


"Hahaha ternyata begitu mudah membodohi orang-orang bodoh itu. Padahal mereka hanya meminum air putih biasa. Hahaha. Ternyata begini menyenangkan mempermainkan orang-orang jahat itu!" Firman kembali memperagakan apa yang dikatakan oleh Arjun di dalam ruangan kerja ayahnya.


"Obat penawar yang dikatakan oleh Sukanta kepada mereka pun hanyalah air putih biasa. Racun mematikan yang dikatakan oleh Tuan arjun pun hanya air putih saja. Semua drama itu hanya untuk menakut-nakuti orang-orang yang sudah bersikap khianat terhadap Tuan Besar Herman Prawira." ucap Firman.


Firman mengakhiri ceritanya kepada petugas polisi tersebut yang kini tampak tertawa terbahak-bahak merasa lucu dengan cerita Firman tentang keusilan Sukanta dan Arjun mengerjai para dewan direksi dan juga pemegang saham di perusahaan Prawira Group.


"Ya Tuhan jadi racun itu hanya air putih saja berarti kalian sudah menipu mereka? pantas saja kalau ada orang di antara mereka yang merasa dendam kepada kalian! mungkin salah satu diantara mereka ada yang mengetahui strategi ini sehingga akhirnya membunuh Sukanta!" ucap petugas polisi tersebut memberikan analisisnya kepada Firman.


"Saya pun berpikir yang sama dengan anda Tuan! Saya yakin kalau Sukanta meninggal gara-gara insiden itu. Anda dan para petugas yang lain harus mendapatkan bukti-bukti agar sahabatku meninggal tidak dalam keadaan penasaran! Penjahat yang membunuhnya harus mendapatkan hukuman!" Ucap Firman dengan mata berapi-api. Bagaimanapun Dia tidak rela sahabatnya mati dengan penasaran tanpa menghukum penjahat yang sudah membunuhnya.


"Saya bisa merasakan perasaan para pemegang saham itu. Pasti mereka sangat sakit hati karena sudah dikerjai oleh kalian bertiga. Mereka sampai merelakan aset dan juga uang miliaran hanya karena kalian menipunya dengan air putih dengan mengatakan itu sebagai racun! Saya pun kalau mengetahui hal itu pasti akan membunuh kalian karena kalian sudah meremehkan mereka dan menipu mereka!" ucap petugas polisi tersebut masih dengan gelap tawa yang terlihat di wajahnya.

__ADS_1


Dia menertawakan kebodohan Para dewan direksi dan juga pemegang saham itu yang karena ditakut-takuti dengan air putih sebagai racun. Sehingga melepaskan uang miliaran yang sudah mereka curi bertahun-tahun dari perusahaan Prawira Group.


__ADS_2